
Devian mendekat perlahan kearah Ayahnya Raja Aaron. Luka terlihat menganga di bagian dadanya, darah segar terus mengalir dari luka tersebut. Dengan susah payah dia mengulurkan tangannya yang terkena darah dari lukanya sendiri, memberi isyarat pada Devian untuk mendekat. Devian bersimpuh di hadapan sang ayah. Dengan tangan bergetar, dia meraih kepala sang ayah dan membaringkannya di pangkuannya. Raja Aaron membelai wajah putranya perlahan.
"Aku.. Ingin... Mel.. Lihat.. Kedua.. Putra.. Ku ber.. Sama.. " Dengan terbata Raja Aaron mulai bicara.
"Aiden, panggil petugas kesehatan istana kemari. Minta prajurit datang untuk membawa ayah kekamarnya." Devian mencoba menahan rasa sedih yang perlahan menjalari perasaannya.
"Ti.. Tidak, put...raku..!! Ba...wa istrimu...kembali...sempurnakan...upacarnya.. " Raja Aaron mengambil botol kecil berisi cairan merah.
*flash back*
Sesaat setelah setelah gelas yang dipegang Alice pecah seorang pendeta yang memimpin upacara penyatuan mengambil cangkir Devian yang masih tersisa setengah. Membawanya menyingkir dan menyerahkannya pada Raja Aaron.
Raja Aaron yang mengetahui jika Raja Erebos tahu darah itu masih tersisa, dia akan berusaha mengambilnya dan membuat upacara ini berakhir sia-sia. Jadi, Raja Aaron meletakkan sisa cairan darah dari gelas Devian kedalam botol kecil dan menyimpannya di saku bajunya.
"Yang Mulia Alice harus meminum darah ini meski hanya setetes, untuk penyempurnaan upacara ini. Raja Devian sudah meminumnya, dia akan merasakan ikatannya pada Yang Mulia Alice tapi Yang Mulia Alice dia tidak akan terpengaruh sampai dia meminumnya. Saat Ratu meminum darah penyatuan tak akan ada satu iblis pun bisa menyentuhnya. Darah Raja Devian keturunan dari Raja Erebos akan mengalir dalam dirinya, setiap iblis akan tahu kalau dia adalah Ratu dari Raja Devian dan saat itulah Pangeran Devian memiliki hak untuk memutuskan akan hidup dimana dan bagaimana dia akan menjalaninya." pendeta itu menjelaskan pada Raja Aaron dengan setengah berbisik.
*flash back end*
"Jaga... Dirimu...dan sau...daramu, ayah...tidak...bisa....menjadi....ayah...yang...baik....untuk...kalian." Nafas Raja Aaron mulai tak beraturan.
"Ayah, jangan bicara. Petugas kesehatan akan datang dan menyelamatkanmu." Devian mencoba untuk tetap tenang.
Tapi Raja Aaron terbatuk, dari rongga mulutnya darah segar mengalir keluar. Devian mulai panik, melihat keadaan ayahnya yang semakin kritis. Rasa benci yang selama ini dia rasakan sirna begitu saja, saat ini dia berharap untuk bisa menyelamatnya pria tua itu. Perlahan mata Raja Aaron mulai terpejam dan sesaat kemudian tangannya mulai terjatuh. Tubuhnya terkulai lemas, tak bernafas. Devian segera meraih lengan ayahnya memeriksa denyut nadinya, tapi tak ada. Devian segera mencari nadi di bagian leher ayahnya tapi tak ada apapun yang ia rasakan. Sang ayah kini telah meninggalkannya dari dunia ini.
...****************...
Istana masih berkabung, langit tertutup awan abu-abu. Seluruh istana begitu murung, Devian duduk diam di ruang baca ruangannya. Mengamati botol kecil yang kini tergantung dilehernya. Pikirannya tak bisa lepas dari Alice yang dibawa oleh kakeknya. Rasa khawatir akan gadis itu terus menghantuinya, namun dia sendiri tak yakin dengan keberadaan gadis itu di kastil kerajaan iblis.
Seseorang baru saja menerobos masuk kekamar Devian dengan paksa. Adrian masuk kedalam ruangan itu dengan wajah emosi.
"Kau membunuh ayahku!!! " teriaknya marah.
Devian hanya diam, seakan tak mendengar teriakan saudaranya. Pria itu masih sibuk dengam pikirannya.
"Apa kau sadar tak seharusnya kau menjadi Raja, tak seharus kau berada disini, dan tak seharusnya pula kau dilahirkan dasar Putra Iblis." Adrian melempar vas bunga kecil di sampingnya yang terletak di atas meja.
Devian akhirnya menatap tajam kearah Adrian.
"Kenapa kau akan membunuhku juga?" Tantang Adrian penuh amarah. "Bunuh aku, kau telah membunuh seluruh keluargaku."
Dengan marah Devian meraih kerah kakaknya dan menatap bringas pria beriris abu-abu itu. "Berhentilah berpura-pura peduli, apa kau sadar semua ini terjadi karena ulahmu?"
"Ulahku? Bagaimana mungkin ini ulahku? Kau yang menyebabkan banyak orang terbunuh di mansion. Kau tidak pernah layak menjadi Raja, apa kau sadar itu?"
"Apa kau pikir aku tidak tahu, tentang kerjasamamu dengan para iblis sialan itu? Haruskah aku menyeret mereka kemari, dan menunjukkan pada semua orang tentang semua kebusukanmu?" Devian melepas cengkramannya dari kerah sang kakak. "Sebaiknya kau keluar, sebelum aku kehilangan kendali. prajurit bawa Pangeran Adrian pergi!!! " Devian segera memerintahkan penjaganya untuk membawa sang kakak pergi dari ruangannya.
Sesaat setelah Adrian pergi, Aiden masuk ke ruangan Devian dengan sedikit tergesa.
"Yang Mulia, apa terjadi sesuatu?" Tanya Aiden khawatir.
"Aku akan menjemput Alice, aku akan kesana sendiri." Devian menatap kosong keluar jendela.
"Setidaknya, mereka tidak akan membunuhku. Apapun yang terjadi mereka tak akan membunuhku, jadi aku akan kesana sendiri." Devian menatap Aiden yakin. "Aku akan menyiapkan beberapa hal, malam nanti aku akan kesana."
Matahari perlahan mulai tenggelam, Devian berjalan menuju area pemakaman istana. Satu-satunya jalan yang ia ketahui bisa membawanya ke dunia iblis. Aiden hanya diam mengikuti sang Raja dari belakang. Devian berhenti, memandang sahabat sekaligus pengawalnya yang paling setia.
"Tetaplah disini, aku akan membawa dia sebelum fajar." Devian berbalik hendak meninggalkan Aiden.
"Yang Mulia, jaga diri anda dan kembalilah bersama Yang Mulia Ratu."
"Kau tahu, gadis pelayan corfe yang selalu bersamanya dia memohon padaku untuk membawanya pulang. Jaga dia, Alice mungkin akan lebih mengkhawatirkan pelayan itu dari pada dirinya saat kembali." Devian tersenyum penuh arti pada Aiden dan menepuk bahu pria itu.
Devian melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah pemakaman kecil disana.
...****************...
Tubuh Alice perlahan menggeliat, merasakan hawa dingin yang menusuk tulangnya. Saat tersadar yang ia lihat hanya kegelapan, perlahan dia dapat melihat sekelilingnya meskipun samar. Dia berada dalam penjara, itu yang ia tahu. Tanah yang lembab dan dingin. Gadis itu mengedarkan pandangannya, mencari adakah orang yang dapat menolongnya.
Brakkkkk.... Grrrrrrr....
Terdengar suara benturan pada jeruji di sampingnya dan suara geraman keras seekor anjing. Alice menoleh untuk melihat makluk apa itu. Seekor hellhound menggeram dan terus mencakar-cakar besi-besi yang berbaris membuat penghalang dengan ruangan Alice berada. Cepat gadis itu menjauh dari anjing itu, takut kalau binatang itu akan menyakitinya. Namun, saat punggungnya menyentuh dinding jeruji lain. Makluk yang lebih menyeramkan menggeram padanya, seakan memberi peringatan pada gadis itu untuk tidak mendekat kearahnya. Dengan penuh rasa takut Alice menjauh merapatkan tubuhnya ke dinding-dinding batu di bagian belakang penjara itu. 'Devian, selamatkan aku' bisiknya dalam hati.
...****************...
Devian baru saja memasuki gerbang utama istana kakeknya. Dengan pedang di tangannya dia terus melangkah dengan yakin. Semua penjaga istana menatap waspada pada sang Pangeran Iblis. Namun, tak satupun dari mereka berani menghalangi langkah kakinya. Kini Devian menyusuri koridor istana yang gelap iris merahnya semakin waspada.
"Akhirnya, kau pulang juga." Terdengar suara menggema.
Seorang pria tua berdiri menghadang Devian. Dia perlahan berjalan mendekati cucunya dan tersenyum penuh kemenangan.
"Dimana istriku? " Tanya Devian pada Raja Erebos dengan tatapan tajam.
"Istri? Aku bisa mencarikanmu istri terbaik dari iblis bangsawan. Kau akan mendapat istri tercantik dan yang paling kuat." Raja Erebos merangkul pundak cucunya, mencoba menenangkan Devian.
Devian segera menepis tangan sang kakek. "Berhenti bicara omong kosong, dimana istriku? Dimana gadis yang kau bawa dari kerajaanku? " Devian berteriak marah menatap tajam sang kakek.
Raja Erebos menghela nafas berat. "Haruskah kau juga memilih manusia?"
"Apa kakek lupa kutukan abadimu? Tak akan memiliki penurus karena kesalahan mu membunuh begitu banyak manusia di masa lalumu. Sekarang kau semakin menua dan ajalmu semakin dekat kehancuran kerajaanmu sebentar lagi akan tiba. Kau juga menambah daftar manusia yang akan kau bunuh? Aku juga mendengar sebuah kabar, setelah kau membunuh manusia kau akan melemah." Devian mengungkap rahasia sang kakek yang ia ketahui.
Sesaat Raja Erebos terdiam, tapi dia kembali tersenyum. "Aku tak perlu menggunakan tenagaku untuk membunuhnya, kau tahu berapa banyak koleksiku yang sudah lama tak memakan daging manusia? Sekali aku menjentikkan jariku gadis itu akan berakhir dalam perut mereka."
Devian menatap tajam sang kakek kini dia tahu dimana sang kakek menyembunyikan istrinya. Dia segera berlari meninggalkan Raja iblis itu sendirian. Sekuat tenaga Devian berlari menuju penjara bawah tanah.
Saat dia tiba disana seluruh pintu penjara telah terbuka. Puluhan mahkluk mengerikan telah keluar menuju kearah sel dimana Alice berada. Namun, sel Alice masih terkunci. Seluruh makhluk mengerikan berkerumun mencakar dan membenturkan tubuh besar mereka untuk memcoba masuk dan memangsa gadis itu.
Alice terus merapatkan tubuhnya kedinding, menutup telinganya agar tidak mendengar suara geraman dan suara binatang mengerikan yang tengah kelaparan di sekelilingnya. Air mata tak dapat dibendungnya lagi rasa takut membuatnya semakin terisak. 'Devian, apa aku akan mati. Ku mohon tolong aku, aku takut disini.' dalam hati gadis itu terus berharap sang suami akan datang menolongnya.
TBC