
Aiden sudah berada dikamar Adrian saat matahari baru saja terbit, untuk menyerahkan pesan Devian untuk Adrian.
Sekarang kau adalah Raja Aldwick. Tapi setelah kau menjadi Raja, Alice akan kembali ke corfe dan corfe bukan lagi bagian dari Aldwick. Jangan menyentuh Alice ataupun menyentuh corfe, kau bisa memiliki semua kecuali dua hal itu. Jika, kau berani melanggar aturanku, aku akan datang dan merebut kembali posisiku.
Adrian tersenyum penuh kemenangan, menutup pesan itu dan menatap Aiden.
"Kau membelanya mati-matian, sekarang kau akan menjadi bagian dari pengawal rendahan yang lain." Adrian menatap Aiden.
"Maaf, tapi tugas ku belum selesai. Saya masih tetap pengawal sekaligus penasehat Yang Mulia Devian. Saya masih harus mengawal kepergian Yang Mulia Ratu kembali ke corfe, selain itu tugas lain telah menanti saya. Selamat atas penobatan anda Yang Mulia, saya telah memberitahukan semua menteri dan pejabat kerajaan tentang kepergian Yang Mulia Devian. Saya permisi." Aiden segera menunduk hormat dan berbalik pergi.
Adrian menatap kepergian Aiden tak percaya. 'Apa? Bagaimana setelah aku mendapatkan posisi ini dia juga masih bisa mendapatkan apa yang ia inginkan?Alice harus aku lepaskan?baiklah, saat ini aku akan membiarkannya, tapi aku akan merebut kembali Corfe dan membuat mereka memohon untuk tetap hidup.' kata Adrian dalam hati.
Aiden melangkahkan kakinya dengan cepat, melewati setiap ruangan di kastil dan menyusuri koridor panjang yang begitu sepi. Saat itu langkah kakinya terhenti saat melihat seorang gadis tengah terisak didepan pintu besar kamar Alice. Perlahan pria itu mendekat kearahnya dan menyentuh pundak gadis itu lembut.
"Yang Mulia akan baik-baik saja." Seakan tahu dengan apa yang dipikirkan gadis itu, Aiden menepuk lembut punggung gadis itu berharap gadis itu akan berhenti menangis. "Nona Beryl, sebaiknya persiapkan semua keperluan Ratu, kita harus segera meninggalkan istana sebelum upacara penobatan."
Perlahan Beryl berbalik dan menatap Aiden dengan mata sembab yang dipenuhi Air mata. "Tuan, kenapa Yang Mulia masih belum membuka matanya? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang harus saya katakan jika Yang Mulia menanyakan keberadaan Yang Mulia Devian."
Dengan ragu Aiden mengulurkan tangannya, menghapus air mata gadis didepannya dengan lembut. "Jangan mengatakan apapun, tentang Yang Mulia Devian maupun tentang Aldwick." Kata Aiden lembut. "Siapkan semua keperluan Yang Mulia, setelah itu aku akan mengantar kalian ke Corfe."
Beryl mengangguk pelan dan segera masuk keruangan Alice untuk mengemas beberapa barang yang benar-benar dibutuhkan Alice selama perjalanan ke Corfe.
...****************...
Setelah perjalanan dua hari satu malam akhirnya mereka sampai di Corfe saat matahari mulai tenggelam. Alice segera di bawa ke kamarnya di temani oleh Ratu Dione ibunya. Gadis itu masih terlelap dalam tidurnya.
*mimpi Alice*
Alice tengah berada di sebuah ruangan yang begitu gelap, tak seorang pun berada disana.
"Dimana aku? " Tanya Alice kebingungan.
Gadis itu terus berjalan menyusuri lorong gelap yang tak berujung, tak berapa lama kemudia dia melihat cahaya diujung lorong gadis itu segera berlari dan akhirnya dia keluar dari lorong itu. Kini didepannya sebuah ruangan yang dipenuhi oleh makhluk-makhluk mengerikan menyembah dan bersujud dihadapan seorang pria. Alice melihat kearah pria tersebut yang duduk di singgasana dengan senyum mengerikan yang menghiasi wajahnya. Seorang pria tua berdiri tepat di sampingnya, sesaat pria tua itu menunduk dan membisikkan sesuatu padanya. Pria itu menatap tajam kearah Alice membuat gadis itu tersentak kaget.
Sesaat kemudian, seluruh pemandangan di depannya menghilang. Berganti dengan bayangan-bayangan lain. Bayangan kenangan masalalunya bersama Devian. Berjalan cepat melewatinya membuat kepalanya terasa berdenyut-denyut hingga membuat gadis itu mulai merasa kesakitan. Setelah rasa sakit yang menyiksanya perlahan mulai menghilang. Seseorang datang, iris biru dengan rambut perak. Dia tersenyum ramah dan memeluk Alice.
"Devian." Gumam Alice lirih. "Aku mencintaimu."
Devian tersenyum dan membisikkan sesuatu ditelinga Alice. "Aku lebih mencintaimu, karena itu aku harus melindungimu."
Devian melepas pelukannya menatap lekat gadis didepannya, perlahan dengan lembut Devian mengecup kening Alice lembut. "Lupakan semua hal yang menyakitkan ini, aku hanya bagian dari mimpi burukmu."
Kini Devian menghilang menjadi butiran cahaya kecil yang sirna bersama angin.
"Tidak.. Jangan pergi, aku mohon!!! " Alice berteriak memohon pada Devian untuk tidak pergi. Tapi dia tak dapat mengingat siapa yang ia pinta untuk jangan pergi. Siapa yang meninggalkannya? Sebuah perasaan yang sulit di artikan. Seperti terdapat lubang hitam dalam hatinya, yang entah apa di dalamnya. Rasa sesak yang begitu menyiksa membuatnya terus terisak dengan berurai air mata.
Di dunia nyata Alice terus terisak dalam tidurnya, sesekali dia meracau tidak jelas. Memohon pada seseorang agar tidak pergi. Melihat putrinya Ratu Dione perlahan menitikkan air mata, dengan lembut sang Ratu meraih tangan Alice menggenggamnya erat dan membelai rambut perak putrinya dengan lembut.
"Semua akan baik-baik saja, sayang!! Semua akan baik-baik saja."
Di ruangan lain, di istana Corfe. Aiden dan Beryl tengah berada dalam satu ruangan besar. Tepatnya ruang pertemuan di kastil kerajaan Corfe. Raja Charles berdiri membelakangi mereka menghadap ke jendela besar ruangan itu. Beryl terus menunduk dalam, rasa takut dan cemas menguasai perasaannya. Takut apa bila sang Raja marah karena dia tidak menjaga Putrinya dengan baik.
Aiden yang melihat ekspresi Beryl yang begitu ketakutan, akhirnya dia memilih memulai pembicaraan lebih dulu. "Yang Mulia, Raja Devian menitipkan sesuatu untuk anda." Aiden meletakkan sebuah surat yang masih bersegel kerajaan Aldwick di atas meja.
Raja Charles berbalik dan menatap Aiden sedih. "Aku turut berduka atas kejadian di Aldwick. Aldwick kehilangan dua Raja dalam waktu singkat." Gumam Raja Charles lirih.
Dalam hatinya Raja yang sudah mulai menua itu memikirkan bagaimana nasib putrinya kelak. Dia masih muda dan kini dia ditinggalkan suaminya.
"Sebaiknya anda membaca pesan Raja Devian terlebih dahulu."
Kepada Raja Charles
Jika anda mendapat surat ini itu berarti sesuatu telah terjadi, karena suatu hal aku harus pergi sebentar dari Aldwick. Perjanjian kita sudah berakhir, tapi bukan berarti aku meninggalkan istriku. Aku hanya harus memastikan dia aman, karena itu aku mengirimkannya pada kedua orang tuanya. Raja yang baru mungkin akan mengancam keamanannya karena itu biarkan pengawalku Aiden tetap berada di Corfe selama aku belum kembali untuk menjamin keamanannya. Jika kau mau mendengar saranku, persiapkan armada perangmu hanya sekedar untuk berjaga. Aku berharap bisa menjadi suami yang baik untuk putrimu, terimakasih atas bantuanmu ayah mertua.
Raja Devian
Raja Charles terdiam sesaat setelah membaca surat itu. "Dia memanggilku ayah mertua." gumamnya lirih dengan ekspresi tak percaya. "Baiklah, tuan Aiden sepertinya mulai sekarang aku akan membutuhkan banyak bantuanmu." Raja Charles menatap Aiden sambil tersenyum.
Aiden menatap Raja Charles bingung. "Apa maksud Anda?"
Raja Charles menyerahkan surat Devian pada Aiden kembali memberi isyarat padanya untuk membaca pesan itu. Aiden terdiam sesaat kini dia mengerti kenapa Devian meminta seluruh pendukungnya untuk pergi dari Aldwick secara diam-diam.
Raja Charles berjalan mendekati Beryl. "Kau sudah bekerja dengan baik. Kau bisa berlibur selama beberapa hari, aku akan memberitahu pada kepala pelayan untuk membiarkanmu keluar istana selama beberapa hari."
"Tapi, bagaimana dengan Yang Mulia Alice? " Beryl menatap Raja Charles penuh rasa khawatir.
"Ratu Dione akan menjaganya." Raja Charles hendak keluar, tapi dia segera berbalik. "Aku sudah meminta pelayan menyiapkan semua keperluanmu di Corfe. Beryl, bisa tunjukkan kamar tamu untuk tuan Aiden setelah itu kau boleh menemui kepala pelayan istana."
"Baik Yang Mulia." Dengan menunduk hormat.
Raja Charles segera keluar dari ruangan itu meninggalkan Aiden dan Beryl berdua.
"Mari Tuan Aiden saya tunjukan kamar Anda." Beryl mempersilahkan Aiden untuk berjalan keluar lebih dulu.
Aiden segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar. "Nona Beryl, lebih baik kau di depan bukankah kau yang menunjukkan jalannya."
Dengan sedikit malu-malu Beryl berjalan lebih dulu dan menunjukkan jalan menuju kamar Aiden.
"Sudah berapa lama kau bekerja disini, Nona Beryl? " Tanya Aiden mencoba memulai percakapan.
"Mungkin sudah seumur hidup saya. Saya lahir ditengah keluarga yang miskin, saya memiliki banyak saudara dan ibuku meninggalkanku di pintu dapur istana saat aku berusia tiga tahun." Beryl kembali mengenang masa lalunya yang sulit.
"Ohh, maaf sudah membuatmu mengingat hal yang menyakitkan." Aiden terlihat menyesal.
"Bagaimana dengan Anda, Tuan Aiden? Anda begitu dekat dengan Yang Mulia Devian."
Kini mereka berjalan sejajar, Aiden menatap Beryl. "Entahlah, kami Tumbuh bersama dan mungkin aku satu-satunya teman yang dia miliki. Ayahku adalah panglima perang Aldwick, ayah sering mengajakku ke istana."
Beryl menatap Aiden lekat, dia dapat merasakan bahwa pria ini adalah orang yang hangat dan baik.
Tanpa sadar akhirnya mereka sampai di depan pintu besar kamar tamu di dalam kastil itu.
"Ini kamar anda, tuan!! Selamat beristirahat." Beryl segera berbalik untuk pergi.
"Nona Beryl!! " Langkah Beryl terhenti saat mendengar Aiden memanggilnya.
"Ya, Tuan Aiden!! " Beryl berbalik kembali.
"Selamat berlibur." Aiden tersenyum pada Beryl.
Semburat merah terlihat diwajah gadis itu membuatnya menunduk dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Ji.. Jika anda membutuhkan sesuatu anda bisa memberitahu saya." Kata Beryl malu-malu.
"Baiklah, selamat malam Nona Beryl." Aiden segera masuk kedalam kamarnya.
TBC