
Saat Raja Charles dan Devian tengah membahas strategi perang untuk menghadapi Adrian. Aiden mendadak masuk kedalam ruangan itu dengan terburu-buru.
"Yang Mulia, ada laporan dari perbatasan. Pangeran Adrian telah mencapai perbatasan." Lapor Aiden.
"Baiklah, tidak ada waktu untuk mengumpulkan pasukanku. Jadi, sebaiknya aku yang memimpin pasukan Corfe." Devian menatap Raja Charles meminta persetujuan.
"Aku sendiri yang akan memimpin pasukanku." Raja Charles menatap Devian tersinggung.
"Tak ada waktu kau ingin mengorbankan semua pasukanmu dengan sia-sia? " Devian mendekat kearah Raja Charles. "Hanya aku yang bisa menghadapi Adrian dan pasukannya."
"Baiklah, tapi aku akan tetap pergi ke Medan pertempuran."
"Itu hak mu." Sahut Devian datar. "Aiden, bawa keluarga kerajaan masuk ke istana kembali." Devian memberi perintah.
"Biar aku yang memberi tahukan rencanamu pada mereka." Jawab Raja Charles cepat dan segera pergi dari ruangan itu.
"Sepertinya anda harus memperbaiki hubungan anda dengan ayah mertua anda, Yang Mulia." Aiden memberi saran.
"Berikan ini pada Alice." Devian memberikan botol kecil berisi darah penyatuan pada Aiden. "Pastikan dia meminumnya, itu akan melindunginya dari para iblis."
"Tapi, ingatan Yang Mulia Ratu... "
"Ingatannya akan kembali setelah dia meminumnya, jadi pastikan dia meminumnya. Biarkan dia minum dengan tangannya sendiri dan jangan menyentuhnya." Devian memperingatkan Aiden.
"Saya akan melakukan seperti perintah anda, Yang Mulia." Aiden segera keluar dari ruangan itu.
Raja Charles meminta seluruh pengawal untuk membawa seluruh keluarga kerajaan masuk kembali ke istana karena ada perubahan rencana. Raru Dione mendekat kearah suaminya dan menatap suaminya seakan meminta penjelasan dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi.
"Dia kembali, Devian dia yang akan memimpin pasukan. Malam ini kami akan ke perbatasan, dengar tetap di dekat Alice. Aku akan menempatkan semua pasukan disekitar istana." Raja Charles menatap istrinya sendu.
"Bagaimana jika Alice melihatnya?" Tanya Ratu Dione.
"Entahlah." Jawab Raja Charles singkat.
Alice keluar dari keretanya dibantu oleh Beryl, dengan wajah cemas gadis itu menghampiri ayahnya. "Apa terjadi sesuatu, ayah?"
Raja Charles membelai wajah putrinya lembut. "Tenanglah, tidak terjadi apa-apa. Tetaplah didalam kamarmu."
Devian melangkah keluar saat Alice tengah bicara dengan ayahnya. Devian hendak berbalik menghindar dari gadis itu, saat Alice berjalan mendekat kearahnya.
"Tunggu dulu, Tuan!! " Pinta Alice saat Devian hendak melangkah masuk.
Dengan memasang wajah dinginnya Devian berbalik menatap gadis itu tanpa ekspresi.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya anda bukan dari Corfe dan bukan salah satu Prajurit ayahku." Tanya Alice sedikit penasaran.
"Prajurit? Dari pada itu aku lebih terlihat seperti Raja." Jawab Devian tersinggung.
"Raja?" Alice menatap Devian bingung.
Tak berapa lama Aiden dan Beryl menghampiri mereka dengan sedikit berlari.
"Ya.. Yang Mulia!! " sepontan Beryl segera menunduk untuk memberi hormat pada Devian.
"Yang Mulia?? " Tanya Alice semakin bingung.
"Kau, bawa dia pergi." Perintah Devian pada Beryl.
"Tunggu!!" Alice menatap Devian tajam. "Kenapa kau memerintah Beryl seenaknya?"
"Aiden!" Devian memberi isyarat pada Aiden.
"Yang Mulia sebaiknya anda segera bersiap malam ini anda harus berangkat ke Perbatasan."
"Baiklah!! " Devian segera pergi meninggalkan Alice, diikuti oleh Aiden.
Aiden mengikuti Devian tanpa bicara sepatah katapun. Tapi, sesuatu terus saja mengganggu pikirannya.
"Yang Mulia, kenapa anda bersikap seperti itu pada Yang Mulia Ratu?"
"Kepalaku sedang sakit jadi diamlah." Devian menghentikan langkah kakinya. "Dan tentang darah penyatuan itu, berikan saat aku sudah pergi dari istana. Jangan sampai gadis bodoh itu, melakukan sesuatu yang berbahaya."
...****************...
"Apakah anda akan membantu manusia itu?" Tanya salah satu Bangsawan iblis untuk memastikan.
"Kau tahu perjanjian harus tetap berjalan, bagi yang melanggarnya... " Raja Erebos menghela nafasnya. "Kalian tahu apa yang akan terjadi padaku?"
"Jadi, anda akan membunuh Pangeran Devian dan membawa kaum kita pada kehancuran?" Protes salah seorang bangsawan emosi.
"Apa anda akan melakukannya? Saya tidak akan membiarkannya. Pangeran adalah satu-satunya harapan kerajaan iblis." Imbuh salah seorang pangsawan lain.
"Dengar saudaraku, saat ini hidupku tengah dipertaruhkan. Jika aku melanggar perjanjian itu maka aku akan kehilangan nyawaku." Raja Erebos menatap semua yang hadir dalam pertemuan itu.
"Jika anda tetap memilih manusia itu, katakan pada kami berapa lama anda akan bertahan? Saat ini pun umur anda sudah diambang batas. Apakah anda lupa?" Tanya salah seorang bangsawan lain.
Raja Erebos terdiam sesaat. "Aku bisa memimpin kalian lebih lama lagi, apa kalian tidak percaya padaku??" Tanya Raja Erebos dengan penekanan pada pertanyaannya. "Apa ada yang meragukan kekuatan dan kekuasaanku?" Tanyanya sekali lagi. "Aku bertahan dari kutukan selama berabad-abad dan aku akan bertahan sampai akhir."
Seluruh ruangan terdiam. Kini keputusan sang Raja iblis telah jelas, dengan siapa mereka akan berperang.
...****************...
Devian telah siap dengan baju zirahnya. Aiden membantu Devian memasangkan baju zirah besi yang ia kenakan saat ini.
"Apa anda akan baik-baik saja?" Tanya Aiden cemas.
"Tenanglah, sudah ratusan perang yang aku menangkan dan kali ini aku akan memenangkannya. Sebaiknya jaga istana dengan baik, hanya kau orang yang aku percaya." Devian menatap Aiden.
"Baik Yang Mulia, Saya akan melakukan yang terbaik untuk kerajaan dan juga untuk anda. Jaga diri anda." Aiden tersenyum tulus pada Devian.
Devian menepuk pundak Aiden. "Aku akan segera kembali."
Di ruangan lain, Alice menatap keluar jendelanya melihat Pria beriris merah yang baru saja dia temui. Semakin dia memperhatikan pria itu, semakin dia merasa pernah melihatnya. Tapi, semakin dia memikirkannya kepalanya semakin berdenyut keras seakan mencegah gadis itu untuk mengingat kapan dan bagaimana dia mengenal pria itu.
"Beryl, apa kau mengenalnya?" Tanya Alice penuh rasa penasaran pada Beryl yang berdiri di sebelahnya.
"Siapa yang anda maksud?" Tanya Beryl sambil melihat kearah Aiden. "Apa tuan Aiden?" Tanya Beryl memastikan.
"Bukan, tapi pria yang bersamanya. Sepertinya aku pernah melihatnya didalam mimpiku setiap malam..." Kata Alice dengan ragu.
"Melihatnya dalam mimipi?" Beryl menatap Alice sedikit terkejut.
"Sebenarnya bukan melihat, tapi aku sering mendengar suaranya. Mimpi yang sedikit aneh, karena itu bukan sebuah mimpi Indah. Tapi, juga bukan mimpi buruk." Jelas Alice dengan wajah berbinar.
"Bukan mimpi Indah, tapi bukan mimpi buruk. Apa itu mimpi yang biasa saja?" Beryl mencoba menerka maksud dari Alice.
"Entahlah, tapi aku merasa begitu bahagia, meskipun itu hanya mimpi." Sebuah senyuman terlihat menghiasi wajah gadis itu.
...****************...
Di tenda Aldwick, Adrian duduk di singgasananya dengan angkuh. Sesekali pria yang kini telah berubah wujud menjadi setangah iblis itu memainkan kuku-kuku jarinya yang memanjang. Sesekali pria itu melirik kearah para Dayang didekatnya untuk sekedar memberi isyarat untuk memberinya minum atau buah yang berada ditangan mereka.
Tak berapa lama seorang pria dengan baju zirah lengkap masuk dengan terburu-buru.
"Apa yang anda butuhkan, Yang Mulia? " Pria itu bertanya dengan berlutut didepan Adrian, wajahnya menunduk dalam tak berani menatap wajah Adrian yang kini telah berubah lebih menyeramkan.
"Apa urusan-urusan itu sudah kau kirim?" Tanya Adrian angkuh.
"Mereka akan berangkat sebentar lagi, Yang Mulia."
"Bagus, aku ingin pesan untuk Raja Charles segera sampai padanya." Adrian menatap Pria yang masih menghadap didepannya. "Sekarang pergilah, lanjutkan pekerjaan kalian."
Mendengar perintah Adrian orang itu langsung keluar dari tenda tersebut dan kembali dengan pekerjaannya.
...****************...
Di gerbang Corfe, Raja Charles dan Devian telah bersiap diatas kuda mereka masing-masing. Di belakang mereka Ratusan Prajurit telah bersiap menyusul Pasukan-pasukan yang telah bersiaga di perbatasan Aldwick dan Corfe. Devian menatap kearah jendela kamar Alice, dari sana dia dapat melihat Gadis itu tengah menatap kearahnya.
"Sudah saatnya kita berangkat, Yang Mulia! " Salah seorang panglima Corfe mengingatkan Raja Charles.
"Baiklah, Ayo kita pergi."
Panglima memberi isyarat pada seluruh prajurit untuk berangkat dan perlahan langkah-langkah kaki kuda mulai berjalan keluar dari gerbang istana.
TBC