
Devian mengambil cangkir berisi teh itu dengan tenang. Tapi saat cangkir itu sudah ditangannya sudut bibir Devian tertarik membentuk senyuman mengejek, dengan sengaja Devian melepas cangkir itu dari tangannya. Membuat cangkir itu pecah dan isinya membasahi karpet dilantai itu. Devian menatap Beryl dengan tajam.
"Kau memberiku minuman sisa? " Tanya Devian marah. "Aku sudah memperingatkanmu sekali."
Sigap Devian berdiri dan meraih leher Beryl mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah. Beryl menendang-nendang udara karena kesulitan bernafas. Pada saat itu seseorang masuk keruangan Devian.
"Yang Mulia, apa yang anda lakukan pada nona Beryl? " Tanya Aiden penuh rasa terkejut.
Beryl melirik kearah Aiden tangannya terulur kearahnya dengan gemetar, seakan meminta pertolongan darinya. Aiden yang merasa iba hendak melangkah mendekat, tapi Devian menghentikannya.
"Jangan mendekat, Aiden. Aku tidak ingin melukaimu." Devian menatap wanita itu marah.
"Iblis tak perlu bernafas, berhentilah berpura-pura." Iris mata Devian menyala.
Kuku jarinya perlahan meruncing, pada saat bersamaan dari tangan Devian yang berada dileher Beryl muncul kobaran Api. Membuat Beryl berteriak kesakitan.
"Aaaaaaa... Lepas.. Lepaskan aku.. " teriakan kesakitan terdengar dari mulut Beryl.
Perlahan leher gadis itu menghitam seperti terbakar. Luka bakar perlahan menjalar sampai ke dagunya dan pada saat itu dengan menahan rasa sakit Beryl membuka mulutnya. Semburan Api keluar dari mulut Beryl membuat Devian harus menghindar dan melempar tubuh gadis itu kesembarang arah. Tubuh gadis itu membentur beberapa perabotan dan berakhir dengan membentur sebuah rak-rak penuh buku dan menghancurkannya.
Beryl mengerang kesakitan, dia mencakar lehernya yang menghitam karena ulah Devian. Perlahan wujud Beryl berubah menjadi celline. Devian menatap garang wanita itu, dia segera mendekati celline. Sebilah pedang tiba-tiba muncul dari tangan Devian. Celline kini mengetahui situasinya akan memburuk, dengan sisa-sisa kekuatannya gadis itu bangkit. Sulur-sulur pita berwarna merah muncul entah dari mana. Celline mengangkat lengannya seakan mendengar perintah darinya sulur pita itu meluncur dengan cepat, menyerang kearah Devian. Devian menangkis setiap serangan dari sulur-sulur itu dengan pedangnya. Suara dentingan benturan senjata terdengar nyaring. Saat Devian terfokus dengan menangkis pita-pita yang menyerangnya Celline menggunakan kesempatan itu untuk menggunakan sulur pita yang lain mengarah langsung ke Devian mengikat tubuh Pria itu dengan pitanya. Devian terkunci sulur yang lain mengikat lengannya membuat senjatanya terjatuh.
"Yang Mulia! " panik Aiden hendak menghampiri Devian.
"Jangan mendekat!! Ini pertarunganku."
Iris Devian kembali menyala dan sulur pita iti terbakar menjadi Abu. Devian menyeringai pada Celline.
"Ayo kita akhiri saja main-mainnya."
Devian mengambil pedangnya. Dengan gerakan cepat Devian telah berada di depan wanita itu menusukkan pedangnya keperut celline dengan cepat. Celline memuntahkan darah hitam pekat, dari luka diperutnya mengalir darah yang sama. Tak berapa lama tubuh wanita itu terbakar dan berubah menjadi debu. Devian menjatuhkan pedangnya. Mengedarkan pandangannya kesegala penjuru ruangan.
"Yang Mulia anda baik- baik saja? " Tanya Aiden cemas.
Aiden segera menghampiri Devian dan membawa Rajanya ke kursi yang masih utuh.
"Yang Mulia, sebaiknya anda duduk." Aiden terlihat begitu khawatir.
Pikiran Devian begitu kalut, bagaimana bisa ada iblis yang masuk ke istananya. Selama ini tak ada iblis yang berani masuk ke istananya.
"Yang Mulia, bagaimana iblis itu bisa masuk? " Tanya Aiden bingung. "Apa dia juga salah satu iblis kakek anda."
"Aku belum yakin." Jawab Devian singkat.
Aiden tak berani untuk bertanya lagi, begitu melihat Devian yang terdiam.
*****
Kabar kematian Celline dengan cepat sampai kepada Raja Erebos. Wajahnya yang keriput menunjukkan kemarahan atas kepergian iblis wanita itu.
"Bagaimana dia bisa terbunuh? " Tanya Raja Erebos penuh emosi. Suaranya yang keras menggema hampir diseluruh ruangan.
"Ampun Yang Mulia, Pangeran yang melakukannya." Iblis yang melapor pada Raja Erebos terus menunduk, tangannya mulai gemetar takut jika Rajanya akan begitu murka dengan kabar ini.
"Aku sudah memerintahkan kalian untuk membantu dan menjaganya." Raja Erebos mencengkram leher iblis itu. "Kau gagal dalam tugasmu, aku tidak membutuhkan iblis yang tak ada gunanya seperti dirimu." Raja Erebos mempererat cengkramannya. Membuat iblis itu mengerang kesakitan dan tak berapa lama seluruh tubuhnya telah menjadi debu.
Raja Erebos mengedarkan pandangannya, melihat satu persatu iblis yang berada diruangan itu.
"Apakah ada yang memiliki cara membawa Pengeran Devian kemari? Aku akan memberikan imbalan yang besar untuk siapa saja yang bisa membawa dia kembali kemari hidup-hidup. Bagaimanapun caranya."
Semua iblis diruangan itu mulai gaduh, berebut untuk mengikuti sayembara yang baru diumumkan Raja iblis itu.
"Tapi jika kalian kembali dengan tangan kosong kalian akan mati ditanganku." Sambung Raja Erebos penuh emosi.
"Saya akan membawa Pangeran kembali." Suaranya terdengar begitu lantang dan percaya diri.
Seorang iblis dengan tubuh kekar, memiliki telinga runcing elf di bagian wajahnya terdapat beberapa bekas luka sayatan senjata. Dia mengenakan baju zirah dengan senjata terselip di pinggangnya, pedang dan belati. Semua iblis mulai berbisik membicarakan iblis yang baru saja menawarkan diri.
"Baiklah, siapa namamu? " Tanya Raja Erebos.
"Panggil saja saya Harl, Yang Mulia." Jawab Harl sopan.
"Baiklah, Prajurit sebaiknya kau kembali tanpa tangan kosong, kau mengerti maksudku bukan."
Harl menunduk hormat dan segera pergi keluar dari ruangan itu.
****
Adrian juga telah menerima laporan dari mata-matanya tentang rencananya yang gagal karena terbunuhnya Celline.
"Bagaimana mungkin Devian membunuh iblis wanita itu dengan mudahnya. Dia melakukan penyamaran dengan sempurna." Adrian terus memikirkan setiap kesalahan yang mungkin dilakukan oleh Celline. Tapi, semua itu hanya membuatnya semakin frustasi dengan dirinya.
*****
Alice sedang mengikuti pelajaran berkuda. Beberapa hari yang lalu dia diminta untuk mengikuti pelajaran ini karena beberapa minggu lagi musim berburu dimulai. Sesuai tradisi kerajaan saat musim berburu Raja akan pergi kehutan untuk berburu dengan beberapa Raja dari kerajaan sekutu dan beberapa pejabat penting kerajaan. Alice sebagai Ratu juga harus ikut menemani Raja.
Gadis itu terlihat menikmati pelajarannya, sesekali gadis itu memacu kudanya lebih mengitari area peternakan kuda istana. Tak berapa lama pelatihnya meminta Alice untuk berhenti dan mengakhiri pelajaran mereka hari ini.
"Yang Mulia sepertinya anda cukup mahir dalam berkuda." Puji pelatih.
"Terimakasih."
"Baiklah, Saya rasa pelajaran hari ini sudah cukup anda bisa kembali ke kediaman anda."
"Bolehkah aku disini sebentar lagi, aku akan memasukkan kudaku ke dalam kandang sendiri. Kau boleh pergi lebih dulu."
Pelatih mengizinkan Alice untuk berada disana sebentar dan meninggalkan gadis itu sendiri. Alice kembali mengitari area peternakan itu dengan santai, beberapa petugas peternakan menyapanya saat mereka berpapasan.
Tak jauh dari sana seseorang tengah mengamati Alice. Melihat setiap hal yang dilakukan gadis itu. Wajah pria itu terlihat semakin serius saat seorang yang tak lain adalah Devian mendekati Alice. Dia membantu gadis itu untuk turun dari kudanya.
"Apa yang Anda lakukan disini? " Tanya Alice penasaran.
"Aku ingin melihat kuda milikku." Jawab Devian singkat. "Harusnya pelajaran berkudamu sudah selesaikan."
"Hmm.. Saya meminta pelatih untuk membiarkan saya disini sebentar."
"Bawa masuk kuda Ratu!! " Perintah Devian pada salah seorang petugas peternakan.
Petugas peternakan dengan sigap langsung melakukan perintah Rajanya. Devian mengajak Alice untuk berjalan disekitar peternakan.
"Anda sekarang banyak berubah Yang Mulia." Alice mencoba memulai percakapan.
Devian melirik Alice tak mengerti, seakan menuntut penjelasan lebih. "Maksud saya berubah menjadi seorang yang baik, atau mungkin aku baru mengetahui sisi lembut pada diri anda." Alice menunduk menyembunyikan wajahnya yang mulai merona.
Terlihat senyum tipis terukir diwajah Devian. "Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya disini, tapi aku ingin ngatakan sesuatu padamu? " Wajah Devian berubah menjadi serius.
"Apa yang ingin Anda katakan? " Tanya Alice bingung.
"Ayo kita menikah!! Bukan dengan caramu tapi dengan caraku." Devian masih menatap Alice serius.
Seseorang yang tengah membuntuti mereka terlihat begitu terkejut mendengar ucapan Devian.
"Ini tidak boleh terjadi, Yang Mulia Erebos harus mengetahui ini secepatnya."
TBC