
Alice tengah duduk di salah satu kursi Taman dengan wajah yang berseri-seri. Semburat merah terlihat di kedua pipinya saat gadis itu mengingat lamaran Devian yang baru saja terjadi. Meskipun mereka sudah pernah melakukan janji suci pernikahan, tapi ini pertama kalinya dia dilamar seperti itu. Meski tidak ada bunga, cincin atau pun Devian tidak berlutut di depannya itu sudah membuatnya begitu bahagia.
Alice menatap langit dan tersenyum lebar. "Aku bahagia, sangat bahagia. Aku harap semua akan menjadi lebih baik setelah kami menikah." Kata Alice pada dirinya sendiri.
Beryl yang melihat Ratunya dari kejauhan terlihat bingung dan segera menghampiri gadis itu.
"Yang Mulia, saya mencari anda kemana-mana. Kenapa anda tidak langsung kembali begitu pelajaran anda selesai? " tanya Beryl sedikit khawatir. "Tapi, apa ada sesuatu yang terjadi anda terlihat begitu bahagia? "
Alice menatap Beryl dengan senyum yang semakin mengembang. "Hmmm.. Ada sesuatu yang baik terjadi. Sekarang aku begitu bahagia aku belum pernah sebahagia ini Beryl, rasanya aku ingin terbang." Alice kembali menatap langit.
Mendengar Alice begitu bahagia Beryl ikut tersenyum lebar. "Saya senang Yang Mulia, setelah begitu banyak hal buruk yang anda lalui akhirnya ada hal baik yang terjadi. Semoga anda tidak lagi bersedih dan mengalami hal yang buruk lagi." Gumam Beryl lirih.
...****************...
Dari kejauhan Devian mengamati Alice, tentu saja dengan di ikuti Aiden.
"Ahhh, aku tidak tahu kalau dia akan sesenang itu. Apa aku berlebihan? " Tanya Devian pada Aiden.
"Berlebihan? " tanya Aiden tak percaya. "Saya tidak tahu dibagian mana yang berlebihan, Yang Mulia. Anda melamar Ratu di dekat kandang kuda. Padahal aku sudah merencanakan sesuatu yang lebih baik." Aiden mendesah berat menyadari usaha kerasnya sia sia.
Devian menepuk pundak Aiden. "Kerja Bagus, kenapa tidak kau buat saja untuk dirimu sendiri? " Devian segera melangkah pergi meninggalkan Aiden.
Sebelum Aiden melangkah mengikuti Devian, dia melirik kearah pelayan Alice. "Membuat untuk diriku sendiri? " Gumamnya. "Itu tidak akan terjadi." Aiden segera melangkah mengikuti Devian.
...****************...
Di istana para iblis beberapa bangsawan iblis sudah berkumpul di sebuah ruangan. Mereka duduk mengitari meja besar ditengah ruangan menunggu sang Raja untuk mengambil keputusan.
"Baiklah, upacara akan dilakukan di malam Bulan Purnama tiga hari lagi. Dalam waktu dua hari aku memerintahkan Harl untuk meniggalkan upacara itu bagimana pun caranya?"
"Lalu bagaimana jika dia gagal? " Tanya salah seorang dari mereka.
"Kita akan mengambil bagian dalam upacara itu. Pasti akan lebih menyenangkan." Jawab Raja Erebos dengan seringai yang menyeramkan.
"Lalu bagaimana dengan manusia itu, manusia yang menawarkan diri untuk bersekutu denganmu? " salah seorang iblis itu mengingatkan Raja Erebos dengan Adrian.
"Ah, benar aku hampir saja melupakannya. Dia tentu saja akan memiliki tugas yang lebih penting. Baiklah, kumpulkan iblis terbaik kalian untuk acara penyatuan bodoh itu. Aku harus segera menemui manusia itu."
"Baik Yang Mulia." jawab para iblis itu hampir bersamaan.
...****************...
Adrian baru saja memasuki ruangannya saat seseorang muncul secara tiba-tiba di depannya.
"A.. Apa yang anda lakukan disini? " tanya Adrian terkejut.
"Aku? Aku datang untuk memberikan mu kabar buruk. Sepertinya semua rencanamu akan gagal." Raja Erebos duduk di kursi panjang dalam ruangan itu.
"Apa maksudnya gagal? Apa anda menyerah untuk menjadikannya Raja di duniamu? " Adrian menatap Raja Erebos tak percaya.
"Aku tidak akan bisa melakukannya jika Devian berhasil melakukan upacara penyatuan dengan istrinya." Jawab Raja Erebos. "Tapi, jika kau bisa menggagalkan upacara itu akan berbeda lagi ceritanya." Raja Erebos menyeringai.
"Apa yang harus saya lakukan? " Tanya Adrian menatap Raja Erebos serius.
"Cobalah untuk menggagalkan penyatuan itu. Jika mereka melakukannya, mereka tidak bisa terpisahkan lagi."
Adrian terdiam sesaat memikirkan perkataan Raja iblis itu seksama. "Baiklah, saya akan mencoba menggagalkan rencana Devian. Tapi, jangan lupa setelah Devian pergi saya yang akan menjadi penguasa di Aldwick."
Raja Erebos tersenyum penuh kemenangan, kali ini dia tidak akan kehilangan pewaris tahtanya lagi.
...****************...
Pagi ini Alice tengah merangkai bunga di balkon dekat kamarnya. Menikmati sinar Mentari yang terasa begitu hangat. Senyuman masih senantiasa menghiasi wajah cantiknya.
"Aku akan membuat rangkaian bunga yang sangat Indah." Gumam gadis itu penuh semangat.
Tak jauh dari sana, di bagian bawah Taman diantara pepohonan dan semak seorang tengah mengamati gadis itu.
"Apa yang harus aku lakukan, dua hari aku harus bisa menggagalkan seluruh acara ini. Tidak mungkin jika aku harus berhadapan dengan Pangeran Devian. Cara paling mudah adalah... " iris keemasan pria itu menatap lurus keatas balkon melihat Alice yang tengah duduk sendiri disana. "Baiklah, aku akan membawanya. Mungkin dia akan lebih berguna nantinya."
Pria itu yang tak lain adalah Harl langsung mendekat kearah gadis itu diam-diam. Melewati beberapa penjaga dan menyerang mereka secara mendadak. Membuat para penjaga tidak sadarkan diri. Tak jauh dari sana Aiden yang tengah bersama Devian melihat Harl yang menyelinap masuk kedalam kastil Alice.
"Yang Mulia, saya rasa ada seseorang yang masuk ke kastil Ratu." Aiden menunjuk beberapa penjaga yang tergeletak tak sadarkan diri.
Iris merah Devian segera melihat kerah yang di tunjuk Aiden. "Panggil beberapa prajurit, aku akan memeriksanya langsung."
"Baik, Yang Mulia."
Devian segera menuju ke tempat Alice secepat yang ia bisa. Saat Harl hendak membuka knop pintu ruangan dimana Alice berada, tangannya terasa panas seperti dibakar.
"Menjauh dari sana." Suara Devian membuat Harl sedikit terkejut dan melihat kearah Devian.
"Pa.. Pangeran Devian? " dia tergagap.
"Tapi, sekarang kita bukan teman lagi. Bagaimana bisa seorang teman memilih untuk meninggalkanmu saat dia berharap akan bersama lagi seperti dulu."
"Harl, kita memiliki kehidupan yang berbeda. Kau bisa datang menemuiku dan apa kau sekarang memilih mengikuti Erebos. Orang yang paling kau benci." Tanya Devian menatap Harl tajam.
"Apa bedanya mengikutimu atau mengikuti Erebos. Toh pada akhirnya aku hanya iblis buangan. Jadi, aku akan membuat gadis itu lenyap. Setidaknya dengan begitu kau akan tahu rasanya kehilangan orang-orang kau sayangi." Harl menatap garang pada Devian.
"Hmm, sayang sekali. Sebenarnya aku ingin melepaskanmu dan membiarkanmu pergi. Tapi, jika kau tetap memaksakan niatmu aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja."
"Berarti tidak ada pilihan lain." Harl mencabut pedangnya dan langsung menyerang kearah Devian.
Devian menghindari setiap serangan Harl yang membabi buta dan saat ada kesempatan Devian melayangkan tendangannya membuat pria itu terpental jauh hingga memecah kaca koridor dan terjatuh dihalaman. Tepat pada saat itu Alice muncul dan menemukan Devian disana.
"Yang Mulia, apa yang anda lakukan disini? " Tanya gadis itu sedikit bingung.
"Aku sedang olahraga." Jawab Devian asal.
"Olahraga? " Alice menatap Devian bingung.
"Apa yang sedang kau lakukan? " tanya Devian cepat. Dia dapat merasakan Harl sedang mencoba untuk kembali menyerangnya.
"Merangkai bunga, apa anda... "
"Bagus, lanjutkanlah merangkai bunga buat yang paling Indah aku akan melihatnya nanti. Cepat masuk kembali keruanganmu." Devian mendorong tubuh Alice untuk kembali masuk ke ruangannya. "Jangan keluar sebelum aku datang kesini. Kau mengerti." Devian segera menutup pintu ruangan itu.
Iris mata Devian perlahan menyala dan tak berapa lama dia melesat menyusul Harl yang tengah berada dihalaman. Harl masih terhuyung akibat serangan Devian tadi.
"Kau lebih kuat sekarang." Puji Harl.
"Kekuatanku semakin besar setiap harinya."
Harl kembali mencoba menyerang Devian, pukulan dan tendangan terus dia layangkan pada Devian. Tak memberi kesempatan Devian untuk membalas serangannya. Sesaat Devian lengah dan sebuah pukulan mendarat di perutnya membuat terdorong beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Beberapa prajurit datang bersama Aiden, mereka segera membentuk formasi didepan Devian untuk melindungi Raja mereka.
"Kekuatan militermu memang luar biasa, tapi manusia -manusia ini bukan tandinganku."
"Aku yang akan menghadapinya sendiri, menyingkir dari sini." perintah Devian.
"Tapi Yang Mulia.. " Aiden menatap Rajanya penuh rasa khawatir.
"Kalian sebaiknya menyingkir dari sini. Aku yang akan membereskan semuanya." Devian segera melangkah maju.
Barisan tengah prajurit segera membuka jalan untuk Devian. Salah satu dari mereka menyerahkan pedang Devian.
"Baiklah, ayo kita buat permainan yang menyenangkan sebelum aku membunuhmu." Devian menatap garang pada Harl.
Harl segera mengambil pedangnya yang terjatuh ditanah. Kali ini Devian memulai serangannya. Dentingan akibat benturan pedang Devian dan Harl terdengar begitu nyaring. Sesekali gesekan pedang menimbulkan percikan-percikan api. Serangan Demi serangan Harl berusaha menangkis dan mengimbangi kecepatan Devian dan salah satu serangan Devian berhasil mengenai lengan Harl. Darah hitam pekat mengalir dari luka itu.
"Sebaiknya kau menyerah dan kembali Harl." Devian mencoba memperingatkan Harl.
"Aku tidak akan menyerah dalam misiku, apa bedanya mati disini atau di tangan Erebos. Pada akhirnya kematian akan menghampiriku." Harl mengangkat pedangnya dan hendak menebaskan pedangnya pada Devian.
Saat sebuah tombak menembus punggung pria itu. Mata Devian membulat kaget. Harl roboh ketanah dan tombak itu perlahan menghilang menjadi abu meninggalkan bekas luka menganga dari punggung hingga perut Harl. Devian segera menghampiri tubuh temannya dan iris matanya mencari siapa yang melakukan serangan mendadak itu. Saat mata Devian menemukan sosok di atas salah satu balkon bangunan istananya. Harl menyentuh wajah Devian.
"Menyerahlah, upacara itu tidak akan berhasil...." Saat Harl akan mengucapkan kalimat berikutnya, sesuatu terjadi Harl berteriak kesakitan dan tak berapa lama tubuhnya terbakar dan menjadi debu.
"Erebos, kau sudah terlalu jauh." Devian menatap garang kearah balkon tempat dia melihat sosok yang menyerang Harl.
Dengan langkah gontai Devian mengetuk pintu tempat Alice berada. Memeriksa apakah gadis itu baik-baik saja. Alice membukakan pintu untuk Devian dan menatap pria itu dengan wajah tersenyum.
"Ini pertama kalinya anda mengetuk pintu sebelum masuk."
"Benarkah? "
"Anda terlihat pucat apa anda baik-baik saja? " Tanya Alice sedikit khawatir.
"Aku akan baik-baik saja." Devian melangkah masuk kesana. Tapi, pandangannya mulai mengabur dan dia mulai kehilangan keseimbangannya. Devian ambruk kedalam pelukan Alice.
"Ya.. Yang Mulia. Anda baik-baik saja? " Tanya Alice semakin khawatir.
Dengan susah payah gadis itu menahan bobot tubuh Devian yang lebih berat.
"Tuan Aiden apa anda diluar!! Beryl!!! Siapa saja bisakah kalian membantu Yang Mulia." Alice berteriak meminta bantuan siapa saja yang mendengarnya.
Gadis itu terus mencoba menahan tubuh Devian agar tidak jatuh kelaintai. Namun, perlahan tubuh Devian merosot akhirnya Alice perlahan membiarkan tubuh Devian dilantai menopang kepala pria itu tetap dipangkuanya.
"Yang Mulia anda baik-baik saja? " Alice terus mencoba bertanya meski dia tahu jika suaminya saat ini tengah pingsan.
Air bening mulai menggenang di mata gadis itu. Jemari mungilnya membelai pipi pria itu dengan lembut. Berharap agar suaminya segera tersadar.
TBC