
Alice membenamkan wajahnya yang merah padam dalam dada bidang suaminya. Sedangkan Devian segera memalingkan wajahnya dari pandangan para pelayan istrinya.
"Apa kalian tidak mengikuti pelajaran etika kerajaan selama ini? " terdengar suara lantang Devian yang marah karena waktu pribadinya diganggu.
"Hmm.. Ma... Maaf Ya.. Yang... Mulia.."
"Keluar!!! " bentak Devian marah.
Buru-buru nyonya Bert menutup pintu kamar besar itu, wanita gemuk itu terlihat gemetar ketakutan. Wajah keriputnya terlihat pucat pasi, dia melirik Aiden yang berdiri tak jauh darinya.
"Aku sudah mengingatkanmu." Gumam Aiden santai.
Beryl menatap Aiden bingung, saat pintu terbuka Aiden sengaja menarik Beryl menjauh dari pintu masuk kamar Alice.
"Apa yang terjadi?" wajah Beryl nampak kebingungan.
"Jangan dipikirkan, anak-anak tidak akan mengerti." Aiden tersenyum dan mengelus rambut Beryl.
...****************...
Di dalam kamar, Alice menatap Kesal kearah Devian.
"Kenapa?" tanya Devian dengan wajah innocent.
"Tak bisakah anda memperingatkan mereka sebelum membuka pintu? Bagaimana saya harus menghadapi mereka nanti?" Alice terlihat kebingungan.
"Apa sekarang kau menganggap ini adalah dosa?" tanya Devian kemudian.
"Tidak, saya tidak bilang begitu. Tapi, bagaimana bisa orang melihatku dalam keadaan seperti ini."
"Seperti apa? Mereka tak melihatmu tanpa busana, mereka hanya melihat mu dalam pelukanku. Apa kau keberatan."
"Tapi.. "
"Lupakan saja." Devian terlihat kesal dan hendak melangkah meninggalkan Alice.
Namum, lengan Alice dengan cepat melingkar di pinggang Devian.
"Kenapa lagi? Bukannya kau tidak suka jika orang melihatnya?" Dengan kesal Devian hendak melepas lengan istrinya.
"Tapi, apa anda lupa saya tidak memakai busana." Wajah Alice kembali bersemu merah.
"Aahh!! Benar." Senyum jahil terlihat diwajah Devian.
...****************...
Di luar kamar, Dengan was-was seluruh pelayan menunggu Devian keluar dari kamar Alice. Aiden duduk di kursi dengan santai, berbeda dengan Beryl yang terlihat masih gelisah.
"Tu.. Tuan Aiden, kenapa anda tidak memberi tahu kalau Yang Mulia di dalam?" Nyonya Bert terlihat gelisah.
"Anda tidak menanyakan hal itu sebelumnya." Jawab Aiden santai.
"Tapi anda bisa... "
"Saya sudah memperingatkan anda Nyonya Bert. Apa anda lupa?" Aiden menatap wanita itu kesal.
Nyonya Bert langsung menunduk dalam. dia terus memikirkan hukuman apa yang akan ia terima karena keteledorannya saat ini. Terlihat Beryl melirik kearah Aiden.
"Tuan!" Beryl memanggil Aiden.
"Ada apa Nona Beryl?" Aiden langsung memandang Beryl yang berada disampingnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" bisik Beryl penasaran.
"Nanti kau bisa tanyakan pada Ratu." Aiden tersenyum tulus.
Tiga puluh menit kemudian Devian keluar dari kamar Alice dengan wajah kesal. Iris birunya perlahan berubah kembali, dia memandang tajam satu persatu pelayan yang berada disana. Semua pelayan segera menunduk dalam menyembunyikan setiap kegelisahan dan ketakutan yang mereka rasakan.
"Apa yang harus aku lakukan pada kalian?" Suara Devian terdengar begitu marah. "Departemen pendisiplinan pasti tidak akan menghukum kalian dengan benar, terutama kau gendut." Mata Devian berkilat tajam memandang Nyonya Bert. "Mereka tanggung jawabmu bukan?"
"A... Ampun Yang Mulia." Suara Nyonya Bert bergetar.
"Kau pelayan Corfe, masuk dan bantu Ratu. Setelah itu bawa dia keluar agar pelayan bisa membereskan kekacauan di dalam sana, dan kau gendut ikut aku. Jangan lupa bawa mereka."
Beryl segera masuk ke dalam kamar Alice tanpa banyak bicara. Sedangkan Devian langsung pergi menuju ruang departemen pendisiplinan diikuti para pelayan istrinya dan juga Aiden.
Beryl baru selesai membantu Alice membersihkan diri dan berpakaian.
"Sudah selesai Yang Mulia, Anda bisa keluar sekarang. Pelayan akan membereskan ruangan anda." Beryl menggandeng tangan Alice untuk keluar dari kamarnya.
"Baiklah, aku ingin istirahat sejenak dan menghirup udara segar." Gumam Alice.
Mereka kini sudah berada di balkon, disana terdapat satu set meja dan kursi. Di atas meja terhidang makanan untuk sarapan Alice. Namun, sepertinya gadis itu tak begitu berselera.
"Yang Mulia, Apa anda butuh sesuatu? " Tanya Beryl membuyarkan lamunan Alice yang tengah terdiam.
"Hmmm.. Tidak, tidak perlu Beryl." Alice meraih sebuah roti dan meletakkannya diatas piringnya.
"Yang Mulia, anda baik-baik saja. Apa semalam terjadi sesuatu? " Tanya Beryl mulai cemas.
"Hah.. " Alice terlihat kikuk saat Beryl menanyakannya. "A.. Apa maksudmu? "
"Semalam saya mendengar keributan dikamar anda, saya pikir anda dan Yang Mulia Devian sedang... "
"Apa yang kau pikirkan?" Alice segera memotong kalimat Beryl cepat.
Tanpa sadar semburat merah terlihat diwajah gadis itu.
"Ada orang jahat yang masuk kamar anda." jawab Beryl dengan polos.
"Hmmm... A.. Aku tidak ingat." Alice mencoba untuk mengendalikan dirinya.
"Benarkah? Tapi melihat keadaan kamar anda, pasti telah terjadi sesuatu."
"Kenapa anda marah, saya hanya menghawatirkan anda."
...****************...
Di ruangan lain, Devian berdiri di depan para pelayan yang menerobos masuk kamar istrinya. Satu persatu dia mengamati wajah-wajah yang mulai katakutan. Beberapa orang berdiri dibelakang Devian menunduk dalam.
"Aku yang akan menghukum mereka atau kalian yang akan melakukannya?" suara dingin Devian bergema didalam ruangan besar itu.
Semua orang diam tak ada yang berani menjawab. "Aku penasaran, siapa yang meloloskan mereka menjadi pelayan Ratu dan kepala pelayan disaat mereka sama sekali tak mengerti etika. "
"Ma.. Maafkan kelalaian hamba Yang Mulia." Nyonya Bert memberanikan dirinya untuk bicara meskipun suaranya terdengar bergetar.
"Maaf? Jika kata maaf saja dapat menyelesaikan masalah lalu apa gunanya aku membuat hukum dikerajaan ini." Devian menatap Nyonya Bert tajam. "Kau tahu aku benci orang yang memandang rendah diriku."
Nyonya Bert menunduk dalam, tak berani berucap apapun lagi. Devian beralih pada pegawai pendisiplinan.
"Adakan kelas etika untuk para pelayan ini dan untuk kepala pelayan hukum cambuk, apa itu cukup menyiksa?" Devian berfikir dan menatap pegai pedisiplinan yang masih menunduk. "Aku tidak suka hukuman ringan. Hmm.. Lepas jabatannya sebagai kepala pelayan, cambuk 100x dan tempatkan dia dibagian paling rendah diistana. Jika aku melihat dia lagi di kastil utama atau kediaman Ratu. Aku akan memberi makan anjing penjaga dengan dagingnya."
Mendengar hukumannya sontak nyonya Bert terkejut dan langsung berlutut didepan Devian. "Ya.. Yang Mulia ampuni saya Yang Mulia. Saya... Saya.. "
"Aku tidak menerima alasan apapun." Devian segera berbalik dan keluar dari ruangan itu.
Aiden yang menunggu diluar langsung mengikuti Devian menuju kastil utama.
"Apa jadwal hari ini? " Tanya Devian tanpa menoleh pada Aiden.
"Pagi ini anda ditunggu oleh pejabat istana dan para bangsawan di aula singgasana."
"Siapkan semuanya, aku akan langsung kesana setelah sarapan." Devian segera berjalan cepat meninggalkan Aiden.
...****************...
Alice terlihat berdiri di depan sebuah ruangan. Wajahnya terlihat begitu gelisah. Sesekali dia hendak mengetuk pintu, tapi dia langsung mengurungkan niatnya.
"Yang Mulia, apa anda ingin bertemu Raja?" Tanya salah seorang penjaga.
"Hah.. Ti.. Tidak. Aku hanya ingin menyapanya tapi tidak usah." Alice hendak meninggalkan ruangan itu saat Devian keluar dari sana.
"Apa yang kau lakukan disini?" Devian menghampiri istrinya.
"Sa.. Saya ingin menanyakan sesuatu."
"Apa? Aku sedang sibuk." Devian segera melangkah pergi, namun Alice segera mengikutinya dan berjalan disamping suaminya.
"Saya ingin tahu, apa yang terjadi semalam? " Alice menunduk dalam.
"Bukankah sudah jelas apa yang terjadi." Jawab Devian datar.
"Bukan begitu, tapi saya tidak mengingat apapun. Bisakah anda mengembalikannya? " gumam Alice lirih. "Haruskah saya melupakannya? "
Langkah Devian seketika terhenti dan melihat istrinya yang menunduk dihadapannya. "Aku bukan jin yang bisa mengabulkan setiap permintaan, sesuatu yang sudah ku ambil tidak bisa dikembalikan."
"Tapi anda tidak meminta izin kepada saya, bukankah saat anda harus mengambil sesuatu anda harus minta izin pada pemiliknya." Alice mendongak dan menatap suaminya tajam.
"Apa kau lupa? Kau adalah milikku. Jadi, aku tak butuh izin darimu." Devian memamerkan smirknya dan langsung melangkah pergi.
"Yang Mulia!! " Alice memanggil suaminya frustasi. Dia mempercepat langkahnya untuk menyusul pria itu.
Devian yang kesal karena diikuti akhirnya berhenti. "Aku masih ada banyak pekerjaan, apa yang kau inginkan?"
"Tak bisakah, kau mengampuni pelayan-pelayanku."
"Tidak. " Jawab Devian singkat.
"Kenapa? Mereka hanya membuat satu kesalahan."
"Jika aku mengampuni mereka dengan mudah, maka mereka tak akan takut padaku. Satu kesalahan sekecil apapun tak ada ampunan untuk mereka itulah hukum. Jadi belajarlah untuk mematuhi peraturanku. Sebaiknya kau pergi aku sibuk." Devian hendak berbalik namun tangan Alice menghentikannya.
"Yang Mulia anda memang luar biasa, beberapa jam yang lalu anda begitu manis padaku dan dalam hitungan menit anda sudah berubah lagi kembali keasal."
"Benarkah? Aku tak mengingatnya." Jawab Devian sambil memalingkan wajahnya.
"Apa anda juga menghilangkan ingatan anda? " Tanya Alice kesal.
"Bukankah itu urusanku, lagi pula kau bilang tidak ingin siapapun melihatmu dalam keadaan seperti itu. Apa kau lupa? "
"Apa anda marah karena hal itu, maksudku adalah orang lain Yang Mulia. Bukan anda."
"Jadi kau suka jika aku yang melihat hal itu." Devian terlihat tersenyum.
"Bu.. Bukan begitu.. "
"Maaf Yang Mulia, saya mengganggu pertengkaran suami istri anda. Tapi, para pejabat dan bangsawan sudah menunggu." Aiden yang tiba-tiba datang membuat keduanya terdiam canggung.
"Hmm.. Baiklah, aku akan segera kesana dan Aiden ini bukan pertengkaran suami istri." Devian segera melangkah pergi menuju Aula singga sana.
"Tunggu, Aku belum selesai Yang Mulia. Aku akan ikut dalam pertemuan anda." Suara Alice kembali menghentikan langkah Devian dan menatap istrinya.
Alice kemudian melangkah mendahului suaminya.
"Apa yang terjadi? Ratu tidak pernah seperti ini sebelumnya." gumam Aiden.
"Jika dia membuat masalah, tak akan ku ampuni dia." Gumam Devian kesal.
Di acara pertemuan Alice duduk disamping suaminya. Begitu banyak masalah yang dibahas dalam pertemuan ini. Mulai dari masalah pajak, harga bahan pangan, kekeringan dan juga beberapa bencana dan kerusuhan di setiap wilayah kerajaan. Devian dengan seksama mendengar setiap laporan para pejabat dan juga bangsawan. Dia juga mencoba memberi solusi yang terbaik.
Sedangkan Alice, dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. 'Apa yang terjadi? Apa dia benar-benar melakukannya? Dia melakukannya. Lalu kenapa dia melakukannya? Bukankah dia tidak menyukaiku? Tapi dia memperlakukan aku dengan baik tadi pagi.. Tapi sekarang dia tidak suka padaku? ' Alice menatap Devian tajam. 'Apa perasaannya juga menghilang saat matanya berubah, atau dia melupakanku saat matanya berubah? Tapi masalahnya adalah dia melakukannya, bukankah setelah melakukannya seorang wanita akan.. HAMIL. ' Mata Alice membulat sempurna.
TBC