
"Hahaha... " Suara tawa Raja Erebos pecah. Begitu keras hingga suara tawa itu terdengar hingga keluar ruangan Devian.
"Devian cucuku, bagaimana mungkin aku membunuh anakku sendiri darah dagingku?" Raja Erebos kembali serius.
"Tapi, manusia tak akan bisa membunuhnya. Itu fakta yang kau katakan beberapa tahun lalu padaku." Devian menatap tajam kakeknya.
"Dia sudah kehilangan setengah kekuatan dan juga Sumber kehidupannya, karena melahirkanmu Devian. Dia juga menggunakan banyak energi untuk menyegel jiwa iblis dalam dirimu. Bukankah pembunuh sebenarnya adalah dirimu."
Brakkkkk...
Devian memukul meja didepannya dengan keras. "Jangan membuatku marah kakek, kau tau saat aku kehilangan kendali kau tak akan bisa mengalahkan aku dengan mudah."
"Tapi pada akhirnya kau tak akan memiliki tujuan lain selain kerajaan iblis Devian."
"Sebaiknya kau pergi dari sini, aku sedang bekerja."
"Baiklah, jika kau lebih menyukai kertas-kertas bodoh itu dari pada kekuasaan tak terhingga dikerajaan iblis."
"Sejujurnya aku lebih menikmati kerajaan kecilku."
Dalam sekejap Raja Erebos menghilang, namun suara gema dari kakek tua itu masih terdengar jelas. "Kau harus ingat takdirmu Devian, tempatmu bukan disana."
Devian memamerkan smirknya. "Sejak kapan kau menentukan takdir ku? " gumamnya kesal.
Saat Devian berbalik, tumpukan kertas kembali berada di atas meja, membuatnya kembali menghela nafas berat. "Benar, pekerjaanku masih belum selesai."
...****************...
Di ruangan lain Alice masih terlelap, Beryl dengan Setia menunggu disampingnya. Menanti sang majikan untuk membuka mata dan membagi sedikit rasa sakit dengannya.
"Yang Mulia, aku benar-benar khawatir pada anda. Anda satu-satunya keluarga yang saya miliki." Lirih gadis itu.
Perlahan dahi Alice berkerut, mata gadis itu perlahan mulai terbuka. Gadis beriris biru itu perlahan mengerjapkan matanya dan berusaha bangun. Sigap, Beryl langsung membantu tuannya untuk duduk.
"Yang Mulia anda baik-baik saja?" tanya Beryl cemas.
Alice tersenyum lembut. "Aku baik-baik saja Beryl. Tapi apa yang terjadi?" tanya Alice bingung. "Aku sepertinya melihat Devian disini tadi."
"Yang Mulia Devian kembali kekastil utama, beliau sudah dua hari menjaga anda tanpa istirahat Yang Mulia." Jelas Beryl.
"Benarkah, tapi Beryl kenapa aku terluka? Apa yang terjadi?"
Beryl menatap Alice bingung. "Anda tidak ingat? "
"Hmm.. " Alice mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi. Gadis itu mengerutkan dahinya. "Pesta ulang tahun Raja Aaron, dan kebakaran. Hanya itu yang aku ingat. Apa pesta itu berakhir kacau?" mata Alice membulat kaget.
Beryl menatap Alice bingung dan hanya mengangguk mengiyakan. "Hmm.. Pestanya sedikit kacau."
"Jadi aku terluka dipesta itu? Raja Aaron pasti sedih." Gumam Alice.
"Yang Mulia apa anda ingin makan sesuatu, pelayan sudah mengantar beberapa makanan untuk anda." Beryl mecoba mengalihkan pembicaraan.
"Hmm.. Aku sedikit lapar, apa menunya? " tanya Alice tersenyum.
Beryl meletakkan meja kecil di atas ranjang Alice. Semangkuk bubur gandum dengan irisan daging dan segelas susu segar serta buah-buahan.
"Dokter bilang protein baik untuk menyembuhkan luka anda." Beryl tersenyum lebar dan membantu Alice untuk makan.
"Aku akan makan sendiri Beryl." Alice meraih sendok dari tangan Beryl dan memasukkan satu sendok penuh bubur kedalam mulutnya.
...****************...
Adrian terlihat mondar mandir didalam ruangannya. Raut wajah cemas terlihat jelas diwajahnya.
"Carl, cepat masuk kemari? " Teriak Adrian memanggil seseorang.
Seorang pria berusia 40 tahunan masuk keruangan Adrian. Dia segera membungkuk hormat begitu sampai didekat Adrian.
"Apa Devian masih disana? " tanya Adrian pada Carl tanpa melihat pria itu.
"Yang Mulia Devian baru saja kembali ke kastil utama." Jawab Carl masih menunduk.
"Aku akan mengunjungi Alice, Aku harus memastikan dia tak menceritakan apapun pada Devian."
"Saya rasa sebaiknya anda jangan menemui Yang Mulia Alice terlebih dahulu, keadaan akan semakin buruk jika anda kesana sekarang."
"Lalu apa kau ingin Devian menangkapku terlebih dulu, Aku hanya harus memastikan dia tidak membuka mulutnya kalau dia bertemu denganku disana." Adrian meninggikan suaranya.
"Ampun Yang Mulia, saya hanya memberi saran."
"Lupakan, aku harus kesana sekarang." Adrian melangkah cepat keluar dari ruangan itu diikuti tuan carl dibelakangnya.
...****************...
Alice baru saja selesai makan saat Adrian sampai dikamarnya. Sedangkan Beryl harus menunggu diluar karena Adrian memintanya untuk keluar. Adrian sudah duduk di kursi dekat ranjang Alice. Iris abu-abunya menatap gadis itu tajam.
"Apa yang ingin anda katakan pangeran?" tanya Alice sedikit terganggu.
"Lalu apa yang ingin anda pastikan? "
"Tentang Tyler..." Adrian menatap tajam Alice penuh waspada.
"Tyler? Siapa Tyler? " tanya Alice bingung.
"Tyler Addinson, kau tahu kan? "
Alice menggeleng. "Siapa dia? Apa dia orang yang anda kenal? Atau dia salah satu tamu diacara ulang tahun ayah anda?"
Adrian menatap Alice bingung. 'Ada apa dengannya? Apa yang ia rencanakan? Apa dia lupa kejadian penculikannya atau lupa dengan semuanya. Tapi, dia mengingatku. Kenapa dia lupa pada Tyler.'
"Pangeran Adrian apa ada masalah? " tanya Alice lagi.
"Ti.. Tidak, hanya aku ingin tahu bagaimana kau bisa terluka. Aku hanya dengar kau terluka dari beberapa pelayan."
"Entahlah, mungkin saat pesta. Beryl bilang pestanya menjadi kacau. Aku juga tak mengingatnya."
"Baguslah." Gumam Adrian dengan senyum terukir dibibirnya.
"Bagus?" Alice menatap Adrian heran.
"Maksudku lebih baik kau melupakan hal yang menyakitkan. Bukankah begitu? " Adrian menyembunyikan kegugupannya.
"Mungkin lebih baik begitu." Gumam Alice.
"Baiklah, aku ada urusan lain. Cepat sembuh Alice." Adrian beranjak dari tempat duduknya dan segera meninggalkan kamar Alice penuh kelegaan.
Perlahan matahari mulai tenggelam digantikan dengan rembulan. Beberapa pelayan baru saja keluar dari kamar Alice, diikuti beberapa perawat.
'Dia sudah makan dan meminum obatnya?' terdengar suara samar dari balik pintu.
Alice yang tengah membaca buku otomatis menghentikan aktifitasnya dan menoleh kearah pintu. Tak berapa lama pintu terbuka, Devian dengan santai masuk kedalam dan duduk dikursi dekat ranjang Alice.
"Sepertinya keadaanmu jauh lebih baik." Gumam Devian.
Alice meletakkan buku yang ia baca dipangkuannya. "Anda sangat perhatian Yang Mulia, terimakasih."
"Aiden bilang, Adrian datang mengunjungimu lagi. Apa yang dia inginkan darimu?"
"Apa anda akan marah lagi karena Pangeran Adrian mengunjungi saya?"
"Ahh.. Kenapa aku marah? Aku hanya tidak suka jika ada kesalah pahaman."
"Saya mengerti Yang Mulia, anda tidak perlu mengingatkan. Tadi Pangeran Adrian bertanya bagaimana keadaan saya."
"Begitukah? Aku tidak tahu dia cukup perhatian padamu. Sebaiknya kau segera makan dan minum obatmu. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku." Devian segera beranjak berdiri.
Namun, tangan Alice segera meraih pergelangan tangan Devian. "Yang Mulia, bisakah anda disini sedikit lebih lama." tanya Alice lirih.
Alice menundukkan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Devian melihat tangan Alice dan melepaskan pegangan gadis itu. Devian segera melangkah menjauh dari ranjang Alice. Entah mengapa Alice merasa kecewa, Devian menolak untuk menemaninya. Bibir Alice sedikit mengerucut merasa kecewa dengan Devian. Namun, Alice merasakan seseorang duduk diranjangnya, tepatnya disamping gadis itu. Alice segera menoleh kesamping dan melihat Devian yang duduk bersandar dibantal empuk disampingnya. Mata Devian terlihat terpejam.
"Ya.. Yang Mulia!!" Alice terlihat terkejut.
"Kau bilang ingin aku disini sedikit lebih lama, pelayan juga bilang kau sudah makan dan minum obat. Cepatlah tidur. Aku masih banyak pekerjaan." Terdengar nada dingin Devian dengan mata terpejam.
"Tak bisakah anda sedikit berbohong." Gumam Alice lirih.
"Apa yang kau katakan?" tanya Devian lagi.
"Ti.. Tidak, tidak ada Yang Mulia." Jawab Alice cepat.
Gadis itu segera meraih buku dipangkuannya dan kembali membaca buku tersebut. Namun, dengan cepat tangan Devian meraih buku ditangan Alice. "Kau memintaku disini hanya untuk melihatmu diam dan membaca?" protes Devian kesal.
"Ma.. Maaf." Alice menunduk menyesal.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan? " tanya Devian.
"Tak bisakah anda bengubah iris mata anda lebih dulu." Alice menatap Devian memohon.
Devian menghela nafas. "Dengar, aku tidak bisa mengubahnya sesuka hatiku." Devian merasa sedikit kesal dengan permintaan Alice.
"Kenapa harus marah." Alice menundukan kepalanya dan mengerucutkan bibirnya.
"Hmm.. Sekarang aku terlihat seperti orang jahat yang menyiksa istrinya yang sakit." Devian menarik tubuh Alice dan memeluk gadis itu. Perlahan tangan Devian membelai rambut perak istrinya.
Alice yang tengah dipeluk Devian, merasa begitu terkejut. Alice mencoba menarik tubuhnya untuk lepas dari pelukan Devian.
"Diamlah!! " terdengar suara dingin Devian yang sontak membuat gadis itu kembali diam membeku.
Wajah Alice memerah, jantungnya berdetak tak karuan. Dia dapat merasakan otot Devian dan juga mencium aroma pria yang telah menjadi suaminya. Alice mendongakkan wajahnya dan tanpa sengaja wajah Devian menunduk. membuat wajah keduanya begitu dekat, bahkan hidung mancung mereka kini sudah saling bersentuhan. Iris merah Devian mengamati seksama iris biru gadis itu.
TBC