
Pesona seorang family man, memang susah ditolak. Aku benar-benar terjebak dalam kebaikannya tanpa aku sadari kapan semua ini bermula. Ia begitu dewasa, sabar dan perhatian.
Mas Rudy sesungguhnya adalah sebuah perpaduan sosok ayah dan kakak laki-laki. Sosok pelindung yang sangat aku butuhkan sedari dulu. Maklum, aku yang besar di panti asuhan sangat miskin kasih sayang dan perhatian dari laki-laki. Mereka yang mengurusku dari kecil semua berjenis kelamin perempuan.
Mendapat perhatian dan kasih sayang dari seorang laki-laki yang begitu intens membuatku terlena, hingga merasa teramat nyaman. Ya ... di mataku, ia laki-laki yang baik.
"Hati-hati, rasa nyaman itu adalah awal dari sebuah keberlanjutan hubungan," begitu selalu nasehat Mbak Luna yang terngiang di kepalaku.
"Sha! Melamun sih?" Mas Rudy menepuk pundakku.
"Ehem, enggak ... cuma ngantuk. Udah yuk, pulang," ajakku mengalihkan pembicaraan.
"Kamu sudah makannya?"
"Sudah, Mas? Sudah?"
"Aku bayar dulu ya, tunggu di mobil," pintanya sambil menyerahkan kunci mobilnya padaku.
Aku menerimanya dan segera berjalan ke tempat ia memarkir mobilnya. Membuka pintu dan menghempaskan pantatku di jok sebelah sopir.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanyaku dalam hati.
Aku memejamkan mataku untuk sekedar menghilangkan penat. Aku biarkan sesaat pikiranku berputar-putar lalu akan berhenti sendiri karena kelelahan.
***
"Sha ... Shanna, hei bangun. Sudah sampai nih." Sebuah suara menyeruak ke alam bawah sadarku. Membuatku terbangun dan mengerjapkan mata.
"Mas ... engh, dimana? Ah ... ehem, sorry aku ketiduran." Setengah sadar aku membuka mata. Lalu menjadi panik karena posis wajahnya yang begitu dekat dengan wajahku. Ketika itu ia membangunkanku dan berusaha membantu membukakan sabuk pengamanku.
"Kamu cantik banget, Sha," desisnya. Lalu entah apa yang membuatnya kemudian mengecup bibirku lembut sekali.
Teramat lembut sehingga aku yang tak pernah merasakan dicium laki-laki menjadi begitu terbuai. Aku terlalu kaget, sehingga tak tahu harus berbuat apa. Aku tak bergeming, tak membalas tetapi juga tak menolak ciumannya.
"Ah, Sha ... maaf, maafkan aku. Aku khilaf," ujarnya panik. Ia nampak kikuk dan salah tingkah ketika menjauhkan tubuhnya dariku.
"Ehem, makasih Mas Rudy. Bye," aku menjadi tak nyaman dengan ucapannya dan kemudian langsung membuka pintu mobilnya. Berjalan setengah berlari membuka pintu pagar kos-kosanku dan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Khilaf?
Ya ampun! Aku menjadi merasa sangat berdosa mendengar kalimat permintaan maafnya barusan. Perasaanku campur aduk dan sangat tak nyaman.
Aku merasa menjadi wanita yang sangat murahan. Semudah itu menerima ciuman dari laki-laki beristri. Padahal dia hanya khilaf! Ya ... khilaf saja, tak ada perasaan apapun padaku. Hanya sekedar terbawa suasana.
"Brak!" aku menutup pintu ruang tamu kos-kosanku agak keras. Setengah berlari menaiki tangga menuju kamarku di lantai dua, membuka kuncinya, masuk, lalu mengunci pintu kamarku kembali dan terisak di balik pintu.
"Wanita murahan macam apa aku ini!" runtukku dalam hati di sela isak tangisku.
***
Aku melirik ponselku setelah mandi dan menenangkan diri. Terdapat 24 panggilan tak terjawab dan 16 pesan.
"Mas Rudy," itu satu-satunya nama yang tertera di notifikasi ponselku, melakukan 24 panggilan tak terjawab.
"Sha, aku minta maaf. Sungguh aku minta maaf. Aku tak tahu apa yang sebenarnya aku lakukan padamu. Aku salah, ya ... aku tahu aku salah. Maafkan aku, Sha. Kamu marah ya?"
Aku membuka dan membaca pesan dalam ruang obrolan kami.
Emosiku membuncah, sungguh sangat tak mengenakkan. Aku berada di tengah gelombang rasa kesal dan kecewa yang teramat dalam.
"Mengapa? Mengapa dia begitu pandai mempermainkan hatiku. Dia menciumku, mencuri ciuman pertamaku dengan begitu manis. Tetapi kemudian menjadi laki-laki yang sangat berengsek dengan berkata perbuatannya padaku hanya khilaf saja!"
Malam itu aku menangis semalaman. Menangis hingga lelah. Menangis dan menyesali diriku yang entah sejak kapan menginginkan dirinya lebih.