
Disini, di kota ini. Tempat yang baru aku tinggali enam bulan lamanya. Tempat kos baru, pekerjaan baru, teman-teman dan suasana yang baru. Aku ingin menata masa depanku dan memupuk asaku disini.
Aku benar-benar bersyukur, Tuhan mempermudah jalanku. Memberikan sebuah pekerjaan yang lebih baik daripada pekerjaanku yang lama, meski dengan beban pekerjaan yang lebih gila. Tapi tak apa, aku bahagia.
Lalu bagaimana dengan perasaanku? Ah, sudah jangan ditanya. Tentu tak mudah melupakan dia yang memberimu semua pengalaman yang pertama. Dari yang tak pernah mengenal cinta, lalu menjadi yang tersayang. Dan memang benar, cinta pertama begitu berkesan. Tetap tertinggal dan sulit dilupakan.
Aku merindukannya setiap saat, setiap detik dan setiap waktu. Merindukan saat dia begitu memperhatikanku, merindukan saat indah kami yang penuh cinta.
Semua hal selalu membuatku teringat padanya dan tersenyum perih. Lalu menangis, menyesali semua yang telah terjadi. Mengapa harus terjadi? Rasa nyaman yang berbalut luka dan air mata? Kalian tahu sakitnya cinta yang tak boleh memiliki?
Aku harus pergi, merelakan, melepaskan dan membunuh semua rasa yang terlanjur tumbuh subur. Aku harus menikam rinduku, mencabut dengan paksa kuntum bunga yang baru mekar dan merekah itu. Sakit... tapi tak berdarah.
Untunglah beban pekerjaanku yang berat, sedikit meringankan tikaman rindu. Aku membuat diriku begitu sibuk dan lelah, hingga nyaris tak ada waktu untuk memikirkannya. Sudahlah, aku memilih mendoakan kebahagiaannya dan keluarga kecilnya. Aku percaya, ketika kita melepaskan sesuatu dengan niat baik, Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik.
***
"Tutt ... tuut!" suara panggilan telepon membuatku dengan cekatan menekan tombol bicara pada alat itu.
"Selamat pagi ... ya, Bapak. Ada yang bisa saya bantu?" ucapku lembut.
"Jam 15.00 ikut meeting di ruangan saya ya. Siapkan semua bahan dan hadir tepat waktu." pinta bosku dari ruangannya.
"Baik Bapak, saya siapkan," jawabku sambil segera mempersiapkan diri.
Aku menyiapkan semua berkas yang dibutuhkan, lalu bergegas ke ruangan beliau satu jam kemudian. Bergabung dengan beberapa rekan kerjaku yang juga termasuk dalam timnya.
Tak lama rekanan kantor kami tiba. Setelah beramah-tamah dengan atasanku, mereka masuk juga ke ruang rapat.
"Selamat datang Pak, ini perkenalkan tim saya," beliau menyapa ketika rekanan kantor kami tiba.
"Shanna ...!" Sebuah suara yang cukup kukenal membuat netraku terfokus padanya.
"Mas ...!" Aku terhenyak, kutahan suaraku sehingga yang keluar hanya sebuah desisan lirih yang hampir tak terdengar.
"Wah, Bapak mengenal salah satu tim saya?" Bosku nampak antusias. Beliau mungkin berpikir bahwa dengan adanya hubungan kedekatan, sebuah kerja sama akan berjalan lebih lancar.
"Ehem ... kami pernah bekerja sama ketika saya masih di perusahaan saya yang lama," jawabku singkat.
Mendahului kemungkinannya untuk memberikam penjelasan yang tidak tepat dan membuat suasana menjadi canggung.
Mas Rudy hanya tersenyum kecut, menjabat tangan atasanku dan kami semua dengan sopan. Ia kemudian memilih duduk berhadapan dengan bosku.
Tak perlu waktu lama, kami semua kemudian menjadi sibuk membicarakan rencana proyek kerja sama. Aku berusaha berkonsentrasi untuk fokus mencatat setiap hal penting dalam rapat. Berusaha mengabaikan pikiran dan mataku yang sesekali mencuri pandang pada pria tampan yang pernah mengisi hidupku di sebrang sana.
Mas Rudy pun demikian, ia nampak serius mengikuti jalannya rapat dan pemaparan rencana proyek yang disampaikan bosku. Tetapi tatapan matanya tak pernah lepas dariku. Beberapa kali kulihat dia melirik dengan ekor matanya. Argh!!!!! Takdir memang kadang sebercanda ini!
Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku setelah rapat ini usai. Aku yakin Mas Rudy tak akan melepaskanku begitu saja. Mungkin ia akan memakiku dan menganggapku mempermainkan perasaannya.
Ya Tuhan, kenapa harus kembali serumit ini? Untuk apa aku pergi, mengorbankan semuanya di kota itu, jika akhirnya permainan takdir harus membuatku berjumpa lagi dengannya di kota ini?
Haruskah aku kembali pergi dan menghindarinya? Atau biarlah semua berjalan apa adanya? Biar aku kembali menikmati indahnya cinta terlarang?
(Tamat)
Note :
Tamat ya bebz, selanjutnya kita ikuti kisah versi Nirma sang istri sah. Biar kita bisa sama-sama belajar dan berbenah diri tanpa perlu mencari siapa yang salah dan harus dipersalahkan. Sebuah perselingkuhan terjadi karena banyak faktor. Bersyukurlah kalian yang terhindar dari godaan ini. Bersyukur juga kalian yang harus mengalaminya. Ambil keputusan dengan bijak tanpa perlu playing victim dan banyak drama.