
"Aku sudah mantap, aku akan bercerai dengan istriku dan menikahi kamu," ucapnya setelah lima menit berlalu di ruang tamu dan kami hanya saling membisu.
"Apa? Kamu serius? Gimana anak-anak?" aku menjadi panik dan hilang akal seketika.
"Aku nggak bisa kehilangan kamu, Sha. Seminggu aku berusaha menghindarimu dan seminggu pula aku linglung dan hilang akal. Hidupku kacau tanpa kamu, Shanna," ujarnya dengan mimik muka serius.
"Mas ... ingat anak-anak, bagaimana mereka tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak sempurna. Aku ... tahu bagaimana rasanya tidak punya keluarga," ucapku.
"Lalu, kamu mau aku madu? Siap kamu jadi istri keduaku, kalau kamu tidak mengijinkan aku bercerai?" tanyanya.
"Hah? Kamu gila ya? Mas ...."
"Aku sudah pernah bilang sama kamu, aku tidak pernah main-main soal cinta. Akupun serius saat aku bilang aku sayang kamu," potong Mas Rudy mantap. "Aku akan bilang padanya. Aku akan berikan kompensasi yang pantas untuknya dan jaminan biaya yang layak untuk anak-anakku. Aku sudah siap, Shanna. Tinggal kamu, siap enggak bertahan menunggu aku membereskan semuanya?" Mas Rudy balik menantangku.
Aku menelan ludah, berusaha membasahi tenggorokanku yang kering sehingga membuatku tercekat. Jujur, aku lebih siap untuk patah hati dan pergi meninggalkannya dibanding harus menghadapi situasi ini.
Aku bukan orang jahat, aku tak ingin merusak rumah tangga orang, pun tak ingin menjadi duri dalam daging.
Tetapi kesungguhan hati Mas Rudy membuat hatiku tergetar. Bukankah selama ini, belum ada pria yang sesungguh-sungguh ini padaku?
"Sha, aku tahu ini nggak akan mudah untuk kita berdua. Tapi inilah usaha terbaik yang bisa aku lakukan untuk hubungan kita," lanjutnya lagi.
Aku bimbang, tak ingin menolak cintanya yang begitu besar dan tak pula ingin membuat situasinya semakin rumit.
"Shanna ... please, aku butuh jawaban kamu. Haruskah aku meneruskan perjuanganku atau kamu, memang hanya ingin bermain-main dengan aku," pintanya membuyarkan lamunanku.
"Aku ... butuh waktu untuk berpikir, Mas," jawabku.
"Sha, aku sudah sejauh ini dan kamu ... masih butuh waktu untuk berpikir?" Mas Rudy nampak emosi mendengar jawabanku.
Aku membisu.
"Kamu nggak sayang sama aku?" tanyanya lagi.
Aku masih membisu.
"Mas ... boleh aku minta sesuatu?" tanyaku kemudian, menghentikan langkahnya.
"Apa?" ia membalikkan badan padaku dengan mata berbinar.
"Yakinkan aku dengan perasaanku padamu," pintaku. "Aku butuh kekuatan untuk mencintaimu dan menunggumu menjalani prosesnya," lanjutku.
"Maksudmu?" Mas Rudy tak mengerti.
"Selama sebulan ini, sebelum kamu benar-benar berpisah dengan istrimu. Aku ingin kamu berada di sampingnya setiap saat. Pastikan, kamu memang sudah tidak ada perasaan cinta lagi padanya. Jadilah suami yang baik dan jangan pernah mengabaikannya," pintaku.
"Sha? Kamu gila! Gimana bisa? Aku sudah muak dengan istriku!" Mas Rudy meledak. Ia merasa aku mempermainkannya.
"Aku serius, sayang," aku memeluknya lembut. Bergelayut manja padanya. "Aku mau kamu mencoba menjadi ayah dan suami yang baik untuk keluargamu. Sebelum kamu benar-benar memutuskan untuk meninggalkan mereka," lanjutku.
"Untuk apa? Aku selama ini ayah yang baik bagi Kania dan Asha. Aku bertanggung jawab pada masa depan mereka. Aku hanya tidak bisa lagi melanjutkan rumah tangga dengan istriku!" Mas Rudy berkeras.
"Iya, aku tahu. Kamu adalah ayah yang sempurna. Maka dari itu, sebulah saja. Hadiahkan kebahagiaan dan kehangatan keluarga untuk mereka. Sebelum kamu memilih untuk berpisah. Anak-anak butuh kenangan yang baik tentang kedua orang tuanya," pintaku.
Mas Rudy menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan ideku.
Aku tersenyum, mengecup pipinya dan mengajaknya kembali duduk di kursi ruang tamu.
"Aku percaya, perasaanmu padaku begitu besar, Mas. Karenanya, meski sebulan bersamanya, aku percaya kamu nggak akan goyah," rayuku.
"Baiklah, kalau itu mau kamu. Hanya sebulan ya, aku harus berpura-pura!"
Aku mengangguk manja, "Be a good daddy, Mas. Be a good husband for her."
"Aku nggak ngerti jalan pikiran kamu, Sha. Mana ada perempuan sepertimu? Aku sudah berkorban begitu besar dan kamu masih menuntut syarat," Mas Rudy masih sangat kesal.
Aku hanya tersenyum, menyandarkan kepalaku di pundaknya, lalu menikmati kebisuan kami yang sedang larut dalam kabut pikiran masing-masing.