I Have To Let You Go

I Have To Let You Go
His Other Side



Semenjak liburan pertama kami ke luar kota kemarin, aku jadi semakin menyayangi Mas Rudy. Tak bisa rasanya sebentar saja tak bertegur sapa dan menanyakan kabarnya lewat dunia maya.


Kami tetap dingin di luar, saling berinteraksi sebatas hubungan kerja. Tak seperti Bu Merry dan atasan Mas Rudy, aku dan Mas Rudy lebih memilih menyimpan rapat-rapat hubungan kami.


Tak ada saling melempar pandangan mesra, pun tak pernah menunjukkan perhatian yang berlebihan. Hanya sesekali kami makan siang bersama, itupun selalu dengan rekan kantor yang lain. Setidaknya dengan begitu aku bisa mengelabuhi Mbak Luna, Pak Dino dan rekan kerjaku maupun Mas Rudy di kantor.


"Aku ingin nonton!" pintaku suatu sore.


Ketika itu kami baru saja kembali dari  memasang beberapa alat yang dibutuhkan untuk proyek kerjasama kantor kami.


"Kamu nggak apa, kita kelihatan berdua di tempat umum? Kalau kamu oke, kita langsung berangkat sekarang," katanya menuruti mauku.


"Tapi nanti ketemu kolegamu atau kenalanku gimana?" aku menjadi bimbang.


"Aku sih nggak masalah," jawabnya singkat.


"Aku yang beli tiket aja, nanti ketemu pas di pintu masuk," usulku.


"Bip ... pip?" gawai milik mas Rudy berbunyi.


"May I answer my phone?" pintanya.


Aku mengangguk.


"Istriku?" dia nampak ragu.


Aku kembali mengangguk sambil tersenyum tulus.


"Hallo, apa? Jemput anak-anak! Kamu dimana? Kenapa harus aku? Ah, merepotkan saja. Hm ... okelah, nggak apa. Lekas sembuh!"


"Tut!" Mas Rudy bergegas mematikan telepon. Wajahnya kemudian berubah 180°.


"Ada apa?" tanyaku.


"Istriku demam, nggak bisa jemput anak-anak di klub seninya. Dekat sini sih, tapi ...."


"Oh, ya udah. Kita nontonnya lain kali aja," putusku demi melihat wajahnya yang nampak canggung.


"Kita bisa nonton setelah jemput mereka. Nanti kamu aku drop di bioskop dan aku antar mereka pulang dulu. Lalu aku nyusul ke bioskop nemenin kamu nonton," usulnya.


"Jangan, kamu capek nanti," aku tak setuju. "Jemput anak-anak kamu dulu deh, sisanya kita pikirin nanti," kataku kemudian.


"Kamu nggak apa aku jemput anak-anak?" tanyanya takut membuatku tak nyaman.


***


Lalu disinilah kami, di bioskop bersama kedua anaknya. Berakhir dengan mengasuh kedua anaknya. Meski kami memang jadi pergi ke bioskop. Tetapi kami harus menonton film kartun terbaru kesukaan anak-anaknya.


"Pap, Kania belum nonton Frozen!" protes si sulung beberapa saat lalu ketika baru saja masuk ke dalam mobil.


"Iya, Lala tadi meledek karena kakak dan aku belum nonton Frozen sementara dia dan keluarganya udah?" si bungsu ikut protes.


"Lalu?" tanya mas Rudy sambil melirikku.


"Kania mau nonton sekarang!" rajuk si sulung.


"Adek juga!" si bungsu ikut saja.


"Wah, kebetulan nih tante juga belum nonton Frozen. Gimana kalau kita nonton di bioskop hari ini sama-sama," usulku meredam kegaduhan yang terjadi.


"Horeee!" kedua gadis kecil itu nampak tertawa kegirangan.


"Sha, kamu yakin?" Mas Rudy nampak kebingungan. Bimbang antara tidak enak denganku tapi juga tak bisa mengabaikan anak-anaknya.


Aku mengangguk sambil tersenyum tulus. Aku memang suka dengan anak-anak. Bagiku, tak masalah kami jalan bersama anak-anaknya.


"Oh iya, tante belum kenalan. Nama tante Shanna," ak ramah memperkenalkan diri.


"Kak, yang sopan sama tante. Ayo cium tangan," pinta mas Rudy pada si sulung.


"Kania."


"Adek ...!"


"Aku Asha tante," si bungsu rupanya yang lebih ramah.


Aku tersenyum ramah, lalu berpamitan untuk membelikan mereka sekedar pop corn dan minuman.


Ketika antri memesan pop corn dan minuman, aku melihat mereka dari jauh. Ayah dan kedua anaknya itu nampak sangat akrab. Sungguh Mas Rudy adalah seorang family man sejati.


Kedua anak perempuan itu lengket dan selalu bergelayut manja pada ayahnya.


"Nyut!" ada sebuah rasa yang menyakitkan berdenyut di dalam hatiku.


Betapa jahatnya aku, kalau sampai aku harus merusak bahagia mereka demi sebuah rasa egois yang aku miliki. Tidak, tidak seharusnya semuanya berlanjut demikian.