I Have To Let You Go

I Have To Let You Go
Semakin Mendalam



Disinilah kami, sebuah daerah dataran tinggi nan sejuk di kota tetangga. Ia mengajakku menikmati makan siang di sebuah restoran mewah, lalu menikmati suasana kebun teh yang sejuk.


"Kamu suka tempat ini?" tanyanya setelah kami berjalan cukup lama.


"Lumayan ..., terima kasih ya udah diajak jalan-jalan," aku menjawab sambil tersenyum tulus padanya.


"Kamu ada tempat yang mau dikunjungi nggak di kota ini?" tanyanya.


Aku hanya mengangkat bahu.


"Kamu pernah kesini?" tanyanya lagi.


"Enggak," jawabku polos.


"Duh, gemes banget deh sama kamu," Mas Rudy memeluk pinggangku dan mengajakku kembali berjalan.


"Jangan gini ah, nggak enak dilihat orang," aku melepaskan diri dari pelukannya.


"Ya udah gandeng aja," pintanya ganti menggangam tanganku.


Aku hendak menolak, tetapi tak tega aku melihat wajah tampannya yang tampak sangat bahagia itu.


"Andai, bisa seperti ini terus ya, Sha," gumamnya semakin mempererat genggamannya pada tanganku.


"Genit ah, inget yang di rumah," balasku sambil tertawa, miris.


Ahhh ... bodohnya aku kalau sampai melupakan statusnya yang sudah berkeluarga. Sedekat apapun kami, aku yakin nanti akan ada masanya dia harus memilih. Dan aku yakin, ia akan meninggalkanku dan memilih keluarganya.


"Mikir apa sih?" ia mencubit hidungku.


"Enggak," aku hanya nyengir kuda.


"Hari ini, disini, seharian ini, aku milikmu," katanya sambil mengecup pipiku.


"Masss! Dilihat orang!" pekikku kesal.


Ia berlari mendahuluiku, membuatku kewalahan mengejarnya.


***


"Rain ... rain go away," aku menyanyikan senandung lagu anak-anak yang sempat ku dengar dalam sebuah acara televisi.


"Maaf ... hujan, Sha. Kita nginep nggak apa?" tanya Mas Rudy dengan suara merasa bersalah.


"Kalau aku bilang enggak juga aku pulang sama siapa memangnya," jawabku asal.


"Iya, makanya aku minta maaf," ulangnya.


"Terus kita kemana?" tanyaku.


"Aku sudah pesan kamar via aplikasi online," jawabnya.


"Terus memangnya mau tidur di masjid?" tanyanya. "Atau pom bensin?" ia memasang wajah innocent.


Aku membisu. Ahhh harusnya aku tolak saja ajakannya ke luar kota hari ini. Lagi-lagi aku terjebak olehnya.


"Aku mau 2 kamar terpisah!" tegasku.


"Sisa satu kamar yang tersedia," jawabnya. "Udah nanti kamu kalau nggak nyaman tidur aja di room biar aku tidur di mobil," tegasnya kemudian yang membuatku merasa semakin tak nyaman.


Bagaimana bisa aku membiarkannya tidur di mobil. Dia yang sudah begitu baik mengajakku jalan-jalan dan selalu menyenangkanku.


"Twin room bisa?" pintaku masih berusaha menjaga diri. Hei, aku bukan perempuan murahan. Aku masih virgin!


"Ya, aku sudah pesankan twin room," jawabnya sebelum memarkir mobil dan mengajakku memasuki lobby hotel.


***


Kadang semesta memang suka bersekongkol untuk sekedar mempersulit hidupmu. Begitulah setidaknya yang sekarang sedang aku alami.


Pada akhirnya kami hanya mendapat sebuah suiteroom dengan doublebed.


"Aku tidur di sofa!" putusku begitu Mas Rudy menutup pintu kamar.


"Mandi dulu deh," ia menyerahkan handuk dan peralatan mandi padaku.


Sungguh ini adalah pengalaman pertamaku menginap bersama seorang lelaki. Canggung dan tak nyaman, itu yang aku rasakan.


Aku mandi dengan cepat lalu segera membalut tubuhku dengan selimut dan menutup mataku agar segera tertidur. Aku ingin malam ini cepat berlalu dan Tuhan menyelamatkanku dari situasi ini.


"Du didam dam," senandungnya terdengar di sela mataku yang hampir 90% terpejam.


Rupanya Mas Rudy baru selesai mandi dan keluar dengan hanya berbalut handuk mandi.


"Damn! Apa-apaan ini? Dia sengaja memancing reaksiku!" keluhku kesal.


Aku memejamkan mataku dan berpura-pura sudah terlelap.


Aku mendengar langkah kakinya mendekat ke arah kursi tempatku tidur. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, seolah memeriksa apakah aku benar-benar sudah tidur atau belum.


"I love you so much, Sha," bisiknya sambil mengecup lembut bibirku.


Lalu aku merasakan tubuhku digendongnya, dipindahkan dari sofa ke tempat tidur. Dirapikannya selimut yang membalut tubuhku dan sekali lagi dikecupnya bibirku lembut.


"Selamat tidur, Sha. Maafkan aku selalu menempatkanmu pada situasi sulit," bisiknya lalu mencium telingaku.


Ada gelenyar aliran listrik statis terasa menyengat diriku. Membuatku merasa ingin memeluknya dan membalas ciumannya dengan ganas.


Ahhh, tapi tidak. Aku bukan perempuan binal yang akan punya keberanian berbuat seperti itu.


Aku tetap berpura-pura sudah tidur dan membiarkan Mas Rudy puas menciumi pipi dan bibirku saja. Kemudian dia berbaring di sampingku dan memelukku hangat.