
Mas Rudy tidak menghubungiku keesokan harinya. Aku check out dari kamar hotel pagi harinya setelah terbangun hampir pukul 9 dengan mata sangat bengkak. Bahkan ketika mandi pagi pun aku masih berlinang air mata.
"Well, bersyukur ... setidaknya aku belum kehilangan kesucianku," gumamku di tengah isak tangisku.
Aku berkemas, memakai bajuku yang kemarin. Memoleskan sedikit make up agar mukaku tidak terlihat terlalu bengkak, kemudian bergegas meninggalkan kamar hotel.
Aku pulang ke kos-kosan. Aku sengaja izin kantorku dengan alasan sakit dan lebih memilih mengurung diri di kamar seharian.
Kalian tahu, bahkan ini semua sangat berat bagiku untuk di jalani. Aku bukan perempuan sundal yang murahan. Bukan wanita yang berniat merusak rumah tangga orang.
Ini adalah pengalaman pertamaku. Pangalaman pertama jatuh cinta dan harus siap patah hati dalam tempo yang hampir bersamaan. Aku tak berdaya.
Sungguh, selanjutnya aku bahkan tak bisa berbuat apa-apa sepanjang hari. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Berharap sebuah pesan darinya tapi aku sadar diri. Mungkin dia sedang sangat sibuk mengurus Kania yang sedang sakit.
***
Esok harinya lagi aku masih tak mendapat sebuah pesanpun darinya. Mas Rudy seolah menghilang, tanpa ada kabar berita.
Aku sangat tahu diri untuk tidak mencari tahu tentangnya. Meski setengah mati aku mulai merisaukan bagaimana keadaannya. Bagaimana Kania dan apakah semuanya baik-baik saja.
Aku lebih banyak termenung sepanjang hari. Memandang nanar cincin pemberiannya beberapa saat, lalu menghela nafas panjang.
"Ehem, cincin baru nih," Mbak Luna menepuk pundakku.
"Eh, Mbak! Ehem, enggak kok. Ada apa, Mbak Lun?" aku terkaget dan berusaha menyembunyikan kedua tanganku di belakang punggung.
"Time schedule proyek Perusahaan K dong," pintanya sambil tersenyum simpul.
"Ehem, wait ya. Aku rapihin sebentar sebelum disetor ke Pak Dino," pintaku. Aku segera membuka file di komputerku dan mulai mengedit.
"Sepuluh menit ya. Nanti taruh aja di meja aku," pintanya sebelum meninggalkanku.
"Ya, Mbak." jawabku yang kemudian mau tak mau harus berusaha berkonsentrasi.
***
Keesokan harinya lagi Mas Rudy masih belum juga menghubungiku. Tak juga memberi kabar baik via chat, status sosial media apalagi meneleponku.
"Apakah ada hal buruk terjadi? Apakah Kania sakit parah? Apakah ... ah, sudahlah!" aku meredam sendiri semua pikiran negatif.
Berharap sangat Mas Rudy segera memberiku kabar agar hatiku tenang. Jujur aku merindukannya, sangat merindukannya hingga tak sedetikpun pikiranku bisa lepas darinya.
"Hubungi saja dulu kalau memang rindu. Siapa tahu dia lupa," sebuah suara dalam diriku berkata.
"Jangan! Kamu sungguh tak tahu diri kalau sampai menghubunginya duluan. Apalagi anaknya sedang sakit. Bisa jadi kalau istrinya mengendus hubungan kalian, ia akan sangat marah padamu, Shanna!" sebuah suara lain menghentikanku.
"Sha! Makan siang yuk," ajak Mbak Luna.
"Ehem ... enggak deh, Mbak. Aku lagi nggak nafsu makan," tolakku dan menenggelamkan diri dalam kubikelku.
"Mau titip nggak? Kamu aku lihat dari kemarin lesu amat," ia menjawilku dan duduk di meja kubikelku.
"Ah, enggak sih. Aku nggak apa-apa kok, Mbak," jawabku berusaha menutupinya.
"Baru dapat cincin kok malah lesu. Si abang lagi sibuk nggak menghubungi ya," canda Mbak Luna.
Aku tersenyum sediplomatis mungkin.
"Ah Shanna mah misterius, ntar ujug- ujug nikah aja," lanjutnya menepuk bahuku.
"Mbak, jangan berisik. Aku malu," bisikku.
Sungguh sebenarnya aku tak ingin ada yang tahu aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Apalagi sampai tahu dengan siapa aku menjalin hubungan.
"Okei deh, nggak ganggu lagi. Aku makan siang dulu ya," pamitnya sambil berlalu.
Aku melirik ponselku setelah kepergiannya. Membuka chatroom pribadiku dengan Mas Rudy dan melihat bahwa baru beberapa menit yang lalu dia online.
"Kenapa dia tidak memberi kabar padaku? Apakah aku ... sudah tidak terlalu penting lagi untuknya," batinku teriris.
Sedih sekali rasanya, galau! Ya mungkin aku memang sedang galau.
Ya Tuhan! Aku tak tahu bahwa cinta bisa serumit ini.