
Hai, namaku Shanna. Aku adalah anak yatim piatu yang sedari kecil dirawat di panti asuhan. Aku tak tahu siapa ibuku, pun tak tahu siapa ayahku. Ibu pengurus panti mengatakan, aku ditemukan terbungkus selimut tebal dalam sebuah kasur bayi yang nyaman saat ditemukan di depan pintu panti asuhan 25 tahun yang lalu. Identitas yang tertinggal hanya sebuah kartu ucapan bertuliskan, "Sorry, I love you Shanna."
Begitulah, lalu ibu kepala panti memberiku nama Shanna Alanna, yang artinya Shanna yang sendirian. Entah karena nama itu, atau memang Tuhan sudah mentakdirkanku demikian. Tapi sepanjang hidupku selanjutnya aku memang lebih sering menjalaninya sendiri. Aku bukan seorang penyendiri. Hanya saja memang mungkin aku bukan seseorang yang terlalu menarik untuk dijadikan teman.
Ah, sudahlah ... aku tak ingin membagi kisah masa kecilku. Karena memang tak ada hal menarik yang bisa di ceritakan. Beginilah aku yang sekarang. Seorang Shanna Alanna yang berusia 25 tahun, single, karyawan baru di sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang telekomunikasi.
"Shanna! Bantuin aku beresin dokumen-dokumen ini ya," pinta Mbak Luna, seniorku di bagian sekertariat.
"Baik Mbak, saya bereskan," jawabku segera menghampirinya dan bergerak cekatan memilah dokumen dan menyimpannya pada file-file yang tersedia. Sebagai karyawan baru kerjaanku memang masih serabutan. Kadang diminta ke bagian Sekertariat, kadang membantu di Resepsionis pun kadang ikut beberapa senior untuk melakukan survei pasar.
"Aku tinggal dulu ya, Sha. Aku harus siapin bahan untuk rapat siang ini. Kamu tahu kan, pak Dino gimana. Semua harus siap 30 menit sebelum rapat dimulai," Mbak Luna mewanti-wanti.
"Oya Mbak, segera saya beresin yang ini," jawabku. Setengah jam kemudian aku sudah sibuk berkutat dengan dokumen-dokumenku.
***
Namanya Pak Rudy, beliau adalah perwakilan dari sebuah instansi pemerintah pada rapat siang itu. Usianya aku perkirakan 30 sampai 33 tahun. Mengingat postur tubuhnya yang masih gagah dan belum terlalu gemuk.
Harusnya aku tidak terlibat dalam rapat siang itu, seandainya Mbak Luna tidak mendadak harus pulang. Anaknya sakit dan harus di bawa ke rumah sakit. Karena memang hanya aku yang ada di situ, maka Pak Dino praktis memintaku menggantikan Mbak Luna untuk menyiapkan semuanya.
"Shanna ..., maafin aku ya. Aku bener-bener minta tolong sama kamu. Nanti kalau ada yang nggak ngerti kamu bisa chat aku aja," begitu pamit Mbak Luna via aplikasi chat.
"Baik Mbak," jawabku singkat. Meletakkan ponsel ke dalam sakuku, lalu sibuk menyiapkan hal-hal berkaitan dengan rapat.
"Baik Pak."
"Selamat datang, Pak Rudy. Kenalkan ini Shanna. Dia karyawan baru di perusahaan kami," Pak Dino memperkenalkanku pada tamunya yang telah datang 10 menit yang lalu.
"Rudy."
"Shanna," aku menjabat tangannya sambil tersenyum. Berusaha memberi kesan ramah pada klien kantorku.
"Baik, semua sudah siap? Untuk mempersingkat waktu, kita mulai saja ya Pak Rudy," Pak Dino segera memulai rapat.
***
Sebuah perkenalan singkat saja. Namun seiring berjalannya waktu Pak Dino lebih sering mengajakku rapat bersamanya ketika menangani proyek dengan Pak Rudy.
"Kalau aku ngajak Luna, kan nggak nyambung Sha. Dia nggak tahu awal mulanya. Biarlah proyek ini aku dan kamu aja yang pegang. Sambil kamu belajar ya," begitu alasan Pak Doni.
"Nggak apa-apa Sha, latihan. Lagian aku juga bakalan masih sibuk ngurusin anakku yang masih opname di RS," Mbak Luna pun tak keberatan.
Akupun menyetujui saja, toh ini bagian dari pekerjaan aku nantinya. Justru dengan terlibat dalam sebuah proyek aku bisa lebih cepat belajar.