
Disinilah kami, menikmati sebuah makan malam indah di roof top sebuah gedung pencakar langit.
"For you," ujarnya sambil memberiku sebuah kotak persegi sebesar kepalan tangan orang dewasa.
"Apa ini?" tanyaku.
"Buka aja," jawabnya sambil tersenyum.
Aku membukanya canggung. Meski sebagian besar diriku sudah bisa menebak apa isinya, tetapi aku tetap tak merasa ingin terlalu pede.
"Cincin?" tanyaku bingung.
"Ya, aku melamarmu. Shanna, will you be mine?" lanjutnya.
"I'm yours, Mas," jawabku. "Selama ini aku sudah jadi milikmu meski tak resmi," lanjutku.
"Aku ingin kamu terus jadi milikku dan nggak akan pernah pergi atau memintaku mengakhiri hubungan ini," pintanya.
Aku membisu.
"Aku memang nggak tahu sampai kapan rasa ini. Akankah terus seperti ini atau nanti akan berakhir seperti rasaku pada istriku. Tapi untuk saat ini, aku ingin menikmatinya dan menghabiskan waktuku hanya bersamamu, Sha," lanjutnya.
Aku masih membisu, aku tak sanggup berkata-kata meski hatiku berbunga-bunga.
"Boleh aku pakaikan?" tanyanya.
Aku mengangguk.
Mas Rudy meraih tanganku dan memakaikan cincin itu.
"Love you so much, Shanna," ucapnya sambil mengecup tanganku.
"Love you too, Mas" aku menjawab lirih sambil menatapnya penuh cinta.
"Boleh aku mengajakmu menginap di sini malam ini?" pintanya sopan.
Aku mengangguk, sungguh aku sebenarnya tak tahu harus berbuat apa. Tapi aku cukup tahu diri untuk tidak merusak suasana.
***
Kami sedang bercumbu, half ***** dan sungguh hampir saja dia mengambil milikku yang paling berharga ketika panggilan itu menghentikan aktifitas kami.
"Please, Shanna. Let me finish this. Oh my God, you are so beautiful," Mas Rudy melanjutkan aktifitasnya dan menyumpal bibirku dengan french kiss penuh nafsu.
"Mas ... teleponmu terus berdering," aku mencoba menghentikannya ketika tangannya hampir melepas celana dalamku.
"Holly shit! Sha, nggak bisakah kamu mengabaikan suara itu dan menikmati apa yang sedang kita lakukan!" keluhnya.
"Angkat dulu, siapa tahu penting," pintaku.
"Baiklah, Shanna. Setelah ini, jangan lagi banyak alasan dan biarkan aku menikmatimu! Jangan menyiksaku seperti ini! Kamu nggak tahu bagaimana aku harus menahan diri selama ini untuk tidak lepas kendali!" Mas Rudy nampak sangat kesal.
Aku tahu dia sudah sangat bernafsu. Tetapi aku merasa tidak seharusnya kami melakukan ini.
"Hallo!" ia begitu kesal saat mengangkat teleponnya. "Aku sudah bilang jangan ganggu aku saat aku sedang lembur! Aku nggak bisa konsentrasi kerja kalau begini!" omelnya sangat kesal.
Aku menunduk merasa bersalah, menyelimuti tubuhku dengan bed cover hingga menutup kepalaku.
"Apa? Kania? Kok bisa? Terus kamu sekarang dimana? Nggak ada Grab? Oke-oke, aku pulang sekarang. Kamu kasih obat turun panas dan pereda nyeri dulu! Ya, aku segera pulang, kompres dulu biar panasnya turun," Mas Rudy nampak sangat panik dan bergegas memakai kembali semua pakaiannya setelah mematikan telepon.
"Ada apa, Mas?" tanyaku menyembulkan diri dari balik bedcover tebal hotel room kami.
"Kania demam, dia nampak kesakitan dan kejang. Aku harus pulang! Maafkan aku, Shanna. Kamu pulang sama aku sekarang atau gimana?" tanyanya.
"Kamu pulang saja dulu segera. Bereskan urusan, Kania. Dia harus dibawa ke dokter kan. Aku bisa pulang sendiri," jawabku ikut panik.
Mas Rudy berapkaian dengan cepat, mengambil tas dan ponselnya di nakas samping tempat tidur. Ia mengecup dahi dan pipiku sebelum pergi meninggalkan aku begitu saja.
"Blam!" ia menutup kamar hotel lalu terdengar langkah kakinya menjauh.
Tinggallah aku disini sendiri. Di sebuah kamar mewah sebuah hotel bintang 5 di kota kami dengan room rate 1 juta semalam.
Aku memungut dan memakai kembali pakaianku satu-satu. Kembali masuk ke dalam bed cover tebal, menutupi seluruh tubuhku dengan selimut dan menangis sejadi-jadinya.
Seluruh rasa bercampur aduk dalam diriku. Sedih, sakit hati, terluka, merasa kotor dan menjijikkan juga rasa hina yang teramat dalam. Wanita macam apa aku ini, yang tega berbahagia diatas air mata wanita lain.
"Sadar diri, Shanna! Sadarlah bahwa kamu adalah racun dalam rumah tangganya!"
Malam semakin larut dan air mataku semakin deras mengalir. Aku menangisi segalanya yang entah kenapa jadi begini rumit.