
Mobil itu masih terparkir di sana. Bahkan hingga aku selesai mandi, berbenah diri dan bersiap untuk tidur. Aku memperhatikan dari jendela kamar kosanku di lantai dua.
Apa maksudnya bersikap seperti itu? Mau apa dia? Tidakkah dia malu melakukan semua ini ketika istri dan anaknya di rumah menunggu kepulangannya?
Sudah biar saja, aku cukup cuek dan menganggapnya tak ada. Nanti jika dia sudah lelah, pasti akan pulang sendiri.
"Aku tahu kamu memperhatikan mobilku dari tadi. Keluarlah, aku tunggu."
Sebuah notifikasi pesan di ponselku berbunyi.
Aku hanya meliriknya sekilas, membacanya hanya via notifikasi tanpa membuka aplikasi chat tempatnya mengirim pesan.
"Sudahlah, aku harus kuat! Aku harus bertahan untuk bisa lepas darinya?" begitu ucapku pada diri sendiri.
Aku menutup jendela kamarku, menarik kordennya hingga tertutup sempurna, lalu beranjak dari sana.
Kupaksakan diri berbaring di tempat tidur. Memejamkan mata dan mulai menghitung domba agar cepat lelah hingga terlelap.
30 menit berlalu ....
"Blash! Jedherrr!" suara kilat menyambar.
"Tap! Tap! Tap!" tak lama suara air hujan terdengar mulai menghantam atap rumah kosku.
"Hujan ... akankah dia baik-baik saja?" sebuah bisikan menggoyahkan hatiku.
Aku menarik selimutku, menutupkannya ke sekujur tubuh hingga kepalaku. Berusaha membuatku nyaman agar segera terlelap. Tak lagi terganggu dengan pikiran-pikirkanku terhadapnya.
"Dia pasti sudah pergi dari tadi," batinku mengalahkan bisikan yang terlintas beberapa saat lalu.
"Jedherrr!" kembali suara kilat menyambar disertai rinai hujan yang semakin lebat.
"Well, tak ada salahnya aku mengintipnya sebentar. Apakah mobilnya sudah pergi. Setidaknya aku bisa lebih tenang," putusku tak lama kemudian.
Aku bangkit dari kasurku dan berjalan pelan ke arah jendela. Aku sedikit berjinjit dan mengintipnya.
Ada! Mobilnya masih terparkir di tempat yang sama! Dia masih ada di sana!
Ya Tuhan ... bagaimana bisa? Mau apa dia sebenarnya dengan bersikap seperti itu? Sungguh ini terlalu ke kanak-kanakan dilakukan pria seumurannya!
"Tuuuttt!!! Tuuruuut ... tutututtt!" ponselku berdering.
Namanya tertera di layar panggilan masuk di ponselku.
Aku terdiam, bingung harus bagaimana? Mengangkatnya sama saja meruntuhkan pertahanan yang aku bangun selama ini.
"Tidak, abaikan saja, Sha!" ujarku pada diri sendiri.
Tuhannn! Aku harus bagaimana?
"Aku akan terus menunggu di sini sampai kamu keluar."
Sebuah pesan baru muncul di notifikasi ponselku.
Aku tak bisa lagi bertahan. Tuhan, maafkan aku!
Aku berlari ke arah pintu kamarku. Membukanya dengan tergesa-gesa, kemudian menuruni tangga dan melewati lorong hingga mencapai pintu ruang tamu. Mengambil payung di dekat pintu dan membuka pintu ruang tamu, pintu gerbang, hingga menerobos hujan menuju ke arah mobilnya terparkir.
Aku mengetuk pintu mobilnya dengan penuh emosi.
Dia membuka central lock pintu mobilnya. Sebuah kode agar aku masuk ke dalam mobilnya.
Aku mengalah, menurut, dan masuk ke mobilnya. Lalu memarahinya dengan penuh emosi.
"Kamu mau apa? Ngapain sih? Katanya tidak akan mau menggangguku lagi, tapi ini! Semua yang kamu lakukan dari tadi membuatku tak tenang, Mas!"
Dia tersenyum, hanya tersenyum dan memandangku bahagia. Aneh!
"Please, tolong mengerti posisiku! Aku bukan pelakor, pun tak ingin menjadi orang ketiga dalam rumah tanggamu!" tegasku setelah lelah memarahinya.
Kami membisu beberapa saat. Aku lelah mengomel dan akhirnya terdiam mengatur nafas. Sementara dia masih memandangku dengan senyuman anehnya.
Ia kemudian menggenggam tanganku.
Aku menepisnya, "Tidak! Aku masih harus mempertahankan diri untuk tetap bersikap dingin."
"Aku tersiksa kamu cuekin, Sha. Aku harus bagaimana? Aku sudah terlanjur terbiasa dengan segala keberadaanmu dalam hari-hariku," ucapnya dengan mata sayu.
Aku terdiam, mukaku menengang menahan amarah. Bagaimana bisa? Dia dengan tak tahu malunya berkata seperti itu?
"Kamu punya istri dan anak-anakmu. Pulanglah, mereka menunggumu di rumah!" tegasku.
"Aku lebih butuh kamu daripada mereka!" ucapnya tak kalah tegas.
"Maksudmu?"
"Entahlah, sejak malam itu ... aku tak bisa bersikap biasa saja denganmu. Aku menyadarinya, kamu ... sudah punya tempat spesial di hatiku," ucapnya.
"Jleb!" ucapannya ibarat anak panah yang menancap tepat di jantungku.
Bagaimanapun aku wanita. Dan wanita selalu lemah dengan kata-kata semacam itu. Baiklah, mungkin tidak semua wanita. Hanya saja, kalian tahu bagaimana kondisiku.