I Have To Let You Go

I Have To Let You Go
Sebuah Jeda



Aku mulai menghindarinya beberapa hari ini. Mencoba membuat sebuah jeda untuk menetralisir badai dalam diriku. Aku mengabaikan beberapa chat dan panggilan telepon darinya.


Lalu berusaha menata diriku dan hatiku untuk tetap bersikap profesional. Aku berlatih untuk menjadi sangat diplomatis saat nantinya kami akan dipertemukan karena pekerjaan.


Semuanya akan mudah saja, andai perusahaan kami tak memiliki sebuah proyek kerja sama. Tetapi memang inilah cobaan terberat yang harus aku hadapi. Baiklah, aku harus berusaha.


Seperti hari ini ketika kami harus ada rapat koordinasi. Mau tak mau aku harus berjumpa dengannya dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk membahas segala macam detail jalannya proyek. Sungguh rasanya waktu berjalan sangat lambat dan menyiksa.


"Nanti pulangnya sama aku aja ya," sebuah chat darinya masuk ke ponselku.


Aku pura-pura tidak mendengar nada notifikasi chat masuk di ponselku. Tetap fokus pada Pak Dino yang menjelaskan progress proyek dan menjaga pandanganku agar tak mencuri pandang ke arahnya.


"C'mon, Shanna! You can do it!" batinku menyemangati diriku sendiri


Berhasil! Setidaknya sepanjang rapat selanjutnya aku tidak lagi harus memikirkan bagaimana menghindarinya dan serius memperhatikan jalannya rapat.


***


"Sha!" Ia mencegatku di ujung jalan depan kantorku. Menahan tubuhku dan menggenggap pergelangan tanganku erat.


"Maaf, saya sudah pesan taksi online,"  jawabku berusaha sedatar mungkin.


"Batalin! Kamu pulang sama aku!" pintanya. Ia membukakan pintu mobilnya di sebelah kiri sopir.


Aku menggeleng, menghentakkan tangannya yang menggenggam pergelangan tanganku. Kemudian berjalan cepat meninggalkannya dan mobilnya.


"Sha! Please ...!" pintanya sambil menutup kembali pintu mobil dan menyusulku.


"Mas, maaf. Tolong mengertilah bahwa aku butuh hidup tenang. Aku tak ingin lagi terlalu akrab dengan kamu," jelasku ketika dia berhasil menghambat jalanku.


"Kenapa? Karena ciuman itu? Aku minta maaf, Sha! Aku salah, aku yang terlalu terbawa suasana," ia menjelaskan dengan mimik muka memelas di depanku.


"Sudahlah, Mas. Sebaiknya memang kita saling menjaga jarak dulu untuk saat ini. Aku ingin menetralisir suasana. Aku tak ingin terjebak terlalu jauh denganmu," kembali aku menjelaskan.


"Apa sih maunya?" batinku kesal.


"Non, Shanna?" seseorang membuka kaca mobilnya, mengenaliku dan memanggilku.


"Oh iya betul," jawabku.


Beberapa saat kemudian aku mendengar notifikasi di ponsel bahwa ojek onlineku sudah datang.


"Mari, Non," ajak sang driver.


Aku bergegas naik ke mobil ojek onlineku yang kemudian segera melaju. Pergi menuju alamat yang aku berikan.


Aku melirik spion dan kulihat mobil mas Rudy berjalan mengikuti mobil ojek onlineku. Pandangan mataku sesaat terus terfokus pada mobil itu sambil bertanya-tanya, "Apa yang sebenarnya dia inginkan? Tak bisakah dia pergi dan membiarkan aku hidup tenang?"


"Itu mobil suaminya, Non?" tanya abang driver.


"Ah engga, Bang," jelasku.


"Oh pacarnya? Lagi berantem ya," candanya yang langsung aku tanggapi dengan senyum malas.


"Maaf ... maaf, saya cuma bercanda," abang driver sepertinya menyadari kesalahannya dan melanjutkan perjalanan selanjutnya dalam diam dan tak banyak komentar.


Aku masih sesekali memperhatikan mobil mas Rudy yang mengikuti mobil ojek onlineku dari belakang. Aku diam saja, hanya memperhatikan sambil berdoa semoga ia tidak lagi menempatkanku dalam posisi sulit. Sungguh, mengabaikannya adalah sebuah kondisi yang cukup berat untukku.


"Sudah sampai, Non. Terima kasih sudah memakai jasa kami," abang driver ojek online menyadarkanku dari lamunan.


"Oh iya, Bang. Terima kasih," balasku sambil bergegas turun.


Aku membuka pintu gerbang kos-kosanku, lalu bergegas masuk. Sekilas ketika menutup pintu, aku melihat mobil mas Rudy masih terparkir tak jauh dari rumah kos-kosanku.


"Maafkan aku, Mas. Aku harus berbuat seperti ini," gumamku sambil bergegas menaiki tangga dan masuk ke kamarku untuk membersihkan diri.