
Entah bagaimana mulanya, kami kemudian menjadi semakin dekat. Tiada hari tanpa ngobrol via chat dengan intensitas berjumpa yang cukup sering. Aku nyaman, sungguh sangat nyaman.
"Hati-hati, Sha! Dia sudah berkeluarga," begitu berkali-kali aku ingatkan diriku sendiri.
Sungguh aku tak ingin terjebak, dengan pria beristri. Tak ada sedikitpun niat dalam diriku untuk mengganggu mahligai yang telah dibangunnya dari nol dengan wanitanya.
"Ah ... kami hanya teman biasa," berkali-kali pula aku tegaskan kedudukan hubungan kami pada diriku sendiri.
"Sha! Pacar kamu udah jemput tuh di lobby." Mbak Luna membuyarkan konsentrasiku yang sedang sibuk dengan pekerjaanku merapikan file surat-surat.
"Hah? Pacar?" tanyaku tak paham.
"Pak Rudy sudah nungguin di lobby tuh. Buruan gih, ntar keburu di gaet si Ingrid loh. Resepsionis kita yang ganjennya terkenal dari lantai 1-7," jelas Mbak Luna. Ia tampak tak suka dengan Ingrid. Mungkin karena suaminya sempat terpergok bercanda terlalu akrab dengan Ingrid ketika menjemput Mbak Luna, dulu.
"Mbaaakkk! Pak Rudy tuh udah berkeluarga, jangan bikin gossip ah," kataku sambil menepuk pundaknya.
Aku meraih gawaiku, benar, ada 3 pesan dan 5 panggilan tak terjawab.
"Hati-hati, Sha. Feeling aku dia ada rasa sama kamu," kata Mbak Luna setengah berbisik. Kemudian berlalu sambil membawa berkas-berkas di mejanya. Mungkin akan menghadap atasannya.
Aku tersenyum tipis menanggapi nasehatnya. Lalu sibuk menelepon ulang Mas Rudy, setelah Mbak Luna berlalu. Meninggalkanku sendiri di kubikel kami.
"Lama amat sih Non! Sibuk banget ya!" terdengar suara Mas Rudy di ujung sana.
"Maaf, sisa rapat. HP aku silent dan lupa dibenerin lagi. Wait ya, 10 menit lagi aku turun," jawabku.
"Okey, aku tunggu ya. Hahaha ... iya, Ngrid! Ehem sory, Sha! Ingrid nih, lucu." Mas Rudy nampak tidak hanya fokus menerima teleponku.
"Tunggu di mobil aja, Mas. Jangan di resepsionis, aku nggak enak dilihat orang," pintaku sebelum menutup telepon. Aku tak suka, Mas Rudy bercanda seakrab itu dengan Ingrid!
***
Aku meliriknya sekilas, lalu sibuk memainkan gawaiku.
"Sha ... kenapa sih?" Mas Rudy meminggirkan mobilnya dan mengalihkan perhatiannya padaku.
"Kenapa berhenti? Aku nggak apa-apa kok," jawabku sambil tersenyum terpaksa.
"Enggak ah! Kamu kayak ngambek gitu. Kenapa sih? Lagi ada masalah?" tanyanya lagi.
"Aku nggak apa-apa, Mas! Udah jalan lagi, ntar keburu macet," aku masih mengelak.
"Sha! Aku nggak akan jalan kalau kamu tetap seperti ini!" Mas Rudy berkeras. Ia mematikan mesin mobil, lalu melipat tangannya di dada.
"Okey, aku ngomong. Aku nggak suka, Mas Rudy jemput aku dan menunggu di lobby. Kan bisa nunggu di mobil sih!"
"Ya, tadi kamu lama. Jadi Mas ke lobby, rencananya mau minta tolong Ingrid telepon extension-mu," jelasnya.
"Ngapain minta tolong Inggrid segala. Kan bisa langsung ke kubikel aku! Lagian udah tau Ingrid tuh ganjen gitu kalau lihat cowok," aku masih mengomel panjang lebar.
"Eng, aku nggak mau naik karena males kalau ketemu atasan kamu. Aku tidak sedang ingin membicarakan pekerjaan dengannya. Hari ini aku cuma ingin jemput kamu dan makan malam seperti biasanya," jelasnya.
"Ya udah, lain kali tunggu di mobil aja. Nggak usah dekat-dekat dengan Ingrid!" seruku kesal. "Ingrid tuh ...."
"Sha, wait!" Kamu cemburu?" potong Mas Rudy yang seketika membuatku terdiam membisu. "Sha ...." Kembali ia menuntut jawaban.
"Ng ...."
"Nggak apa-apa, aku suka kamu cemburu," ucapnya kemudian, lalu menjalankan mobil dengan mengulum senyum penuh arti.
"Cemburu? Jadi ... apa iya aku cemburu? Tapi, bagaimana mungkin? Apa boleh aku cemburu pada suami orang?" berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benakku.