
Sebuah tangan merenggutku, meraihku dan menariknya dalam pelukannya. Aku hendak berontak dan berteriak ketakutan. Ketika pada akhirnya aku menyadari aroma parfum dari sesosok lelaki yang memelukku.
Harusnya aku menolak dan menghempasnya. Menampar wajahnya dan memakinya dengan kata-kata paling kasar yang terlintas di otakku.
Tapi ... tidak! Aku hanya terisak di pelukannya. Melepaskan semua rasa sedih, gundah, galau, bingung dan sedikit emosi karena jalinan cinta kami yang begitu rumit.
"I'm sorry, I know I hurt you," bisiknya dengan suara bergetar.
Apakah ia menangis?
"Maaf, maafkan aku, Shanna. Aku memang laki-laki jahat," kembali aku mendengar suaranya bergetar.
Aku semakin membenamkan diri dalam pelukannya dan menangis sejadinya. Sakit ... sangat sakit ... sungguh aku tak pernah mengira jatuh cinta bisa sesakit ini.
"Aku antar pulang ya, kita butuh banyak bicara," pintanya kemudian.
Aku menggeleng, melepaskan pelukannya, menyeka air mataku dan beranjak pergi.
Ia menahanku, menggenggam pergelangan tanganku dengan erat. "Please ...," pintanya memelas.
Aku terduduk di hadapannya dengan posisi pergelangan tanganku dalam genggannya.
"Aku mohon, lepaskan aku. Kita sudahi saja semuanya," bisikku lirih memohon. "Aku nggak sanggup lagi kamu sakiti seperti ini," lanjutku kemudian.
Aku kembali terisak dengan begitu dalam. Aku menggumamkan kalimat yang sama selama berulang-ulang, "Tolong, lepasin aku ... biarkan aku pergi."
Entah pada pengulangan ke berapa, Mas Rudy akhirnya melepaskan genggamannya pada pergelangan tanganku. Ikut terduduk di hadapanku dan aku lihat matanya berkaca-kaca.
"Ini salahku," gumamnya penuh penyesalan.
"Sudah, kita akhiri saja. Selamat tinggal," aku berusaha tegar. Mengusap air mataku, lalu bangkit berdiri dan meninggalkannya yang masih bersimpuh di lantai.
"Kuat Shanna! Lepaskan semuanya dan mulailah menata hidupmu sendiri," bisikku pada diriku sendiri sambil terus melangkah pergi.
***
Keesokan paginya aku dikejutkan oleh sebuah buket bunga mawar sebesar pelukan orang dewasa di depan pintu kamarku.
"Kata kurirnya disuruh taruh depan pintu kamar kamu, Sha. Jam 8 tadi dia antar," jelas Vanessa. Teman kosan yang kamarnya paling dekat dengan kamarku.
"Dari siapa, Ness?" tanyaku.
"Nggak deh, aku lagi nggak enak badan. Pusing," tolakku ramah sambil tersenyum.
"Okei deh, berani kan di kosan sendirian?" tanya Vanessa tersenyum iseng.
Aku terkekeh dan menggeleng kepala. Mengendus wangi bunga mawar yang segar sambil berpaling dan masuk kembali ke kamarku.
"Bip!" sebuah pesan masuk ke gawaiku.
"Kalau buketnya udah diterima, kabarin ya," sebuah pesan dari nomor asing masuk.
"Ini siapa?" tanyaku menjawab pesan itu.
"Cuci muka dulu, lima belas menit lagi aku udah di depan pintu," jawabnya.
Aku sudah bisa menduga-duga dengan pasti siapa lagi yang akan memperlakukanku semanis ini selain dia. Dia yang telah membuatku menangis semalaman, ah ... bahkan berhari-hari belakangan ini.
***
Aku dibuat kembali berada pada kondisi tak sanggup menolak. Mas Rudy memang selalu sungguh-sungguh ketika menginginkan sesuatu. Termasuk ketika meminta maaf padaku kali ini.
Lima belas menit kemudian, bel pintu kos-kosanku berbunyi dan dia dengan sepaket senyum manisnya telah berdisi disana sambil membawa hadiah yang lain.
"Mau apa?!" tanyaku sinis.
"Boleh aku masuk?" tanyanya manis.
"Di kosan lagi nggak ada orang, nggak enak kalau ada tamu laki-laki asing masuk!" tolakku dingin.
"Kan aku emang sengaja, minta teman satu kos-kosanmu keluar. Aku pengen kita ngobrol baik-baik," jawabnya santai. Membuatku terbelalak terbengong-bengong.
Aku tak menyangka dia seniat itu untuk berbaikan denganku.
"Kamu kenal Vanessa?" tanyaku.
Ia hanya tersenyum misterius, lalu kembali berkata, "Boleh aku masuk? Di ruang tamu aja, kita bisa ngobrol."
Mau tak mau aku membukakan pintu dan menyilahkannya masuk.
"Terima kasih, sayang," ucapnya ketika melewatiku yang masih memegang gagang pintu.