I Have To Let You Go

I Have To Let You Go
Sebatas Hubungan Kerja



Sudah dua bulan berjalan semenjak kerja sama proyek ini terlaksana. Kami yang terlibat dalam proyek itupun semakin intens bertemu dan menghabiskan waktu yang lama untuk berdiskusi membahas proyek. Tak jarang di sela kepenatan kerja kami selingi dengan makan bersama agar pekerjaan semakin lancar. Tapi hanya sebatas hubungan kerja saja.


"Sha, hari ini jadwal pencairan dana. Kamu sama Bu Merry aja ya yang ke tempat Pak Rudy," pagi-pagi tadi Pak Dino sudah memberikan perintah padaku. "Hari ini saya harus nemenin istri saya ke dokter," lanjutnya.


"Baik Pak Dino, siap laksanakan perintah," jawabku sambil tersenyum.


"Jangan lupa siapin tanda terimanya. Oh iya, sekalian bingkisan untuk Pak Rudy sebagai kepala proyek dan pimpinannya ya," kembali Pak Dino mengingatkan.


"Siap Pak Bos!"


"No, ke kantor dinas jam berapa?" Bu Merry muncul saat Pak Dino hendak pamit dari mejaku.


"Kamu sama Shanna aja ya, Mer. Aku siang ini nemenin istriku ke dokter," Pak Dino memberitahu Bu Merry.


"Okey, kita berdua aja nih, Sha? Siapa takut!" Bu Merry melirikku genit. "Berangkat jam 10an aja ya. Mampir toko kue dulu kan?" tanyanya kemudian.


"Siap, Bu Merry. Seperti biasanya," aku tersenyum mengiyakan.


****


Pukul 13.00 tepat kami tiba di kantor dinas. Bu Merry terlebih dulu menuju ruangan Kepala Dinas untuk memberikan sekedar bingkisan terima kasih. Aku yang malas ikut ke ruangan menunggu di ruangan untuk tamu.


"Hai, bengong aja Shanna!" seseorang mengagetkanku.


"Eh, Mas Ilham. Darimana, Mas?" tanyaku.


"Dari lokasi, ada beberapa hal yang musti di check," jawabnya. Mas Ilham lalu duduk di sampingku dan mengambil 2 gelas air mineral. Satu disuguhkannya padaku, satu diminumnya.


"Gimana kerjaan kami, Mas? Semua barang sesuai spec kan?" tanyaku sekaligus mengevaluasi.


"Sementara masih oke, cuma ada beberapa spare part yang belum datang," jawab Mas Ilham.


Aku mengangguk dan mencatat. "Yang belum datang nanti saya minta datanya ya, Mas. Biar saya bantu follow up ke bagian yang bersangkutan," kataku menjelaskan.


"Kamu mau lihat ke lokasi? Yuk, aku temenin. Kebetulan Pak Rudy juga masih disana," Mas Ilham menawarkan.


****


Aku terhenyak ketika melihat pemandangan tak biasa di dalam mobil Bu Merry yang samar-samar terlihat. Kaca filter mobilnya tidak sepenuhnya gelap sehingga ketika matahari senja tak begitu terang aku bisa melihat aktivitas di dalamnya. Badanku gemetar, sungguh ada gelombang rasa tak nyaman memenuhi tubuhku.


"Sha, ikut saya sebentar yuk," seseorang menarikku menjauh dari mobil Bu Merry.


"Eh ... uhm, Pak Rudy!" aku terkejut dan tak mampu menguasai diriku.


Pak Rudy menarik tanganku, setengah menyeretku untuk menjauh.


"Duduk, Sha. Minum dulu," Pak Rudi mengangsurkan sebotol air mineral.


Aku menerimanya, membuka segel dan tutupnya, lalu meminumnya hingga setengah.


"Kamu melihatnya, Sha?" tanya Pak Rudy.


Aku hanya mengangguk. Bayangan apa yang terjadi di mobil Bu Merry kembali terulang di benakku.


"Lupakan saja, anggap tidak terjadi apa-apa," Pak Rudy menasehatiku.


Aku kembali mengangguk, lalu menunduk lesu.


"Saya sudah tahu sejak dulu. Itu juga yang sebenarnya membuat kantor kami selalu menjalin kerja sama dengan perusahaanmu," kata Pak Rudy kemudian.


Aku terhenyak dan menatapnya tajam. "Ja ... jadi ...?"


"Udah, kamu tunggu sini ya. Saya antar pulang. Barang-barang kamu dimana? Saya ambilkan sekalian," kata Pak Rudy.


"Di ...  ru ... ang ... tung ... gu," jawabku masih terbata-bata.


Pak Rudy mengangguk, lalu memintaku menunggu di mobilnya sementara ia pergi mengambil barang-barangnya dan barangku.