
Aku masih berada di dalam mobil mas Rudy. Meski hanya membisu untuk beberapa saat. Dingin AC mobilnya menyentuh kulitku yang basah, membuat beberapa kali tubuhku yang hanya berbalut piama tidur menggigil kedinginan.
"Sha, aku ... sayang kamu. Entah sejak kapan tapi aku tidak bisa mengabaikan perasaan ini," kembali ia menyampaikan untaian kalimat yang aku yakin akan membuat wanita manapun meleleh.
Well let say, aku cuma perempuan biasa. Perempuan lugu yang bahkan tak pernah mengenal cinta sebelumnya.
Kalau kalian bilang, "Tegaslah, abaikan saja. Nanti juga dia capek sendiri kalau dicuekin."
Hallo! Pernahkan kalian terjebak dalam posisiku? I mean dengan kondisi psikologis sepertiku lalu datang seseorang menawarkan cinta?
Aku tidak meminta kalian membenarkan perbuatanku. Tapi ... aku mohon mengertilah, kadang cinta memang datang di saat yang tidak tepat. Cinta? What? Apakah aku mencintainya?
"Ehem ... pulanglah, Mas. Sudah sangat larut malam," pintaku kemudian.
"Cuma itu saja reaksimu?" kali ini mas Rudy yang menuntut.
"Lalu aku harus gimana?" tanyaku kesal. Rahangku mengeras menahan kesal.
"Kamu nggak menjawab perasaanku, Sha?" tanyanya.
"Mas, sadarkah kamu apa yang baru saja kamu sampaikan padaku? Kamu pria beristri, sudah berkeluarga! Bagaimana aku harus menjawab perasaanmu? Aku bukan pelakor!"
"Aku tahu kamu bukan pelakor apalagi wanita penggoda. Itulah kenapa aku menyukaimu. Aku pun bukan pria hidung belang yang merayu setiap wanita!" tegasnya.
"Lalu?"
"Cuma sama kamu, Shanna. Hanya dengan kamu aku seperti ini. Kalau kamu tanya kenapa dan apa alasannya. Aku pun nggak tahu! Aku tidak tahu bagaimana aku bisa begini terhadapmu. Aku nggak bohong, tapi kamu betul-betul spesial di hatiku!"
"Jedhuer!"
Petir di dalam diriku berkecamuk jauh lebih gila daripada rinai hujan di luar mobil.
Bagaimana bisa? Lalu aku harus bagaimana? Tuhan ... sungguh aku tak akan sanggup menanggung cobaanmu yang begitu berat ini.
"Aku harus bagaimana, Mas? Ketika kamu menuntutku menjawab perasaanmu, tolong kamu pun berpikir bagaimana posisiku! Semua orang akan menganggap salah hubungan ini dan mengutukku. Mereka akan melabeliku dengan semua hal negatif yang mungkin terlintas di pikiran mereka. Sundal, penggoda, pelakor, ******* ...."
"Cup!"
"Please, hentikan kalimat negatifmu itu. Kamu bukan wanita seperti itu," ucapnya.
Ia kembali mengecup bibirku lebih dalam. Sebuah french kiss, yang saat itu aku belum tahu bahwa apa yang dilakukannya padaku adalah sebuah french kiss.
"Ya Tuhan!" batinku menjerit.
Aku berusaha menolaknya, mengatup rapat bibirku dan berusaha menghentikan ciumannya.
Ia melawan, menahan wajahku agar tak berpaling. Satu tangannya yang lain mendekapku dan mengunciku dalam pelukannya.
"Please, jangan tolak aku. Aku mohon, Sha. Kali ini saja, cukup nikmati ciumanku dan jangan melawan," bisiknya di sela-sela lumatan bibirnya.
"Ahrghhhhhh!" batinku kesal.
Aku harus bagaimana? Mau tak mau aku menikmatinya. Well yah, aku menikmatinya kalau boleh jujur. Tapi ....
Ya Tuhan! Bagaimana bisa aku terjebak semakin dalam dengannya? Sungguh, setengah diriku mulai menginginkannya sementara setengahnya lagi masih bertahan untuk tetap waras dan menyadari bahwa dia adalah pria terlarang untukku.
"Sha ... I love you," bisiknya di telingaku setelah mengakhiri ciuman panjangnya.
"Fiuh!" aku menghembuskan nafas berat.
"Ini salahku, aku tahu! Aku yang menginginkan kamu dari awal. Sungguh kamu nggak bersalah sama sekali dalam hal ini. Jadi, aku yang akan lebih berhati-hati. Aku akan menjaga nama baikmu dan tidak membuatmu menjadi wanita buruk hanya karena membalas perasaan tulusku," jelasnya kemudian.
"Maksudmu, Mas?"
"Aku akan menahan diri. Menjaga jarak dan mengendalikan diriku untuk bisa bersikap profesional denganmu di tempat umum. Supaya orang-orang tidak memandangmu hina dan buruk," jawabnya.
"Terima kasih, kamu sudah mengerti dan memahami kondisiku," sahutku.
"Tapi jangan tolak aku, aku mohon. Jangan lagi mengabaikan aku ketika aku menghubungimu. Tolong, jangan bersikap dingin padaku, Sha. Aku nggak sanggup," lanjutnya yang membuatku terbelalak.
"Mas! Kamu baru saja memintaku menjadi selingkuhanmu diam-diam?" tanyaku emosi.
"Entahlah apa namanya, tapi ... aku sungguh tulus menyayangimu, Sha," jawabnya dengan wajah memelas.