
Bu Merry memelukku penuh kebahagiaan setelah pemaparan progress proyek dan laporan keuangan selesai. Semacam rasa lega yang luar biasa mengalir dalam diri kami berdua. Andai tak ingat Pak Dino laki-laki mungkin Bu Merry akan menariknya dan mengajak ikut berpelukan.
"Terima kasih, Bu Merry, Pak Dino dan Shanna. Sebagai rekanan jalinan kerja sama kita ini, semoga terus berjalan baik," ucap Kepala Dinas yang merupakan pimpinan Mas Rudy.
Kami bertiga membalas dengan senyuman. Pak Dino menjabat tangan sang Bapak Kepala Dinas. Sementara aku dan Bu Merry mengangguk dan tersenyum.
Dalam sepersekian detik aku melihat terjadi kontak mata antara Bu Merry dan sang bapak. Aku membuang muka, pura-pura sibuk merapikan dokumen sisa presentasi dan memasukkan semuanya ke dalam map milikku.
"File laporan serta hard copy dan perbaikannya, besok mungkin saya kirimkan ke kantor, Bapak," jelas Pak Dino.
"Biar besok saya bawakan kalau sudah selesai, Pak," usul Bu Merry yang langsung disambut anggukan sang Kepala Dinas.
"Baik, saya pulang dulu kalau begitu. Sudah malam, keluarga saya menanti," pamit Pak Dino.
"Bu Merry, untuk laporan keuangannya bisa kita bereskan malam ini sekalian ya," pinta sang Bapak Kepala Dinas.
"Baik, Pak. Saya selesaikan dengan mas Ilham segera," jawab Bu Merry.
"Tidak perlu, Bu Merry. Sama Bapak saja langsung, saya menyesuaikan," tolak Mas Ilham yang menurutku sudah pandai membaca situasi. Lagi pula kelihatannya dia sedang terburu-buru untuk segera pulang.
"Ke ruangan saya ya, Bu Merry," pinta sang bapak yang langsung dijawab anggukan oleh Bu Merry.
"Bu, saya tinggal balik dulu nggak apa? Ojek online saya sudah menunggu," pintaku sebelum Bu Merry beranjak.
"Iya, begitu lebih baik, Shanna. Bye ... hati-hati pulangnya," kata Bu Merry seolah tak peduli.
Aku bergegas meninggalkan ruangan rapat di instansi tempat Mas Rudy bekerja.
"Pulangnya sama aku aja, belum pesan kan? Kalau sudah batalkan saja," sebuah pesan masuk ke aplikasi chatku.
Aku hanya melirik sekilas padanya, lalu berpamitan pada beberapa orang yang tersisa di sana.
"Aku tunggu di ujung jalan 5 blok dari kantor ini," balasku sambil terus berjalan meninggalkan bangunan kantornya.
***
"Kenapa kamu harus berjalan sejauh itu hanya untuk menungguku?" protesnya. "Ini sudah malam, Sha. Kamu nggak takut ada orang jahat!" lanjutnya.
"Aku lebih takut sama kamu daripada dengan orang jahat," keluhku sambil tersenyum.
"Kok gitu?"
"Aku takut bagaimana mereka semua akan menghukumi kita macam-macam akibat hubungan ini," jelasku.
"Sudahlah, Shanna. Please stop bahas ini lebih lanjut. Aku capek," elaknya.
Baru 15 menit berjalan, ia meminggirkan mobilnya, kemudian mematikan mesin mobil.
"Kok berhenti," tanyaku sambil melepas earphoneku.
"Aku kangen, pengen peluk kamu sayang," bisiknya tepat di telingaku. Ia menggeser duduknya dan melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Mas ..., nanti dilihat orang," aku berusaha melepaskan diri.
"Cium satu kali dulu, baru aku jalanin lagi mobilnya," pintanya padaku. Ia memonyongkan bibirnya tepat di dekat pipiku.
"Cup!" aku memberinya ciuman singkat.
"Lagi!" pintanya tanpa merubah posisinya.
Aku kembali memberinya beberapa kali ciuman singkat.
"Ssshhhh,"desisnya sambil memindahkan tangannya memegang kepala dan pundakku. Lalu mengecupku lebih dalam. Yah, lagi-lagi french kiss yang basah.
"Mmph!" lenguhku saat ciumannya membuatku hampir kehabisan oksigen.
"Suka?" ia menghentikan ciumannya dan menatapku dalam sambil bertanya.
Aku menatapnya nanar sambil mengangguk.
"Terima kasih sayang," ia mengecup dahiku sekali lagi. Kemudian menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan tanpa banyak bicara.
"Kamu lemah, Shanna! Akhirnya kamu jatuh juga ke pelukannya. Menjijikkan!" sebuah bisikan dari dalam diriku membuat ludahku tercekat di tenggorokan.
Well ya, aku memang tak sekuat itu. Tidak munafik, diriku terpesona oleh sosoknya yang charming. Dia memiliki apapun yang mampu membuat wanita manapun bertekuk lutut.
"Tidak, aku hanya akan menjalaninya tanpa menuntut macam-macam apalagi menggangu rumah tangganya. Aku hanya akan menikmatinya, menikmati rasa yang telah ada," batinku perih.
Ah ... andai semua bisa semudah bagaimana orang-orang menghukumiku. Andai aku lebih keras menolaknya dan tak peduli. Andai ...
"Sudah sampai tuan putri," ia membuyarkan lamunanku.
"Ah, ehem ... makasih, Mas," aku tersadar dan bergegas hendak keluar mobilnya.
"Besok jam 9 aku jemput ya. Kita jalan-jalan. Aku suntuk di rumah," pintanya sebelum aku keluar.
"Kemana?"
"Lihat aja besok. Bye!" pamitnya sambil tersenyum.