I Have To Let You Go

I Have To Let You Go
Sebuah Episode Lain



Aku sudah bersiap untuk meninggalkan kota ini. Kota yang telah membuatku merasakan indanya cinta meski berbalut air mata.


Aku hendak memesak ojek onlineku ketika sebuah panggilan masuk ke gawaiku.


"Hallo," aku menjawab panggilan itu.


"Shanna kan, ini saya Nirma, istrinya Mas Rudy," jelas suara di seberang sana membuat jantungku berdetak lebih cepat dari semestinya.


"Iya, ada apa, Bu? Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku dengan suara hampir tercekat di tenggorokan.


"Bisa kita bicara? Saya perlu ngobrol lebih jauh dengan kamu," pintanya dengan suara datar.


"Perihal apa ya, Bu?" tanyaku masih berusaha netral.


"Shanna, saya sudah tahu semuanya. Apapun yang kamu dan Mas Rudy rencanakan. Saya sudah tahu dan saya ingin membicarakannya berdua dengan kamu," pintanya to the point.


Aku terdiam, jujur inilah saat paling tidak mengenakkan yang ingin aku hindari. Aku tidak mau dihakimi secara berlebihan karena kesalahan yang tak sengaja aku perbuat.


"Saya ...."


"Saya akan ke tempat kamu atau kamu mau bertemu dimana? Senyaman kamu saja," Bu Nirma, istri Mas Rudy terus mendesak.


Aku menghela nafas berat, meletakkan kembali travel bag yang sudah aku kemasi dan mengambil tas tanganku di nakas dekat tempat tidurku.


"Senyamannya Ibu saja, mau berjumpa dimana," ujarku kemudian


Bu Nirma kemudian menyebutkan satu lokasi dan aku menyetujui untuk menemuinya di tempat itu.


***


Aku hanya menundukkan pandangan ketika berhadapan dengan wanita itu. Ia cantik, sangat cantik malah untuk ukuran seorang ibu rumah tangga yang telah melahirkan dua orang anak yang beranjak remaja.


Aku tak pernah meminta Mas Rudy menunjukkan foto keluarganya. Tetapi pada sebuah kesempatan aku pernah melihat akun sosial media wanita ini membagikan foto acara keluarga ke akun sosial media Mas Rudy.


Aku tahu, dia sedang menahan segala perasaan dan emosinya ketika mengajukan pertanyaan itu padaku.


"Kami baru dekat setahun belakangan ini, Bu. Saya, bekerja di perusahaan rekanan suami ibu," jelasku masih menunduk.


"Kamu sudah tahu dia sudah berkeluarga?" tanyanya tajam.


Aku hanya mengangguk.


"Lalu kenapa kamu terima perasaannya? Kenapa kamu ikut arus permaninannya dan membuat dirimu sendiri terjebak dengan sebuah hubungan terlarang dengan pria beristri?" Bu Nirma menghujamkan kata-katanya tepat di hatiku. Membuatku semakin tak berkutik.


"Maafkan saya, saya yang salah. Saya tidak bisa menjaga diri," aku hanya meminta maaf dan berharap ia tidak melanjutkan kalimatnya. Menghakimi semua kesalahanku sesuka hatinya.


"Saya punya dua anak yang harus dijaga tumbuh kembangnya, Shanna. Saya tidak mau psikologis anak-anak saya terganggu karena kedua orang tuanya harus berpisah," Bu Nirma melanjutkan.


Setiap kata-katanya bagai sembilu yang terus menghujam jantungku. Aku terdiam dan tak sanggup berkata-kata.


"Saya mengerti, Bu. Itulah mengapa saya meminta Mas Rudy memikirkan kembali keputusannya dan kembali bersama ibu dan anak-anak," aku berkata sambil terus menggigit bibir bawahku. Menahan gejolak emosi dalam diriku yang membuncah.


"Saya tahu kamu wanita baik-baik. Kamu bukan pelakor yang berniat merusak rumah tangga seseorang," ujar Bu Nirma. "Karenanya, saya minta kamu pergi. Tinggalkan suami saya, tinggalkan keluarga kami," ucap Bu Nirma kemudian. Lembut tapi tajam menusuk jantungku.


"Saya, memang berniat pindah dari kota ini, Bu," jawabku berusaha tenang. "Ini hari terakhir saya di kota ini. Andai ibu tidak meminta berjumpa, tentu saya sudah dalam perjalanan," lanjutku.


"Alhamdulillah, terima kasih atas kebaikan hati kamu, Shanna," wajah Bu Nirma melunak dan sedikit iba padaku.


"Ibu tidak udah khawatir, saya cukup tahu diri. Untuk tidak menuruti kemauan Mas Rudy, apalagi menuntut macam-macam," jalasku.


"Terima kasih, Shanna. Terima kasih atas pengertianmu. Saya doakan yang terbaik untukmu. Semoga akan ada laki-laik baik dan single yang meminangmu nanti," Bu Nirma berubah sikap dan menjadi lebih bersahabat. Memposisikan seolah dirinya adalah kakak perempuan untukku dan memberiku banyak kata-kata bijak.


Bulshit! Tidak ada wanita yang benar-benar baik pada wanita lain. Sejatinya setiap wanita hanya peduli pada perasaannya dan menjadi sangat egois dalam urusan cinta.


Apapun kata-kata bijak yang membalut kalimatnya, pada intinya ia hanya berkata, "Pergilah, jangan ganggu milikku. Semua perasaan yang terjadi antara kalian hanya semu. Cintaku pada suamikulah yang suci. Karena kami telah dihalalkan dalam mahligai pernikahan yang diakui negara."