
Pukul 22.14 WIB.
Malam itu rapat berakhir sangat larut karena memang pembahasan mengenai dana proyek berjalan sangat rumit. Berkali-kali kami harus menghitung dan merubah taksiran biayanya. Berkali-kali pula terjadi perdebatan dan pembahasan yang alot.
"Shanna ... kamu pulang naik apa? Ini sudah malam loh," tanya Pak Dino.
"Saya biasanya order ojol Pak. Sebentar saya rapikan semuanya dulu, baru saya pulang," jawabku sambil menyimpan hasil pembahasan hari ini dalam macbook milik kantor.
"Emang masih ada? Aku antar aja deh, kosan kamu di daerah mana?" tanya Pak Dino.
"Oh ... saya di daerah X Pak, perumahan BA," jawabku.
"Oh, itu searah perumahan saya. Kalau kamu mau, kamu bisa sekalian bareng saya," Pak Rudy yang juga masih membereskan berkasnya di ruang rapat, menawarkan tumpangan.
"Pak Dino kan arah rumahnya di daerah C. Saya yang nebeng Pak Dino aja ya," rekan Pak Rudy yang kebetulan searah rumah dengan Pak Dino menawarkan ide untuk bertukar tumpangan.
"Iya, saya sama Mas Ilham searah ya? Perumahan apa Mas?" tanya Pak Dino.
"Saya masih numpang di Pondok Mertua Indah Pak," jawab Pak Ilham bercanda.
"Hahaha ... oh, iya-iya. Yang waktu itu saya diundang ke nikahan Mas Ilham itu ya?" Pak Dino mengingat-ingat.
"Trus kalian, nggak ada yang pengen ngasih tumpangan aku gitu? Hallo ... ada ibu-ibu juga disini," Bu Merry dari bagian keuangan tak mau kalah.
"Loh, Bu Merry rumahnya arah mana? Kalau searah bisa bareng saya," Pak Rudy ramah menawarkan tumpangan.
"Oh ... saya di daerah T sih, tapi saya bawa mobil sendiri kok Pak Rudy. Tenang ... saya cuma bercanda," kata Bu Merry. "Ya sudah, saya duluan ya. Shanna dan Pak Rudy hati-hati di jalan," pamit Bu Mery kemudian.
"Titip Shanna ya Pak Rudy, saya duluan. Sha, jangan nakal kamu ya sama Pak Rudy," canda Pak Dino.
"Hah? Maksudnya nakal? Saya anak baik-baik Pak. Pacaran aja nggak pernah," reflek aku menyahut lugu. Yang semenit kemudian aku sesali bersamaan dengan meledaknya tawa ketiga laki-laki itu.
"Hahaha ... Shanna ... Shanna, lucu banget sih. Udah, saya pamit ya. Mobil saya disana," Pak Doni dan Mas Ilham berjalan berlawanan arah dengan kami.
"Masuk Sha, santai aja saya nggak gigit kok," Pak Rudy berusaha mencairkan suasana.
"Eh ... iya Pak, permisi," perlahan dan penuh hati-hati aku meletakkan pantatku di jok mobilnya.
***
Selanjutnya sepanjang perjalanan berjalan santai. Baru aku sadari Pak Rudy orangnya santai dan humoris. Beberapa kali kami tertawa karena pembahasannya yang lucu. Sampai sebuah pertanyaan ....
"Serius kamu belum pernah pacaran Sha? Sayang banget, emang nggak ada laki-laki yang berani deketin kamu? Atau ... nggak boleh orang tua kamu pacaran ya?" tanya Pak Rudy membuka pembicaraan.
"Saya nggak tahu dimana dan bagaimana orang tua saya Pak. Saya dari kecil tinggal di panti asuhan," jawabku lirih. Malu sebenarnya, tapi aku tidak tahu harus menjawab bagaimana.
"Oh ... maaf ya Sha, aduh ... bukan maksud saya nih bikin kamu jadi sedih. Maaf ... maaf," Pak Rudy nampak salah tingkah.
"Eh ... saya juga minta maaf Pak, karena jawaban saya suasananya jadi nggak enak," aku pun menjadi canggung.
"Ehem. .. kamu hebat sih Sha, nggak semua anak yang besar di panti asuhan sukses dan berhasil. Buktinya kamu bisa lulus kuliah dan diterima di perusahaan besar," kata Pak Rudy kemudian.
"Biasa aja Pak, saya cuma nggak mau merepotkan pengurus panti asuhan saja. Makanya saya berusaha rajin belajar biar selalu dapat bea siswa," jawabku merendah.
"Tuh kan bener, kamu tuh hebat," Pak Rudy menegaskan. "Eh ini belok mana nih?" tanyanya kemudian.
Aku memberikan beberapa arahan hingga kami sampai di depan rumah kosku.
"Sudah sampai Pak. Mohon maaf, saya nggak bisa nawarin untuk mampir. Sudah terlalu malam, Bapak pasti sudah ditunggu di rumah," aku berusaha berbasa-basi.
"Iya nih, kapan-kapan aja saya main boleh ya," jawabnya dengan senyum menyungging. Entah serius atau hanya bercanda.