I Have To Let You Go

I Have To Let You Go
Cinta yang Tumbuh



Entah bagaimana pada akhirnya aku bisa pergi dari rumah ibunya dengan selamat dan tak kurang satu apapun. Lelaki itu memang gila, dia sungguh nekat dan tak bisa dihentikan.


Sepanjang akhirnya kunjungan perdana kami, aku hanya duduk sendiri di ruang tamu. Menunggu obrolan anak laki-laki dan ibunya itu di dapur. Lalu ibunya hadir menghidangkan teh, mas Rudy pun keluar tak lama kemudian dan kami menghabiskan teh sambil mengobrol ringan.


Ibunya hanya menanyaiku tentang siapa diriku dan berasal dari mana. Lalu berlanjut ke obrolan ringan seperti bekerja dimana dan bagaimana kenal dengan anaknya. Sudah itu saja.


Selanjutnya ibunya tak banyak bicara. Beliau memintaku menghabiskan minumanku, serta memakan cemilan dimeja yang ditempatkan dalam stoples-stoples kecil.


"Aku nggak pernah main-main soal perasaan, Sha. Kalau aku suka dengan perempuan, aku akan sungguh-sungguh memperjuangkannya," ucapnya sebelum menurunkanku di depan rumah kosku semalam.


Kami tiba sangat larut. Sudah dini hari malah. Untungnya besok libur sehingga kami bisa sedikit bersantai esok pagi.


***


"Pagiii cantikku, semoga kamu nggak trauma karena kejadian semalam," sapanya via video call pagi ini.


"Hei, udah bangun aja. Tumben video call?" tanyaku terkejut.


"Aku lagi sendirian di rumah, anak-anak pergi sama bundanya. Mau main ke rumah nemenin aku?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa.


"Kamu gila, Mas. Jangan berlebihan ah. Mentang-mentang sudah mengenalkanku pada ibumu, kamu jadi semakin merasa bebas membawaku kemana-mana," omelku.


"Engga sayang, aku cuma mau tunjukkan kalau aku sungguh sayang sama kamu," dia mulai menggombaliku.


"Dasarrr!" aku mencibir.


"Ibu suka denganmu," katanya kemudian yang membuatku melambung tinggi.


"Masa? Kamu bohong ah, itu cuma alibimu agar aku nggak meninggalkanmu," balasku.


"Enggak sayang, serius. Aku cerita soal kamu dan ibu berpesan aku nggak boleh menyakiti perasanmu. Kamu lihat kemarin, ibu baik-baik saja dan menemani kita minum teh hingga larut malam," ujarnya.


Aku terdiam, dalam hati aku bahagia sekali. Aku merasakan kehangatan seorang ibu dari sikap ibunya semalam. Sebuah rasa yang bahkan tak pernah aku rasakan sebelumnya.


"Sha ... Hallo! Kamu masih disitu?" tanyanya.


"Ehem, yaa. Apaan?"


"Aku masih capek, Mas. Jam dua pagi kita baru sampai," tolakku.


"Tapi aku sudah kangen banget sama kamu, sayang. Gimana dong, maunya berduaan sama kamu terus," kalimat gombalnya mulai terangkai indah.


Wanita mana yang tak akan luruh hatinya melihat kesungguhan lelaki seperti itu? Sungguh bahkan seorang lelaki single yang mendekat pun belum pernah ada yang berbuat segentleman dan semanis itu.


"Udah ah, mandi sana. Bersihin rumah dulu. Be a good daddy to your family," tolakku halus.


"Udah kan, be a good husband for you yang belum," balasnya.


"Massss! Mancing-mancing melulu ih!" keluhku.


"Hahaha ... aku serius, Shanna. Aku jatuh cinta setengah mati sama kamu," ujarnya dengan sungguh-sungguh.


"Kamu yakin rasa itu akan berlangsung selamanya, Mas. Aku takut, semua ini hanya fatamorgana sesaat yang nantinya akan hilang tanpa bekas," entah bagaimana bisa aku merangkai kalimat yang sungguh menyakitkan ditengah kebahagiaan yang sedang kami alami.


Mas Rudy seketika membisu.


Akupun kemudian membisu.


Lama kami saling diam tanpa kata, hanya saling pandang via video call.


"Nanti kita sambung lagi ya, aku mandi dulu," aku akhirnya yang mengakhiri video call itu.


Mas Rudy hanya mengangguk dan membiarkanku mematikan sambungan.


Ada gelenyar nyeri yang berdenyut di hatiku. Ya ... meski spontan tetapi untaian kalimatku barusan membuat diriku sendiripun tersadar. Apakah rasa ini sungguh akan berlangsung selamanya. Atau hanya sementara saja.


Jika nanti tiba saatnya rasa ini hilang, apakah kemudia ia akan pergi dan berganti pada wanita lain lagi seperti yang dia lakukan terhadapku saat ini?


Aku membayangkan, betapa menyakitkannya ketika saat itu tiba. Betapa sedihnya jika harus menerima kenyataan bahwa lelaki yang kita cintai berpaling karena kehilangan cintanya pada kita.


Aku tahu karma itu ada, dan ia tak akan pernah salah menimpakan hukum sebab-akibat pada manusia.