
Aku memintanya melakukan semua hal itu bukan tanpa alasan. Sungguh aku tak akan sanggup memepertaruhkan seluruh perasaannya padaku untuk sebuah hal gila seperti itu.
Aku tahu, aku kemungkinan besar akan kehilangannya. Ia bisa saja menyadari cintanya padaku hanya nafsu sesaat dan melupakanku ketika kehidupan pernikahannya kembali menghangat.
Tapi biarlah, biar pada akhirnya takdir yang memainkan perannya. Setidaknya aku sudah berusaha berbuat baik. Setidaknya sebagai wanita selingkuhannya aku sudah memberikan pengorbananku untuk keutuhan rumah tangganya.
Bukan aku setengah hati apalagi tidak mencintai Mas Rudy. Aku hanya ingin melakukan apa yang diinginkan seorang wanita ketika wanita lain hadir ditengah rumah tangganya.
Sebuah pengorbanan, ya ... aku yang salah sehingga aku yang harus mengalah. Begitu kan harapan kalian wahai para istri sah. Kami hanya pelakor, perasaan yang timbul diantara kami dan pasangan kalian hanya rasa semu yang penuh nafsu. Aku, hanya anak buah iblis yang dikirim untuk menghancurkan rumah tangga kalian.
Maka aku akan berbuat baik, aku akan berusaha membantu menjaga keutuhan rumah tangga Mas Rudy dan berkorban untuk keluarganya. Sementara ia berkonsentrasi untuk menjadi ayah dan suami yang baik. Aku akan diam-diam pergi dan menghilang.
Apa kabar hatiku?
Jangan ditanya bagaimana susahnya aku bertahan dan tetap kuat. Rasa ini terlanjur ada, sedang tumbuh dan berbunga. Namun harus dengan tega kutikam agar segera layu.
Aku mengurus semua kepindahanku diam-diam. Meminta Bu Merry, Pak Dino dan Mbak Luna untuk bekerja sama. Bersyukur dengan sedikit rekomendasi Bu Merry aku segera mendapatkan pekerjaan di kota lain.
Well let say, selalu ada hikmah dalam setiap masalah. Maka ketika semua jalanku dimudahkan, akupun bersyukur dan banyak berterima kasih.
***
Pandangan mataku berpedar mengitari sekeliling ruangan kamar kosku. Aku menarik nafas panjang, menghembuskannya dengan berat, lalu melangkah gontai dan menarik koperku untuk pergi meninggalkan tempat ini.
Selamat tinggal semuanya, selamat tinggal kenangan, selamat tinggal kisah kasih penuh canda tawa yang berbalut luka dan air mata.
"Heuh," kembali aku menghembuskan nafas berat. Menahan air mata yang hampir tertumpah dari sudut mataku.
Aku harus pergi, meninggalkan kota ini, pekerjaanku dan masa laluku agar terkubur disini selamanya. Aku harus mengakhiri kisah yang tidak seharusnya bermula. Aku harus meninggalkan dia yang telah beberapa tahun ini mengisi hidupku. Manis memang, tetapi penuh duka lara.
Satu bulan, ya... aku memintanya memberi jeda waktu untuk kami berdua tidak saling jumpa selama satu bulan. Dia harus kembali kepada istrinya dan terus berada di sisinya selama satu bulan itu. Seandainya memang perasaan kami benar adanya, maka dalam jangka waktu satu bulan rasa kami akan semakin kuat dan tak pudar. Lalu dia bisa memilih, akan kembali pada istrinya atau meninggalkan keluarganya dan memulai lembaran baru bersamaku.
Ya... aku tahu, kalian semua pasti akan mengutukku. Aku memang jahat, sundal, pelakor, perempuan genit penggoda suami orang dan perusak rumah tangga. Silahkan menghakimiku dengan puas. Silahkan menumpahkan sumpah-serapah dan semua kata-kata kasar kalian padaku. Tapi... setelahnya, mari berdiri di atas kakiku berpijak dan melihat dari sudut pandangku.
Tidak semua perempuan kedua adalah wanita penggoda. Ada kalanya cinta hadir secara tiba-tiba. Meski berbagai daya dan upaya telah dilakukan untuk mengabaikannya. Tapi tak urung ia tumbuh juga, bahkan berbuah sangat manis. Begitulah yang selalu terjadi... Maka aku sampaikan pada kalian, wahai wanita single yang berpenampilan menarik di luar sana. Berhati-hatilah dengan rasa nyaman. Apalagi rasa nyaman yang ditawarkan pria beristri.
Sudahlah... nasi sudah menjadi bubur. Hanya perjanjian satu bulan itulah keputusan terbaik yang aku bisa lakukan. Satu bulan, waktu yang cukup untukku mempersiapkan diri. Mengajukan surat resign ke kantorku, mencari tempat tinggal baru di kota lain dan meminta rekomendasi pekerjaan pada beberapa kolegaku secara diam-diam.
Aku pergi... meninggalkan semuanya disini, di kota ini. Kudoakan kebahagiaanmu di sisinya, Mas. Melanjutkan kembali mahligai yang sempat terkoyak luka. Biarlah aku yang pergi, biarlah aku yang mengalah. Seandainya memang rasa ini tulus dan suci. Maka biarlah suatu saat Tuhan kan berikan waktu dan kondisi lainnya yang lebih baik lagi.