
Aku terbangun tepat pukul 3 dini hari. Memperbaiki posisi tubuhku agar setengah duduk dan mengamati seorang laki-laki yang terlelap di sampingku.
"Mas ... andai kamu belum berkeluarga. Aku tak akan menahan diri sekeras ini," batinku pilu sambil mengusap pipinya.
"I love you too, Mas," bisikku sambil mengecup pipinya.
Aku terkesima dengan wajahnya yang damai ketika terlelap.
"Ya Tuhan!!! Sepertinya aku mulai jatuh cinta," batinku hampir menangis.
Mas Rudy terbangun dan meraih tanganku.
"Ssttt ... just let it be like this. Only this night," bisiknya menggenggam tanganku dan menarikku ke dalam dekapannya.
"Hei, ini sudah pagi, Mas. Kita nggak pulang?" tanyaku.
"Sssttt, please .... please, Shanna. Boleh ya, kita tidur seperti ini sampai pagi," pintanya.
Mas Rudy mulai mencium bibirku dengan lahap. Melakukan french kiss yang mendalam dan membuatku kehabisan nafas.
"Ya Tuhan ... cobaan apa lagi ini?" runtukku dalam hati.
Sekuat apapun imanku, seandainya situasi ini terus berlanjut, aku tak yakin akan mampu menahan diriku lagi. Aku wanita normal, diperlakukan semanis ini oleh laki-laki, bagaimana aku tak tergoda.
Aku membalas ciumannya. Jujur, ya ... aku memang menginginkannya. Rasanya cukup lama kami berciuman. Hingga dering ponselnya membuat kami berhenti.
"Hallo, ya ... ehem. Aku ada urusan pekerjaan di luar kota. Maaf aku nggak pamit, aku pikir kamu sudah paham bagaimana pekerjaanku. Ya, hari ini aku akan pulang ...."
Aku beringsut melepaskan diri dari pelukannya dan meninggalkannya sendiri di tepi ranjang sambil menelepon.
Aku berjalan gontai ke kamar mandi, wajahku panas. Campuran rasa malu dan amarah yang entah datang dari mana membuat perasaanku tak karuan. Pandanganku menjadi samar karena mataku penuh dengan air mata yang menggenang hendak jatuh.
"Bagaimana bisa kamu begitu tak tahu malu menginginkan laki-laki yang jelas sudah berkeluarga, Shanna!" runtukku dalam hati.
"Itu istrinya, ya ... istri yang dia tinggalkan untuk menghabiskan waktu denganmu. Istrinya menunggu bersama anak-anaknya dengan sabar di rumah. Sementara kamu membuat ia menghianati mereka tanpa tahu diri," batinku penuh penghakiman pada diriku sendiri.
"Hiks ... hiks ... hiks!" aku mulai terisak di dalam kamar mandi.
***
Entah berapa lama aku terisak di kamar mandi. Yang jelas ketika aku berhasil menguasai diriku dan menyeka air mata lalu keluar kamar mandi, ia sudah menyambutku dengan pelukannya yang hangat di depan pintu.
"Maaf, istriku menelepon," bisiknya lembut di telingaku.
Aku diam tak bergeming, tubuhku dingin menanggapi sentuhannya.
"Kamu marah?" tanyanya yang membuat hatiku serasa makin merana.
"Marah? Bagaimana mungkin aku bisa marah? Apa hakku marah pada istrimu yang menelepon untuk menanyakan keadaan suaminya. Suaminya yang seharian bersamaku, perempuan lain dalam rumah tanggamu," batinku dengan hati mencelos.
"Sha ... kamu marah?" tanyanya sambil mulai mengecup bibirku.
"Bagaimana bisa aku marah," jawabku lirih dengan menahan gemuruh hatiku agar tidak meledak.
"Kalau kamu nggak nyaman, aku janji nggak akan mengangkat teleponnya ketika kita bersama," rayunya sambil menggesek-gesekkan hidung mancungnya di hidungku. "Please, jangan marah. Aku sayang kamu, Sha," lanjutnya lalu kembali menciumku.
Aku sedikit membuka mulutku dan membiarkan lidahnya menerobos masuk dan melakukan ciuman yang lebih dalam.
"Well, at least dia memperlakukanku dengan lembut dan tidak bertindak terlalu jauh," batinku mulai nyaman dan membalas ciumannya.
Kami bercumbu dengan hangat. Aku membiarkannya menciumiku, membimbingku duduk di sofa dan mengajarkanku beberapa hal tentang bagaimana saling menyamankan dengan sentuhan. Bagaimana semakin mendekatkan diri dengan nyaman.
Maaf, tapi aku juga wanita. Aku butuh diperlakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Lagi pula aku tahu diri kok. Aku janji, hanya seperti ini. Tak akan lebih jauh lagi.