I Have To Let You Go

I Have To Let You Go
Sebentuk Perhatian



Semenjak kejadian itu aku sedikit menjaga jarak dengan Bu Merry. Aku takut namaku ikut jelek karena mendiamkan perbuatannya. Entah bagaimana ceritanya sore itu aku bisa sampai di rumah kosku dengan selamat.


Sungguh aku banyak berhutang budi pada Pak Rudy. Dia sangat baik padaku. Selalu tampil bijaksana dan mengayomi. Ah, seandainya saja aku punya seorang kakak sepertinya. Pasti hidupku akan lebih baik dan terjaga. Tak akan ada yang berani menganggapku sepele, tak akan ada yang mempermainkanku, karena ada kakak laki-laki yang menjagaku.


"Sha, udah makan siang?"


Gawaiku berbunyi dan terbaca satu notifikasi chat dari Pak Rudy.


"Sedang otw, Pak. Barusan pesen via aplikasi." Aku membalas chatnya.


"Yah, saya nggak ada yang nemenin makan siang dong."


"Mas Ilham kemana, Pak?"


"Ilham dibekali istrinya. Maklumlah masih penganten baru, jadi masih anget-anget kuku. Beda sama penganten lama. Boro-boro bekal, sarapan aja beli di luar." Curhatnya panjang lebar.


"Mau saya pesankan sekalian via aplikasi? Nanti di kirim ke kantor, Bapak."


"Bip ... bip ... zzztt ... zzttttt!" Nada panggilan di gawaiku berbunyi.


"Hallo, selamat siang, Pak!"


"Orderan kamu suruh terima satpam aja ya. Nanti dibekal buat makan malam. Kamu makan siangnya sama saya aja," ajaknya.


"Makan siang kemana sih, Pak? Memangnya nggak jauh, jemput saya ke kantor?"


"Saya tadi kebetulan lagi ada urusan di dekat kantor kamu. Makanya ngajak makan. Udah buruan siap-siap, sepuluh menit lagi saya sampai," katanya.


"Hah?!?!? Okei, wait!!!" aku buru-buru ke toilet untuk merapikan diri dan bersiap. Sekalian aku titipkan beberapa lembar uang puluhan ribu pada satpam untuk menerima orderan makan siangku tadi.


****


"Sha, kalau lagi jalan berdua gini manggilnya jangan 'Bapak' dong!" protes Pak Rudy ketika kami sedang makan siang bersama.


"Wah saya nggak enak, Pak Rudy. Bapak, kan rekanan kami," ujarku menolak.


"Duh, berasa bapak-bapak saya jadinya. Udah panggil 'Mas' saja ya!" Sedikit memaksa Pak Rudy memintaku memanggilnya 'Mas' begitu.


"Memangnya nggak apa, saya panggil 'Mas' pada Pak Rudy?" tangaku. Jujur aku masih ragu.


"Lah kan saya yang minta."


"Nah, gini khan enak. Biar akrab gitu," candanya.


"Bisa aja nih, Pak. Eh ..., Mas Rudy."


"Nah gitu dong, masih canggung ya. Tapi nanti kan terbiasa," katanya sambil mengelus kepalaku.


Aku tersipu, jujur aku rasakan ada getaran aneh yang nyaman ketika dia melakukannya. "Ingat Shanna, dia sudah punya istri," aku menasehati diri sendiri dalam hati.


"Sore nanti pulangnya mas jemput ya," pintanya.


"Hah? Kenapa? Nggak usah, Mas. Merepotkan saja," tolakku halus.


"Nggak repot, mas sedang butuh teman saja. Kebetulan beberapa hari ini mas sendirian di rumah. Makanya malas pulang cepat," kata Pak Rudy eh Mas Rudy agak memaksa.


"Serius nggak apa-apa?" aku masih ragu.


"Iya dek Shanna," jawabnya dengan mimik lucu.


Aku tertawa.


"Udah jam 12.45. Habiskan makananmu, aku antar balik ke kantor."


Aku tersadar, masih ada sisa beberapa sendok makanan di piringku. Bergegas aku habiskan makananku dan meminum hingga tandas es teh pesananku.


"Udah? Mau bungkus nggak, buat cemilan di kantor?" tanyanya.


"Ah, nggak usah, Mas. Aku udah kenyang," jawabku menolak.


"Okey. Oh iya, Sha. Mas mau bilang, untuk kasus Bu Merry dan atasan Mas. Sebisa mungkin kamu bersikap biasa saja ya. Jangan terlihat kamu tahu apa yang sedang terjadi. Jangan juga kamu menghindari Bu Merry," kata Mas Rudy.


"Jleb!" serasa ada palu besar yang baru saja menimpa diriku.


"Ng ... memangnya ... ada apa, Mas?"


"Enggak, baik Bu Merry maupun atasan Mas di kantor adalah orang-orang penting yang tidak ingin dilihat kelemahannya. Jadi supaya proyek ini lancar dan dapat berjalan dengan baik, kita perlu menjaga mood mereka agar selalu bagus," jelasnya.


Aku mengangguk, "Shanna paham, Mas."


"Good girl," katanya singkat sambil mencubit hidungku.