I Have To Let You Go

I Have To Let You Go
Restu



"Kita kemana, Mas?" tanyaku panik saat Mas Rudy memacu mobilnya kencang hingga melintasi jalur ring road.


"Kita ke kota L, ke rumah orang tuaku!" jawabnya serius.


"Ngapain?" tanyaku bingung.


"Kita minta ijin ibuku. Aku akan menikahimu, menjadikanmu istriku. Agar kalian mendapat tempat yang sama, dan kamu tidak lagi merasa terbebani!" tegasnya.


"Mas! Kamu sudah gila! Stop, hentikan mobilnya. Jangan gila, Mas!" aku menjadi sangat panik dan resah.


"Aku tidak gila, Shanna. Justru ini jalan keluar paling realistis untuk menyelesaikan masalah ini. Aku mencintaimu, aku menginginkanmu menjadi milikku dan aku tak akan pernah mau melepaskan kemudian harus menjauh darimu!" tegasnya.


"Tapi aku nggak siap mental menjadi istri keduamu, Mas. Aku belum sanggup menanggung beban moral dan hinaan orang-orang," jelasku.


"Lalu kamu mau apa? Aku bercerai darinya dan menikahimu?" tanyanya menuntut solusi yang lebih baik.


"Tidak! Aku tak ingin menjadi perusak rumah tangga orang!" tegasku.


Aku tahu, disini aku yang lemah. Aku yang bahkan tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana.


"Maafkan aku, aku yang salah. Aku yang labil dan tak bisa mengambil keputusan," air mataku mulai bercucuran.


Mas Rudy memperlambat laju mobilnya. Ia menepi, ke bahu jalan dan menghentikan mobilnya. Kemudian ia memelukku dan menghapus air mataku.


"Jangan menangis. Kamu yang kuat, yang sabar. Aku nggak sedang main-main denganmu, Sha. Aku bahkan sudah memikirkan semua resiko ini sejak pertama kali mengejarmu. Jadi tetaplah di sisihku dan biarkan aku menyelesaikan sisanya," pintanya sambil mencium pipiku bertubi-tubi.


"Hiks ... hiks ... aku nggak kuat, Mas. Aku nggak mau jadi perempuan jahat," air mataku tak berhenti mengalir.


"Aku, bahkan sudah nggak pernah lagi tidur sekamar dengan istriku, Sha. Sejak dekat denganmu aku sudah nggak bisa lagi menjadi suami yang baik baginya. Seluruh duniaku, hanya ada kamu," bisiknya lalu mengecup bibirku.


Dan ... french kiss yang dalam, basah dan lamapun terjadi lagi.


***


Mas Rudy menghentikan mobilnya di pelataran sebuah rumah joglo model kuno yang asri.


"Ini dimana?" tanyaku.


Meski separuh diriku sudah bisa menerka tetapi ingin rasanya tak percaya.


"Rumah ibuku," jelasnya.


"Mas, kamu serius? Kita pulang saja ya, nggak usah," tolakku.


"Sudah terlanjur. Setidaknya kita mampir sebentar," ajaknya yang kemudian turun dari mobil dan menungguku keluar.


Aku mau tak mau keluar dan berjalan di sampingnya. Hatiku? Duh jangan ditanya. Rasanya seperti menghadapi interview kerja tanpa persiapan yang matang.


"Tok-tok!"


"Assalamualaikum," Mas Rudy mengetuk pintu rumah dengan yakin.


"Waalaikumsalam, sebentar," seorang wanita menjawab dari dalam rumah.


"Kriet," pintu dibuka.


"Rud? Tumben," ibunya terkejut melihat Mas Rudy dan aku. Namun berusaha menenangkan diri agar tampak normal-normal saja.


"Bu, sehat?" Mas Rudy mencium tangan ibunya dan memeluknya.


"Alhamdulillah, yuk masuk," ibunya segera membukakan pintu lebih lebar dan mbiarkan kami masuk.


"Ini Shanna, Bu," mas Rudy memperkenalkan aku pada ibunya.


"Oh ... ehem, iya," ibunya tersenyum singkat.


Aku melihat gurat penasaran ibunya yang amat besar terhadapku. Namun beliau nampak berusaha netral saja, meski agak bingung.


"Shanna, Bu," aku mencium tangannya dan tersenyum. Sungguh aku tak bisa menyembunyikan rasa canggunggku.


"Ng ... duduk, ibu bikinkan teh dulu. Kalian pasti lelah dari perjalanan jauh," wanita berusia setengah abad lebih itu mempersilahkan kami duduk. Lalu masuk ke dalam rumah.


"Kamu gila, Mas. Aku belum siap mental sudah kamu hadapkan pada situasi seperti ini!" aku mencubit lengannya kesal.


"Biar kamu percaya aku nggak main-main sama kamu," dia mencubit hidungku.


"Rud, bantu ibu sebentar," panggil ibunya dari dalam.


"Tuh, aku udah dipanggil mau diintrogasi. Siap-siap kamu juga nanti. Aku pergi dulu ya," pamitnya sambil tersenyum nakal padaku.


"Damn! Situasi macam apa ini?" batinku kesal.


Aku menunggu di ruang tamu dengan perasaan yang tak akan pernah bisa aku gambarkan.