I Have To Let You Go

I Have To Let You Go
Ketika Harus Berakhir



Sudah satu minggu lebih dan Mas Rudy masih tak juga mengabariku. Aku sudah pasrah dan ingin menyerah saja. Aku tahu diri, siapalah aku ini.


Apalah aku, hanya perempuan yang dicintainya. Perempuan yang entah dicintainya sampai kapan. Mungkin ... inilah saatnya cinta itu berakhir.


"Hiks ... hiks ...," aku menangis lirih malam itu.


Memandang cincin pemberiannya dengan berat hati dan mengenang secuil manis yang pernah terkecap indah.


"Kuat, Sha. Inilah saatnya kamu mengambil keputusan. Lebih baik begini, daripada semuanya sudah terlalu jauh. Mungkin Tuhan masih sayang dan melindungimu," ucapku dalam hati.


See ..., apa kalian pernah berpikir bahwa banyak wanita di luar sana yang mengalami nasib sepertiku. Dipermainkan cinta yang tak bertanggung jawab.


Salahku? Iya, memang salahku yang tak pandai mengendalikan hatiku. Tapi ... andai kalian berada di posisiku, apakah kalian bisa setegas itu. Setegas dan sejahat ketika kalian menghukumiku.


Akupun sakit, sakit yang sama. Andai bisa mengulang waktu, tak ingin rasanya aku membiarkan diriku terjerumus terlalu dalam.


***


Keesokan harinya aku melepas cincin pemberian Mas Rudy. Aku memantapkan hati, bahwa memang mungkin semuanya harus berakhir demikian.


Aku cukup tahu diri, untuk tidak tampil dan menuntut macam-macam. Mungkin ini yang terbaik, melepasnya kembali kepada istri dan anak-anaknya.


Cukup aku saja yang sakit, menangis dan patah hati. Jika memang untuk keutuhan rumah tangganya, jika memang untuk kebahagiaan anak-anaknya, aku rela.


"Sha, hari ini meeting sama dinas loh. Kamu udah siapin bahannya?" Bu Merry menepuk bahuku.


"Final meeting ya, Bu Merry?" Pak Dino menyahut tak jauh dari tempatku berdiri.


"Yuph, akhirnya proyek tahun ini selesai ya," Bu Merry tersenyum puas.


"Time schedulenya sesuai dengan di lapangan ya, Sha. Minta tolong kamu koordinasi dengan pihak Dinas ya. Bisanya kapan," pinta Pak Dino.


Aku kelabakan, "Koordinasi dengan Dinas? Aku ... harus menelepon Mas Rudy dong! Ya Tuhan, tidak bisakah jangan aku yang melakukannya?"


"Sha! Hallo! Kok ngelamun sih!" Bu Merry menepuk bahuku.


***


Selanjutnya sudah bisa ditebak bahwa lagi-lagi, semesta berkonspirasi untuk semakin menyudutkan diriku. Mengujiku dengan kejadian dan keadaan yang menguras emosi dan pikiranku.


Kami harus berjumpa ketika suasana hati kami tidak sedang berada ada kondisi ingin berjumpa.


Mas Rudy sedang duduk di sana, berada diantara Mas Ilham dan sang kepala instansi. Ia nampak sangat serius membahas Evaluasi akhir dari proyek yang sudah setahun iniĀ  kami kerjakan.


Aku beberapa kali mencuri pandang ke arahnya. Namun Mas Rudy seolah tak lagi peduli padaku dan semakin sibuk dengan apa yang kami bahas dalam rapat.


Aku menyerah, nyaliku menciut sudah. Menangis rasanya hatiku melihat sikapnya yang begitu dingin padaku.


Apakah ini pertanda semuanya berakhir. Hubungan kami ... sudah selesai, begitu?


Well, at least dia tidak harus mengakhirinya dengan begini mengambang. Satu kata sederhana saja, "Sha, kita putus!"


Dan aku akan dengan sekuat tenaga membunuh perasaanku padanya. Sehingga aku bisa melanjutkan hidupku.


Aku tahu diri, aku tak berhak menuntut apa-apa. Hanya saja, tak adakah sedikit kompensasi untuk hati yang telah porak-poranda ini?


"Baik, terima kasih untuk satu tahun kerja samanya. Kami sangat berterima kasih, Bapak. Semua tim dari pihak dinas support 100% proyek kami," Pak Dino berdiri dan mengakhiri acara serah terima.


"Sama-sama, Pak Dino. Semua laporan juga sudah beres dan rapi. Terima kasih, Bu Merry. Untuk, ehem ... Shanna juga. Semoga kedepannya akan ada proyek lain yang bisa kita kerjakan bersama kembali," Bapak Kepala Dinas menjabat tangan Pak Dino sambil tersenyum.


Kami saling berjabat tangan sebelum acara syukuran dan ramah-tamah. Sengaja aku hindari berjabat tangan dengan Mas Rudy. Aku berpamitan untuk segera pulang dan tidak ikut acara ramah-tamah.


Aku ... ingin menyelamatkan hatiku yang telah hancur menjadi kepingan-kepingan kecil. Cinta pertamaku, berakhir seiring berakhirnya proyek kerja sama antara perusahaanku dan instansinya.


"Ha ... ha ... ha ... congratz, Shanna. This is the best ending for your first love story," batinku sambil menahan air mata.


Aku berjalan gontai meninggalkan gedung baru tempat ramah-tamah itu berlangsung. Membiarkan beberapa bulir air mataku menetes, lalu menarik nafas panjang dan bergegas pergi.