I Have To Let You Go

I Have To Let You Go
Secuil Rasa Nyaman



Kalian tahu apa yang paling berbahaya dalam sebuah hubungan pertemanan? Rasa nyaman. Ya, semua manusia pasti akan mencari kenyamanan. Begitupun diriku. Dibesarkan di panti asuhan sebagai anak yatim-piatu membuatku besar dengan sedikit rasa kasih sayang. Aku bahkan tak pernah tahu siapa orang tuaku.


Itulah kenapa ketika Mas Rudy hadir. Aku merasa ia mengisi kekosongan dalam hidupku. Dia bisa menjadi kakak laki-laki yang begitu melindungiku. Memberikan kebahagiaan demi kebahagiaan dalam hidupku.


"Sha, aku jemput ya. Hari ini habis visit proyek di deket kantormu," pintanya via voice note aplikasi chat.


"Boleh kalau nggak repot," jawabku via voice note.


"Nggak repot kalau buat kamu."


"Huuu, gombal! Aku tunggu di pos satpam ya," aku segera membereskan barang-barangku dan bergegas menuju pos satpam.


"Hai! Cepet amat!" Mas Rudy tersenyum padaku sambil membuka jendela mobilnya.


"Iya, udah kelar dari tadi. Pas mau pulang, eh Mas Rudy telepon. Makasih ya dianter pulang," jawabku sambil membuka pintu mobilnya dan duduk di sampingnya.


"Ihhh, siapa yang mau nganter pulang. Emang aku sopir grab? Jalan sore yuk," ajaknya.


"Kemana? Mas nggak ditunggu keluarga di rumah?" tanyaku canggung.


"Biasanya juga pulang malam. Aku pengen karaoke, kamu temenin aku sebentar ya," pintanya.


"Karaoke? Berdua? Serius nggak apa-apa?" tanyaku. Ada secuil rasa tidak enak ketika kami menghabiskan waktu berdua sementara istri dan anak-anaknya menunggu di rumah.


"Kenapa sih? Pacar kamu marah, kamu jalan sama aku?" Bukannya menjawab, Mas Rudy malah balik bertanya.


"Enggaklah, kan aku nggak punya pacar!" seruku spontan.


"Ya udah, makanya. Santai aja, mau kan nemenin aku karaoke?" tanyanya kembali.


"Iya deh, mau. Tapi aku nggak bisa nyanyi loh," jawabku sambil mengaku.


"Kan aku cuma minta ditemani. Yang suruh kamu nyanyi siapa?" Lagi-lagi Mas Rudy menggodaku.


"Ahhhh, suka ngerjain deh. Mentang-mentang aku polos," ujarku sambil menepuk pundaknya kesal.


"Hahaha ... Shanna, Shanna! Kamu tuh 25 tahun rasa 15 tahun!" katanya terkekeh.


"Aku ngambek turun nih dari mobil!" seruku kesal.


"Enggak ... enggak, maaf deh. Udah jangan ngambek nanti, Mas belikan permen," Mas Rudy semakin menggodaku.


"Hahaha ... hahaha .... Eh udah sampai, turun dulu yuk," ajaknya.


Kami memasuki sebuah rumah karaoke di kota kami. Mas Rudy segera memesan ruangan selama dua jam kedepan.


"Yuk," ajaknya setelah membereskan urusan administrasi.


Aku melangkah di belakangnya, mengikuti pelayan tempat karaoke ini mengantarkan kami ke ruangan yang dipesan.


"Berdua aja nih, Mas?" tanyaku.


"Iyalah, kenapa?" ia balik bertanya.


"Enggak, aku merasa nggak enak aja," jawabku jujur.


Mas Rudy mulai memutar lagu dan menyanyi. Suaranya lumayan meski sempat fals di beberapa bagian. Ia begitu menjiwai. Aku hanya memandangnya takjub. Sedekali melihat ponselku untuk mengechek beberapa pesan.


"Giliranmu ah, nyanyi!" pintanya menyodorkan satu microphone yang tersisa di meja.


"Aku kan bilang nggak bisa nyanyi!"


"Satu lagu aja, lagi ini nih. Kalau yang ini kamu pasti bisa," pintanya sedikit memaksa lalu memilihkan sebuah lagu.


Alunan musiknya mulai terdengar ....


"Ehhh, Masss! Ini mah lagu selamat ulang tahun!" seruku mulai kesal karena kembali merasa dikerjain. "Mas Rudy ngerjain aku!"


"Hahahaha ... enggak Sha, aku emang lagi ultah. Dan aku pengen kamu nyanyiin lagu selamat ulang tahun buat aku," pintanya serius.


"Hah? Seriusan? Okeiii, selamat ulang tahun ya, Mas," ujarku lalu kemudian menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan suara seadanya.


Ia tersenyum, memandangku begitu dalam. Kemudian mengucapkan terima kasih ketika aku menyelesaikan bait terakhir lagu selamat ulang tahun.


"This is all I want in my 35th brithday. A happy brithdays song from you," ujarnya syahdu kemudian.


Aku tersenyum, bahagia sekali. Jiwa kewanitaanku melambung tak terhingga. Ini pertama kalinya seorang laki-laki menyatakan sebuah kalimat indah penuh makna seperti itu. Tapi ... entah kenapa, sebuah aliran rasa pahit perlahan menyebar di sudut hatiku.


"Ingat, Sha ... dia sudah berkeluarga," batinku perih.