
Aku betul-betul menangis sepanjang malam. Tertahan dalam pusara badai perasaan yang sedang melanda ganas dalam diriku.
Mataku bengkak, hidungku memerah dan wajahku sungguh berantakan. Aku bahkan tak bisa menutupinya dengan riasan make up seperti yang biasa aku pakai.
Aku harus bagaimana?
Kepada siapa aku harus bercerita dan menumpahkan segala beban yang menghimpitku.
Dalam kondisi seperti itu, pagi ini aku harus tetap beraktifitas dan bekerja dengan baik. Ya Tuhan ....
"Sha! Shanna! Hallo!"
"Eh, ehm ... iya Pak Dino," aku menjadi salah tingkah ketika tertangkap sedang melamun oleh atasanku sendiri.
"Kamu kenapa sih? Nggak fokus sama sekali kerja," tanya Pak Dino setengah protes. "Kamu sakit?" lanjutnya kemudian.
"Ah, enggak kok, Pak. Hanya ... ehem, yah agak banyak pikiran," jawabku jujur ketika tak menemukan alasan yang tepat untuk mengelak.
"Mikirin apa sih, Pak Rudy? Duh Sha, hati-hati, dia sudah beristri," nasehat Pak Dino. Sungguh sebuah nasehat yang tidak membuatku merasa nyaman bahkan lebih buruk.
"Ah enggak, Pak. Saya tahu hubungan kami sebatas hubungan kerja profesional," aku menjawab diplomatis. Meski di dalam diriku tidaklah sediplomatis itu.
"Bagus, saya minta tolong, kamu tetap menjaga profesionalitas kerja. Kita sedang terlibat sebuah proyek besar dengan instansinya dan jangan sampai semuanya menjadi berantakan hanya karena kalian terbawa perasaan," tajam Pak Dino mengingatkan aku.
"Baik, Pak Dino. Saya mengerti, saya perbaiki bagian laporan yang ingin bapak revisi ya," pamitku masygul. Sungguh percakapanku barusan membuat mood kerjaku semakin terjun bebas ke jurang penyesalan terdalam.
Aku merapikan berkas-berkas yang telah kami diskusikan. Kemudian bergegas pergi meninggalkan ruangan bosku, menuju kubikelku sendiri. Tak sedikitpun aku berkontak mata dengan pak Dino
"Hhh!" aku menghempaskan pantatku di kursi kerjaku sambil menghela nafas panjang.
"Kenapa sih Sha? Penat banget kayaknya," Mbak Luna menjawil pundakku.
"Ah, ehm ... enggak, Mbak. Hanya capek saja," jawabku berusaha tersenyum.
***
Sudah sepuluh menit aku hanya memandang tak selera pada makananku sambil mengaduk-aduknya. Nafsu makanku sudah hilang semenjak pagi.
"Itu makanan emang cuma di aduk-aduk gitu aja? Nggak ada niat dimasukin mulut, Sha?" Mbak Luna menegurku.
"Ah ... eg, iya aku makan, Mbak," jawabku kikuk sambil memasukkan satu sendok makanan ke mulutku.
"Kamu kenapa sih? Ada masalah? Cerita sama, Mbak," pinta Mbak Luna sambil mengelus punggung tanganku penuh kesabaran. Pandangan matanya menatapku penuh simpati.
"Enggak, Mbak! Aku cuma kecapean," jawabku mengeleak.
"Pak Rudy?" tanyanya singkat, padat dan lugas.
Aku diam membisu. Menghindari tatapan matanya dan mengalihkan pandangan ke sudut bahunya.
"Sha, kamu jatuh cinta sama Pak Rudy?" sekali lagi Mbak Luna bertanya.
"Enggak! Shanna tahu diri, Mbak. Pak Rudy sudah berkeluarga!" tolakku dengan nada suara naik satu oktaf.
"Bagus! Mbak tahu kamu bukan perempuan penggoda. Kalau kamu masih berpikir seperti itu, tandanya kalian masih sebatas dekat. Kamu belum membuka pintu hatimu padanya," kata Mbak Luna. Lalu sambil tersenyum Mbak Luna mengelus punggung tanganku kembali.
"Tapi Shanna takut, Mbak," bisikku lirih. "Shanna nggak mau merusak hubungan kerja, apalagi sampai membuat proyek ini berantakan," jelasku sambil berkaca-kaca.
"Maka kamu harus bersikap tegas dan profesional, Sha. Jangan biarkan perasaanmu mengacaukan segalanya. Berusahalah untuk menghindar dan mengurangi intensitas kalian menghabiskan waktu bersama. Tapi, tetap ramah dan bersikap seolah semua baik-baik saja," nasehat Mbak Luna. "C'mon Sha, you can do that!"
Aku memandang Mbak Luna tanpa daya. Mampukan aku? Setelah ciumannya semalam? Setelah uncondotionaly moment yang membuat perasaanku teraduk-aduk sempurna?
Seandainya semua semudah dan sesederhana itu, aku tak akan larut hingga sedalam ini. Ah, seandainya aku tahu kapan aku harus berhenti sebelum semuanya menjadi sekacau ini.
"I'll try, Mbak," jawabku lirih tanpa daya.