I Have To Let You Go

I Have To Let You Go
Pukulan Pertama



Seorang wanita menghubungiku sehari setelah kami jalan bersama kedua anak Mas Rudy. Hanya sebuah chat sederhana, tetapi cukup telak memukul mentalku hingga down.


"Kamu, Shanna ya. Terima kasih sudah mengajak anak saya nonton di bioskop," begitu tulisnya dalam sebuah pesan di aplikasi chat.


"Degh!" hatiku berdetak dua kali lebih cepat.


Aku bingung bagaimana harus membalas pesannya.


"Oh iya, Ibu. Maaf kemarin kebetulan pas nebeng Pak Rudy, ketika ibu telepon. Lalu Kania minta nonton, jadi kami turuti saja," aku berusaha menjawab dengan netral.


"Nggak apa, suami saya memang selalu baik dengan teman wanitanya. Anak-anak suka kok main sama kamu. Kapan-kapan main ke rumah ya. Biar bisa kenalan," balasnya.


"Nyut!" seketika ada hentakan rasa tidak nyaman dalam diriku.


Sungguh, aku merasa menjadi wanita yang sangat jahat terhadap wanita lain karen sikapku bersama mas Rudy di belakang istrinya.


"😊."


Aku hanya membalas dengan emoticon senyum, lalu tak ada balasan lagi.


***


"Kamu kenapa sih, Sha? Aneh deh mukanya," protes Mas Rudy ketika makan malam bersamaku sepulang kantor hari ini.


"Enggak, masak sih aneh?" aku melirik ponselku untuk melihat pantulan bayanganku. Barangkali ada yang belepotan atau aneh.


"Bukan itu, maksud kamu sikap kamu, sayang," Mas Rudy menjawil hidungku.


"Mas! Dilihat orang!" bentakku agak kasar. Lalu menghentikan makanku dan meraih kunci mobilnya. Meninggalkannya sendiri di tempat makan dan lebih memilih berdiam diri di dalam mobilnya.


Lima menit kemudian, aku melihatnya tergopo-gopo menyusulku masuk mobil.


"Kamu kenapa sih? Ada yang salah dengan sikapku?" ia nampak kesal dan menahan emosi.


"Kamu tuh tangannya, kalau dilihat orang gimana? Kalau ada yang foto trus dikirim ke istrimu gimana? Pikirin posisi aku lah!" akupun tak bisa lagi menahan emosi.


"Ini di tempat makan tertutup, Shanna! Mana mungkin ada yang melihat. Kamu mengada-ada aja deh! Ada apa? Jelas ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku!" tegas Mas Rudy menanyaiku. Matanyapun tajam menatapku dengan intens.


"Ng ... aku ... ehm. Istrimu mengirimkan pesan via chat," jawabku akhirnya tak tahan untuk menutupinya.


"Mana, chatnya?" ia meminta aku menunjukkannya.


Aku buka ponselku dan aku tunjukkan chat dari istrinya.


"Ini yang bikin mood kamu jungkir balik?" ia kembali menatapku lekat-lekat.


"Maafkan aku, Shanna. Aku yang salah," ia melunak dan memelukku.


Aku terkejut dan tak tahu harus bagimana.


"Maaf, Shanna. Harusnya aku lebih hati-hati menyimpan ponselku. Kamu pasti ketakukan dan merasa bersalah," bisiknya masih memelukku.


"Aku bingung, Mas. Harusnya kita memang tidak sejauh ini," kataku lirih.


"Aku yang salah, Shanna. Maaf, maafkan aku karena sudah jatuh cinta sama kamu," ia berkata sambil menatapku dalam-dalam.


Kalian tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu? Satu sisi aku melambung karena dicintai begitu besar. Tapi saat itu juga aku serasa dijatuhkan ke jurang kehancuran ketika harus menghadapi kenyataan.


"Kita sudahi saja semuanya, Mas," pintaku.


"Kamu tega? Aku nggak bisa, Shanna. Aku nggak bisa jauh dari kamu," keluhnya sambil mengecup bibirku.


"Masss ... jangan," aku mendorong tubuhnya menjauh.


"Jangan pernah, minta putus dari aku lagi. Janji!" tegasnya.


Aku mengangguk. "Tapi aku butuh waktu. Aku ingin menenangkan diriku."


"Maksudmu?"


"Kita ngga usah ...."


"No! Kalau kamu minta kita nggak usah ketemu dulu, lalu saling menghindar aku nggak mau! Aku nggak bisa, Shanna!"


"Tapi istri dan anak-anakmu tak bersalah. Tidak seharusnya kita menghinanati mereka seperti ini!" keluhku.


"Aku yang salah, aku, Sha! Aku yang sudah tidak mencintainya lagi. Aku yang jatuh cinta dan tergila-gila sama kamu sekarang!"


"Mas! Dia istrimu, ibu dari anak-anakmu. Wanita yang sudah mendampingimu selama ini," aku mengingatkannya lagi.


"Iya, aku tahu. Sebagai balasannya aku memberinya dua anak, menafkahinya dengan cukup, memberinya kehidupan yang layak. Aku tak pernah sekalipun menelantarkan keluargaku, Shanna!"


Aku terdiam.


"Ikut aku, akan aku buktikan bahwa aku sungguh tulus mencintaimu!"


Mas Rudy nampak bersungguh-sungguh. Lalu memacu mobilnya dengan terburu-buru.