I am Not a Girl

I am Not a Girl
Chapter 8



.


.


.


Di sebuah aula kerajaan, terlihat seorang pria berambut perak sedang duduk di singgasananya yang mewah, dia menatap sekitarnya dengan tatapan bosan, sudah lama sekali dia menunggu kabar yang akan di berikan mata-matanya.


Dia mempunyai niat yang kuat untuk menghancurkan Kerajaan Toutius beserta isinya, dia mempunyai alasan tersendiri mengapa dia begitu berambisi untuk menghancurkan Kerajaan itu.


Sedikit demi sedikit niatnya sudah mulai terlaksana kan, di mulai dari membunuh Raja Louie dan Ratu Julia saat mereka sedang dalam perjalanan pulang ke Kerajaan mereka, lalu dia pun juga berhasil membunuh Putri Abby secara halus dengan cara memasukkan racun di makanannya secara rutin. Akhirnya Putri Abby meninggal dengan keadaan yang dianggap terkena penyakit langka, namun sebenarnya tidak seperti itu.


Bibirnya yang pucat menyeringai dengan menakutkan, dia sangat senang karena telah mampu membalas dendam pada Raja Luke, dia hanya tinggal membuatnya tambah menderita lebih dari ini, maka dari itu dia menyuruh mata-matanya untuk menyamar dan kembali masuk ke Kerajaan itu.


Saat yang ditunggu pun datang, seseorang yang berpakaian serba hitam berjalan mendekati singgasana Raja, tudung jubahnya yang menutup sebagian mukanya menambah kesan yang sangat misterius dan kelam.


Orang itu langsung bersimpuh di depan Raja, "Yang Mulia saya membawa sebuah kabar," ucapnya.


"Kabar apa itu?"


"Raja Luke sudah memiliki calon Permaisuri."


BRAAAKK..


"APA!!" teriak nya sambil memukul pegangan kursi.


Ini tidak boleh dibiarkan, padahal dia sudah sangat senang saat mendengar bahwa pria itu tidak akan mencari pasangan hidup. Tapi apa-apaan dengan perubahan rencananya?


Dia menggeretakkan giginya sampai terdengar jelas di telinga bawahannya, dia kesal dan sangat marah, sebisa mungkin dia harus membuat hidup pria jahat itu menderita seumur hidupnya.


Dia duduk terdiam di singgasana nya, dia harus berfikir dengan tenang untuk bisa mulai melangkah menjatuhkan Luke dan membuatnya sengsara seumur hidupnya.


Tiba-tiba saja terbesit sebuah ide berlian di dalam otaknya, "Chelsea, suruh Jamie untuk mulai beraksi, bunuh calon permaisuri sialan itu," ucapnya sambil menyeringai.


"Baik Yang Mulia."


Setelah itu bawahannya yang bernama Chelsea pergi meninggalkan Yang Mulia Raja sendirian dia aula Kerajaan, dan Raja yang menatap sosok itu mulai menjauh dari pandangan nya hanya terus tersenyum dengan menakutkan.


"Ku pastikan, hidupmu akan kembali menderita Luke!" ucapnya dengan sangat dingin.


.


.


.


Mata biru muda itu terus menatap sekitarnya dengan takjub, dia akhirnya bisa melihat bagaimana keadaan kota dengan teliti, sebelumnya dia sudah pernah melihatnya saat baru saja sampai di kota ini, namun dia belum terlalu jauh melihat sampai ke tengah kota.


Banyak orang yang berlalu lalang kesana ke mari secara bergantian, dia bisa melihat kereta kuda yang dia pikir milik keluarga bangsawan, dia juga melihat anak-anak dengan pakaian kuno berlari di jalanan.


Senyumnya merekah, dia sangat senang bisa melihat ini semua secara langsung, sungguh Olivia jadi sedikit tidak terlalu menyesal masuk kedalam buku dongeng itu, karena dia bisa merasakan bagaimana kondisi di jaman dahulu yang bahkan tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Olivia terus melangkah kan kakinya dengan gembira, sampai matanya menangkap sebuah toko kue di pinggir jalan, dia bisa melihat ada seorang pria dan seorang anak kecil perempuan baru saja keluar dari toko itu dengan membawa masing-masing satu kue di tangan mereka, dan dia sangat tahu kue apa itu.


Itu adalah kue muffin, kue kesukaannya karena Neneknya selalu membuat kue itu saat weekend, biasanya kue muffin selalu di temani dengan teh saat memakannya.


Olivia jadi ingin mencoba mencicipi kue itu juga, bagaimana rasanya kue muffin di jaman ini? Apa rasanya lebih lembut? Manis? Atau mungkin malah keras?


Entahlah, dia hanya ingin merasakan kue itu di dalam mulutnya sekarang, namun Olivia tidak membawa uang sepeser pun, bahkan seingatnya dia memang belum pernah memegang uang di jaman ini.


Oliver yang melihat Olivia terdiam merasa aneh, padahal gadis itu tadinya terlihat sangat senang dan senyumnya tidak luntur dari bibirnya itu, tapi sekarang tiba-tiba saja gadis itu terdiam, membuat Oliver penasaran.


"Nona, apa ada sesuatu yang sedang anda pikirkan?" tanya Oliver di sampingnya.


"Humm.. aku hanya ingin mencoba merasakan rasanya kue muffin di toko kue itu," ucap Olivia sambil menunjuk toko yang dimaksud.


Oliver mengikuti arah telunjuk Olivia yang memang sedang menunjuk toko kue, bibirnya tersenyum, dia pikir gadis itu sedang memikirkan sesuatu yang berat, ternyata dia hanya ingin makan kue muffin.


"Seperti anak kecil saja," batin Oliver sambil tersenyum.


"Anda ingin makan kue muffin Nona?" tanya Oliver lagi.


Olivia menganggukkan kepalanya pelan, "tapi aku tak punya uang untuk membelinya," ucap Olivia sedih.


"Tenanglah Nona, Raja Luke tidak sejahat itu, dia tidak mungkin membiarkan calon Permaisuri nya jalan-jalan ke kota tanpa bekal apapun."


Olivia menoleh dan menatap pria bermata hitam itu, "maksudmu Raja membekali ku uang?" tanyanya.


Oliver mengangguk, "Benar Nona, dia menitipkan uang itu pada saya, jadi Nona bisa membeli apapun yang Nona inginkan di kota."


Setelah mendengar perkataan Oliver, bibir Olivia kembali mengembang, dia tersenyum sangat manis yang membuat pria di depannya saat ini langsung terpana dengan keimutan yang Olivia pancarkan.


Olivia tidak menyangka bahwa Raja berdarah dingin itu memikirkan nya sampai sejauh itu, dia pikir Raja tidak akan terlalu peduli padanya, dan membiarkan dia berjalan di kota tanpa uang sepeser pun, ternyata dia salah.


"Saat pulang nanti aku harus berterimakasih padanya."


Olivia langsung menyambar tangan Oliver dan menariknya menuju ke toko kue, "tunggu apa lagi, kalau begitu kita langsung beli kuenya!" ucapnya bersemangat.


"No.. Nona, pelan-pelan saja," ucap Oliver yang kewalahan menyamakan langkah kaki Olivia.


Saat sudah sampai di depan toko, Olivia langsung memutar pegangan pintu dengan perlahan, saat pintu terbuka hidungnya bisa mencium harum kue yang menggugah selera. Benar-benar harum sampai mulutnya sudah bisa merasakan rasa manis di dalam mulutnya.


Matanya bisa melihat berbagai macam kue berwarna-warni di atas rak, tapi matanya hanya terpaku pada satu kue, tentu saja itu adalah kue incarannya sejak awal, kue muffin.


Tidak lama seorang wanita paruh baya keluar dari balik pintu, dia memakai celemek yang terlihat sedikit kotor oleh tepung dan adonan kue.


"Halo, apa ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya wanita itu ramah.


"Ahh.. aku ingin beli kue muffin!" jawab Olivia dengan semangat.


"Wah.. Nona sangat bersemangat sekali, sepertinya anda sudah tidak sabar untuk memakan kue muffin buatan saya," ucap wanita itu sambil tersenyum geli.


Memang benar, Olivia sudah tidak sabar ingin merasakan kue manis dan lembut itu di dalam mulutnya, rasanya dia bisa gila kalau tidak mencicipi nya saat ini juga.


"Ini Nona, silahkan," ucapnya sambil menyodorkan satu kue muffin kearah Olivia.


Olivia menerimanya dan langsung menggigit permukaan kue yang empuk, saat dia mengunyah nya, dia bisa merasakan rasa manis dari buah ceri di lidahnya, teksturnya sangat lembut yang membuat Olivia tidak perlu berlama-lama mengunyah nya di dalam mulut.


"Humm.. enak sekali!" ucap Olivia sambil menutup matanya saking menikmati kue itu.


"Aku senang mendengarnya," ucap wanita itu lembut.


Saat Olivia masih asik menikmati kue muffin, ujung matanya menangkap sosok gadis kecil di luar jendela sedang menatapnya. Olivia tahu sekali itu tatapan apa, gadis kecil itu sedang kelaparan.


Olivia membalas tatapan gadis itu, dia terlihat kaget saat dirinya ketahuan sedang memperhatikannya, gadis itu membalikkan badannya karena malu, sementara Olivia masih terdiam menatap gadis itu.


"Nona, ada apa?" tanya Oliver yang mulai merasakan perubahan sifat Olivia lagi.


"Ah, aku tidak apa-apa," jawab Olivia sedikit melamun, "Bibi, bisa berikan aku satu kue lagi?" tanya Olivia.


"Tentu saja Nona."


"Baik Nona."


Olivia langsung melangkah keluar dan mendekati gadis kecil yang masih berada di depan toko itu, dia langsung berjongkok di dekatnya.


"Hei adik kecil, siapa namamu?" tanya Olivia lembut.


Warna mata hazel milik gadis itu menatap Olivia dengan takut, dia melangkahkan kakinya mundur menjauhi Olivia dengan perlahan.


Olivia yang sadar bahwa anak itu ketakutan terhadap nya mencoba untuk membujuk gadis itu agar tidak menjauh.


"Hei Nona kecil, kau jangan menjauhi putri cantik ini, aku akan sangat sedih kalau kau menjauhiku, nanti aku tak mempunyai teman," ucap Olivia sambil pura-pura menangis.


Gadis itu berhenti melangkah dan menatap Olivia dengan pandangan bersalah, sedikit demi sedikit dia kembali mendekati Olivia dengan kaki kecilnya.


Olivia tersenyum karena usahanya berhasil membuatnya tidak menjauh, "Nona kecil, putri cantik ini baru saja pulang dari negri peri, dan para peri menitipkan kue manis ini untuk Nona kecil," ucapnya sambil tersenyum lembut.


Tunggu dulu, dari semenjak kapan Olivia belajar memakai bahasa imut seperti itu? Dia tidak pernah ingat pernah berhubungan dengan satu orang anak pun saat masih menjadi Kayden Allen, lalu dari mana kata-kata imut itu keluar?


Entahlah dia tidak tahu dan tak ingin tahu juga, yang sedang dia inginkan saat ini hanyalah membuat gadis di depannya ini menerima kue pemberiannya.


Gadis itu menerima kue pemberian Olivia dengan malu, dan saat tangannya sudah mengambil kue itu dia langsung berlari kencang menjauhi Olivia.


Padahal tadinya dia ingin menanyakan nama gadis itu, tapi dia sudah kabur duluan karena takut, memangnya dia terlihat seperti pejahat ya?


"Kau adalah kesatria kerajaan kan?" tanya wanita paruh baya itu pada Oliver.


Oliver mengangguk mengiyakan, "benar, saya adalah kesatria pilihan Raja."


"Kalau kau seorang kesatria, lalu siapa gadis itu?" tanyanya sambil menatap Olivia yang masih berjongkok di depan toko, mereka berdua sedari tadi memang melihat prilaku Olivia yang mencoba membujuk anak perempuan tadi.


"Dia adalah calon Permaisuri Raja."


Wanita itu menatap Oliver dengan tak percaya, calon Permaisuri Raja? Gadis berhati baik itu? Sungguh rasanya dia tak percaya bahwa Raja memilih calon Permaisuri yang memiliki sifat yang berbeda sekali dengannya.


Sementara itu di kedai bar yang berhadapan dengan toko kue ada beberapa pasang mata yang juga melihat kearah Olivia.


"Hei, siapa wanita cantik itu?" tanya salah satu pria berbadan besar.


"Apa kau tidak tahu? Dia itu adalah calon Permaisuri Raja," jawab temannya yang sedikit pendek.


"Oh benarkah? Raja kejam itu memiliki calon istri yang sangat cantik, rasanya dunia tidak adil," ucap temannya yang lain.


Di meja yang berbeda seorang pria bersurai coklat yang tidak sengaja mendengar percakapan itu menatap ke arah Olivia, saat dia menatap gadis itu keningnya mengerut.


"Gadis itu, dia dikelilingi banyak aura sihir hitam," ucap batinnya.


Mungkinkah dia orang jahat yang ingin merebut tahta Raja dengan memakai tipu muslihat muka cantiknya? Dia tidak tahu dan tidak mau peduli, namun kalau memang dia orang jahat, tidak mungkin gadis itu melakukan sesuatu hal yang manis bukan di depan Raja.


Tiba-tiba kupingnya bisa mendengar suara dari sebelahnya, "apa dia gadis yang kau maksud?" tanya seorang pria.


"Iya benar, Raja Nicholas sudah memerintahkan mu untuk membunuhnya," jawab temannya yang terdengar seperti seorang wanita.


"Raja Nicholas?"


Dia tahu nama Raja itu, dia adalah seorang Raja Kerajaan Percius di sebelah barat, dan kerajaan itu adalah musuh kerajaan Toutius yang di pimpin Raja Luke.


Tapi, kenapa mereka mengarah seorang calon Permaisuri Raja? Wanita itu bahkan belum menduduki tahta apapun, dia hanya masih bersanding sebagai calon.


Dia tahu Raja Luke memang kejam, tapi melihat calon Permaisuri nya yang begitu baik dia yakin, pasti Raja berdarah dingin itu bisa berubah, meskipun tidak akan secara instan.


.


.


.


Oliver dan Olivia kembali berjalan berkeliling kota, mulut Olivia penuh dengan kue muffin, dia terlihat imut saat mulutnya mengunyah kue manis itu. Olivia memang membeli semua kue muffin di toko tadi untuk menemaninya jalan-jalan di kota, dan itu membuat Oliver yang melihatnya sangat gemas dan ingin mencubit pipinya yang penuh dengan makanan.


Tiba-tiba ada seorang pria menghadang jalan mereka, "Halo, apa anda adalah calon Permaisuri Raja?" tanya si pria.


Olivia tidak langsung menjawab karena mulutnya masih penuh dengan kue, sementara Oliver terlihat sedikit waspada terhadap pria asing di depannya.


Saat Olivia sudah menelan makanannya dia pun menjawab, "iya, apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?" tanya Olivia yang sudah kembali mengambil kue muffin dari kantong kulitnya.


"Ahh.. begitu ya? Kalau begitu perkenalkan, nama saya Alexander, saya adalah seorang pengembara dari Negara Timur. Sebuah kehormatan untuk saya bisa bertemu secara langsung dengan calon Permaisuri Raja Luke."


"Wah.. kau seorang pengembara?" tanya Olivia dengan kagum.


Dia sangat ingin merasakan rasanya mengembara di hutan belantara, tapi dia tak punya skill apapun untuk bertahan hidup di alam liar.


"Benar Nona, oh ya, apa saya boleh menemani anda untuk berkeliling kota?" tanyanya.


"Tentu," jawab Olivia sambil tersenyum.


Oliver menatap Alexander dengan tatapan tajam, dia merasa kurang percaya dengan pria bersurai coklat itu, sedangkan Alexander yang sadar dengan tatapan itu tersenyum.


"Jangan terlalu tegang prajurit, saya tidak akan melukai Nona manis ini," ucapnya dengan sopan.


"Manis katanya? Sepertinya mulai sekarang aku harus terbiasa dengan kalimat itu," batin Olivia sedih.


Olivia menoleh menatap Oliver, "tidak perlu khawatir Oliver, aku tidak akan apa-apa, kau bisa menjaga ku di belakang," ucap Olivia yang kembali berjalan.


Olivia yakin dia akan baik-baik saja, karena di dalam cerita dia tak pernah mendengar nama orang ini sebelumnya.


Mata hijau emerald milik pria menatapnya dengan tajam, dan Olivia yang sadar dengan tatapan itu membalasnya.


"Apa kau mau kue muffin?" tanya Olivia sambil menyodorkan satu kue pada Alexander.


"Ahh.. tidak terimakasih," ucapnya kembali fokus ke depan.


"Oke baiklah."


Alexander jadi berfikir bahwa wanita ini ternyata tidak jahat seperti yang dia kira sebelumya, bahkan dia yang seorang pengembara dengan baju yang bisa di bilang lusuh dan sedikit kotor di perbolehkan untuk berjalan berdampingan bersamanya. Karena biasanya, para bangsawan tak mungkin mau melakukan apa yang di lakukan Olivia sekarang.


"Nona, aku ingin memperingatkan sesuatu padamu," ucap Alexander dengan berbisik.


Olivia mengerutkan keningnya dan memasang pendengaran nya sebaik mungkin, "apa itu?" tanya Olivia yang ikut berbisik juga.


"Berhati-hatilah, nanti malam anda akan di incar untuk di bunuh."


"Hah? Di.. dibunuh katanya?"


.


.


.


To Be Continued