
.
.
.
Sinar mentari pagi mulai muncul, seorang gadis kecil yang masih tertidur lelap diatas kasur terlihat memendam kepalanya dengan bantal karena terganggu oleh sesuatu, bukan sinar matahari yang mengganggunya, tapi suara seseorang dari luar yang terdengar sangat berisik terus memanggil namanya.
"Abby bangun! Ini sudah pagi! Bangun anak pemalas!" teriaknya.
"Aku masih ingin tidur sebentar lagi Kakak!" sahutnya.
"Bangun sekarang! Ayah dan Ibu sudah menunggu di meja makan!"
Gadis kecil itu melepaskan bantal di kepalanya dengan rambut yang terlihat kusut sekali, raut mukanya sangat kesal, kerutan di dahinya nampak jelas di sana. Sejujurnya dia paling tidak suka kalau sampai di bangunkan oleh Kakaknya yang super duper berisik itu.
Kaki kecilnya mencoba turun dari atas kasur, sebenarnya kasur yang dipakainya ini sangat tinggi untuknya, makanya setiap dia pergi tidur pasti Kakak atau orang tuanya akan membantunya untuk bisa naik ke atas kasur.
Kedua tangannya memegang seprai dengan kuat, sementara kaki kanannya berayun-ayun mencoba mencari pijakan di lantai, tidak jarang dia akan terjatuh dari atas kasur setiap ingin turun, namun kali ini dia berhasil turun dengan selamat.
Dia memutar pegangan pintu yang langsung di sambut dengan tatapan tajam, tentu saja kedua pasang mata itu milik Kakaknya.
"Kenapa kau lama sekali Adikku yang pemalas?" pria itu langsung memangku gadis itu dan mencubit pangkal hidung mungil milik Adiknya yang terlihat menggemaskan.
"Akhh.. sakit Kak.." keluh nya sambil mengelus hidung.
Bibirnya maju kedepan seperti bebek, yang artinya dia kesal dengan perlakuan Kakaknya itu. Sementara senyum lebar malah terukir di bibir pria bersurai hitam yang sedang menggendongnya.
"Makanya, kau jangan jadi anak pemalas, kalau kau telat bangun lagi Kakak akan mencubit hidungmu terus."
Gadis itu menutupi hidungnya dengan kedua tangan, "jangan cubit lagi! Nanti hidungku bisa panjang seperti Pinokio."
Pria itu terkekeh pelan mendengar penuturan adiknya, dia sepertinya terlalu banyak dibacakan cerita dongeng, sampai dia bisa berfikir seperti itu.
"Hidung Pinokio itu akan memanjang karena dia berbohong, bukan karena selalu ada yang mencubit hidungnya," jelasnya.
"Tidak! Hidungku juga bisa memanjang kalau Kakak terus mencubit nya!" bela gadis kecil itu dengan marah.
"Oke oke baiklah, Kakak mengalah.. nah sekarang kamu lebih baik di dandani dulu oleh para Kakak pelayan ya."
Gadis kecil itu mengangguk dengan semangat, dan diapun diturunkan dari pangkuan Kakaknya. Beberapa saat kemudian dia keluar dari kamarnya dengan memakai gaun berwarna pink yang lucu, ditambah rambut hitamnya yang lurus di ikat dua membuatnya terlihat tambah manis.
Mereka berdua saling bergandengan tangan menuju meja makan, sesampainya di sana Raja dan Ratu sudah menunggu dengan sabar kedatangan Putri bungsu mereka yang sangat cantik.
Senyum hangat dilontarkan mereka padanya, yang tentu saja dibalas dengan senyuman manis dari gadis kecil itu.
"Luke, bantu Adikmu naik keatas kursinya," suruh sang Ratu dengan suara lembut.
"Baik Bu," Luke langsung mengangkat tubuh kecil Adiknya dengan mudah dan menempatkannya di atas kursi, setelah itu tinggal gilirannya yang duduk di kursinya.
Mereka pun mulai makan dengan gembira, meja makan pagi itu terlihat sangat hangat dan menyenangkan, membuat setiap orang yang melihatnya merasakan perasaan senang yang mereka rasakan juga.
Olivia menatap pemandangan di depan matanya dengan tidak percaya, terlebih saat dirinya melihat senyuman hangat yang dilontarkan oleh Raja Luke membuatnya tambah yakin bahwa dia sedang bermimpi.
Ini adalah pertama kalinya dia bermimpi tentang keluarga Raja Luke saat mereka masih hidup, sebenarnya Olivia dari tadi hanya berdiri diam dan memperhatikan saja, dia tidak berani pergi jauh-jauh dari Luke karena merasa bisa tersesat dan tak bisa bangun kembali dari mimpi ini.
Olivia juga mulai percaya bahwa Raja Luke yang dulu memang sangat berbeda dengan yang dia kenal sekarang, Olivia jadi sedikit berharap kalau dia bisa bertemu dengan Raja Luke yang seperti ini, mungkin mereka berdua akan sedikit lebih akur dan tidak saling melontarkan tatapan tajam kalau bertemu.
"Luke," panggil Ratu.
Luke menoleh dan menatap muka Ibunya, "Iya Bu?"
"Kenapa kau tidak mengajak calon Permaisuri mu untuk ikut makan?" tanyanya.
"Ah iya, aku hampir melupakannya," Luke langsung menatap kearah Olivia dan langsung tersenyum, "ayo bergabunglah makan bersama kami Olivia, jangan malu."
Olivia terkejut saat menyadari bahwa Luke memanggil namanya, ditambah dengan tatapan mereka yang saling beradu membuatnya yakin kalau dirinyalah yang dimaksud.
"A.. aku?" tanya Olivia sambil menunjuk dirinya sendiri.
Luke mengangguk, "tentu saja, siapa lagi wanita cantik bernama Olivia disini selain kamu?"
Muka Olivia memanas, dia tidak menyangka kalau dia akan begitu malu saat Luke menyebutnya cantik, apakah ini artinya dia sudah menyukai Yang Mulia Raja?
Olivia langsung menepis pikiran itu dari kepalanya, meskipun begitu dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau jantungnya sedang berdetak dengan kencang.
"Olivia," panggil Luke lagi, "Olivia, apa kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Entah kenapa suara Luke yang memanggilnya dengan penuh kelembutan membuat jantungnya tambah berdetak dengan kencang, Olivia tidak mengerti kenapa dia bisa begitu malu dengan Raja Luke yang saat ini kira-kira seusia dengannya.
Apa mungkin karena suara lembutnya? Atau karena senyuman hangatnya?
"Apa ini yang namanya serangan cinta?"
(;  ̄▽ ̄)
"Olivia.." panggil Luke lagi.
"Olivia.."
"OLIVIA!!"
Pandangan Olivia menghitam dan dalam sekejap tergantikan dengan wajah seorang pria yang saat ini tidak ingin dia lihat, Olivia tahu pria di depannya ini bukan orang yang berbeda dengan yang ada di dalam mimpinya barusan, tapi sungguh tatapan mereka dan suaranya sangat berbeda.
Olivia menatapnya dengan malas, "ada apa Yang Mulia?"
"Mau sampai kapan kau tidur disini?"
Pikiran dan akal sehatnya dengan cepat kembali ke kehidupan nyata, Olivia langsung melihat sekitarnya dengan pandangan terkejut, langit terlihat mulai gelap, ditambah dengan dirinya yang berada di taman rahasia membuatnya teringat dengan Oliver. Pasti penjaga setianya itu kebingungan mencarinya kemana-mana.
"Apa kau tahu, kau membuat semua orang di istana mencarimu!" marah Raja padanya.
Memang benar, dia yang salah karena tidak memberitahu siapapun kalau dia pergi ke taman rahasia, Olivia ingat saat itu dia hanya ingin menyendiri sebentar tanpa ada orang lain yang tahu dia berada dimana. Namun tanpa Olivia sadari saat dia sedang memainkan sekuntum bunga Camelia dia tertidur di kursi taman.
"Maafkan aku Yang Mulia, aku tidak sengaja tertidur di si.. hachimm.." belum sempat Olivia menyelesaikan kata-katanya dia bersin sangat keras.
Raja menatapnya dengan tajam, "sudah kubilang kalau kau belum sepenuhnya sembuh! Setelah ini kau harus makan lebih banyak lagi!"
"WHAT!!"
(╬  ̄Д ̄)
'Dia akan membenuhku' adalah kata yang terus terngiang di kepala Olivia sekarang, dia tidak tahu siksaan seperti apa yang akan berada di hadapannya nanti, namun yang jelas perutnya akan meledak karena terlalu banyak makan.
Olivia berdiri dengan lemas, dia masih mencoba membiasakan tubuhnya yang baru bangun tidur, ditambah lehernya terasa sangat sakit, mungkin dia salah memposisikan kepalanya tadi.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Raja yang melihat gadis itu sedang memijit tengkuk lehernya.
"Oh.. itu sih salahmu sendiri karena tidur di luar," pria itu berjalan duluan dengan acuh dan entah kenapa Olivia merasa dadanya tertusuk oleh sebilah pisau yang tajam setelah mendengarnya.
"Aku sungguh benci pria ini!"
.
.
.
Olivia membuka matanya dengan perlahan, sinar matahari langsung membuat silau matanya, perlahan dia bangun dari posisi tidur dan mendapati dirinya berada di tengah hamparan rumput hijau.
Sepanjang mata memandang dia tidak menemukan satupun pohon di sekitarnya, lalu dia sedang berada dimana sekarang?
Tiba-tiba telinganya mendengar suara anak kecil tertawa, "Hihihi.." bukan hanya sekali tapi sampai berkali-kali, namun Olivia tidak tahu dimana gadis kecil itu berada.
Akhirnya sebuah kepala muncul dari balik semak-semak, rambut hitam lurusnya dan warna mata biru langit itu Olivia sangat kenal, dia adalah Putri Abby.
Gadis kecil itu menghampirinya, "Kak Olivia, ayo bermain bersama-sama, Kak Luke sudah menunggu disana," tangan mungilnya menarik tangan Olivia menyuruhnya untuk bangun.
"Ah oke.." Olivia mengikuti langkah kaki Putri Abby dengan perlahan, mereka akhirnya sampai di sebuah tempat dimana terdapat satu pohon rindang disana. Di bawah pohon terlihat seorang pria sedang menutup matanya sedang tertidur pulas, gadis kecil itu menyimpan telunjuknya di depan bibir menandakan agar Olivia tidak berisik.
Tangan Olivia kembali di tarik oleh Putri Abby untuk mendekat ke arah pria bersurai hitam itu, "bangunkan Kakak," tunjuk Abby ke arah Luke dengan suara pelan.
"Kenapa aku?" tanya Olivia sama pelannya.
"Kak Luke akan lebih senang dibangunkan oleh Kak Olivia," ucapnya sambil tersenyum manis.
Olivia mengerutkan keningnya bingung, kenapa Luke akan merasa lebih senang di bangunkan olehnya? Bukankah Luke sangat menyayangi Putri Abby? Pasti dia akan lebih senang dibangunkan oleh adik tersayangnya kan?
Olivia hanya menuruti apa yang disuruh Putri Abby, sekaligus dia ingin mencari tahu apa benar Luke akan merasa lebih senang di bangunkan olehnya?
Kulit wajah Luke yang masih muda terlihat lebih lembut, meskipun dia tidak bisa memungkiri bahwa wajah Raja Luke yang dia kenal lebih maskulin. Olivia memperhatikan mukanya dengan teliti, dia tidak ingin melewatkan sesuatu sedikitpun, mulai dari hidung mancung nya, bulu matanya yang lentik, dan nafasnya yang terdengar ringan membuat Olivia ingin berlama-lama memperhatikannya.
Olivia sebelumnya tidak pernah memperhatikan Luke saat tertidur, bahkan melihatnya tidur saja belum pernah.
Tanpa Olivia sadari wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Luke, beberapa detik kemudian sesuatu yang sudah di duga pun terjadi, kedua mata pria itu membuka dan langsung bertatapan dengan mata biru langit miliknya.
Mereka saling terdiam juga sama-sama menahan nafas agar tidak mengganggu satu sama lain, jantung Olivia kembali berdetak dengan kencang, dia tahu ini semua bukanlah kenyataan, tapi perasaan malu dan perasaan bahagia yang dia rasakan terasa sangat nyata.
Dia benci mengakui ini, tapi entah kenapa dirinya jatuh cinta pada Luke di dalam mimpi!
"Olivia, kau sangat cantik sekali," puji Luke sambil tersenyum.
Deg..
Deg..
Deg..
"Ughh.. my heart.."
Tidak butuh waktu lama setelah Luke memujinya, pipi Olivia sudah berubah warna menjadi merah padam, rasanya Olivia ingin cepat menghilang dari hadapan Luke karena sangat malu.
Tangan Luke dengan perlahan mengusap pipi merona Olivia, lalu turun ke bibir merah ranum miliknya. Luke bisa merasakan tekstur bibirnya yang lembut dan kenyal, wajahnya tanpa disadari telah berubah warna sama dengan Olivia.
Luke perlahan mendekatkan wajahnya dan ingin mencicipi bibir yang terlihat menggoda itu, sedangkan Olivia yang sadar akan dicium merasakan jantungnya tambah berdetak dengan kencang, dia menahan nafasnya sampai sesak, saat bibir mereka hampir bersentuhan dengan cepat pandangan Olivia menghitam.
Perlahan Olivia membuka matanya yang terasa lengket dan memandang langit-langit di kamarnya.
Olivia menghembuskan nafasnya kasar, "ahh.. mimpi itu lagi.." gumamnya.
Dia merasa aneh pada dirinya sendiri, kenapa dia bisa memimpikan Raja Luke sampai dua kali? Olivia harap dia tidak bermimpi Pria itu kembali, jantungnya tidak akan kuat menahan perasaan aneh itu lagi.
Perasaan aneh itu sangat menyebalkan, dia pasti akan merasa malu dan jantungnya akan lebih cepat berdetak dari pada biasanya, namun entah kenapa hatinya senang bahkan ia ingin terus berada di sana.
"Tidak, tidak, tidak, tidak!" teriak Olivia dengan frustasi.
Tubuhnya berguling-guling di atas kasur berusaha melupakan mimpinya tadi, betapa gilanya dia untuk berharap Raja Luke benar-benar menciumnya, tolong ingatkan dirinya kalau dia adalah seorang PRIA.
"Aku bukan seorang GAY!"
.
.
.
"Nona Olivia, kenapa anda tiba-tiba hilang kemarin? Apa anda tahu, saya sangat khawatir sekali.." Oliver menatap Olivia dengan mata berkaca-kaca, dia hampir menangis karena takut dimarahi oleh Raja Luke, dia pasti akan disebut penjaga tidak berguna dan lalai dalam melaksanakan tugasnya.
"Maaf, kemarin aku lupa memberitahumu kalau aku pergi ke taman raha.." Olivia langsung menggigit lidahnya, dia hampir saja menyebutkan taman rahasia, karena Raja bilang taman itu tidak pernah diketahui oleh siapapun di istana.
"Taman apa?"
"Ah maksudku taman bunga."
Oliver mengerutkan dahinya, "tapi Nona, aku bahkan sudah mencari anda di taman bunga sampai berkali-kali, dan saya tidak menemukan anda di sana."
Olivia mulai gelisah, dia harus mencari alasan agar Oliver percaya dirinya berada di taman bunga saat itu, "mungkin saat kau mencariku kau tidak melihat ke dekat pohon apel di ujung taman," ucap Olivia asal.
"Pohon apel?"
"Iya, pohon apel yang disana," tunjuk Olivia ke pohon yang dimaksud.
Memang di sudut taman ada pohon apel yang terlihat kurang terawat, mungkin tukang kebun selalu melewatkannya, karena keberadaan pohon yang kurang begitu mencolok.
"Ahh.. aku tidak tahu ada pohon apel disana," ucap Oliver terlihat menyesal.
"Nah kan, kau hanya kurang teliti Oliver," Olivia tersenyum puas, dia harus bersyukur karena ternyata penjaganya itu tidak sampai mencarinya ke sana.
Untungnya Olivia adalah orang yang sangat penasaran dengan seluk beluk taman, sampai dia pergi ke tempat yang jarang dipijak sekalipun.
"Lain kali saya akan lebih teliti lagi Nona."
"Itu terdengar bagus," ucap Olivia sambil tersenyum manis.
.
.
.
To Be Continued