
.
.
.
.
.
"Kenapa kau tidak mulai memakan makananmu?" tanya seorang pria dari sebrang meja makan.
Tangan gadis itu langsung bergetar dengan takut, dia sebenarnya tidak mau membuat pria di depannya ini marah lagi, tapi hanya inilah caranya agar rencananya bisa berjalan mulus.
Bibir Olivia bergetar, entah kenapa dia selalu gugup dan takut kalau ingin berbincang dengan Levin.
"A.. aku.. bosan Levin.." ucap Olivia pelan.
Levin terdiam yang membuat suasana di ruang makan itu makin mencekam, dan rasanya ada sesuatu yang mencekik leher Olivia sampai dia tak bisa bernafas.
Akhirnya jawaban yang ditunggu pun terucap di bibir Levin.
"Lalu?"
Olivia dengan cepat menatap mata Levin dengan berbinar, "aku.. aku ingin sesekali keluar rumah, aku sangat bosan kalau berada terus di dalam kamar," ucap Olivia sedikit bersemangat.
"Jadi kau ingin keluar?" tanya Levin dengan tenang.
Olivia menggangguk mantap, karena hanya inilah caranya dia bisa kabur!
"Baiklah kau boleh sesekali keluar rumah."
Senyuman langsung terukir di bibir manis milik Olivia, dia tak menyangka ternyata Levin sedikit tidak jauh berbeda dari Yang Mulia Raja Luke. Meskipun tak bisa di pungkiri kalau Raja Luke lebih menyebalkan dibanding Levin, sedangkan Levin lebih dingin dari pada Luke.
"Mereka berdua sama saja membuatku susah."
(; ̄Д ̄)
Levin menatap Olivia yang masih tersenyum manis karena senang, dan entah kenapa ada perasaan hangat yang timbul di hatinya.
"Tapi dengan satu syarat," ucap Levin menggantung.
Senyuman di bibir Olivia seketika pudar dari wajahnya.
"Syaratnya?" tanya Olivia dengan takut.
"Kau harus di kawal oleh shadow milikku."
Hah?
Shadow?
Apa itu?
Apa itu salah satu nama prajurit miliknya?
"Shadow?" tanya Olivia penasaran.
"Iya shadow, dan sebelumnya kau juga pernah melihatnya."
"Aku pernah melihatnya? Kapan?"
Olivia sedikit bingung karena Levin mengatakan kalau dirinya pernah melihat 'shadow', tapi seperti apa 'shadow' itu? Apa benar dia pernah melihatnya?
"Kau tidak ingat?" tanya Levin sambil tersenyum misterius.
Itu adalah senyuman yang paling Olivia benci saat menonton sebuah drama di TV, biasanya ada arti di balik senyumannya itu, dan pastinya itu bukanlah hal yang baik.
"Aku.. tidak ingat," jawab Olivia jujur.
Lebih tepatnya mungkin Olivia tidak tahu bukannya lupa.
"Apa mau ku ingat kan?"
Olivia menggangguk dengan sedikit ragu.
"Baiklah, apa kau ingat dengan seorang anak kecil yang kau temui sebelumnya di dalam hutan?"
"Anak kecil?"
Tunggu dulu, Olivia sepertinya mulai ingat dengan sosok anak kecil yang memiliki mata merah sama seperti Levin. Dia bertemu dengan anak itu saat malam dirinya tersesat!
Bagaimana bisa Olivia melupakan hal itu?
"Ahh.. aku ingat!"
"Kau ingat?"
"Iya"
Levin dengan perlahan menyimpan sendoknya ke atas meja dan mulai membenarkan duduknya agar lebih nyaman.
"Saat kau melihat anak itu, kau pasti juga melihat sosok besar berkabut juga kan?" tanya Levin yang kini mulai menatapnya dengan serius.
"So.. sosok berkabut?"
Jangan-jangan yang di maksudnya adalah sosok besar namun badannya tak begitu berbentuk karena dia seperti kumpulan asap tebal, sosok di samping bocah laki-laki yang memiliki suara lengkingan bagai burung gagak.
Itu adalah saat-saat paling mengerikan dalam hidupnya, rasanya Olivia bisa kehilangan nyawa saat sosok itu mulai berteriak kearahnya.
Senyuman terukir kembali di bibir Levin, namun kali ini bukan senyuman tulus, melainkan sebuah senyum sinis?
"Apa kau tahu, anak yang kau lihat itu adalah aku, dan sosok berkabut itu adalah shadow ku."
Olivia terdiam sambil mencoba mencerna arti dari ucapan Levin.
"Anak itu.. adalah Levin, dan sosok mengerikan itu adalah shadow nya?"
"WHAT THE FU*K!!"
(; ̄Д ̄)
"Tapi.. bagaimana mungkin?"
Anak kecil itu adalah Levin? Apa itu artinya dia bisa berubah menjadi anak kecil?
Olivia masih bingung dengan pernyataan Levin yang secara tiba-tiba, itu membuat otaknya yang selama ini hanya penuh dengan rencana kabur pun menjadi tidak beraturan.
Masalahnya adalah, hal itu bukan lah hal yang masuk akal!!
Tapi Olivia lupa, bahwa dirinya masuk kedalam buku cerita pun bukanlah hal yang masuk akal.
"Bagaimana bisa?" tanya Olivia tanpa sadar.
"Tubuhku memang akan mengecil dalam waktu tertentu. Jadi bagaimana, kau mau memenuhi syaratku?"
Tunggu dulu, di kawal oleh shadow ya? Sosok berkabut mengerikan itu mengawalnya keluar rumah? Itu sih sama saja bohong!
Dia tidak akan mungkin bisa kabur dari pengawasan makhluk atau apapun itu!
"Oh God.. kenapa hidupku disini begitu berat?" 。゜(`Д´)゜。
.
.
.
.
.
Sementara itu rombongan Raja sudah mencapai tempat tujuan.
Semua orang terpana dengan pemandangan yang sedang mereka lihat di depan mata mereka.
Tempat itu seperti layaknya sebuah tempat khusus untuk sebuah ritual atau semacamnya. Ada beberapa tiang yang menjulang tinggi membentuk sebuah lingkaran, dan di dalam lingkaran itu terdapat lantai batu yang penuh dengan ukiran yang tak dapat dimengerti.
Alexander berjalan menuju ke tengah lingkaran dan berjongkok untuk menyentuh lantai batu disana.
Tiba-tiba tanah di sekitar mereka terasa bergetar seperti layaknya terjadi gempa kecil.
"Wuaahh.. ada apa ini?" tanya seorang pemuda dengan sedikit panik.
"Apa ini gempa?" tanya Samuel.
"Sepertinya bukan," jawab Aiden dengan masih waspada.
Sementara pria paruh baya yang masih belum diketahui namanya itu hanya terdiam dengan tenang. Dia tahu apa yang sedang coba Alex lakukan, dia sangat tahu itu.
Dengan perlahan muncul sebuah batu berbentuk meja persegi panjang dari dalam tanah.
"Sudah kuduga, dia akan melakukan ritual," ucap pria paruh baya itu yang tidak sengaja terdengar oleh Aiden.
"Ritual apa yang Anda maksud Paman?" tanya Aiden dengan penuh selidik.
Pria itu menatap Aiden dengan serius, "dia akan membangkitkan sang shadow, lebih tepatnya shadow milik suku An Uisge."
"Shadow?" tanya Samuel yang tidak mengerti.
Tapi sebelum mereka benar-benar paham, Alex mendahului Paman itu untuk berbicara.
"Kau!" tunjuk Alex pada Aiden, "tolong baringkan Yang Mulia disini," tunjuk nya pada batu meja tadi.
"Sebelum itu, aku ingin bertanya, apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?" tanya Aiden yang terdengar sedikit marah.
Samuel menatap Alex dan Aiden secara bergantian, dan yang jelas mereka berdua sama-sama memiliki tatapan tajam yang menakutkan.
Alex mulai menghembuskan nafas kasarnya, "baiklah, aku akan memberitahu kalian sedikit, tapi kalian semua harus berjanji padaku, kalian tidak boleh memberitahukan hal ini pada siapapun yang berada di luar sana. Kalau tidak nyawa kalian lah taruhannya."
Kata ancaman yang terlontar dari ucapan Alex cukup membuat orang disana ketakutan, tidak terkecuali Aiden sekalipun.
"Memangnya siapa yang akan membunuh kami kalau kami mengingkari janji itu?" tanya seorang pemuda.
Alex menatap tajam satu persatu orang disana dengan dingin, "yang akan membunuh kalian bukanlah aku, tapi sang shadow itu sendiri."
.
.
.
.
.
To Be Continued