I am Not a Girl

I am Not a Girl
Chapter 29



.


.


.


.


.


"Kau yakin kita akan membiarkan mereka berusaha untuk saling bertemu?" tanya Alexander sambil menatap temannya itu.


"Mau bagaimana lagi, ini adalah jalan cerita bagi tokoh utama mu, sedangkan aku bahkan tidak tahu kapan tepatnya tokoh utama ku akan datang. Kau tahu sendiri kan Tuan Kyle tidak suka kalau ada yang masuk ke 'tempat' nya tanpa izin? Kecuali Nyonya Lexi turun tangan sendiri."


Alexander terdiam sejenak, "kau benar. Tapi Jack, tokoh protagonis mu bertemu dengan tokoh utama ku."


"Lalu?"


"Kau sangat mengetahui tokoh protagonis mu kan? Dia adalah seorang pria yang percaya pada ramalan, dimana akan ada seorang wanita yang datang ke lembah Zivlis ini sendirian, dan dia juga percaya bahwa wanita itulah calon pendamping hidupnya."


Jack langsung terdiam bagaikan patung. Dia lupa bahwa tokoh protagonis nya memang seperti itu, dan itu artinya dia akan menganggap Olivia sebagai calon istrinya.


"Sial!" umpat nya pelan.


"Akhirnya kau sadar juga."


( ;  ̄‐ ̄)


.


.


.


.


.


Sementara itu Olivia masih berusaha meyakinkan Levin tentang dirinya yang bukan calon istrinya.


"Percayalah padaku, kumohon.. aku ini sungguh sudah menjadi calon permaisuri Raja," ucap Olivia dengan penuh permohonan.


Levin masih menatapnya tajam dan dingin, "aku tidak percaya, karena kau adalah wanita yang sudah diramalkan menjadi calon istriku!" ucapnya dengan tegas.


"Tapi.."


Sebelum sempat Olivia menyelesaikan ucapannya, Levin dengan kasar mendorong tubuhnya sampai terjatuh.


BRUUKK..


"Argghhh.." ringis nya sambil menahan sakit.


"Kau terlalu banyak bicara!" ucap Levin dingin, lalu dia pun pergi meninggalkan Olivia tanpa menoleh sedikitpun.


Tubuh Olivia kembali gemetar ketakutan, pria ini bahkan lebih dingin dari yang bisa dia bayangkan sebelumnya.


Emilia dengan cepat mendekati Olivia, "Nona, apa Nona baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


Olivia hanya diam tak bergerak, dia bukan sedang shock atau merasa takut, tapi saat ini otaknya sedang mencari jalan keluar dari masalah ini. Dia harus bisa pergi dan melarikan diri dari sini. Kalau tidak dia takkan mampu menamatkan ceritanya.


Dan itu artinya dia tidak akan bisa pulang kerumah.


"Tak akan kubiarkan!"


Olivia berdiri dan menatap Emilia dengan serius, "Emilia, kau percaya denganku kan? Kalau aku ini bukan calon istri yang sedari tadi Levin bilang?"


Emilia terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Namun dia merasa apa yang dikatan Olivia itu adalah sebuah kebenaran, mungkin saja Tuannya itu hanya sedikit keliru dan menganggap Olivia sebagai 'takdirnya'.


Levin memang sudah lama sekali menanti wanita yang sudah diramalkan itu, dia hanya seorang pria kesepian yang percaya akan datang saatnya dia ditemani oleh 'manusia sesungguhnya'.


"Aku percaya padamu Nona, tapi cobalah sedikit mengerti dengan perasaan Tuan Levin," ucap Emilia sambil tersenyum.


"Perasaan?"


Tiba-tiba saja Olivia langsung teringat saat Luke menangis di pelukannya dulu. Apa mungkin Levin pun juga sama-sama membutuhkan seseorang  untuk menjadi pengadu keluh kesahnya?


Hati Olivia yang tadinya sangat membenci pria itu mulai merasa kasihan padanya. Dia tidak boleh langsung berfikiran jahat terhadap pria bermata merah itu, tapi diapun juga tidak boleh berlama-lama disini. Karena Olivia yakin orang-orang dari Kerajaan sedang mencarinya.


Olivia memegang tangan Emilia dengan kencang dan menatapnya dengan penuh kesungguhan, "Emilia, kumohon tolong aku agar aku bisa pergi dari sini."


Emilia terkejut dengan apa yang baru saja Olivia ucapkan, tapi bukan itu saja yang membuat gadis itu kaget, "No.. Nona.. anda.. bi.. bisa menyentuh saya?" tanyanya sambil menatap kearah pegangan tangan Olivia.


Olivia mengerutkan dahinya tidak mengerti, "apa maksud mu?"


"No.. Nona, saya ini adalah roh, dan anda sebagai manusia seharusnya tidak bisa menyentuh saya!" Emilia menatap Olivia dengan muka seakan gadis itu ingin menangis.


Olivia langsung terdiam, dia pun juga tidak sadar telah menggenggam tangan Emilia. Padahal awalnya dia sangat takut dengan sosoknya yang tembus pandang, dan sekarang dia malah menyentuhnya seperti ini.


Dengan perlahan dia melepas genggaman tangannya dan menatap kosong kearah telapak tangannya.


"EMILIA!!" teriak Levin dari arah ruang makan.


Kedua gadis itu tersentak kaget dengan teriakan Levin. Mereka pun langsung bergegas menuju ketempat Levin berada. Di sana pria itu sedang duduk di meja makan dengan raut muka yang masih marah, tatapan matanya tajam kearah Olivia.


"Kurung gadis itu di kamarnya!" perintah Levin.


Olivia merasa ini sudah sangat keterlaluan, tapi dia juga bingung harus melakukan apa.


"Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Olivia tanpa sadar.


Matanya nanar menatap kearah pria di depannya itu, raut mukanya terlihat sangat frustasi. Sedangkan yang di tatapnya tak memperlihatkan ekspresi apapun.


"Kenapa aku melakukan ini katamu?"


Dia berdiri dan melangkah mendekati Olivia dengan perlahan, "aku sudah memberitahu hal ini padamu berkali-kali, tapi kau masih bertanya?" ucapnya yang mulai kembali menatap Olivia dengan tajam.


"Oh God.. aku hanya ingin pulang.."


(/□\*)・゜


Tubuh Olivia terasa menciut menjadi kecil, tak bisa di pungkiri kalau dia benar-benar takut dengan pria dihadapannya ini.


Levin terdiam beberapa saat lalu membalikkan badannya, "turuti apa yang aku katakan Emilia!" ucapnya dengan penuh penekanan.


Setelah dirasa Levin sudah pergi dari sana Emilia kemudian menatap Olivia dengan raut muka sedih.


"Nona, maaf aku harus mengatakan ini, tapi aku menyarankan anda untuk sementara ini menerima Tuan Levin menjadi calon pendamping anda."


Apa maksudnya itu? Apakah Olivia harus pasrah dan menerima dirinya yang akan di persunting oleh orang yang bukan tokoh protagonis?


"Tidak.. tidak.. ini tidak benar, aku harus segera bertemu Luke, tapi bagaimana caranya aku bisa pergi dari sini?"


"Luke.. sekarang kau ada dimana?"


.


.


.


.


.


"Ini semua salahmu bodoh!"


"Hei! Jangan menyalahkanku sepenuhnya! Lagi pula Tuan Kyle bilang identitas kita tak boleh terbongkar!"


"Tapi setidaknya kau bisa menghentikan tokoh utamamu bertemu tokoh protagonis ku!"


"Aku.. aku tidak memikirkannya sampai kesana.."


"Arrrggghhh.." Jack mengacak rambutnya dengan kesal.


"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Alex sambil menatap temannya itu.


Jack terdiam, dan tiba-tiba matanya berubah warna menjadi kuning terang.


"Jack?"


"Diam!"


Alex hanya bisa memperhatikan, dia tahu kalau mata Jack berubah warna, itu artinya dia sedang mendapatkan gambaran sebuah masa depan.


Beberapa saat kemudian matanya kembali seperti semula, tetapi dia masih terdiam dengan pandangan kosong, tentu saja itu membuat Alex sangat penasaran.


"Apa yang kau lihat?"


Jack mulai berbisik dengan tidak jelas, Alex mendekatkan kupingnya ke mulut Jack. Dia memang tak punya kekuatan untuk berbicara seperti biasa setelah melihat gambaran masa depan, maka dari itu setelahnya dia hanya bisa berbisik.


"Ini gawat.. tokoh protagonis mu.. dia.. dia.. ... ... "


Mata Alex membulat dengan shock menatap Jack.


"Kau pasti bercanda.."


.


.


.


.


.


To Be Continued