I am Not a Girl

I am Not a Girl
Chapter 11



.


.


.


Semenjak kejadian itu Olivia jadi selalu di jaga oleh Oliver, Raja hanya ingin kejadian seperti itu tidak terulang kembali, dan pagi ini gadis itu sarapan pagi sendirian, karena Raja sedang pergi keluar kota. Katanya dia sedang mempunyai urusan untuk menemui para bangsawan di sana.


Olivia terlihat bosan, dari semenjak tadi dia hanya mengaduk makanan diatas piringnya, dia jadi merindukan temannya Billy, ngomong-ngomong soal Billy, bagaimana keadaan tubuhnya sedangkan jiwanya ada di dalam buku cerita?


Dia jadi sedikit takut kalau Billy mendatangi apartemen nya dan menemukan tubuhnya yang tak sadarkan diri, apa mungkin temannya itu akan membawanya kerumah sakit? Atau ke pemakaman?


Olivia tidak tahu, dan kalau itu semua terjadi pada tubuh aslinya, dia hanya bisa pasrah, dan mungkin dia akan hidup di dunia dongeng ini sebagai wanita.


"Oh tidak!" teriak batinnya.


Dia tidak ingin terjebak di dalam dunia dongeng ini seumur hidupnya! Pokoknya dia harus berusaha untuk menamatkan cerita ini, setelah itu dia bisa pulang, namun masalahnya adalah, dia tidak tahu seperti apa akhir ceritanya.


Gadis itu menghembuskan nafas beratnya yang ke lima kali pagi ini, dia sungguh benar-benar merasa bosan!


Oliver yang sedari tadi setia di sampingnya menyadari keresahan hati Olivia, "Nona, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran anda?" tanyanya sopan.


Olivia menatap sekilas padanya, "aku hanya merasa bosan Oliver," ucap Olivia lesu.


"Kalau begitu kira-kira apa yang bisa membuat Nona tidak merasa bosan?"


Dia terdiam, Olivia sendiri tidak tahu apa yang mau dia lakukan hari ini, karena sebagai calon Permaisuri tidak mempunyai pekerjaan yang begitu berarti, selama dia tinggal di kerajaan Olivia hanya makan, tidur, keliling istana, meskipun baru terjamah yang bagian barat saja. Lalu tidak ada hal lain yang dia lakukan selain yang sudah disebutkan tadi.


Pantas saja dia merasakan bosan, karena kalau di bandingkan dengan kehidupannya dulu, dia memiliki banyak kegiatan, seperti mengerjakan PR yang di berikan dosen misalnya, atau mengikuti acara yang di selenggarakan di tempat kuliahnya.


Dia juga bisa jalan-jalan di kota London yang luas dengan bebas, kalau dia lapar di sana banyak kafe atau restoran yang menyediakan makanan kesukaannya, yaitu cheese cake. Tapi di sini, mana ada makanan seperti itu? Bertemu dengan kue muffin saja sudah membuatnya sangat bersyukur.


"Aku.. juga tidak tahu mau apa Oliver."


"Bagaimana kalau kita ber jalan-jalan keliling istana?" tawarnya.


Olivia menatapnya, "yah boleh.." ucapnya tidak bersemangat.


Dia lalu menghabiskan makanan diatas piringnya sampai tak tersisa, dan mereka pun mulai berkeliling istana. Mata Olivia terus menatap kearah taman, warna hijau terlihat sangat dominan di matanya, sesekali dia melihat kearah bunga kecil yang tumbuh liat di rumput.


Semuanya terlihat biasa saja, sampai matanya menangkap sepasang mata berwarna kuning di semak-semak, saat di perhatikan dengan teliti ternyata itu adalah seekor kucing berbulu putih. Olivia mengerutkan keningnya bingung, sebelumnya dia tak pernah melihat kucing di sekitar istana, apa mungkin dirinya saja yang baru melihatnya?


"Oliver, apa Yang Mulia memelihara seekor kucing di istana?"


"Hmm.. setauku tidak Nona, memangnya kenapa?" tanya Oliver penasaran.


"Kalau menang Raja tidak memelihara kucing, lalu itu kucing milik siapa?" tanya Olivia sambil menunjuk kucing yang saat ini sudah menunjukkan dirinya.


Oliver menatap kucing itu dengan bingung, "tidak tahu Nona, karena setauku tidak ada yang memelihara kucing di istana."


"Apa mungkin itu kucing liar?"


"Kalau memang itu kucing liar, darimana dia bisa masuk ke istana?"


Mereka berdua saling memandang dengan pertanyaan yang sama di dalam otak, bagaimana mungkin kucing liar dari luar benteng bisa masuk?


"Kalau memang itu kucing liar, aku boleh kan memelihara nya?" tanya Olivia.


"Seperti nya begitu.."


Dengan cepat Olivia langsung menghampiri kucing itu, "push.. kemarilah.. aku bukan orang jahat kok.."


Kucing itu menoleh kearahnya lalu mengeong dengan imut, membuat Olivia sudah tidak sabar ingin menangkap nya. Saat dia ingin menangkapnya kucing itu berlari menjauh membuat Olivia secara reflek mengejarnya.


"Pushi! Jangan lari dariku!" teriaknya.


"No.. Nona! Tunggu aku!" teriak Oliver yang ikut mengejar di belakang.


Olivia terus berlari tanpa menghiraukan sekitarnya, matanya hanya tertuju pada objek berbulu putih yang tidak berhenti berlari menjauh.


Bertepatan dengan itu tidak jauh di depan Olivia Mentri Frederick dan Mentri Leon Ward sedang berjalan di koridor istana, mereka terlihat sedang berbincang-bincang ringan.


"Jadi saat ini hasil panen sedang tidak bagus?" tanya Frederick.


"Begitulah, mungkin cuaca saat ini yang tidak menentu membuat hasil panen tidak 100% bagus," jawab Leon.


"Hmm.. sepertinya mulai sekarang kita harus menghemat bahan makanan, karena kita tidak tahu apa hasil panen selanjutnya bagus atau tidak, terlebih si bocah rambut putih itu, Dia belum memberikan laporannya padaku soal pemasukan bahan makanan dari kerajaan tetangga," ucapnya lalu berdecak di akhir kalimat.


"Kau benar, ngomong-ngomong soal Samuel, dia sudah lama tidak aku lihat, kemana dia pergi?"


"Apa kau belum tahu? Anak itu tentu saja pergi bersama Raja untuk menemui para bangsawan di kerajaan Claudius."


"Ahh.. ya, aku melupakannya."


Tiba-tiba suara Olivia yang keras terdengar di kuping mereka berdua.


"Pushi! Sudah kubilang berhenti!"


Mereka berdua secara reflek memberikan jalan saat melihat seekor kucing berlari kearah mereka, dan disusul dengan Olivia yang lewat tanpa permisi, lalu beberapa beberapa detik kemudian Oliver lewat.


"Permisi," ucapnya tanpa berhenti.


Frederick dan Leon menatap kepergian mereka dengan pandangan aneh.


"Itu... calon Permaisuri Raja kan?" tanya Leon yang baru pertama kali melihat Olivia.


"Ya, dia calon Permaisuri Raja."


"Ternyata Raja mendapatkan seorang Permaisuri yang sangat hiperaktif."


"Ya, kau benar."


Setelah itu mereka kembali melanjutkan berjalan dengan santai di koridor istana.


.


.


.


Olivia kehilangan jejak kucing lucu itu, padahal dia sudah sangat yakin bahwa makhluk manis itu berlari kearah sini.


"Nona, apa anda sudah mendapatkan kucing itu?" tanya Oliver dari belakang.


Olivia menggelengkan kepalanya, "tidak, aku kehilangan pushi di sini."


"Pushi?" tanya Oliver bingung.


"Iya Pushi, aku akan menamainya Pushi, apa menurutmu itu aneh?" tanya Olivia.


"Oh tentu tidak Nona, nama itu terdengar lucu."


Mereka berdua berjalan di belakang dapur istana, mata Olivia masih setia mencari sosok berbulu putih itu, tapi tetap saja sosoknya sudah tak terlihat lagi.


"Sepertinya kita benar-benar kehilangan Pushi," ucap Olivia sedih.


"Nona, kalau Nona ingin memelihara kucing kenapa anda tidak minta pada Yang Mulia untuk mencari kan kucing yang jinak?"


Olivia menatapnya dengan datar, "kau tahu, itu tidak semudah dengan apa yang kau bayangkan."


"Ma.. maksudnya Nona?"


"Lupakan, ayo kita kembali ke lagi."


Saat mereka berjalan melewati sebuah gudang, suara kucing itu terdengar lagi.


"Oliver, apa kau mendengar itu?" tanya Olivia sambil berbisik.


"Mendengar apa Nona?"


"Tentu saja suara Pushi."


"Aha! Di dalam sini kau rupanya Pushi!" ucap Olivia yang membuat si kucing kaget, "kau tidak akan bisa kabur lagi dari ku, karena cuma ada satu jalan keluar di sini~" ucap Olivia sambil tersenyum.


Kuping kucing itu turun kebawah, menandakan bahwa dia takut dengan Olivia, dan saat tangannya sudah hampir menangkap kucing itu, dia berlari kebelakang lemari.


"Oh shit!" umpat nya.


Kucing itu benar-benar lihai menghindar darinya, Olivia menggeser lemari itu untuk memergoki si kucing, tapi bukannya menemukan sosok kucing, matanya malah menemukan sebuah lubang di dinding.


Dahinya mengerut, pasalnya lubang itu terlihat sengaja di buat oleh seseorang, pasti orang yang melubangi nya memakai palu.


"Oliver!" panggil Olivia.


Merasa namanya terpanggil dia langsung mendekati gadis itu, "ada apa Nona?"


"Apa kau tahu, siapa kira-kira yang melubangi tembok ini?" tanyanya sambil memperhatikan lubang itu dengan teliti.


"A.. aku tidak tahu, tapi bagaimana bisa ada lubang di sini?"


Olivia tidak langsung menjawabnya, dia masih dengan teliti melihat kerusakan di tembok itu, sepertinya lubang itu sudah cukup lama di buat.


"Lubang ini sepertinya cukup untuk tubuhku, pasti seorang penyusup yang membuatnya."


"Apa mungkin lubang ini dibuat oleh penyusup yang kemarin?"


"Bukan, tubuh pria itu terlalu besar untuk bisa masuk lewat sini," bantah nya.


"Lalu siapa yang melakukannya?" tanya Oliver yang terlihat sedikit panik.


"Aku tidak tahu siapa orangnya, tapi yang pasti dia adalah seorang wanita dengan ukuran tubuh yang sama denganku."


Mereka berdua saling memandang selama beberapa detik, "ka.. kalau begitu aku akan memberitahukan hal ini ke Panglima," ucap Oliver sambil beranjak pergi, namun tangannya di tahan Olivia.


"Jangan, kau tak boleh memberitahukan hal ini ke siapapun, cukup kita berdua yang tahu."


"Tapi kenapa Nona?"


"Kalau kau memberitahukan hal ini pada Panglima, pasti semua orang di istana akan membicarakan nya, sedangkan si penyusup pun masih ada di dalam istana. Dia pasti akan mencari jalan keluarnya yang baru, karena jalan keluarnya yang ini sudah ketahuan."


"Jadi.. maksud anda apa?" tanyanya tidak mengerti.


"Jadi kita berdua yang akan selidiki hal ini, dan menangkap penyusup itu kalau dia menggunakan lubang ini."


"Tapi kapan dia akan menggunakan nya?"


Olivia terdiam, dia tak memikirkan hal itu sebelumnya, apa mungkin dia harus menjaga lubang ini setiap malam?


"Itu.. aku tidak tahu, tapi bagaimana kalau kita bergantian untuk menjaga lubang ini di malam hari?" usulnya.


"Anda yakin?" tanya Oliver dengan ragu.


"Iya, aku yakin!"


Akhirnya dari semenjak itu mereka berdua bergantian untuk menjaga gudang dari kejauhan, siapa yang masuk dan keluar terus mereka pantau.


.


.


.


"Nona, aku sudah tahu siapa penyusup itu," ucap Oliver saat mereka berdua sedang ditaman.


"Oh benarkah? Siapa orangnya?" tanya Olivia dengan antusias.


"Dia adalah seorang pelayan kerajaan, tapi sayangnya, saya tidak tahu pasti yang mana orangnya, karena saat itu dia memakai kain untuk menutupi sebagian mukanya."


Setelah mendengarnya gadis itu terlihat lesu, "kupikir kau benar-benar tahu siapa orangnya."


"Ma.. maafkan aku."


"Sudahlah tidak apa-apa, malam ini adalah giliranku untuk berjaga kan?"


Oliver mengangguk, "sebenarnya kalau Nona merasa lelah untuk melakukan hal ini, biar aku saja yang setiap malam memantau gudang itu."


"Tidak usah, aku tidak apa-apa, lagipula kalau kau terus bergadang malam itu tidak baik untukmu, jadi kita bergantian saja," ucap Olivia sambil tersenyum.


"Humm.. baiklah Nona, terimakasih karena sudah mengkhawatirkan ku," ucap Oliver sambil menunduk malu.


Olivia kembali memperhatikan bunga di taman itu, dan matanya selalu tertuju pada bunga mawar berwarna merah, setiap dia melihatnya Olivia selalu teringat dengan Neneknya yang suka menanam bunga ini di depan rumahnya.


Tangannya menggapai bunga itu, bermaksud untuk memetiknya satu tangkai, lagipula dia sudah di izinkan Raja untuk melakukannya kalau dia mau. Tapi sebelum tangannya benar-benar menyentuhnya, dia langsung dihentikan oleh sebuah tangan yang terasa sangat dingin.


Olivia menoleh dan mendapati Raja Luke yang sedang menatapnya dengan dingin.


"Yang Mulia?" ucap Olivia kaget.


"Aku baru saja pergi selama 3 hari dan kau sudah ingin menyakiti dirimu sendiri lagi hah?" tanya Raja yang terlihat kesal.


"Menyakiti diri sendiri bagaimana? Memangnya apa yang tadi ingin aku lakukan?" tanya Olivia bingung.


"Tanganmu bisa terluka kalau kau memetik bunga mawar sembarangan seperti tadi."


Gadis itu terdiam, dia pikir Raja sedang membahas hal lain, ternyata cuma khwatir kalau tangannya terluka oleh bunga mawar.


Tapi tunggu dulu, semenjak kapan Raja jadi mengkhawatirkan dirinya sampai sejauh itu?


"Tenanglah Yang Mulia, aku akan berhati-hati untuk memetiknya agar tanganku tidak terluka."


Raja melepas tangan Olivia dan masih menatapnya dengan dingin, "biar aku saja yang melakukannya."


Olivia tak percaya Raja mau melakukan hal itu untuknya, apa mungkin saat pertemuan para bangsawan Raja salah memakan sesuatu?


Raja mulai memetik satu tangkai bunga mawar dengan hati-hati, namun jari telunjuknya terkena duri bunga mawar yang tajam.


"Ouch.." ringis nya sambil menarik kembali tangannya.


"Yang Mulia, anda tidak apa-apa?" tanya Olivia khawatir.


Raja tak menjawab, dia hanya terus melihat telunjuknya yang mulai mengeluarkan darah segar. Olivia yang melihatnya langsung bertindak, dia menarik tangan Raja dan langsung ia masukkan jari telunjuk yang berdarah itu kedalam mulutnya.


Raja terlihat sangat kaget dengan perlakuan Olivia, mukanya terasa memanas, sungguh dia bisa merasakan jarinya menyentuh lidah Olivia yang lembut, bibirnya pun terasa kenyal.


Dia menutup mukanya dengan tangan bebasnya, setelah Olivia sudah selesai menghilangkan darah di telunjuknya, dengan cepat dia langsung menarik tangannya itu dan segera bergegas pergi dari sana.


Sedangkan Olivia menatap kepergian Raja dengan bingung, apa dia melakukan sebuah kesalahan sampai Raja tak mau mengatakan apapun padanya?


"Oliver, apa aku melakukan sesuatu yang salah?" tanya Olivia.


Saat Olivia menatap muka Oliver, muka pria itu terlihat shock dengan mulutnya yang terus terbuka lebar.


"Oliver?" panggil Olivia lagi.


"A.. ah.. iya Nona, ada apa?" tanyanya.


"Ahh.. lupakan saja."


Sementara itu Raja berjalan dengan langkah yang cepat di koridor istana, dia tidak tahu kenapa jantungnya terus berdetak dengan kencang, sampai sekarang dia masih belum bisa menenangkan laju detak jantungnya itu.


Dia tadi hanya merasa sedikit malu, lalu timbul rasa lain di hatinya, dia seperti merasa senang dan gelisah secara bersamaan, dan dia tidak tahu perasaan apa itu sebenarnya.


.


.


.


To Be Continued