I am Not a Girl

I am Not a Girl
Chapter 13



.


.


.


Beberapa hari sebelum Olivia di kunci di dalam gudang, dan hari dimana Yang Mulia Raja mengajaknya untuk minum teh bersama.


Dua pelayan yang disuruh untuk membuang teh itu masih sangat penasaran, kenapa Olivia menyuruh mereka untuk melakukannya? Lalu kenapa dia bersikap seakan-akan teh itu mengandung racun?


"Ella, apa kau tidak penasaran kenapa Nona Olivia menyuruh kita untuk membuang teh ini?" tanya salah satu pelayan berambut pirang.


"Hmm.. aku juga penasaran, tapi kita harus menuruti perintahnya kan?"


"Apa kau yakin tidak mau mencari tahu sesuatu tentang teh ini? Sepertinya teh ini beracun!"


Ella terlihat kaget dengan ucapan temannya itu, "shuuttt.. kau jangan bicara terlalu keras.. bagaimana kalau ada orang yang mendengar nya?" ucapnya sambil melihat ke sekitar dengan waspada.


"Ouh.. maaf.. aku terlalu bersemangat. Jadi bagaimana? Apa kau mau mencari tahunya atau tidak?" tanya temannya itu.


"Memang bagaimana caranya kita bisa mencari tahu? Bukankah kau sendiri bilang teh ini beracun, jadi untuk mengujinya tidak mungkin salah satu dari kita yang meminumnya kan?"


"Tentu saja bukan kita bodoh! Tapi aku punya tikus untuk dipakai uji coba."


Mereka berdua berjalan berdampingan masih sambil berbisik, "Memang kau dapat tikus itu darimana Niamh?"


"Kemarin aku baru saja menangkapnya, tikus itu berkeliaran di dapur kerajaan. Uhh.. kalau sampai kepala koki tahu akan hal ini, dia pasti akan marah besar."


"Baiklah kalau begitu, dimana tikusnya?"


"Aku kurung dia di kurungan besi, dan menyimpan nya di belakang istana."


Akhirnya mereka berdua pergi kesana dengan membawa poci kecil yang berisi teh beracun itu, tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengikuti mereka dari belakang.


Setelah sampai di belakang istana, Niamh langsung mengambil kurungan tikus di balik semak-semak.


"Kenapa kau menyembunyikannya?" tanya Ella.


"Aku hanya takut ada orang yang menemukannya, jadi aku sembunyikan."


"Kau berkata seakan kau ingin memelihara tikus itu saja."


Niamh memandang Ella dengan datar, "kenapa aku mau memelihara tikus hitam menjijikan ini? Kalau tikus ini kecil dan berbulu putih mungkin aku mau."


"Kau ini dasar aneh, mana ada tikus seperti itu di istana?"


"Ya kan bisa saja ada."


Niamh memegang badan tikus itu dengan kuat dan mengarahkannya ke Ella, "Cepat kau berikan dia teh itu!"


Ella dengan segera langsung menuangkan isi cangkir ke mulut tikus, meskipun tidak benar-benar masuk kedalam mulutnya, tikus itu terlihat mulai menggeliat dengan agresif, dan beberapa detik kemudian tikus itu berhenti bergerak, membuat Ella dan Niamh terpaku melihatnya.


"Apa tikus itu.. sudah mati?" tanya Ella.


"Aku.. tidak tahu.."


Mereka berdua menunggu dengan sabar, apakah tikus itu akan bergerak lagi atau tidak, namun yang mereka tunggu tidak kunjung terlihat. Tikus itu sudah tak bergerak lagi, dan bahkan Niamh bisa merasakan bahwa tikus ini sudah tidak bernafas.


"Tikus tidak mungkin langsung mati dengan air teh biasa kan?" tanya lagi Ella dengan mimik muka yang terlihat ngeri.


"Tidak, tikus tidak mungkin langsung mati oleh air teh biasa."


"Kalau begitu.. teh ini benar-benar beracun?"


"Sepertinya.. begitu.."


Mereka terdiam cukup lama, sampai suara seseorang mengagetkan mereka berdua dari arah belakang.


"Apanya yang beracun?" tanya orang itu.


Tubuh Ella dan Niamh terlihat bergetar karena takut, tapi meskipun begitu bukan mereka yang menuangkan racun kedalam tehnya. Secara perlahan mereka berbalik badan dan menemukan sosok pria bersurai putih, mata gold nya terlihat serius menatap mereka.


"Tu.. tuan Samuel?" panggil mereka berdua.


"Tolong jelaskan apa yang kalian tahu."


Mereka berdua menganggukkan kepalanya.


.


.


.


Olivia masih berada di dalam gudang yang lembab dan sedikit gelap, dia hanya ditemani oleh satu lampu minyak yang tak begitu terang, membuat pandangannya sangat terbatas.


Sekarang dia tidak tahu harus berbuat apa, karena gudang ini hanya memiliki satu akses jalan keluar masuk, untuk membuat lubang di dinding saja dia membutuhkan sebuah alat yang kuat, namun sayangnya di gudang ini dia tidak menemukan apapun selain tong anggur.


Olivia duduk di dekat tong yang tepat berada di depan pintu, dia memeluk lututnya dengan erat. Ini sudah cukup lama dari saat dia terkunci, pikirannya sudah mengatakan bahwa Yang Mulia Raja sudah meminum racun itu, dan entah kenapa Olivia merasa dirinya tidak berguna.


Kesunyian di dalam gudang membuat kupingnya sangat sensitif dengan suara sekecil apapun, dia bisa mendengar suara air di dalam tong yang menetes ke lantai dengan irama yang pelan, lalu dia juga bisa mendengar suara langkah kaki yang berada di luar pintu..


Tunggu dulu! Langkah kaki?


BRAAKK...


Pintu gudang itu di dobrak oleh seseorang dari arah luar, mata Olivia menyipit karena belum terbiasa dengan cahaya sinar matahari dari luar, sepintas Olivia berfikir bahwa malaikat benar-benar menyelamatkannya, namun saat matanya dapat dengan jelas siapa orang itu, ternyata dia adalah Samuel.


"Nona, apa kau baik-baik saja?" tanya Samuel khawatir.


"Samuel? Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?" tanyanya dengan kaget.


"Itu karena aku tidak bisa menemukan mu di dalam istana, makanya aku langsung mencari Oliver," ucapnya sambil memperlihatkan Oliver yang berada di belakangnya.


"Nona, saya sangat kaget saat Tuan Samuel mendatangi ku dan menanyakan keberadaan anda, saat itu saya yakin anda dalam masalah, dan tiba-tiba saya ingat dengan gudang anggur yang pernah Nona bilang padaku."


"Makanya kami kesini." tambah Samuel.


Olivia berdiri dari duduknya dan menatap mereka dengan serius, "baiklah kalau begitu ceritanya, sekarang kita harus mencari keberadaan Yang Mulia Raja."


"Kenapa kita harus mencarinya?" tanya Oliver.


"Karena Raja pasti saat ini dalam bahaya kan?" tebak Samuel.


"Benar, penyusup itu ingin meracuni Raja lagi."


"Penyusup?" (Samuel)


"Lagi?" (Oliver)


Tanya Samuel dan Oliver secara bersamaan.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya! Sekarang kita harus cepat mencari Raja!" ucap Olivia dengan tegas.


Mereka bertiga bergegas keluar dari gudang anggur dan berlarian di koridor istana, "aku tahu dimana Raja di jam segini," ucap Samuel.


"Dimana?" tanya Olivia.


"Dia biasanya sedang diruang kerjanya, ayo biar ku tunjukan arah nya."


Samuel pun memimpin mereka untuk pergi ke ruang kerja Yang Mulia Raja.


Sementara itu, di ruang kerja Raja ada seseorang yang mengetuk pintu.


"Masuklah!" ucapnya.


Pintu terbuka dan menampakkan seorang pelayan kerajaan, "Yang Mulia, ini teh yang anda pesan tadi." ucapnya sopan.


Pelayan itu memegang nampan yang di atasnya ada satu cangkir dan poci kecil, setelah berada di dekat meja Raja sang pelayan langsung menyimpan nampan nya dan menuangkan air teh ke dalam cangkir.


Uap panas masih terlihat menguar dari air teh itu, harum teh dan bunga jasmine langsung bisa dicium oleh hidung Raja, sungguh harumnya sangat menggoda, seperti teh itu meminta untuk segera di minum olehnya.


"Silahkan Yang Mulia," ucap pelayan itu sambil menyimpan cangkir tehnya di depan Raja.


Namun, mata Raja masih fokus menatap tulisan yang ada di atas kertas yang ia pegang, kerutan di dahinya terlihat jelas, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu dengan sangat keras.


Pelayan itu sudah tidak sabar melihat kelakuan Raja Luke, dia rasanya ingin memaksa Raja untuk meminum teh nya.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya tangan Raja memegang gelas cangkir itu, tanpa dia duga si pelayan mengangkat ujung bibirnya keatas, saat bibir Raja sudah hampir menempel dengan gelas itu tiba-tiba saja ada yang mendobrak pintu dengan sangat keras.


BRAAAK...


Pelayan maupun Raja terlihat terkejut dengan suara itu, mata mereka berdua terpaku pada satu sosok yang menjadi dalang dari pendobrak pintu, siapa lagi kalau bukan Olivia.


Raja mengerutkan dahinya dengan kesal, sama halnya dengan pelayan itu, dia juga menampakkan ekspresi yang sama kesalnya.


"Bagaimana dia bisa keluar dari gudang?" batin pelayan itu.


Olivia menatap kearah pelayan di samping Raja dengan tajam, lalu beralih menatap cangkir yang sedang dipegang Raja.


"Yang Mulia, anda jangan meminum teh itu!" tegas Olivia.


Beberapa detik kemudian Oliver dan Samuel turut hadir di sana, membuat Raja terlihat sangat bingung dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


"Kenapa aku tak boleh meminum teh ini?" tanya Raja datar.


"Karena teh itu telah dicampur racun!"


Raja menatap Olivia dengan sedikit tidak percaya, "siapa yang melakukannya?" tanyanya.


"Pelayan itu Yang Mulia!" tunjuk Olivia pada pelayan wanita di sebelah nya.


"A.. aku?" tunjuk nya pada diri sendiri, "aku.. tidak mungkin melakukannya Yang Mulia!" bela nya.


Kerutan di dahi Raja semakin dalam, dia jadi merasa sangat pusing dengan kejadian ini, ditambah dia sedang dalam keadaan mengerjakan 'tugas' sebagai Raja.


"Percayalah padaku Yang Mulia," ucap Olivia lagi.


"Memangnya Nona punya bukti apa kalau saya yang meracuninya?" tanya pelayan itu dengan masih pura-pura tidak bersalah.


"Aku punya dua orang saksi di sini," ucap Olivia sambil menunjuk kearah Oliver dan Samuel yang berdiri dibelakangnya.


Pelayan itu terlihat kaget, dia tidak tahu bahwa kedua orang itu bisa menjadi saksi, dia harus mencari cara agar dia bisa keluar dari masalah ini.


"Kalau begitu, apa anda punya bukti bahwa teh ini beracun?"


Olivia terdiam, dia belum sempat membuat jawaban untuk pertanyaan itu, bukti apa yang dia punya?


"Yang Mulia, bukan kah adanya saksi saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa pelayan itu penjahat?" ucap Samuel dengan serius.


Raja menatapnya dengan datar, "sepertinya aku lebih suka dengan ucapan pelayan ini, meski sudah ada saksi, tapi kalau belum ada bukti, dia belum tentu bersalah. Jadi bukti apa yang kau punya untuk membuktikan bahwa teh ini beracun Olivia?" tanya Raja.


Mereka bertiga terlihat kaget dengan ucapan Raja, mereka memang tidak punya bukti apa-apa, lalu sekarang harus bagaimana?


Olivia menatap kearah pelayan itu yang juga menatapnya penuh dengan kemenangan, dia langsung merasa sangat kesal, ternyata dia pintar untuk mengelak dari sebuah masalah.


"Fu*k you!" umpat Olivia di dalam hati.


Dia tidak ingin kalah darinya, namun dia pun bingung harus memperlihatkan bukti apa pada Raja.


"Apa tidak ada buktinya? Kalau begitu pelayan ini tidak terbukti seorang penjahat," ucap Raja Luke.


"Tidak!" bantah Olivia.


Semua mata diruangan itu menatapnya, "aku punya satu bukti," ucapnya lagi.


"Apa itu?" tanya Raja penasaran.


Olivia berjalan mendekati Raja, dan setelah dia sampai di depan mejanya dia menatap Raja dengan dingin. Tiba-tiba Olivia merebut cangkir yang berada ditangan Raja, dan itu membuatnya kaget dengan perlakuan 'kasar' Olivia.


"Aku melakukan ini hanya untuk menyelamatkan anda," setelah selesai bicara Olivia langsung meminum isi cangkir hanya dengan sekali tegukan.


Tubuh pelayan wanita itu menegang, dia tak pernah menyangka kalau Olivia akan melakukan tindakan seperti itu, karena yang dia tahu seorang wanita bangsawan biasanya tidak akan mau mengorbankan dirinya untuk orang lain.


Yang pelayan itu tidak tahu adalah, Olivia bukan seorang bangsawan, dan juga bukan seorang wanita.


Saat mata Olivia membuka pandangannya terlihat buram, apa secepat ini kah racunnya berfungsi? Sebenarnya dia tidak merasa menyesal dengan apa yang dia lakukan sekarang, mungkin hanya satu hal yang dia sesali setelah meneguk habis air teh didalam cangkir.


Kenapa dia menghabiskan isi cangkirnya? Dia bisa saja kan hanya meminumnya sedikit seperti layaknya wanita bangsawan?


Tapi sudahlah, waktu tak bisa diputar kembali apa yang dia lakukan tadi tak bisa diulang, maka dari itu Olivia hanya bisa pasrah saat tubuhnya mulai oleng kebelakang, untungnya sebelum kepalanya terbentur ke lantai ada sepasang tangan yang menangkapnya.


PRAANG..


Suara cangkir pecah menjadi satu-satunya suara paling keras didalam ruangan, dan akhirnya berganti dengan suara panggilan Samuel dan Oliver yang mendominasi.


"Nona Olivia! Nona, sadar lah! Nona, kumohon buka matamu!" teriak Samuel dengan frustasi.


"Yang Mulia!" panggil Samuel.


Namun Raja malah memperlihatkan ekspresi shock dengan masih duduk terpaku di kursinya.


"Yang Mulia Raja!"


"Yang Mulia Raja Luke!"


"LUKE!!"


Seketika tubuh Raja bergetar setelah Samuel memanggilnya yang ke empat kali, dia langsung menatap kearah Samuel dengan masih pandangan shock nya.


"Yang Mulia, kita harus segera memanggil tabib!"


Raja langsung berdiri dari duduknya, "be.. benar.." ucapnya terdengar terbata-bata.


Raja Luke menghampiri Samuel yang masih memegang tubuh Olivia yang sudah tak sadarkan diri, "Samuel, cepat panggil tabib istana, dan suruh mereka untuk datang ke kamar ku!"


"Kamar anda?"


"Iya, kalau kita membawanya ke kamarnya yang ada di bagian barat istana, itu terlalu jauh, jadi aku akan membawanya ke kamarku."


"Oke, baiklah Yang Mulia!"


Dengan segera Samuel keluar dari ruangan dengan berlari, Raja menatap tajam kearah pelayan wanita yang saat ini sudah di pegang oleh Oliver.


"Dan kau Oliver, masukkan wanita jalang itu kepenjara, nanti aku akan mengurusnya," ucapnya terdengar sangat dingin.


"Baik Yang Mulia!"


Oliver membawa pelayan itu keluar dari ruangan, dan Raja juga tidak tinggal diam, dia mengangkat tubuh Olivia yang entah kenapa terasa sangat ringan baginya.


Di perjalanan menuju kamarnya, Luke mulai merasa bersalah telah meragukan apa yang dikatakan Olivia, gadis ini hanya ingin menyelamatkannya, tapi malah dirinya sendiri yang terkena racun itu.


"Aku janji, aku tidak akan meragukan kata-katamu lagi," ucap Raja yang terdengar sedih.


.


.


.


To Be Continued