I am Not a Girl

I am Not a Girl
Chapter 21



Malam telah tiba, beberapa lampu obor menjadi pencahayaan para pekerja untuk mengangkut tong dan peti berisi makanan kedalam kereta kuda.


Mereka semua sedang bersiap-siap untuk memulai perjalan panjang menuju Desa Orwitch, salah satu Desa terjauh yang masuk kedalam wilayah Kerajaan Toutius.


Sepasang mata memperhatikan kegiatan itu dari balik semak-semak, dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk bisa mengendap-endap masuk ke salah satu kereta kuda itu.


Tekadnya sudah kuat untuk ikut, meskipun dia sudah tahu dengan konsekuensinya, tapi dia tidak ingin melewatkan perjalanan seru seperti di film-film yang sering ia tonton.


Setelah dirasa tidak ada orang lagi, dengan perlahan dia keluar dari tempat persembunyiannya, tampilannya yang sekarang sangat berbeda. Rambut pirang yang biasanya dibiarkan jatuh begitu saja, sekarang di ikat membuat leher putihnya terekspos.


Dia berlari mengarah ke kereta kuda terdekat, namun saat dia hampir sampai di mulut kereta telinganya mendengar suara orang yang mendekat, dengan cepat dia bersembunyi di sisi lain kereta.


"Apa kita benar-benar akan melewati lembah Zivlis?" tanya seorang pria.


"Ya, kita akan melewatinya," jawab temannya.


"Apa tidak sebaiknya kita memilih jalan berkeliling?"


"Itu akan memakan waktu yang sangat lama kau tahu?"


Mereka berhenti tepat di mulut kereta yang bertepatan dengan Olivia bersembunyi di sisi lain. Gadis itu menahan nafasnya saking takut ketahuan.


"Aku dengar ada satu penyihir yang tinggal disana."


"Benarkah? Aku harap kita tidak akan bertemu dengan Penyihir itu."


"Ya aku juga harap begitu."


Setelah cukup memeriksa isi kereta, mereka pun pergi dari sana, akhirnya Olivia bisa bernafas dengan lega, dia mencoba mengintip sedikit untuk memastikan dua pria itu sudah pergi jauh.


Dia berdiri dan mulai masuk ke dalam kereta, disana sudah banyak peti dan tong yang penuh dengan makanan, seperti roti, buah-buahan segar, lalu ada beberapa karung gandum, semua makanan ini memang diperuntukkan untuk bepergian jauh.


Olivia mencari tempat untuk dirinya duduk, setelah mendapatkan tempat yang nyaman, dia tinggal menunggu Oliver datang, itupun kalau dia ingat.


Suara orang terdengar dari bagian depan kereta, apa mungkin sudah mau berangkat?


Beberapa detik kemudian Olivia bisa merasakan kereta mulai berjalan, hatinya berdetak dengan kencang, dia akan merasakan petualangan yang belum pernah dia rasakan, sayangnya Oliver tidak ada di sisinya untuk menemani perjalanan ini.


Kereta kuda berjalan dengan pelan, Olivia tidak bisa melihat keluar karena ada kain yang menutupi mulut kereta, karena penasaran akhirnya dia membuka sedikit dan ternyata kereta belum keluar dari gerbang.


Lalu Olivia menangkap sosok pria berjubah hitam berlari kearah kereta dengan cepat, belum sempat Olivia menatap mukanya pria itu melompat masuk dan menabrak tubuhnya sampai terjatuh.


BRUUKK..


"Akhh.." ringis mereka berdua.


Pria itu bangun dan menatap Olivia yang berada di bawahnya, dengan cepat dia menyingkirkan badannya setelah sadar telah **** tubuh gadis itu.


"Apa kau mendengar sesuatu yang jatuh di belakang?" tanya seorang pria di depan kereta.


Mereka berdua mematung ketakutan, kalau sampai mereka ketahuan menjadi penumpang gelap, semua rencananya yang telah mereka buat akan hancur berkeping-keping.


"Mungkin itu hanya karung gandum yang jatuh," jawab temannya.


"Mungkin kau benar."


Olivia dan pria itu menghembuskan nafasnya lega, "kenapa kau sangat lama sekali?" tanya Olivia pelan.


"Maaf Nona, sangat sulit sekali untukku keluar tanpa ketahuan oleh para penjaga di bagian selatan istana," ucapnya sambil bersender pada tong berisi buah-buahan.


"Oh oke, kalau begitu sekarang kita istirahat saja dulu, mengisi energi untuk besok."


Oliver mengangguk dan mulai tertidur, lalu di susul dengan Olivia yang ikut memejamkan mata.


Seorang pria bersurai coklat menatap rombongan kereta kuda kerajaan dengan mata emerald nya yang tajam. Dia tidak pernah menduga bahwa tokoh utama dari buku dongeng itu benar-benar akan melakukan perjalanan yang seharusnya tidak dia lakukan.


Pria itu menghembuskan nafasnya lelah, sebenarnya dia hanya ingin menikmati liburannya di dalam buku dongeng, tapi ternyata dia tetap harus melakukan pekerjaan nya sebagai Book Wizard.


"Haaahh.. dasar bocah.." gumamnya sembari memijit dahinya pelan.


Sinar matahari membangunkan sepasang mata yang masih setia menutup, wajah Olivia mengernyit karena terganggu, saat matanya membuka dia bisa menatap seorang pria bersurai putih yang sangat ia kenal.


Ya, itu adalah Samuel..


"HAH? SAMUEL??"


( ̄□ ̄;)!!


Olivia menatapnya kaget dan yang ditatapnya hanya menampakkan muka shock, dia tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat saat ini, seorang calon permaisuri mengendap-endap masuk kedalam rombongan dan menjadi penumpang gelap?


Hal seperti itu tidak pernah dia dengar sebelumnya!


"Apa.. apa yang sedang anda lakukan disini Nona?" tanyanya dengan suara gemetar.


"A.. anu.. a.. aku.. emm.. itu.."


Olivia tak mampu menjawab pertanyaannya, rasanya seperti otaknya dipaksa keluar dari tempurung kepalanya, dia tidak tahu harus menjawab apa, dia sangat bingung.


"Emm.. apa ini sudah pagi?" tanya Oliver yang mulai bangun dan menampakkan dirinya dari balik tong buah.


Olivia dan Samuel menatap kearahnya, saat Oliver mulai sadar 100% dia menatap kearah mereka berdua dengan terkejut.


"Selamat.. pagi?" ucapnya sambil tersenyum.


"Kau juga ikut Oliver?" tanya Samuel yang bertambah shock.


Olivia dan Oliver saling menatap, mereka rasa tidak ada yang bisa mereka tutupi untuk sekarang ini.


"Jadi.. anda ingin melihat seperti apa lembah Zivlis?" tanya Samuel.


Olivia mengangguk dengan mantap, "ya, seumur hidupku aku tidak pernah datang kesana, jadi aku ingin ikut untuk menambah pengalaman hidupku."


Samuel memijit kepalanya, dia terlihat sangat pusing memikirkan semua ini, "apa anda tahu masalah apa saja yang akan anda hadapi nanti?"


Olivia mengangguk lagi, "ya, aku sudah tahu."


"Sungguh? Anda sudah tahu?"


Gadis itu mengelus tengkuk lehernya, "emm.. sebenarnya tidak semua.." ucapnya ragu.


"Nona, tolong lupakan soal konsekuensi apa yang akan anda hadapi di jalan nanti, tapi pikirkanlah soal Yang Mulia Raja Nona!" Samuel memegang pundak Olivia dan mengguncang nya sedikit, "kira-kira apa yang akan terjadi pada Yang Mulia saat mengetahui anda menghilang?"


Olivia terdiam, dia tidak memikirkan hal itu sebelumnya, bagaimana mungkin dia bisa melupakan hal penting seperti itu?


"Ahh.. dasar bodoh!" umpatnya dalam hati.


"Tenang saja, aku sudah meninggalkan surat di meja kerja Yang Mulia Raja." ucap Oliver.


Samuel menatapnya horror, "apa kau bilang? Meninggalkan surat?" tanya Samuel.


Oliver mengangguk, kedua tangan Samuel dengan cepat mencekik leher pria bersurai hitam itu sambil mengguncang nya dengan keras.


"APA KAU GILA HAH? KITA BERDUA BISA DIBUNUH YANG MULIA RAJA!!" teriaknya.


Olivia yang melihatnya berusaha untuk melerai mereka berdua, setelah Samuel melepas cengkraman nya Oliver langsung terbatuk-batuk hebat, "uhuk.. uhuk.. akhh.. tenang saja, aku menulis suratnya seakan Nona Olivia yang menulisnya."


Sekarang giliran Olivia yang menatapnya dengan horror.


"Oh shit!"


To Be Continued