I am Not a Girl

I am Not a Girl
Chapter 19



.


.


.


Olivia kembali bangun di tengah hamparan rumput hijau yang luas, bedanya dia sudah berada di dekat pohon rindang yang kemarin, telinganya mendengar suara gadis kecil yang sedang tertawa, dia yakin itu adalah Putri Abby.


Olivia bangun lalu mendekati suara itu, perlahan dia bisa melihat dua sosok yang dia kenal berada dibalik pohon, itu adalah Luke dan Putri Abby.


Luke terlihat sedang mengangkat tubuh kecil Abby yang sepintas terlihat terbang di udara, mereka berputar-putar sambil tersenyum lebar, begitu bahagianya mereka sampai Olivia tidak ingin mengganggu mereka berdua.


Hatinya menghangat setiap melihat senyum itu terukir di wajah Luke, Olivia merasa ingin membuat Raja Luke di kenyataan juga bisa tersenyum seperti itu, tapi kapan dia bisa melakukannya?


Itu pasti akan memakan waktu sangat lama, karena menyembuhkan hati seseorang itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, makanya Olivia tidak ingin menjalin kasih dengan siapapun karena takut hatinya sakit terlebih dia bukan tipe orang yang mudah melupakan rasa sakit.


Mungkin dirinya tidak jauh berbeda dengan Raja Luke, dia memendam rasa sakit itu sendirian yang akhirnya sifatnya berubah, entah itu menjadi lebih baik atau bahkan buruk.


Tapi kebanyakan orang akan berubah menjadi buruk setelah dia mendapatkan rasa sakit, karena hati mereka akan memberontak kalau terus berada di bawah kaki orang lain, hanya bisa di injak dan diperlakukan seenaknya.


Namun kasus yang menimpa Luke tidaklah seperti itu, dia hanya sedang kehilangan tujuan hidupnya di dunia, dia sudah tidak punya siapapun lagi yang membuatnya berfikir untuk apa dia masih hidup, pada siapa dia akan berbagi rasa sakit? Siapa juga yang mau mendengar keluh kesahnya?


Olivia tersenyum masam saat memikirkannya, dia teringat dengan keadaan Raja saat dia menangis di pelukannya, itu adalah rasa sesak yang selalu dia pendam sendirian, Olivia yakin Raja selalu menangis saat mengingat orang tersayangnya yang telah tiada saat dia sendirian.


Luke berhenti berputar dan menyimpan Abby di tanah, setelah itu dia menjatuhkan dirinya ke tanah sambil tertawa, "hahaha.. kepalaku terasa berputar.." ujarnya sambil mengatur nafas.


"Kepalaku juga pusing Kakak!" ucap Abby yang menjatuhkan tubuh kecilnya diatas tubuh Luke.


"Akhh.. tubuhmu berat Abby.."


Abby memajukan bibirnya cemberut, "aku tidak berat Kakak! Aku itu ringan bagai kapas!" marahnya.


Luke terkekeh mendengarnya, Adiknya itu memang gampang sekali tersinggung dengan sesuatu yang kecil.


"Baiklah, kau tidak berat, hanya saja kau membuat Kakak tidak bisa bernafas.."


Muka Abby yang asalnya terpendam di dada Luke mulai menatap kearah mata Kakaknya dengan tajam, "sudah kubilang aku itu ringan bagai kapas!"


Olivia terkekeh pelan melihat kelakuan Abby yang menggemaskan, dia jadi teringat dengan Esme, bagaimana keadaan gadis kecil itu sekarang ya? Olivia harap dia sudah tidak diganggu anak-anak nakal lagi.


"Kak Olivia!" teriak Abby sambil berlari menghampiri nya.


Dengan keras Abby menabrakkan dirinya ketubuh Olivia sampai dia rasanya hampir terjatuh, tangannya berusaha memeluk kedua kaki Olivia yang jenjang, namun tangannya tak dapat melingkar sempurna.


"Ayo bermain bersama-sama!" ucap Abby dengan semangat.


"Aa.. ahh.. oke oke, kalau begitu kita bermain apa?" tanya Olivia lembut.


"Lakukan seperti yang Kak Luke lakukan," tangan Abby mengangkat keatas meminta untuk digendong.


"Emm.. baiklah, aku akan melakukannya sebisaku."


Olivia mengangkat tubuh Abby, tapi dia kaget saat sadar bahwa tubuhnya sangatlah ringan dan tidak berat seperti yang dipikirkannya.


"Tubuhku tidak berat kan Kak Olivia?" tanyanya penasaran.


"Tidak, tubuhmu benar-benar seringan kapas," ucap Olivia jujur.


"Nah kan! Sudah kubilang kalau tubuhku ini memang seringan kapas! Kak Luke selalu saja mengatakan hal sebaliknya."


Abby kembali menatap tajam Kakanya yang saat ini sedang duduk memperhatikan, sedangkan Olivia mengerutkan keningnya, dia tidak tahu kalau Raja suka melakukan hal itu, mengatakan hal sebaliknya?


Apa mungkin saat Raja mengatakan tubuhnya bau dia sebenarnya bilang bahwa tubuhnya harum? Atau saat mereka terjatuh dari balkon dia bilang kalau tubuhnya berat, apa Raja ingin bilang kalau tubuhnya ringan?


Entahlah, Olivia tidak tahu, tapi dia juga belum pasti apa mimpi ini sesuai dengan kenyataan atau tidak.


"Apa benar Kakak mu itu selalu mengatakan hal sebaliknya?" tanya Olivia memastikan.


"Iya, Kakak selalu seperti itu saat di depan wanita, dia akan merasa malu kalau berkata jujur, jadi dia punya kebiasaan untuk menyinggung wanita yang sebenarnya sedang dia puji di dalam hati."


Ternyata apa yang ada dipikirannya sesuai dengan apa yang di katakan Abby, Olivia jadi ingin membuktikannya sendiri pada Raja Luke.


"Abby! Kenapa kau mengatakan hal itu pada Olivia! A.. aku jadi benar-benar malu sekarang.." Luke menutup mukanya yang bersemu merah, namun Olivia masih bisa melihat kedua kupingnya yang juga berubah warna.


"Kakak memang sangat lemah kalau di depan Kak Olivia!" teriak Abby.


Olivia tertawa pelan, rasanya ini sangat menyenangkan melihat Luke tersipu malu karena dirinya, ditambah kelakuan Abby yang polos membuatnya ingin mempunyai seorang adik juga.


.


.


.


"Maaf, tadi kau bilang apa?"


Olivia menatap Raja Luke dengan jengah, padahal dia sudah berbicara sangat jelas tadi, tapi pria di depannya ini malah masih sibuk dengan kertas putih yang dipegangnya.


"Yang Mulia, apa anda bisa mendengarkan saya dulu?" tanya Olivia dengan muka cemberut.


Luke menyimpan kertas di tangannya ke atas meja, lalu menatap Olivia dengan tatapan datar seperti biasa.


"Baiklah, aku mendengarkan mu sekarang, tapi jangan terlalu lama, aku harus kembali bekerja."


"Humm.. Yang Mulia, aku ingin menagih janjimu."


Dahi Raja mengerut, "janji? Janji apa?"


"Dulu anda pernah bilang kalau anda akan sering mengajakku menaiki kuda."


Luke terdiam, dia tidak ingat pernah mengatakan hal itu pada Olivia, apa benar dia pernah mengatakan hal itu?


"Aku.. lupa, kalau memang aku pernah mengatakan itu mungkin lain kali saja."


Luke kembali serius dengan kertas 'kerja' nya, hati Olivia saat ini sedang badmood, di tambah Raja sedang tidak bisa diganggu membuatnya tambah kesal. Padahal dirinya sudah membuat sebuah rencana, tapi semuanya gagal total karena Raja tidak langsung menuruti keinginannya.


Olivia tahu dirinya terdengar seperti orang egois, hanya memikirkan diri sendiri dan tak menghiraukan keadaan orang lain, tapi Olivia sudah sangat penasaran, apa benar sifat Raja yang ada di dalam mimpinya itu sesuai dengan kenyataan?


"Huuu.. menyebalkan!"


Olivia menggembungkan pipinya kesal, entah semenjak kapan dia punya kebiasaan seperti itu, mungkin karena melihat kelakuan Putri Abby membuatnya meniru tingkah gadis kecil itu.


Gabriel yang berdiri di sisi Raja memandang kearah Olivia dan tersenyum kecil, "Nona Olivia, kalau anda tidak keberatan, apa anda mau menaiki kuda bersamaku?" tanyanya.


Mata Olivia dan Luke menatap kearahnya, tiba-tiba saja dia bisa merasakan lontaran tatapan maut dari sebelahnya.


"Uhmm.. aku sepertinya mau.." ucap Olivia sedikit ragu.


"Oh sungguh?" tanya Gabriel dengan senang.


Akhirnya dia bisa dekat dengan Olivia, wanita cantik yang telah mencuri hatinya pada pandangan pertama. Namun dia tidak sadar dengan muka Raja yang terlihat kesal, hatinya gelisah saat membayangkan Gabriel menaiki kuda bersama Olivia, rasanya dia tidak ingin membiarkan itu terjadi.


Raja bangkit dari duduknya dan menghampiri Olivia, ia langsung saja menyambar tangan gadis itu dan membawanya keluar ruangan.


Sementara Gabriel masih terpaku ditempatnya mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi, apa jangan-jangan Raja tidak rela kalau Olivia di dekati oleh orang lain?


"Wow.. secepat itukah dia cemburu?"


(;  ̄▽ ̄)


.


.


.


"Yang Mulia, bukankah anda tadi bilang tidak mau melakukannya sekarang?" tanya Olivia yang tangannya masih ditarik Raja.


"Aku tidak bilang tidak mau," jawabnya dingin.


Olivia merasa ada sesuatu yang salah dengan Raja, tapi dia tidak tahu apa itu, apakah dia mengatakan sesuatu yang membuatnya marah?


Raja membawa Olivia ke kandang kudanya berada, disana mereka bisa melihat ada seorang pria paruh baya yang sedang memberi makan kuda hitam kesayangan Raja.


"Paman Owen, tolong persiapkan kuda ku untuk aku naiki."


Pria paruh baya itu mengangguk dan segera mengambil pelana di bagian belakang kandang, lalu memasangkannya di punggung kuda, sementara Paman Owen sedang menyiapkan kudanya Olivia baru sadar tangan kanannya masih digenggam erat oleh Raja.


"Emm.. Yang Mulia.." panggilnya pelan.


"Apa?" sahutnya tanpa menoleh.


Olivia bisa merasakan tangan Raja yang langsung bergetar, beberapa detik kemudian Raja melepaskan genggamannya.


"Maaf.." ucapnya masih memalingkan muka.


Senyum kecil terukir dibibir Olivia, meskipun Raja memalingkan muka darinya, dia tetap bisa melihat kuping Raja yang berubah warna menjadi merah dari samping. Apa mungkin Raja tidak sadar telah menggenggam tangannya sangat lama?


"Kudanya sudah siap Yang Mulia," Paman Owen membawa kuda hitam itu sampai di depan Raja.


"Terimakasih Paman," ucap Raja sambil menaiki kudanya, "kau, cepat mendekat dan berbalik lah," perintah Raja pada Olivia.


Olivia menurut lalu Raja kembali mengangkatnya seperti saat awal mereka bertemu, gadis itu duduk tepat di depan Raja dengan canggung.


"Apa kau sudah duduk dengan nyaman?" tanya Raja tepat di kupingnya.


"Ahh.." teriaknya kaget.


Olivia menjauhkan kepalanya dari Raja dan langsung memegang kupingnya, bagian tubuhnya itu sangat sensitif dengan kontak apapun.


"Apa kau tidak apa-apa?"


Olivia menggelengkan kepalanya, "aku tidak apa-apa, hanya saja kupingku gampang sekali merasa geli."


"Oh.. maaf.."


Raja mulai menjalankan kudanya dengan pelan, Olivia tidak tahu akan dibawa kemana, namun dia menikmatinya, lagipula saat di dunia aslinya dia tidak pernah menaiki kuda.


Sedikit demi sedikit kuda berlari semakin kencang, membuat Olivia berpegangan pada pelana dengan keras, entah kenapa dia berfikir bisa terjatuh dari atas kuda kalau tidak berpegangan.


"Ya.. Yang Mulia! Apa anda bisa menjalankan kudanya dengan pelan?" tanya Olivia dengan suara bergetar.


Raja tersenyum lebar mendengarnya, dirinya sangat senang mengetahui gadis berambut pirang di depannya ini mulai ketakutan, bukannya membuat laju kudanya pelan, Luke sengaja menambah kecepatannya.


Tentu saja itu membuat Olivia teriak, tangannya entah harus berpegangan pada apa, yang akhirnya tanpa sadar dia memeluk tangan kiri Raja dengan erat.


Luke menghentikan kudanya dan mendengar isakan kecil keluar dari bibir Olivia, apa mungkin dia sudah keterlaluan?


"Olivia? Kau tidak apa-apa?" tanya Raja khawatir.


"Hiks.. Yang Mulia, anda jahat sekali.. Hiks.." ucapnya pelan.


"Ma.. maafkan aku.."


Olivia diam, dia tidak mau berbicara saat ini, dia sangat kesal pada Raja, padahal tadi dia sudah meminta untuk pelan-pelan tapi Raja malah membuat kudanya berlari sangat kencang.


Raja menatap Olivia dengan raut muka menyesal, dia tidak ingin terus melihatnya menangis, namun dia sudah lama tidak menghadapi seorang wanita menangis, apa mungkin dia harus melakukan hal sama seperti saat dia menenangkan adiknya dulu?


Akhirnya Raja dengan perlahan memeluk tubuh kecil Olivia yang masih bergetar.


Olivia kaget mendapat pelukan yang tiba-tiba dari Raja, jantungnya belum dipersiapkan untuk hal seperti ini.


"Maaf.." bisik Raja pelan di telinganya.


Deg..


Deg..


Deg..


"Akhhh... jantungku!"


Muka Olivia sudah semerah tomat, dirinya benar-benar sangat malu, ditambah jantungnya berdetak dengan kencang, dia tidak pernah menyangka Raja akan melakukan ini padanya.


"Uhmm.. aku sudah tidak apa-apa Yang Mulia, anda boleh melepas pelukannya."


"Apa kau tidak suka kalau aku memelukmu?"


Olivia gelagapan mendapat pertanyaan itu, apa mungkin dia harus jujur saja?


"Ti.. tidak, aku suka.." jawab Olivia pelan.


"Apa kau ingin turun?"


Olivia mengangguk, Raja turun dari kuda dan menurunkannya, kepalanya menunduk dan tidak berani untuk menatap muka Raja.


"Yang Mulia?" panggil seseorang.


Saat Olivia menatapnya ternyata itu Panglima Peter, pria bersurai coklat yang seperti biasa terlihat gagah dan sangat cocok dengan pangkatnya sekarang.


"Apa yang membawa anda sampai ke sini?" tanyanya.


"Aku hanya sedang mengajak Olivia jalan-jalan memakai kuda ku."


Peter mengangguk, lalu memperhatikan kuda hitam di belakang Raja, "waktu yang tepat untuk ber jalan-jalan ke bagian selatan istana," gumamnya, "Yang Mulia kebetulan sekali kami sedang mengadakan pertandingan khusus untuk para kesatria, apa anda mau menontonnya?"


"Pertandingan? Sepertinya menarik."


Peter tersenyum lalu menatap kearah Olivia, "kalau Nona Olivia tidak suka melihat kekerasan, anda tidak perlu ikut melihatnya," ucapnya lembut.


Raja menatap kearahnya, lewat tatapan matanya Olivia tahu Raja sedang mengatakan kalau dirinya ini sangat takut dengan hal berbau darah atau semacamnya. Namun dia salah! Jangan lupakan siapa dirinya yang asli, dia adalah Kayden Allen, pria kuat yang mampu mengalahkan banyak preman seorang diri!


Tolong lupakan soal dirinya yang menangis saat menaiki kuda tadi.


"Aku ingin melihatnya juga!" ucapnya semangat.


"Oh sungguh? Anda sangat berani sekali Nona."


"Hohoho.. tentu saja.."


〜( ̄▽ ̄〜)


"Tidak boleh," ucap Raja tegas.


"WHAT!!"


(; ̄Д ̄)


Dia baru saja merasa senang dan pria ini langsung menghilangkan rasa senangnya begitu cepat, "tapi Yang Mulia, aku ingin melihatnya juga," pintanya.


"Kalau aku bilang tidak boleh, ya tidak boleh!"


"Apa-apaan itu?"


Dia pria jahat menyebalkan pertama yang dikenalnya, sungguh Olivia tidak bisa menebak sifat Raja, padahal dia baru saja memeluknya dan meminta maaf padanya, tapi sekarang dia sudah membuat dirinya kesal lagi?


"Arrrggghhh... tolong jauhkan pria ini dari hidupku!"


.


.


.


To Be Continued


.


.


.


Readers..


Mulai sekarang Author buat setiap Chapter nya sedikit ya..


( ´ ▽ ` )ノ


Karena otak saya gak bisa dipaksakan, kaya hati yakan, gak bisa dipaksa buat mencintai..


Jiahahaha.. bucin..


(;  ̄▽ ̄)


Oh iya, jangan lupa like, coment, dan klik favorit, biar kalian tahu ada notifikasi chat dari mantan..


Eh salah, notifikasi kalo ni novel udah di up maksudnya..


〜( ̄▽ ̄〜)


See you next Chapter ya guys~