
.
.
.
Iris mata biru langit itu menatap dua pria didepannya dengan tajam, dia kesal dan marah saat mengetahui kalau calon Permaisurinya telah menghilang dari pengawasan mereka. Sedangkan dua pria yang di tatap, hanya bisa menunduk dengan takut.
"Jadi.. dia menghilang?" tanyanya dingin.
Mereka berdua mengangguk, "sepertinya Nona Olivia pergi saat semua orang sudah tertidur," ucap Samuel.
Tatapan Raja berpindah kearah Oliver, "Oliver!" panggilnya.
Tubuh Oliver menegang, dia takut kalau dirinya akan di bunuh Raja, detak jantungnya sangat kencang sampai rasanya dia sulit untuk bernafas, dengan takut dia membalas tatapan Raja.
"Iya Yang Mulia?"
"Kau.. kau harusnya kembali belajar menulis! Apa kau tahu surat yang kau buat hampir tidak bisa dibaca olehku!" teriak Raja marah.
Oliver dan Samuel terdiam mendengarnya, sedangkan Aiden yang berdiri di sebelah Raja menepuk dahinya gemas.
"Kupikir dia akan membunuh ku, ternyata hanya masalah itu."
(;  ̄▽ ̄)
Aiden berdeham mengalihkan semua perhatian padanya, "Yang Mulia, ini bukan waktu yang tepat untuk mempermasalahkan hal itu, sekarang kita harus mencari Nona Olivia ke dalam hutan."
"Ah.. kau benar, tapi kita harus mencarinya kemana?"
"Sepertinya Nona Olivia pergi ke lembah Zivlis," tebak Samuel.
Luke mengerutkan dahinya, "lembah Zivlis?"
"Iya Yang Mulia, Nona Olivia sangat tertarik dengan lembah itu," jawab Aiden.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Oliver.
"Karena sebelumnya dia bertanya padaku apa dia boleh ikut dengan Samuel."
Tatapan tajam langsung terlontar kearah pria bersurai putih itu, tubuh Samuel terasa mengecil di hadapan Luke, dan mukanya seakan mengatakan 'itu bukan salahku' dengan sangat jelas.
Luke menghembuskan nafasnya kasar, "memang ada apa di lembah Zivlis sampai anak itu ingin pergi kesana?"
"Ada yang bilang kalau disana tinggal seorang penyihir," jawab Oliver.
"Dan juga goblin," tambah Aiden.
Setelah mendengarnya Luke langsung terdiam, kekhawatiran muncul di dalam hatinya, dia takut kalau terjadi sesuatu pada Olivia, namun dia juga sedikit kesal, karena Olivia tidak mengatakan apapun padanya sebelum pergi. Apa mungkin gadis itu masih marah karena beberapa hari yang lalu dia tidak membolehkannya melihat pertandingan para kesatria?
"Kalau begitu ayo kita mulai mencarinya kesana," ucap Luke dengan serius.
.
.
.
Olivia menatap ke sekelilingnya, lubang ini cukup dalam, dan sangat mustahil untuknya bisa memanjat keatas dengan kakinya yang terluka.
Kruyuukk...
Dia memegang perutnya, dia sudah sangat lapar, dia jadi sedikit menyesal karena semalam dia tidak menghabiskan bubur gandum yang diberikan Samuel padanya.
Olivia menghela nafasnya kembali, kalau dia hanya menunggu keajaiban datang itu akan membunuhnya dengan perlahan disini, jadi dia harus berusaha mencari jalan keluar. Olivia berusaha berdiri, dia meringis saat mencoba menggerakkan pergelangan kaki kirinya.
Olivia terbatuk karena terkena debu tebal, telinganya bisa mendengar suara batuknya bergema di dalam sana.
"Huh.. apa ini?" gumamnya sembari melihat kedalam kegelapan.
Dia tidak pernah menyangka kalau di balik dinding ada sebuah tempat rahasia, sayangnya dia tidak mempunyai alat yang bisa membantunya melihat dalam kegelapan.
Olivia melihat bergantian keatas lubang dan kedalam ruangan gelap itu, dia harus memilih salah satunya untuk bisa keluar dari sini. Akhirnya dia memilih untuk masuk kedalam ruangan gelap itu.
Dia berjalan tertatih dan sesekali meringis kesakitan, sementara tangannya terus meraba dinding dingin yang sedikit berlumut, matanya tidak berfungsi di sini, jadi hanya indra perasa dan pendengarannya lah yang dia andalkan.
Sudah cukup lama ia berjalan, namun dia belum menemukan jalan keluar atau secercah cahaya sedikitpun, kakinya sudah mulai lelah, bahkan rasa sakit di kaki kirinya terasa mati rasa. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia berjalan, dia juga tidak tahu masih siang atau sudah malam diluar sana.
Akhirnya yang dia tunggu pun muncul, dari kejauhan Olivia dapat mendengar suara gemericak air mengalir, dia merasa sangat senang, karena artinya ada jalan keluar untuknya. Semakin lama suara itu terdengar lebih jelas dan keras, dia yakin kalau itu adalah sungai bawah tanah.
"Ahh.. sayang sekali aku tidak bisa melihatnya," ucapnya kecewa.
Jarang sekali baginya untuk bisa melihat sungai bawah tanah, karena itu adalah kejadian alam yang sangat langka terjadi.
Olivia bisa merasakan atmosfirnya berubah menjadi sedikit lebih lembab, dinding yang dia pegang pun sedikit basah oleh embun, karena dia tidak bisa melihat apa-apa dia jadi tidak tahu setinggi dan seluas apa tempat itu. Ia hanya bisa memprediksi nya dari suara air sungai yang cukup deras.
Dinding yang dia pegang sudah berakhir, tak ada lagi yang dapat dia pengang sebagai penuntun jalan, sedangkan suara sungai berada di depannya.
Apa dia harus berjalan ke depan menuju sungai atau tetap mengikuti dinding?
Olivia lebih memilih untuk menuju sungai, setidaknya air sungai bisa menghilangkan haus yang sedari tadi menyerangnya, dengan perlahan dia berjalan mendekati sungai, tiba-tiba kakinya tidak menemukan pijakan yang membuatnya jatuh untuk ketiga kalinya hari ini.
BYUURRR..
Olivia terjatuh kedalam sungai yang tak pernah dia sangka sangat dalam, dengan susah payah dia berenang menuju permukaan, arus sungai yang sangat deras menyeretnya dengan cepat, bahkan berkali-kali dia tenggelam kedalam air.
Dia berfikir inilah akhir hidupnya, tenggelam di dalam sungai bawah tanah yang gelap, tidak akan ada seorang pun yang tahu dimana mayatnya berada.
Saat dirinya sudah sangat putus asa, matanya menangkap sebuah cahaya, dan itu adalah jalan keluarnya!
"Oh Tuhan terimakasih.."
Air sungai berubah lebih deras dari sebelumnya, Olivia tahu itu pertanda yang buruk untuk dirinya, setelah keluar dari kegelapan tubuhnya kembali terjun bebas dan tenggelam kebawah air terjun yang ganas.
Dia bersusah payah untuk bisa keluar dari gulungan air, dan setelah berhasil bebas dia buru-buru mengambil oksigen di permukaan air. Ia tidak ingin berlama-lama di dalam air dan kembali berenang menuju pinggiran sungai.
Nafasnya tersengal-sengal, dia hampir putus asa tadi untungnya sungai itu dengan cepat membawanya keluar, kalau tidak mungkin dia sudah mati kelelahan.
Olivia mencoba membiasakan matanya setelah sangat lama bergelut di dalam kegelapan, dan saat dia memperhatikan sekitarnya dahinya mengerut.
Pasalnya lingkungan sekelilingnya berkabut sangat tebal, dia tidak ingat ada kabut seperti ini sebelumnya, apa mungkin dia sudah sangat jauh memasuki lembah Zivlis?
Tangannya memegang sesuatu dan reflek dia melihat apa itu, ternyata itu adalah tengkorak manusia.
"AAAAA...!!" teriaknya sambil menjauh.
Tangannya kembali memegang sesuatu dan kembali dia menemukan tengkorak lainnya, saat matanya memperhatikan sekelilingnya ternyata sungai itu dipenuhi dengan kerangka manusia.
"Tempat apa ini?" ucap batinnya takut.
.
.
.
To Be Continued