I am Not a Girl

I am Not a Girl
Chapter 6



.


.


.


Olivia menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong, dia masih belum mengerti apa yang baru saja terjadi padanya tadi, mengapa dia bisa jatuh dari atas balkon?


Seingatnya ada seseorang yang mendorong tubuhnya kebelakang dengan sangat keras, tapi siapa orang itu? Apa ada orang lain selain Raja disana? Kalau tak ada siapapun disana selain Raja itu artinya..


"Oh tidak, tidak, tidak, tidak!"


Jangan bilang kalau orang yang mendorong nya adalah Yang Mulia Raja sendiri? Tapi kenapa? Kenapa dia melakukan itu? Apa salahnya sampai Raja ingin mencelakai nya? Bukannya Raja di dalam cerita sangat mencintanya?


Tunggu dulu, Olivia jadi teringat dengan kata-kata dari penyihir yang telah merubah takdir hidup gadis di dalam cerita, penyihir itu bilang 'hidupmu tidak akan lama, karena kau akan dibunuh oleh seseorang yang sangat mencintaimu'.


Tiba-tiba bulu kuduk nya berdiri semua, apa mungkin orang yang di maksud si penyihir adalah Raja Luke? Tapi itu tidak mungkin, karena dia adalah tokoh protagonis, bukan antagonis!


Seharusnya tokoh protagonis itu selalu melindungi tokoh utama, bukannya ingin membunuh tokoh utama.


"Ahh.. aku benci buku cerita itu," gumamnya sambil menutup mata.


.


.


.


Sementara itu di kediaman Raja, Luke pun juga belum tertidur, matanya masih terbuka dengan lebar, dan untuk kesekian kalinya dia bingung dengan dirinya sendiri.


Kenapa dia harus melindungi gadis itu saat dia terjatuh?


Meskipun tidak bisa dipungkiri dialah yang telah mendorong tubuh Olivia sampai terjatuh, namun yang tidak dia sangka adalah tangan gadis itu malah menarik lengan bajunya, tentu saja Luke pun ikut terjatuh ke tanah.


"Arghhhh..." erang nya dengan kesal.


Dia mengacak rambut hitamnya sampai berantakan, dia kesal dan benci kepada dirinya sendiri, mengapa dia selalu melakukan hal sebaliknya dari apa yang dia rencanakan?


Sebenarnya apa yang salah dengan dirinya?


.


.


.


Tak terasa pagi sudah menyapa, sinar matahari yang hangat masuk kedalam kamar Olivia melalui jendela tanpa terhalang oleh apapun, sepertinya para pelayan lupa untuk menutup jendelanya dengan hordeng, dan akhirnya tubuh Olivia yang sedang tertidur pun terekspos dari luar.


Kulit putihnya terlihat bercahaya saat sinar sang surya menyinari nya, kedua mata itu masih setia menutup, bulu matanya yang lentik membuat gadis itu terlihat seperti boneka Barbie yang cantik.


Sebuah tangan mengelus pipinya yang mulus dengan pelan, lalu dia berpindah mengelus rambut pirang bergelombangnya yang terasa sangat lembut.


Pria itu, dia ingin sekali memeluk gadis yang masih tertidur pulas di hadapannya, hatinya selalu berdetak dengan kencang saat melihat sosok yang bahkan dia pikir seperti malaikat itu benar-benar cantik dan anggun.


Dia yakin, siapapun yang melihat rupa gadis ini akan langsung jatuh cinta, salah satu contonya adalah Raja Luke, seorang pria berdarah dingin dan selalu benci membicarakan pernikahan tiba-tiba saja membuat pengumuman bahwa dia akan menikahi gadis yang berasal dari rakyat miskin.


Pria itu juga masih ingat, saat pertama kali Raja membawan gadis ini ke istana dengan menunggangi kuda hitam milik Raja. Pakaian gadis itu terlihat sangat lusuh dan kotor, benar-benar tak sedap untuk dipandang, namun dia memiliki warna mata yang cerah, dan mata itulah yang telah menghipnotis nya sampai seperti ini.


Dia sudah tak tahan menahannya lebih lama lagi, dia ingin sekali merasakan bibir kecil berwarna merah ranum itu, sungguh sangat menggoda, apa mungkin rasanya manis seperti gula?


Pria itu mendekatkan wajahnya pada wajah gadis yang masih terlelap, dia jadi teringat dengan kisah putri tidur yang akan bangun bila ada seorang pangeran yang menciumnya. Bibirnya tersenyum, memang sangat tidak sopan bila mencium seseorang yang sedang tertidur seperti ini, terlebih gadis ini milik orang lain.


Tapi mau bagaimana lagi, pikirannya rasanya bisa jadi gila kalau tak mencoba bibir itu, saat bibir mereka sudah hampir bersentuhan mata yang sedari tadi masih menutup membuka dengan perlahan, gadis itu menatap kaget warna rambut putih di depannya.


"HANTU!!" teriak Olivia sambil melayangkan pukulan mautnya mengenai pipi Samuel.


BUAKKK..


"Ouch.." ringis Samuel sambil mengelus pipinya yang jadi sasaran pukulan Olivia.


Samuel tidak pernah menyangka akan mendapat pukulan keras dari Olivia, dan dia juga baru tahu bahwa gadis itu memiliki kekuatan yang cukup kuat sampai membuat pipinya sangat sakit.


Olivia mendudukkan dirinya dan menatap pria di depannya dengan masih takut, dia begitu kaget menemukan seseorang di sampingnya saat dia bangun tadi, dan setelah hatinya mulai sedikit tenang dia sadar siapa pria di depannya itu.


"Sa.. Samuel? Apa itu kau?" tanya Olivia takut.


Samuel melepas tangan yang menghalangi mukanya, pria itu menatap Olivia dengan pipi kirinya yang berwarna merah.


"Ya ini aku, apa anda masih takut dengan rambut ku Nona?" tanya Samuel sambil tersenyum masam.


"Wuahh.. aku.. aku minta maaf Samuel, apa pipimu masih sakit?" tanya Olivia sambil mendekati pria itu dan langsung mengelus pipinya yang merah.


Sentuhan tangan Olivia yang lembut di permukaan pipinya sangat menggelitik, dia suka dengan sentuhan itu, sampai dia tidak ingin Olivia berhenti mengelus pipinya. Tanpa sadar Samuel menyentuh tangan Olivia sambil menutupkan matanya karena nikmat.


"Aku tidak apa-apa Nona, sentuhan tangan anda di pipiku saja sudah membuatnya tidak terasa sakit lagi," ucap Samuel lembut.


Olivia terdiam, dia ingin sekali melepas tangannya, tapi dia masih merasa bersalah pada pria itu karena telah memukul pipinya dengan sangat keras. Dia tahu bahwa Samuel sangat mencintainya, bahkan di dalam cerita saat si tokoh utama dalam masalah, Samuel lah yang sering muncul untuk menolongnya.


Sayangnya perasaannya itu tidak akan terbalas sampai kapanpun, karena di dalam cerita tokoh utama sudah terlanjur jatuh cinta pada Yang Mulia Raja, dan Olivia sendiri juga tidak mungkin melakukan itu.


"Oh iya Nona, maaf karena saya lancang masuk kedalam kamar anda tanpa permisi," ucapnya sambil melepaskan tangan Olivia.


"Lain kali seharusnya kau tidak seperti itu," ucap Olivia dengan muka kesalnya.


Bagaimana dia tidak kesal, pria ini masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi dan mengagetkan dirinya saat dia terbangun tadi. Sungguh menyebalkan, kenapa dia bisa di dekati oleh dua orang menyebalkan seperti nya dan Raja sih?


"Aku janji tidak akan melakukannya lagi Nona," ucapnya sambil tersenyum, "oh iya, aku mendengar dari para pelayan bahwa anda dan Yang Mulia jatuh dari atas balkon, apa itu benar?"


Olivia langsung gugup, dia bahkan hampir lupa bahwa kemarin dia baru saja mengalami kecelakaan, tapi masalahnya adalah Samuel sudah beranggapan negatif pada Raja, dan yang lebih parahnya lagi itu memang sebuah fakta bahwa Raja ingin membunuhnya.


"Iya itu benar."


"Apa Raja yang mendorong anda jatuh?" tanyanya dengan tatapan serius.


"Itu benar sekali," ucap batinnya menangis.


Olivia tidak boleh gegabah dan langsung memberitahu Samuel bahwa pelakunya adalah Raja, karena dia yakin akan terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan pada mereka berdua nantinya.


"Ti.. tidak, itu tidak benar! Saat itu kakiku terpeleset dan aku jatuh ke arah pembatas balkon, dan untungnya Raja ada di sana yang langsung menolongku, namun dia malah terbawa oleh badanku dan ikut jatuh kebawah."


Samuel menatapnya dengan tajam, sepertinya pria itu tidak percaya dengan apa yang dia katakan, sekarang apa yang harus dia lakukan?


"Baiklah kalau memang begitu ceritanya," ucapnya sambil beranjak dari duduk, "aku akan kembali bekerja, jadi jagalah dirimu Nona."


Setelah berkata seperti itu Samuel tersenyum kearah Olivia, namun itu bukan senyum yang biasanya dia lontarkan, senyum itu terasa menakutkan sampai bulu kuduk Olivia berdiri semua. Dia sangat yakin, bahwa ada arti di balik senyum itu, namun dia tak tahu apa itu, yang pastinya itu bukan hal yang bagus.


"Samuel!"


Pria itu menoleh, "ada apa Nona?"


"Apa kau tahu bagaimana keadaan Yang Mulia Raja saat ini?" tanyanya dengan khawatir.


Samuel terdiam sebentar, "dia baik-baik saja Nona, jadi anda tak perlu khawatir."


Setelah itu Samuel pergi dari sana dan menghilang di balik pintu, Olivia penasaran seperti apa keadaan Yang Mulia saat ini, karena saat malam dia masih ingat dengan jelas raut muka Raja yang terlihat sangat kesakitan.


Perasaannya masih tidak tenang meskipun sudah mendengar bahwa pria itu baik-baik saja, dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Raja tidak apa-apa. Benar, sepertinya dia akan mencari Raja saat ini.


.


.


.


Iris mata berwarna biru muda itu terus menatap kearah bunga dengan kelopak berwarna pink, bunga itu terlihat seperti bunga mawar tapi itu bukanlah jenis bunga mawar, namanya adalah Middlemist Camelia.


Bunga itu adalah bunga yang sangat di sukai Putri Abby, adik kandung nya yang sangat ia sayangi, setelah kedua orang tuanya meninggal Luke sudah tak memiliki keluarga lagi selain Putri Abby.


Saat itu umur Putri Abby masih sangatlah kecil, dan orang tua mereka meninggal karena di serang pihak musuh saat sedang dalam perjalanan pulang dari Kerajaan Amberband milik pamannya.


Putri Abby yang merasa tak lagi menemukan sosok orang tuanya terus saja bertanya pada Luke, kemana orang tuanya pergi? Dan kapan mereka akan kembali?


Luke yang saat itu masih sangat muda hanya bisa menjawabnya sambil menangis, dia selalu mengatakan pada adik kecilnya bahwa orang tua mereka pergi ke tempat yang sangat jauh dan tak akan kembali lagi.


Putri Abby yang belum mengerti apa-apa hanya terus menangis karena ingin bertemu orang tuanya, dan dengan lembut Luke selalu memeluknya saat dia menangis, meskipun hatinya pun juga merasa sangat merindukan sosok mereka tapi dia sebisa mungkin menutupinya dari adik tersayangnya.


Luke berfikir bahwa dia harus menjadi orang yang kuat untuk bisa menjaga adiknya, dan dia harus menjadi orang tua pengganti untuknya.


Mata dingin itu tanpa sadar menitikkan air mata, dia tak bisa berbohong pada dirinya sendiri bahwa dia rindu dengan sosok adiknya yang selalu tersenyum ceria, karena dialah satu-satunya orang yang membuat harinya berwarna.


"Yang Mulia?" panggil seseorang dari belakangnya.


Saat Luke menoleh dia mendapati sosok Olivia yang sedang berjalan pincang ke arahnya.


"Apa yang sedang anda la.."


Belum sempat Olivia menyelesaikan ucapannya kakinya tersandung dan dia terjatuh, tapi sebelum muka mulusnya itu menyentuh tanah sepasang tangan menangkap tubuhnya dengan kuat.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Raja dengan suara dinginnya.


"Aa.. ahh.. aku.. aku baik-baik saja, terimakasih sudah menangkap ku," ucap Olivia sedikit gugup.


Mata mereka saling bertemu, muka mereka begitu dekat dan hanya berjarak 5 cm saja, dan itu berhasil membuat muka Olivia berubah warna menjadi merah. Dia dengan segera memposisikan dirinya untuk duduk di atas rumput taman.


"Kenapa kau keluar dari kamar disaat lukamu masih belum sembuh?" tanya Raja.


"Ahh.. itu.. karena aku ingin melihat keadaan Yang Mulia, saya sangat khwatir setelah kecelakaan kemarin, jadi.." ucap Olivia menggantung.


"Jadi kau datang mencariku?" lanjut Raja Luke.


"Ahh.. iya."


Olivia kembali menatap mata Raja Luke yang entah kenapa terlihat lebih lembut dari pada biasanya, tatapan mata tajamnya sedikit pudar, dan bongkahan es yang biasanya Olivia lihat dari kedua iris mata biru itu sedikit mencair. Namun Olivia baru tersadar akan satu hal, tangannya langsung menggapai pipi Raja dan tanpa penolakan apapun dari Luke, dia mengusap nya dengan lembut.


"Apa anda baru saja menangis Yang Mulia?" tanya Olivia lembut.


Raja terdiam, dia tidak menjawab pertanyaan Olivia, dia malah mengangkat tubuh gadis itu yang tentu saja membuatnya kaget.


"Anda mau membawaku kemana Yang Mulia?" tanya Olivia dengan panik.


"Kau akan tahu nanti," ucapnya dingin.


"Tapi.."


"Berisik!"


Olivia langsung bungkam, dia sungguh membenci pria ini, bener-benar pria menyebalkan, apakah begini caranya dia memperlakukan seorang wanita?


Raja terus melangkahkan kakinya masuk kedalam taman kerajaan, saat sampai di depan semak-semak belukar dia berhenti berjalan.


"Sembunyikan mukamu di dadaku," perintahnya.


Olivia langsung menurutinya, dia membenamkan wajahnya di dada lebar milik Raja, tangannya dengan erat memegang bajunya, dan dengan cepat hidungnya bisa mencium harum bunga jasmine dari baju Raja.


"Apa dia memakai parfum?" tanyanya di dalam hati.


"Bersiap lah aku akan membawa mu masuk kedalam semak-semak," ucap Raja memperingati.


Setelah itu Raja dengan perlahan menembus semak-semak yang lebat, Olivia tidak tahu dia akan dibawa kemana, yang pasti dia berharap nyawanya masih selamat setelah ini.


Setelah dirasa mereka sudah keluar dari dalam semak-semak, langsung saja Olivia menatap ke sekitarnya, dan betapa dia kagum dengan pemandangan di depannya, sungguh dia merasa sedang berada di taman tersembunyi para peri.


Sangat indah sampai Olivia lupa untuk berkedip, "Wow.. indah sekali.." gumam nya.


Raja kembali berjalan dan mendudukkan Olivia di kursi taman, lalu dia pun duduk di sampingnya.


"Mengapa anda membawa ku kesini?" tanya Olivia penasaran.


Raja menatapnya sebentar, lalu dia kembali melihat sekitarnya, "aku hanya ingin memperlihatkannya padamu," ucapnya.


"Apa ada alasan lainnya?" tanya Olivia penuh selidik.


Olivia yakin bahwa Raja Luke membawanya kesini bukan tanpa alasan, pasti ada sesuatu di baliknya, misalnya saja dia akan di bunuh di sini mungkin? Karena tempat ini begitu strategis untuk membunuh seseorang.


"Taman ini sudah ada sejak orang tuaku masih hidup," ucap Raja memulai cerita, "mereka berdua jatuh cinta di taman ini, dan mereka juga banyak menghabiskan waktu berdua di sini," ucapnya lagi.


Tunggu dulu, kenapa dia menceritakan itu semua padanya?


"Dan taman ini juga adalah taman yang disukai adikku," ucapnya dengan tatapan yang mulai terlihat sedih.


Olivia terdiam, dia akhirnya bisa melihat sisi lain dari Raja Luke, dan itu membuat hatinya sedikit menghangat.


.


.


.


To Be Continued