I am Not a Girl

I am Not a Girl
Chapter 12



.


.


.


Malam itu bulan tak menampakkan dirinya pada dunia, ia tertutupi oleh lapisan awan hitam yang terlihat suram dan menakutkan, seorang pria bersurai perak nampak menikmati malam itu pinggir taman, dia ditemani dengan secangkir teh hangat yang beraroma jasmine, benar-benar lembut dan harum.


Dia menyesap teh itu dengan perlahan, uap panas masih terlihat menguar dari teh itu, hembusan angin menyapu lembut rambutnya yang sedikit panjang, tidak lama matanya menangkap sosok seseorang dari kejauhan, dia terus menatapnya sampai sosok itu terlihat jelas dimatanya.


"Ouhh.. beritahu aku kabar baik Chelsea," ucapnya setelah orang yang bernama Chelsea itu bersimpuh didepannya.


"Maaf Yang Mulia, kali ini aku tidak membawa kabar baik."


"Huh? Bukan kabar baik? Apa itu kabar buruk?"


"Ya Yang Mulia."


Mata Raja Nicholas menajam, " jujur saja, aku berharap mendapatkan kabar baik darimu, tapi yasudahlah, jadi katakan padaku, apa kabar buruknya?"


"Jamie.. dia.. gagal membunuh calon Permaisuri," ucapnya sambil menunduk lebih dalam.


"APA? Kau bilang dia gagal?"


"Iya Yang Mulia."


"Lalu dimana dia sekarang?"


"Dia.. dia tertangkap Yang Mulia, bahkan tangan kirinya dipotong oleh Raja Luke."


PRANGGG..


Raja Nicholas melemparkan gelas teh ditangannya ke lantai sampai hancur, dia geram dengan kegagalan mutlak ini, ditambah orang suruhannya itu malah tertangkap.


"Aku ingin Luke mendapatkan balasannya karena sudah menghilangkan tangan kiri Jamie," ucapnya sambil mengelus dagu, "Chelsea, aku ingin kau meracuni Raja, tapi bukan racun untuk membuatnya mati, tapi untuk membuatnya menderita."


"Baik Yang Mulia."


Setelah itu Chelsea pergi meninggalkan Rajanya yang masih duduk diam dengan rasa kesal yang masih belum reda, matanya terlihat begitu dingin dan tajam.


"Aku berjanji, aku akan membuat hidupmu hancur Luke, lihat saja!"


.


.


.


Malam ini adalah giliran Olivia untuk berjaga di gudang, seperti biasa dia duduk di belakang semak-semak dengan pandangan yang terus tertuju pada gudang makanan itu. Oliver bilang kalau penyusup itu adalah seorang pelayan kerajaan, dia mencoba menebak siapa kira-kira wanita itu.


Sudah cukup lama Olivia menunggu, tapi tak ada seorangpun yang mendekati gudang itu, mungkin yang keluar masuk gudang hanyalah para pekerja di bagian dapur. Dia terduduk dengan lemas, matanya pun sudah mulai terasa berat, mulutnya sudah berkali-kali menguap, sepertinya ini bukan tanda yang bagus, bisa saja dia tertidur disini dan melewatkan sesuatu.


Hanya ada satu cara untuk tetap membuatnya terjaga, yaitu menggigit tangannya sendiri!


Dulu dia pernah mengalami hal serupa, dimana dia sedang mengerjakan tugas di malam hari, terlebih tugas itu harus dikumpulkan nanti paginya. Allen terus berjuang untuk tetap terjaga, diapun juga sudah 5 kali membuat kopi, namun rasa kantuk nya selalu bisa menang. Saking kesalnya Allen membenturkan kepalanya ke meja belajar dengan keras, tanpa di duga rasa kantuk itu langsung hilang.


Dari situlah kebiasaannya untuk menggigit tangan nya sendiri di mulai, itu memberikannya sensasi rasa sakit yang akan mengurangi rasa kantuk. Disaat seperti ini metode itu sangat berguna baginya.


Sesuatu yang ditunggu akhirnya datang juga, pintu gudang itu terbuka dan menampakkan seseorang yang memakai jubah hitam, sial nya muka orang itu tertutup dengan tudung, membuat Olivia tidak tahu siapa wanita itu.


Dia berjalan mengendap-endap, terlihat jelas bahwa dia memang penyusup itu, karena sebelumnya Olivia tidak melihat orang itu masuk kedalam gudang, yang artinya dia baru saja masuk melalui lubang itu.


Olivia mengikutinya dari belakang dengan pelan, dia sudah terlihat seperti seorang detektif yang sedang mengikuti seorang penjahat. Wanita itu masuk kedalam gudang yang lain, membuat keningnya mengerut.


Kira-kira ada apa didalam sana? Apa mungkin gudang itu adalah tempat persembunyian nya?


Olivia menunggu dengan sabar, dia bersembunyi di balik tembok dengan pandangan yang terus fokus pada pintu gudang itu. Tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh pundaknya, membuatnya kaget dan hampir saja berteriak, dia membalikkan badannya dan menemukan sosok bersurai putih yang sangat dia kenal.


"Nona, apa yang an.. "


Belum selesai dia berbicara, Olivia dengan cepat menyimpan telunjuknya di depan mulut orang itu.


"Shuuttt.. jangan berisik," bisik Olivia.


"Kenapa?" tanya Samuel yang ikut berbisik.


"Diam dan lihat saja."


Olivia kembali memposisikan dirinya untuk mengintip, Samuel yang di belakangnya juga mengikuti arah tatapannya, tidak lama setelah itu seorang wanita berpakaian pelayan kerajaan keluar dari gudang itu, dan berapa kagetnya Olivia saat tahu siapa sebenarnya wanita itu.


Dia adalah pelayan wanita yang dulu pernah ia selamatkan dari hukuman Raja, dia sungguh tidak mengerti, padahal wanita itu terlihat sangat baik dan lugu, ternyata dia salah, pantas saja terkadang ada yang bilang, cover seseorang tidak mencerminkan siapa dirinya yang asli.


Sekarang Olivia percaya dengan hal itu.


Setelah wanita itu pergi, Samuel kembali bertanya, "apa yang sedang anda lakukan disini? Lalu, siapa wanita tadi? Kenapa anda melihatnya sambil bersembunyi?"


Olivia menatap Samuel dengan mata lelahnya, "kau terlalu banyak bertanya, nanti sajalah aku menjawabnya, aku sudah sangan mengantuk, hoaaamm.. "


"Ta.. tapi.. "


Olivia sudah pergi dari hadapan pria itu dengan cepat, karena dia sudah benar-benar sangat mengantuk.


.


.


.


Besoknya, saat Olivia sedang bersama Oliver ditaman mereka kembali membahas penyusup itu.


"Jadi Nona sudah tahu siapa orangnya?"


Olivia mengangguk, "iya, aku yakin sekali dia orangnya," ucap Olivia yang terlihat sangat serius, "oh iya Oliver, gudang yang tidak jauh dari gudang makanan itu sebenarnya gudang apa?"


"Dekat gudang makanan? Hmm.. sepertinya aku tahu, itu kalau tidak salah adalah gudang penyimpanan anggur Nona, memangnya kenapa?"


"Wanita itu, setelah dia keluar dari gudang makanan, dia masuk ke sana, aku penasaran apa yang dia lakukan disana."


"Anda mau memeriksanya?" tanya Oliver.


Olivia menggelengkan kepala, "tidak sekarang, tapi nanti disaat waktu yang tepat."


Mereka berdua terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing, mereka masih bertanya-tanya didalam hati, apa sebenarnya yang diinginkan penyusup itu, terlebih Olivia tidak tahu bahwa di istana ada seorang penyusup wanita. Karena didalam cerita dongeng, tidak dijelaskan bahwa ada penyusup, makanya Olivia sangat ingin sekali menyelidiki hal ini.


Seorang pelayan terlihat menghampiri mereka berdua, "maaf mengganggu waktu santai Anda Nona, tapi Yang Mulia ingin mengajak Nona minum teh," ucapnya sambil membungkuk.


Olivia menatapnya, "oh baiklah, aku akan kesana," setelah itu Olivia berdiri dari duduk santainya diatas rumput, begitu juga dengan Oliver.


Olivia berjalan dengan pandangan kosong, dia seperti mengingat sesuatu tentang hal ini, karena ini adalah pertama kalinya dia diajak Raja untuk minum teh.


"Minum teh?" gumamnya pelan.


Ia akhirnya ingat, ini adalah dimana Raja Luke terkena racun yang membuatnya sakit parah, namun tidak sampai meninggal, racun itu hanya bertujuan untuk membuatnya menderita.


Kalau begitu, itu artinya teh yang saat ini disajikan untuk Raja dan untuk dirinya itu sudah mengandung racun.


Tak terasa mereka sudah sampai di tempat Raja menunggu, seperti biasa dia terlihat sangat berwibawa dan berkharisma, hal itu sangat terlihat jelas dari cara dia duduk dengan sangat rapih, rasanya Olivia seperti sedang melihat sebuah patung manequin yang sangat tampan.


"Duduklah," perintah Raja saat Olivia sudah berada di hadapannya.


Setelah Olivia duduk, para pelayan menuangkan air teh hangat ke gelas mereka masing-masing, Olivia sudah sangat tahu bahwa teh itu beracun, makanya dia tidak lekas mengambil cangkir tehnya, sedangkan Yang Mulia Raja sudah mulai bersikap untuk meminum tehnya.


Jujur saja Olivia tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan Raja meminum teh beracun itu, namun tangannya reflek memukul tangan Raja saat dia sudah hampir mau meminum teh itu, dan tanpa Olivia duga cangkir itu lepas dari genggaman Raja dan pecah dilantai.


Para pelayan dan Oliver kaget saat melihat kejadian itu, merdeka hanya tidak menyangka, kenapa Olivia melakukan hal seperti itu.


Mata Raja menatap Olivia dengan tajam dan dingin, seketika Olivia merasa kematiannya semakin dekat.


"Apa.. yang.. kau lakukan?" tanya Raja dengan dingin.


"A.. anu.. tadi.. itu aku.. emm.. "


Sial! Olivia tidak tahu harus mengatakan apa, karena saat ini dia sudah takut setengah mati, pikirannya tidak bisa berfikir dengan baik, namun tiba-tiba saja ada sesuatu yang terbesit dipikirannya.


"Tadi.. di tangan Yang Mulia ada serangga, tadinya aku ingin mengusirnya saja, tapi karena sudah biasa memukul serangga aku reflek memukul tangan anda," ucap Olivia takut.


"Serangga?"


Olivia mengangguk, "kalian juga melihatnya kan?" tanya Olivia sambil menatap kearah pelayan dan Oliver dengan mata yang berkaca-kaca.


Mereka semua mengangguk mengiyakan, sebenarnya mereka tidak melihat satupun serangga ditangan Raja, tapi saat melihat Olivia yang terlihat mati-matian untuk menutupi salahnya membuat mereka tidak tega.


"Begitu ya?" tanyanya lagi dengan dingin.


Olivia langsung mengangguk, Raja berdiri dari duduknya, "pelayan bereskan kekacauan ini dan aku sudah tidak ingin melanjutkan acara minum teh ini," ucapnya lalu berbalik pergi.


Olivia langsung bernafas dengan lega, untungnya Raja adalah tipe orang yang seperti itu, jadi dia tidak perlu mencari cara agar Raja tidak jadi meminum teh ini.


Para pelayan mendekati Olivia dengan kerutan didahi mereka, "Nona, kenapa anda melakukan hal seperti itu? Padahal tadikan tidak ada satupun serangga ditangan Raja," ucap salah satu dari mereka.


Olivia menatap mereka, "aku melakukan itu karena ada alasannya."


"Alasannya?" tanya mereka kompak.


"Alasannya rahasia, oh iya tolong kalian buang teh ini, dan jangan sampai ada orang lain yang meminumnya, mengerti?"


Mereka mengangguk dengan masih keadaan bingung, sementara itu di kejauhan sepasang mata terus menatap kearah Olivia dengan kesal, dia tidak menyangka bahwa calon Permaisuri itu menghancurkan rencananya, padahal tadi Raja sudah hampir meminumnya.


"Dasar pengganggu sialan!" gumamnya.


.


.


.


Hari itu, Olivia sedang jalan-jalan santai tanpa di temani oleh Oliver, katanya dia punya urusan mendadak yang mengharuskannya sampai minta izin pada Yang Mulia Raja untuk tidak menjaganya dulu. Raja juga tidak mencoba untuk mencari pengganti untuk menjaga Olivia, apa mungkin Raja sudah sangat percaya pada Oliver sampai tidak ingin menyuruh siapapun lagi selain dia untuk menjaganya?


Tiba-tiba ujung matanya menatap sosok pelayan yang diyakini seorang penyusup olehnya, Olivia langsung bersembunyi dan memperhatikannya, pelayan itu terlihat memegang botol kecil sambil melihat sekitarnya dengan gelisah, jelas sekali bahwa botol itu adalah botol racun.


Olivia jadi punya ide untuk mencuri botol itu darinya, karena kalau botolnya hilang dia harus mengambil cadangan keluar istana, dan selama itu dia bisa mencari ide lain untuk bisa memergokinya karena memiliki botol racun.


Pelayan itu pergi dari sana dan Olivia mengikutinya di belakang dengan perlahan, jangan sampai dia ketahuan sedang menguntit nya, ternyata pelayan itu masuk kedalam gudang anggur yang semalam, Olivia dengan sabar menunggu gadis itu keluar.


Setelah dia terlihat keluar dan menjauh dari gudang, Olivia segera memasuki gudang anggur itu untuk mencari botol racunnya, saat dia memasukinya terasa sangat lembab di dalam, dan benar saja gudang ini adalah gudang anggur, karena di mana-mana hanya ada sebuah tong yang Olivia yakin isinya adalah anggur.


Matanya terus mencari dimana keberadaan botol kecil itu, dan saat dia menemukan Olivia merasa sangat senang, namun kesenangannya seketika langsung pudar, karena botol itu tidak berisi cairan apapun, itu hanya botol kosong.


"Apa maksudnya ini? Perasaan tadi aku melihatnya memegang botol yang berisi," tanyanya pada diri sendiri.


Tiba-tiba saja pintu gudang tertutup, dan terdengar suara pintu yang mengunci, Olivia segera menghampiri pintu dengan gelisah, dan benar saja dugaannya, pintunya dikunci dari luar!


"Hei.. keluarkan aku dari sini!" teriak Olivia sambil memukul pintu berkali-kali.


"Hei.. jawablah aku! Siapa yang melakukannya!" teriaknya lagi dengan frustasi.


"Aku yang melakukannya Nona," ucap suara diluar.


Seketika tubuh Olivia menegang, dia tahu suara siapa ini, ini adalah suara pelayan jahat itu!


"Kau! Keluarkan aku dari sini sialan!"


"Maaf, saya tak bisa melakukannya, karena kalau saya membebaskan anda, anda hanya akan menjadi penghalang dalam misi ku untuk meracuni Yang Mulia Raja."


Gawat! Ini benar-benar gawat! Dia termakan jebakan penjahat ini, kalau begitu tidak ada orang lain yang bisa menyelamatkan Raja, meskipun Oliver tahu tentang penyusup, dia belum tahu niat penyusup itu untuk apa.


Sial! Dia melakukan kesalahan fatal!


"Nona pikir aku sebodoh itu ya?" tanya wanita itu.


"Maksudnya?" tanya Olivia bingung.


"Aku tentu tidak sebodoh yang Nona kira, saya sudah mendengar semuanya dari Jamie, bahwa anda sudah tahu siapa yang telah mengirim kami. Padahal Nona adalah orang baru di istana, apa Nona tahu bahwa Yang Mulia Raja sendiri tak pernah menyadari keberadaanku, bahkan dari semenjak Putri Abby masih hidup."


"Apa maksudmu?"


"Ouh apa Nona tidak tahu? Sebenarnya Putri Abby meninggal karena diracun olehku Nona," ucapnya terdengar lebih dingin.


Tubuh Olivia menegang, dia tak pernah tahu soal itu sebelumnya, karena di dalam buka tidak diceritakan hal yang sangat mendetail soal itu.


"Jadi.. saya akan melakukannya lagi kepada Yang Mulia Raja, dan kupastikan saat ini Raja benar-benar meminum racunnya, selamat tinggal Nona, semoga hari ini anda beruntung."


Setelah itu Olivia mendengar suara langkah kaki yang menjauh, dia terduduk dengan lemas dengan tubuh yang bergetar karena shock, dia juga sudah tak bisa melakukan apa-apa lagi, dia benar-benar terjebak di di sini, dan entah kenapa Olivia jadi sedikit berharap ada malaikat yang datang untuk membukakan pintunya.


.


.


.


To Be Continued