
.
.
.
Malam telah menyapa, hari sudah gelap dan rembulan pun dengan gagahnya menyinari langit dikala itu, seorang gadis menatap bulan lewat jendela kamarnya dengan pandangan kosong.
Sementara itu para pelayan dengan cekatan mendandani nya dengan cepat, karena Raja mereka sudah menunggu cukup lama di ruang makan.
Olivia pikir Raja Luke tak akan mau menemuinya lagi untuk beberapa waktu, memang saat waktunya jam makan siang Raja tak menyuruhnya untuk makan bersama, tapi saat ini pria itu sudah ingin bertemu dengannya lagi?
Sungguh Olivia tak menyadarinya sama sekali, dia pikir Raja sudah sangat membencinya, karena tatapan terakhir kali yang dia lontarkan padanya adalah tatapan penuh kebencian. Namun dia tak pernah menyangka Raja akan langsung menuruti keinginannya dan membebaskan pelayan kerajaan itu dari hukumannya.
Olivia jadi sedikit berfikir bahwa pria itu tidak sepenuhnya jahat seperti yang dia pikirkan selama ini, hanya saja tetap dia punya sifat kejam dan keji yang hanya di miliki oleh tokoh antagonis.
"Nona, aku dengar Yang Mulia Raja ingin mengajak anda berdansa seusai makan malam," ucap salah satu pelayan.
Olivia langsung menatap pelayan itu tak percaya, "berdansa?" batinnya.
"Tapi aku tak bisa berdansa! Memiliki seorang kekasih saja aku belum pernah," ucap batinnya dengan gelisah.
Sekarang apa yang harus dia lakukan, Olivia juga tidak mungkin langsung menolak tawaran Raja untuk berdansa, rasanya itu akan memperkeruh suasana diantara mereka berdua, jadi mau tidak mau Olivia harus menerima ajakannya.
Tapi kenapa harus berdansa? Apa tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain berdansa? Seperti misalnya berjalan keliling istana?
Tidak, itupun juga bukan hal yang bagus untuk nya, bayangkan saja mereka berdua keliling istana tanpa berbincang sama sekali, gadis itu bisa mengalami mati kutu selama berkeliling.
Olivia menghembuskan nafasnya berat, dia benar-benar harus menghadapi apapun yang ada di depannya, lagipula saat ini dia tidak bisa mundur, dia harus terus melangkah maju, setidaknya sampai cerita dongeng ini tamat. Setelah itu dia akan terbebas dari semua penderitaan ini.
Ya benar, dia harus bisa bertahan dengan segala cobaan yang akan menghadang jalannya nanti. Dia tidak boleh lemah, pokoknya dia harus kuat.
Olivia menatap pantulan cermin di depannya, meskipun sudah berkali-kali dia melihat wujud dari sosok wanita di depannya itu, tetap saja dia merasa jatuh cinta dengan sosok itu.
Mata biru langitnya yang indah, yang entah kenapa terasa lebih cerah dari pada mata aslinya yang dahulu, lalu rambut pirang panjang bergelombang nya yang menambah nilai plus pada penampilannya menambah kesan anggun yang begitu sempurna.
Rasanya dia ingin menemui gadis ini dengan sosok aslinya, kalau saja tubuh aslinya ada di sini mungkin saat mereka berdampingan akan terlihat seperti saudara kembar yang sangat mirip, yang membedakan mereka hanyalah jenis kelamin saja.
"Nona, kami sudah selesai mendandani anda, sekarang cepatlah pergi ke ruang makan, Raja sudah menunggu anda dari tadi," ucap salah satu pelayan yang terlihat lebih tua dari yang lain.
"Oh baiklah, terimakasih," ucap Olivia sambil tersenyum.
Setelah itu dia berjalan mendekati pintu, saat tangannya sudah memegang pegangan pintu tiba-tiba saja gagang pintu itu terasa berputar yang bukan dia yang memutarnya. Pintu pun terbuka dan menampakkan sosok pria bersurai putih, kedua iris mata berwarna gold itu menatap gadis di depannya dengan lembut.
Sedangkan Olivia menatapnya dengan kaget, kenapa pria ini datang ke kamar nya?
"Tuan Samuel?" panggil para pelayan di belakang Olivia.
"Mau apa kau datang kesini?" tanya Olivia sambil mengerut kan dahinya.
"Aku hanya ingin memperingati mu," ucapnya.
"Hah?"
Samuel langsung menyambar tangan gadis itu dan membawanya pergi dari sana, "Hei! Kau mau membawaku kemana?" ucap Olivia sambil memberontak berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Samuel.
"Diam dan ikuti saja!" bentak pria itu.
Olivia langsung bungkam dan tidak memberontak lagi, ini adalah pertama kalinya Samuel membentak nya seperti itu, hatinya sungguh gelisah, dia merasa pusing karena saat ini dia seharusnya segera bergegas ke ruang makan, kalau tidak dia akan mendapat masalah lagi.
"Arghhh.. kenapa hidupku disini begitu rumit!" teriaknya dalam hati.
Tunggu dulu, rasanya ini adalah jalan menuju ke ruang makan, dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, dan kenapa Samuel terlihat begitu marah? Apa yang telah membuatnya jadi seperti itu?
Samuel melambatkan jalannya, lalu dia berbalik dan menatap kembali Olivia, mereka berdua saling menatap lalu Samuel mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya. Ia berikan benda itu pada Olivia tanpa terlihat ekspresi berarti di mukanya.
"Ini.. apa maksudnya kau memberikan benda ini padaku?" tanya Olivia dengan takut.
"Dengar Nona, anda tidak boleh sepenuhnya mempercayai Yang Mulia Raja, karena dia bisa dengan mudah menusuk anda dari belakang," ucapnya dengan tatapan mata yang serius, "maka dari itu anda harus berhati-hati dan waspada, pakailah benda ini kalau sampai terjadi sesuatu yang mengancam nyawa anda," ucapnya lagi.
Olivia menatap benda di tangannya itu dengan gugup, dia tidak mengerti kenapa Samuel beranggapan bahwa Raja seakan-akan ingin membunuhnya? Entahlah dia tidak tau, tapi yang jelas dia harus membawa belati itu bersamanya mulai sekarang, kira-kira itulah yang diinginkan Samuel.
"Oke baiklah," ucap Olivia sambil memasukkan belati itu ke dalam saku bajunya.
Olivia pun meninggalkan Samuel yang masih berdiri menatapnya dengan khawatir, tapi gadis itu yakin tak akan terjadi sesuatu yang berbahaya padanya.
Karena seingatnya didalam cerita tidak dijelaskan bahwa Raja ingin membunuhnya, malahan Raja sangat mencintai Olivia lebih dari apapun.
Sampai di ruang makan Olivia langsung disambut dengan tatapan tajam yang begitu dingin, sangat dingin sampai dia sendiri tak kuat berlama-lama menatap mata itu.
"Duduklah," ucap Raja Luke dingin.
Olivia langsung mendudukkan dirinya di kursi yang bersebrangan dengan Raja, tidak lama para pelayan datang dan langsung menyajikan masakan diatas meja makan.
Mereka berdua pun makan dengan keheningan yang sangat mencekam, bahkan lebih mengerikan dari pada sebelumnya, kalau Olivia tahu acara makan malamnya akan seperti ini, dia lebih memilih untuk makan malam langsung dari dapur kerajaan seperti saat pagi hari.
Keadaan ini membuatnya sangat menderita, suasana atmosfir yang begitu mencekik ditambah tatapan tajam yang sedang Raja Luke lontarkan padanya membuat Olivia rasanya tidak bisa bernapas di udara yang begitu menyesakkan ini, dia berharap waktu cepat berlalu dan dia bisa kembali lagi ke kamarnya untuk tidur diatas kasur yang empuk.
Tapi malam ini masih sangat panjang, dia masih harus menghadapi satu tantangan lagi, yaitu berdansa dengan Raja.
"Semoga saja Raja membatalkan dansa itu," harapnya didalam hati.
Sungguh Olivia tidak tahu harus mengatakan apa kalau Raja benar-benar mengajaknya berdansa, dia tak pernah mempunyai pengalaman berdansa sama sekali, mungkin dia hanya pernah melihat film yang memperlihatkan tokoh utamanya berdansa, seperti Beuty and The Beast misalnya.
.
.
.
"Lepas sepatu mu," perintah Raja pada Olivia.
Olivia dengan patuh melepaskan sepatunya, kulit kakinya segera bersentuhan dengan lantai batu marmer yang dingin, saat ini mereka berdua sedang berada di balkon kerajaan untuk mulai berdansa dengan di iringi musik alam.
Cahaya bulan menjadi penerang yang juga menambah kesan romantis diantara mereka berdua saat ini, namun Olivia tidak sedikitpun berfikir hal seperti itu, dia hanya sedang merasa kesal karena Raja memaksanya untuk berdansa, padahal dia sudah berkali-kali menolaknya.
Jadilah saat ini dia berakhir di balkon kerajaan bersama Raja Luke.
"Injak kakiku," perintahnya lagi.
Tangan kiri Raja melingkari pinggang Olivia yang ramping, dia mendekap Olivia dengan erat sampai badan mereka berdua menempel dan tidak memberikan ruang sama sekali.
Jantung Olivia tiba-tiba saja berdetak dengan kencang, ini adalah pertama kalinya dia dipeluk sangat erat oleh seseorang, seumur hidupnya hanya satu orang yang pernah memeluknya dengan erat, yaitu Neneknya.
Raja Luke mulai melangkahkan kakinya kesamping dengan perlahan, dan mereka pun mulai berdansa dengan gerakan yang lembut.
"Olivia, apa ini pertama kalinya kau berdansa dengan seseorang?" tanya Raja.
Olivia mengangguk dengan perlahan, dia menatap lurus kearah dada Raja Luke, hatinya masih tak nyaman bila bertatapan dengan mata tajam dingin yang dimiliki pria ini.
"Pantas saja kau tidak menatap ku dari tadi,"
"Ehhh?"
Apa dia harus melakukan itu?
Dengan perlahan Olivia mengangkat wajahnya, dan dia langsung bisa melihat bola mata berwarna biru muda yang begitu dingin sedang menatapnya, pantulan cahaya bulan pada dua iris mata itu menambah kesan menyeramkan di tatapannya.
"Begitu lebih baik," ucapnya.
Suara pepohonan yang ditabrak oleh angin malam menemani dansa mereka, keduanya terdiam dengan masih saling menatap, mereka berdua tenggelam dengan pikirannya masing-masing.
Olivia tiba-tiba saja mempunyai niatan untuk memulai perbincangan, "Yang Mulia, apa anda sebelumnya pernah berhubungan dengan seorang wanita?" tanya Olivia.
Sebenarnya dia sudah tahu bahwa Raja belum pernah memiliki kekasih sebelumnya, Olivia hanya ingin mencairkan suasana yang begitu kaku, dia benar-benar tidak tahan dengan kebisuan diantara mereka berdua.
"Belum pernah," jawabnya, "Bagaimana denganmu?"
"Aku pun juga sama Yang Mulia, anda adalah orang pertama dan terakhir bagiku."
Bukan tanpa alasan Olivia mengatakan itu, dia hanya sedang berusaha menyentuh hati Raja yang begitu dingin bagai bongkahan es, sangat keras dan tak mudah mencair begitu saja.
Raja Luke terdiam mendengar jawaban Olivia, dia tidak bisa mempercayai omongan Olivia sepenuhnya, dia sudah terlanjur membenci gadis itu yang membuatnya tak ingin percaya apa saja yang keluar dari mulutnya itu.
Pria itu menghentikan dansa nya yang membuat Olivia bingung, "cukup sampai disini saja kakiku sakit," ucapnya.
Olivia langsung turun dari atas kaki Raja dan kembali menyambut dingin di kakinya, "tunggu lah aku di sini, aku akan kembali secepatnya," ucap Raja yang langsung meninggalkan Olivia sendirian di balkon kerajaan.
"Memangnya dia mau apa?" gumam Olivia dengan sebal.
Padahal dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kasurnya yang hangat, tapi Raja malah menyuruhnya untuk menunggu di balkon yang dingin ini?
"Sungguh menyebalkan pria itu," gumamnya lagi dengan cemberut.
Olivia tidak langsung memakai sepatu nya, dia malah berjalan mendekati pembatas untuk bisa melihat ke bawah di mana taman bunga bisa dia lihat dengan jelas, balkon ini berada di lantai dua, dan Olivia pikir mungkin ini cukup tinggi.
Tiba-tiba saja Olivia teringat dengan Neneknya, dia sungguh merindukan sosok lemah lembut itu, dia ingin sekali memeluknya saat ini, tapi bahkan dia sendiri pun sedikit kesusahan untuk melalui ini semua, hatinya masih tidak rela dia berada di sini. Kenapa ini semua harus terjadi pada hidupnya?
"Olivia," panggil Raja dari belakang nya.
Olivia langsung berbalik badan, namun sebuah tangan mendorongnya dengan keras, tubuhnya oleng kebelakang dimana pembatas balkon berada, Olivia sudah tak bisa menghentikan tubuhnya untuk tidak terjatuh, namun dia sebisa mungkin menggapai apapun yang ada di dekatnya.
Tanpa dia sadari dia menarik tangan Raja Luke dan membawanya ikut jatuh ke tanah, namun sebelum mencapai tanah Raja mendekap nya dengan sangat erat memberikan pelindungan pada Olivia sebisanya.
Tubuh mereka berdua menabrak dahan-dahan pohon yang berada tepat di bawah balkon sampai mereka terjatuh ke atas tanah yang keras.
SRAAAKKK...
SRAAKK..
BRUUUKK..
Olivia meringis kesakitan, dia bisa merasakan kakinya sangat sakit, pasti tadi terbentur salah satu dahan pohon, matanya perlahan membuka dan dia bisa melihat Raja Luke berada di bawahnya.
Dia kaget melihat tubuh Raja yang tertindih oleh badannya, apa barusan dia menolongnya? Kejadian tadi terasa begitu cepat sampai dia belum sempat mencerna semuanya.
Raja meringis dan membuka matanya, tatapannya terlihat lemah dari pada sebelumnya, itu membuat Olivia sangat khawatir, dia tidak ingin Raja terluka berat karenanya.
"Yang Mulia, apa anda baik-baik saja?" tanya Olivia khawatir.
"Menyingkir dari atas tubuhku, kau berat," ucapnya.
Olivia lupa dia masih berada di atas tubuhnya, dengan segera dia menyingkir dari atas tubuh Raja, dan kakinya tidak sengaja bersentuhan dengan kaki pria itu.
"Aww.." ringisnya pelan.
Raja pun duduk dan langsung menatap kearah gadis itu, "apa kau terluka?" tanya Raja.
"Ahh.. sepertinya kakiku terbentur cukup keras dengan salah satu batang pohon tadi," ucapnya sambil mengelus pergelangan kakinya yang terasa nyeri.
Kedua tangan pria itu langsung menyambar tubuh Olivia dan mengangkatnya seperti pengantin baru.
"Wuahh.." jerit nya dengan kaget.
"Jangan berisik, ini sudah malam," ucapnya dingin.
Saat dia mulai melangkahkan kakinya, dia langsung meringis dengan kencang, ternyata dia pun mendapat luka yang sama seperti Olivia, kaki kirinya terasa begitu nyeri saat di gerakkan.
"Yang Mulia, anda tidak apa-apa?" tanya Olivia khawatir.
"Aku tidak apa-apa," jawabnya.
Diapun kembali melangkahkan kakinya dan tak mempedulikan rasa sakit yang begitu menyakitkan, rasanya seperti ada yang menusuk nya dengan pisau, Raja berjalan dengan sedikit pincang, mukanya terlihat jelas bahwa dia sedang menahan sakit.
"Yang Mulia, jangan paksakan diri anda, aku bisa berjalan sendiri," ucap Olivia yang merasa kasian melihat muka Raja yang terlihat menahan sakit.
"Diamlah! Ini semua salahku, jadi biarkan aku membayar perbuatanku," ucapnya dengan tegas.
Olivia menatapnya dengan bingung, memang apa yang sudah Raja lakukan sampai dia harus bertanggung jawab seperti ini?
.
.
.
To Be Continued