I am Not a Girl

I am Not a Girl
Chapter 30



.


.


.


.


.


Mata biru yang biasanya selalu terlihat tajam dan menusuk itu kini telah berubah, kedua iris matanya layu bagaikan bunga yang sudah lama tidak disirami air, sangat rapuh dan kering.


Orang-orang yang sedari tadi melihat kearahnya pun dibuat mengerti dengan perasaan yang sedang dia rasakan saat ini.


"Aku tidak menyangka, Nona Olivia sudah benar-benar mempengaruhi hati Yang Mulia Raja sedalam itu," ucap Samuel.


"Aku pun juga tidak menyadarinya," ucap Aiden.


"Tuan Aiden," panggil pelan Oliver dari arah belakang mereka berdua.


"Ada apa?"


"Sepertinya waktu kita istirahat sudah cukup lama, bagaimana kalau Anda mengatakan pada Yang Mulia Raja untuk kembali melanjutkan pencarian?"


"Baiklah," dengan segera Aiden mendekati Yang Mulia Raja dan berbicara padanya.


Setelah itu Luke berdiri, diapun menatap kearah orang-orang yang kini hanya tersisa sedikit. Luke memang sengaja tidak membawa banyak kesatria atau prajurit kepercayaannya, karena dia yakin hal itu tidak terlalu di perlukan.


Sedangkan Aiden, dia sendiri yang memaksa untuk bisa mendampingi yang mulia Raja sampai ke sini. Meskipun dia bukan lah seorang kesatria, namun kemampuannya dalam berpedang tidak bisa diremehkan.


"Ayo kita lanjutkan pencarian.." ucap Luke lemas.


Semua orang disana mengerutkan dahinya, karena suara Luke terdengar tidak seperti biasanya.


"Yang Mulia, apa anda tidak apa-apa?" tanya Samuel dengan khawatir.


Saat Luke hendak berbalik, tubuhnya langsung oleng dan ambruk ke tanah. Semua orang di sana dibuat shock dengan apa yang terjadi. Aiden dengan cepat menghampiri tubuh Luke yang sudah tergeletak lemas.


"Yang Mulia!" panggil Aiden sambil memangku kepala Luke.


Saat tangannya menyentuh dahi Raja, dia langsung kaget, karena bukan panas yang dia rasakan di tangannya, melainkan dingin bagaikan es.


"Bagaimana bisa?"


"Aiden, bagaimana keadaan Yang Mulia?" tanya Samuel yang menghampiri di ikuti Oliver di belakangnya.


Raut muka Aiden yang terlihat bingung sekaligus gelisah terpatri jelas di wajahnya. Samuel dan Oliver yang melihatnya langsung tahu bahwa ada yang tidak beres dengan Yang Mulia Raja.


"Tuan Aiden?" panggil Oliver.


Aiden terdiam sejenak, "Yang Mulia Raja, tubuhnya sangat dingin, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya," ucap Aiden.


"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" ucap salah seorang pemuda.


"Apakah mungkin Yang Mulia Raja adalah suku terakhir An Uisge?" gumam seorang pria paruh baya yang sebelumnya memberitahukan asal muasal jebakan yang berada di lembah Zivlis.


Tiba-tiba seseorang muncul dari balik semak-semak, pakaiannya terlihat sedikit lusuh dan compang-camping, namun raut mukanya mengatakan dia bahagia meskipun keadaannya sangat memprihatinkan. Darah masih meluncur mulus di keningnya dan mengotori rambut coklatnya yang mengkilap.


Oliver menatap pria itu dengan tidak percaya, sedangkan tatapan orang lain merasa ngeri karena banyaknya luka ditubuh pria itu.


"Siapa kau?" tanya Aiden penuh dengan waspada, karena selama ini mereka belum pernah menemui satu orang pun di lembah Zivlis ini.


Orang itu tidak menjawab pertanyaan Aiden, "sepertinya aku terlambat," gumamnya sambil menatap kearah Luke.


Mulut Oliver yang sedari tadi menganga karena melihat pria itu akhirnya bersuara, "apa.. apa yang kau lakukan disini Alex?" tanyanya sedikit keras.


Tatapan Alexander berpindah menatap Oliver, "oh Oliver? Sudah lama kita tak berjumpa sobat!" sapa Alex sambil melambaikan tangan kearah Oliver.


Semua orang menatap kearah Oliver dengan penasaran. Mengerti dengan keadaan itu akhirnya Oliver menjelaskan bahwa sebenarnya pria itu bernama Alexander, dia adalah seorang pengembara yang Olivia kenal di kota.


"Jadi Nona Olivia juga mengenal pria ini?" tanya Samuel.


Oliver mengangguk, "sudah berapa lama kalian kenal?" tanya Samuel pada Alex.


"Mungkin sekitar 2 bulan?"


"2 bulan?"


Itu artinya Olivia mengenal Alex sama lamanya dia tinggal di Kerajaan.


"Lalu apa yang kau lakukan disini?" tanya Aiden.


Alex menatap kearah Aiden dengan bola mata emerald nya yang berkilau, "tak ada waktu untuk menjelaskannya perajurit, sekarang kita harus membawa Raja kalian ke suatu tempat, jika kalian ingin dia selamat."


"Apa maksud mu? Sebenarnya siapa kau? Apa yang kau ketahui tentang keadaan Raja kami?" tanya Aiden penuh selidik.


Kali ini Alex menatap Aiden dengan tajam, "sudah kubilang tak ada waktu untuk menjelaskannya, apa itu kurang jelas?" ucapnya lebih dingin.


Aiden langsung bungkam, terlebih tatapan Alex yang tajam menandakan dia sedang tidak main-main. Dengan segera Aiden menggendong Luke di punggungnya.


"Aiden, apa kau yakin kita harus mengikuti pria itu?" tanya Samuel dengan cemas.


"Tak perlu se cemas itu Samuel, lagi pula pria itu kenalan Nona Olivia bukan? Mungkin kita bisa percaya sedikit padanya..." Aiden mendekatkan mulutnya ke telinga Samuel lalu berbisik, "tapi aku ingin kau terus memperhatikannya, dan berjaga-jaga kalau saja dia melakukan sesuatu yang berbahaya.."


Dengan pelan dia pun mengangguk, tanda mengerti dengan perintah yang Aiden berikan.


.


.


.


.


.


Sudah cukup lama Olivia terjebak di dalam rumah Levin, dan dia tidak tahu kapan akan ada kesempatan untuk bisa kabur dari sini. Meskipun begitu dia tak pantang menyerah, dan terus berusaha mencari celah.


"Nona Olivia?" panggil Emilia dari arah luar kamar.


"Ya? Ada apa Emilia?" tanya Olivia.


"Sekarang waktunya makan malam, Tuan Levin sudah menunggu di meja makan."


Olivia menelan ludahnya setiap dia akan berhadapan dengan pria itu. Pria yang bahkan tak menunjukkan rasa kasihan padanya sedikitpun.


Olivia menghembuskan nafas beratnya, "aku akan ke sana, tunggulah sebentar."


"Baik Nona."


Setelah itu Olivia bangkit dari duduk dan membukakan pintu kamar, sesosok wanita transparan pun muncul di hadapannya dan tersenyum lembut kearahnya.


Itulah Emilia, wanita berambut coklat pendek bergelombang yang cantik, bola mata hazel nya yang bening menatap ke arah Olivia, sampai Olivia pikir dia bisa bercermin di antara kedua mata itu.


"Kalau saja dia masih hidup, mungkin dia terlihat lebih cantik dari yang sekarang," ujar Olivia dalam hati.


Sangat di sayangkan memang, namun apa daya, Emilia sudah hidup bahkan ribuan tahun yang lalu sebelum Olivia lahir.


"EMILIA!!" teriak Levin dari arah ruang makan yang membuat kedua gadis itu langsung bergidik ngeri.


Kalau Levin sudah berteriak seperti itu, artinya dia sudah mulai marah.


"No.. Nona, cepatlah pergi, Tuan Levin bisa benar-benar marah kali ini," ucap Emilia dengan ketakutan.


Olivia hanya bisa mengangguk sebagai jawaban, dan dengan segera dia berlari ke arah ruang makan dimana Levin berada saat ini.


"Aku sangat bosan mengatakannya, tapi sungguh, pria itu bahkan lebih mengerikan dari pada malaikat pencabut nyawa!" batin Olivia berteriak.


.


.


.


.


.


To Be Continued


.


.


.


Hai Readers ku sekalian..


Maaf kalau author lama up nya, banyak banget yg author pikirin di dunia nyata, yg ngebuat saya gak fokus ke novel :'v


Dan yg lebih parahnya lagi, saya meluapkan emosi itu ke dalam game, sumpah author kali ini emang harus di hajar :"v


Tapi syukurnya, ada satu readers setia yg komentar..


"Mohon Thor jangan hiatus dlu.. kami masih ingin lanjut bacanya"


Di situ saya langsung ngerasa bersalah


(╥ω╥`)


Saya itu emang author yg tidak bertanggung jawab, maaf ya readers kalau saya mengabaikan novel ini.


Dan untuk permintaan maaf saya, saya akan up novel ini semaksimal mungkin..


Untuk kali ini saja..


Gak tau kalo nanti..


(auto di keroyok readers)


Jadi sekian pesan author kali ini, dan semoga kalian gak bosan untuk menunggu novel ini up :'v


see you~