
.
.
.
Suara langkah kaki yang berirama terdengar bergema di sepanjang koridor dingin dan gelap, sosok pria bersurai hitam pemilik mata biru muda itu baru saja menyelesaikan makan malamnya yang membosankan seperti biasa, dan setiap dia sudah tak berhadapan dengan gadis itu, rasa bencinya kembali muncul di dalam hatinya.
Dia tahu, gadis itu tak mempunyai salah apapun, hanya saja kalau dibiarkan terus menerus seperti ini, secara perlahan dia bisa tunduk olehnya, dan tentu saja hal itu tak akan pernah dia biarkan begitu saja.
Tubuhnya mulai merasakan linu lagi, hari ini pekerjaannya sangat banyak, sampai dia tak punya waktu untuk beristirahat tadi siang, saat ini dia hanya ingin sampai dikamarnya dengan cepat, dan mengistirahatkan punggungnya yang pegal.
Matanya sudah bisa melihat pintu kamarnya dari kejauhan, namun suara para prajurit yang berlari mencuri perhatiannya, dia langsung mengurungkan niatnya untuk pergi kekamar dan mencari tahu apa yang sedang terjadi.
"Ayo cepat! Penyusup itu ada di bagian barat istana!" teriak salah satu prajurit.
"Barat istana?" batinnya sedikit kaget.
Bagian barat istana adalah di mana kamar Olivia berada, lebih tepatnya bagian barat hanya di khususkan untuk para tamu istana yang ingin bermalam.
Suara langkah kaki mereka kian menjauh dari telinga Raja, dan suara langkah kaki baru terdengar berasal dari belakangnya.
"Yang Mulia?" panggil orang itu.
Luke menoleh dan menemukan sosok pria bersurai coklat yang sangat ia kenal, "Peter?" panggilnya.
"Apa keributan ini mengganggu tidur anda?" tanyanya.
"Tidak, aku bahkan belum sampai di kamarku."
"Oh, kalau begitu, anda sebaiknya segera bergegas untuk tidur, karena saya bisa melihat mata anda terlihat lelah."
"Oh benarkah? Sebelumnya tidak ada yang menyadari hal itu."
Peter tersenyum, "kalau begitu selamat malam Yang Mulia, semoga tidur anda nyenyak."
"Yah.. tentu, tapi sebelum aku pergi tidur, aku ingin tahu apa yang diinginkan penyusup itu, apa dia ingin mencuri uang?"
"Saya belum tahu pasti dengan hal itu Yang Mulia."
Tiba-tiba salah satu prajurit mendekati mereka sambil berlari, "Yang Mulia!" panggilnya.
"Ada apa?"
Prajurit itu sampai di depan mereka dan langsung membungkukkan badannya, nafasnya masih memburu dan dia berusaha untuk menjelaskan situasinya.
"Ada penyusup... dan... dia ternyata adalah... seorang pembunuh bayaran..." ucapnya yang masih mencoba menetralkan nafasnya.
"Pembunuh bayaran?" tanya Peter.
"Betul sekali Panglima."
"Kalau dia memang seorang pembunuh bayaran, siapa yang dia incar?" tanya Peter lagi.
"Dia.. dia mengincar calon Permaisuri... "
Setelah mendengarnya, Raja maupun Peter terlihat sangat kaget, mereka hanya tidak menyangka bahwa calon Permaisuri sudah ada yang mengincar nyawanya.
"Tunjukan Jalannya!" ucap Raja dengan tegas, "cepat!" teriaknya.
"Ahh.. ba.. baik!"
Prajurit itu langsung berlari untuk menunjukkan jalannya.
Sementara itu Olivia sedang duduk sambil menyandarkan dirinya ke tembok yang dingin, dia mulai merasakan rasa sakit di perutnya yang habis terkena tendangan pria jahat itu. Bibir dan pipi kirinya pun mulai terasa perih, padahal sebelumnya semua rasa sakit itu tak dia rasakan, tangan kanannya yang di pakai memukul terasa bergetar dan sulit untuk berhenti.
Dia sudah menduga semua ini akan terjadi, tubuh wanita ini terlalu lemah untuk dipakai berkelahi, dan Olivia hanya bermodalkan keahliannya saja untuk bisa bertarung. Apa mungkin dirinya harus mulai kembali berlatih seperti dulu?
Karena yang dia butuhkan hanyalah kekuatan, dan tentu saja sekalian membuatnya bisa terbiasa dengan tubuh wanitaini, ada hal yang paling membuatnya kesal tadi, itu adalah saat dimana dia berlari mengejar pria itu, kakinya terasa sangat lemas, jelas sekali bahwa wanita ini sebelumnya tidak pernah berlari sekencang dirinya tadi.
"Sepertinya mulai besok aku harus berolahraga."
"Kau.." ucap pria jahat itu menggantung.
Olivia menatap kearah pria yang saat ini kedua tangannya di ikat di belakang, dia menundukkan kepalanya, terlihat sangat pasrah sekali dengan apapun yang akan menantinya nanti.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Olivia.
Para prajurit yang berada di sana memandang kearah mereka berdua dengan dengan pandangan bingung.
"Sebenarnya siapa kau?" tanya pria itu.
"Siapa aku katamu?" ucap Olivia dengan pandangan remeh, "tentu saja aku adalah Olivia Taylor!"
Pria itu membalas tatapan Olivia dengan tajam, dia yakin bahwa gadis ini bukanlah gadis biasa, karena mana mungkin dia tahu siapa orang yang mengutusnya sedangkan dia baru pertama kali bertemu dengannya.
"Apa kau seorang penyihir?"
Para prajurit yang mendengarnya langsung menatap Olivia dengan kaget.
"Humm.. penyihir? apa aku terlihat seperti itu?"
"Kau.. "
"Yang Mulia Raja datang!" potong prajurit yang terlihat berlari kearah mereka.
Semua mata menatap sosok pria bersurai hitam dan satu pria lagi yang berada di sampingnya, Panglima Peter Sutton.
"Dimana Olivia?" tanya Raja sedikit berteriak.
Merasa namanya di panggil, Olivia langsung berdiri sambil memegang perutnya yang masih terasa sakit.
"Saya disini Yang Mulia," jawab Olivia.
Mata Raja langsung menangkap sosok gadis yang terlihat sedang menahan sakit, dan saat matanya terpaku dengan luka lebam di pipinya yang berwarna biru entah kenapa dia langsung merasa sangat marah.
Raja langsung menghampiri pria yang saat ini sedang bersimpuh tak berdaya diantara para prajurit, tangannya menarik pedang milik salah satu prajurit nya dan langsung dia ayunkan kearah leher pria itu. Namun Raja menghentikan ayunan nya tepat di dekat leher si pria.
Semua orang disana kaget dengan tindakan Raja yang begitu cepat, dan tatapan tajam penuh dengan kebencian kembali terlihat jelas di kedua matanya, padahal orang di istana sudah merasa lega karena tatapan itu tidak Raja lontarkan lagi akhir akhir ini.
Namun Raja Luke tetaplah Raja Luke yang berdarah dingin, hal itu tidak mungkin bisa hilang hanya dengan waktu satu minggu, butuh waktu yang cukup lama untuk membuat batu es di dalam hatinya mencair sepenuhnya.
"Katakan siapa yang mengutusmu!" tanya Raja dengan suara yang begitu dingin sampai membuat orang yang mendengar suaranya dibuat takut.
"Tak mau menjawab ya?"
Mata pria itu menatap kearah Olivia, karena gadis itu sudah tahu siapa yang mengirimnya, tapi kenapa dia tetap diam dan tak memberitahu Raja?
Raja yang sadar dengan arah tatapan pria itu sedang mengarah ke Olivia langsung melukai mata kirinya dengan pedang.
"ARGGHHH.." teriaknya kesakitan.
"Kearah mana tatapan mu tadi hah?" tanya Raja dengan sangat dingin.
Pria itu menatap kearah Raja dengan mata kanannya, karena kelopak mata kirinya tak bisa terbuka dengan baik.
"Kalau kau tetap tak mau menjawab ku, setidaknya jawab pertanyaan ku yang satu ini. Tangan yang mana yang kau pakai untuk memukul gadis ku?"
Pria itu tetap diam, entah kenapa dia tak ingin menjawab semua pertanyaan yang keluar dari mulut Raja,
"Masih tak mau menjawab? Baiklah kalau begitu, kau!" ucap Raja sambil menunjuk salah satu Prajurit nya yang berdiri tidak jauh dengan pria itu, "lepaskan talinya, dan posisikan kedua tangannya untuk aku potong."
Pria itu terlihat kaget, ternyata rumor tentang Raja yang memang seorang pria berdarah dingin itu benar-benar nyata dan asli. Sekarang dia hanya bisa pasrah dengan apapun yang akan menimpanya sebentar lagi.
Kedua tangannya sudah di posisi untuk bisa dipotong sesuai perintah Raja Luke, semua orang di sana terlihat sangat ngeri saat Raja sudah menyiapkan pedangnya untuk memotong kedua tangan penjahat itu.
Saat Raja mengangkat pedangnya, Olivia merasa tidak tega melihatnya, yang akhirnya untuk kedua kalinya dia memberhentikan aksi Raja.
"Berhenti Yang Mulia!" teriak Olivia dengan histeris.
Raja menatapnya dengan tajam, padahal dia sudah sangat tidak sabar untuk memotong tangan penjahat ini.
"Ada apa?" tanya Raja yang terdengar begitu dingin.
"A.. anu.. pria itu.. dia.. memakai tangan kirinya untuk memukul ku," ucap Olivia dengan takut.
Olivia berbohong pada Raja, karena sebenarnya penjahat itu memakai tangan kanannya untuk memukulnya sampai seperti ini, dia hanya merasa sangat kasihan padanya, karena kalau sampai kedua tangannya menghilang, dia akan menjadi cacat seumur hidupnya, dan Olivia tidak menginginkan hal itu terjadi.
Membuat orang menderita dengan sisa hidupnya itu sangat lah kejam, kalau memang ingin di perlakukan seperti itu lebih baik kalau sekalian dibunuh saja, daripada membuatnya jadi menderita.
"Tangan kiri?" tanya Raja dengan raut mukanya yang bingung.
Olivia mengangguk dengan cepat, sedangkan pria itu juga kaget dengan apa yang dikatakan Olivia, karena yang benar adalah dia memakai tangan kanan untuk memukulnya. Sebenarnya apa yang gadis itu inginkan? Kenapa dia seakan baru saja mengasihani hidupnya? Dan dia juga sungguh bodoh untuk mengatakan semua itu, sudah sangat jelas dia mempunyai luka di pipi kiri bukan pipi kanan, jadi mana mungkin Raja percaya begitu saja dengan kata-kata nya.
"Baiklah kalau begitu, Prajurit! siapkan tangan kirinya untuk aku potong," ucap Raja yang membuat pria itu tak percaya.
Bagaimana mungkin Raja bisa langsung percaya dengan apa yang baru saja diucapkan gadis itu?
Saat tangan kirinya sudah disiapkan, dengan cepat Raja memotong tangan kiri si pria tanpa terlihat ekspresi apapun di mukanya.
"ARGGHHH..." teriak pria itu lagi.
Tangannya sudah terpotong dengan sempurna, dan darah keluar dari tangannya dan membasahi lantai.
Olivia yang melihatnya dibuat sangat ngeri, karena dia seperti sedang menonton sebuah adegan yang dilakukan oleh seorang psikopat, dia jadi yakin Raja memang memiliki sifat seperti ini didalam dirinya.
Raja mendekatkan mukanya ke pria itu, " dari awal aku sudah tahu bahwa kau memakai tangan kananmu untuk memukul calon Permaisuri ku," ucapnya sambil berbisik, "jadi kau harus berterimakasih padanya karena dia telah mengasihani hidupmu, agar kau tidak akan benar-benar cacat seumur hidup."
Tubuh pria itu menegang, jadi dari awal Raja sudah sadar kalau dia memakai tangan kanannya? Lalu kenapa dia menuruti apa yang dikatakan gadis itu? Mungkinkah Raja sudah ditaklukkan olehnya?
Untuk terakhir kalinya Raja melontarkan tatapan tajam yang menusuk kearahnya, dan setelah itu berbalik menjauhinya.
"Penjarakan dia di penjara bawah tanah!" perintah Raja dengan tegas.
"Baik!"
Setelah itu para Prajurit membawanya pergi dari sana untuk di penjara, Raja memberikan pedangnya kembali ke sangat pemilik aslinya, "ini pedang mu, terimakasih," ucap Raja pada Prajuritnya itu.
Dia langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat, tangannya terlihat bergetar memegang pedangnya itu. Mungkin ini pertama kalinya dia melihat kelakuan keji Rajanya itu.
Raja menghampiri Olivia yang masih berdiri diam menatapnya dengan raut muka yang sangat dia kenal, gadis ini kembali takut terhadapnya seperti saat pertama kali mereka bertemu dimana Raja memenggal kepala orang di depan matanya.
Saat mereka sudah saling berhadapan, tak terdengar satupun suara, mereka berdua hanya terdiam sambil menatap satu sama lain, tak disangka Raja menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipi Olivia yang lebam.
Dia mengelus nya dengan perlahan, dan gadis itu terdengar meringis pelan saat tangannya menyentuh bagian yang berwarna biru, Raja juga bisa melihat ada darah yang mengering di ujung bibirnya.
Sungguh dia sebenarnya tidak mengerti, kenapa dia bisa begitu sangat marah saat melihat keadaan Olivia yang seperti ini, apakah dia sudah mulai peduli dengan gadis menyebalkan ini?
Raja berhenti mengelus pipinya dan berjalan menjauhi Olivia, "Peter, suruh tabib untuk mengobati lukanya," ucapnya yang sudah berjalan menjauh.
"Baik Yang Mulia," jawab Peter.
Setelah sosok Raja sudah tak terlihat, Peter mengantar Olivia ke kamarnya, dan para tabib pun dipanggil untuk mengobati lukanya. Sebenarnya ini bukanlah luka besar yang perlu dikhawatirkan, diakan hanya mengalami luka lebam saja, bukan luka tusukan atau sayatan pisau, tapi ya sudahlah, Olivia hanya bisa menerimanya saat para tabib mengobati lukanya.
"Apa sekarang anda sudah lebih baik Nona?" tanya Peter saat para tabib sudah selesai mengobatinya.
Olivia mengangguk, "terimakasih sudah mau mengantarku. Oh ya, namamu Peterkan?" tanya Olivia.
Peter mengangguk, "ya benar Nona."
Olivia ingat Peter Sutton adalah seorang Panglima kerajaan yang sangat setia pada Raja, mungkin saat kudeta sebentar lagi akan terjadi, dia bisa minta tolong pada pria ini.
"Hmm.. Peter, kalau boleh tahu, setiap hari kau ada dimana? Kenapa aku jarang sekali melihatmu?" tanya Olivia.
Peter kembali tersenyum, "saya biasanya berada di bagian selatan kerajaan Nona, karena disanalah tempat kami para Prajurit dan Kesatria tinggal, disana juga lah kami berlatih bertarung."
Olivia belum pernah datang kesana, jujur saja bahwa kerajaan ini begitu besar dan luas, membutuhkan waktu beberapa hari untuk bisa membuatnya tahu seluk beluk semua tempat, ruangan, dan gedung di istana.
"Terdengar menarik, apa akupun boleh pergi kesana Peter?" tanya Olivia penuh harap.
Peter menatapnya dengan ekspresi bingung, "emm.. mungkin Nona bisa pergi kesana kalau sudah izin terlebih dahulu pada Yang Mulia Raja."
Muka Olivia jadi terlihat suram saat mendengar jawabannya, dia sungguh merasa tak sanggup untuk berhadapan dengan manusia berdarah dingin itu lagi, dia benci harus mengatakan ini, tapi Olivia sangat takut terhadap Raja yang sudah kembali ke mode iblisnya lagi.
Mungkinkah dia harus melakukan sesuatu lagi yang dapat meluluhkan hati sang Raja yang keras? Tapi apa yang harus dia lakukan, Olivia bingung, namun hal itu harus dia cari besok.
"Ya, aku harus bisa meluluhkan hatinya lagi, agar dia tidak menatapku dengan tatapan mengerikan."
.
.
.
To Be Continued