
.
.
.
Luke terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ketukan di pintu kamarnya, orang yang mengetuk seakan sedang dalam keadaan yang sangat panik, saat Luke membuka pintunya itu adalah Gabriel.
"Ada apa?" tanya Luke dengan kesal.
"Yang Mulia anda akan sangat kaget melihat ini," Gabriel memberikan sepucuk surat pada Luke.
Pria itu mengerutkan dahinya, dia kenal dengan tulisan tangan ini, namun isinya seakan calon permaisurinya lah yang menulis suratnya.
"Kau menemukan ini dimana?" tanya Luke seakan isi surat itu tidak berarti apa-apa.
"Aku menemukannya di atas meja kerja anda."
"Oh.." Luke mengembalikan surat itu pada Gabriel.
"Hanya 'oh' saja?" ucap Gabriel tidak percaya.
"Memangnya kau berharap aku mau seperti apa?"
"Anda tidak kaget dengan isi surat ini?"
Luke terdiam sebentar, "jangan bilang kalau Olivia benar-benar pergi," ucapnya dengan tatapan shock.
Gabriel menepuk dahinya, temannya ini memang tidak pernah berubah dari dulu, selalu telat menyadari sesuatu.
"Yang Mulia, calon permaisuri anda memang menghilang!" teriak Gabriel jengah, "para penjaga sudah mencarinya sampai ke seluruh istana, tapi dia tidak ada pagi ini!"
Luke terlihat kaget dan langsung berlari kearah bagian barat istana, Gabriel mengikutinya dari belakang.
"Kau yakin dia tidak ada di istana?" tanyanya memastikan.
"Iya, aku yakin sekali."
Dari kejauhan Luke dapat melihat Frederick dan Aiden sedang berlari tergesa-gesa kearahnya.
"Yang Mulia!" panggil Frederick.
"Frederick, kapan rombongan Samuel pergi?" tanya Luke cepat.
"Ah.. itu.. mereka berangkat tadi malam."
Sekarang Luke berjalan dengan tiga pria itu mengikuti di belakangnya, "Gabriel cepat kau kirim pesan burung pada rombongan Samuel, katakan pada mereka untuk berhenti melanjutkan perjalanan."
"Baik!" jawab Gabriel.
"Frederick tolong kau urus pekerjaan ku untuk sementara waktu."
"Baik Yang Mulia!" jawab Frederick.
"Dan kau Aiden, tolong persiapkan kuda hitamku."
"Baik Yang Mulia! Tapi untuk apa?" tanyanya.
Luke berhenti berjalan dan menatap kearahnya, "tentu saja aku akan menjemput Olivia."
"APA!!" teriak mereka bertiga bersamaan.
"Ta.. tapi Yang Mulia, siapa yang akan mengatur kerajaan disaat anda pergi?" tanya Gabriel dengan cemas.
"Tentu saja kau Gabriel."
"A.. aku?" tunjuk nya pada diri sendiri.
Raja mengangguk, lalu kembali berjalan meninggalkan mereka bertiga yang mematung dengan kaget.
"Yang benar saja!"
(; ̄Д ̄)
.
.
.
"Dengar, kau harus berpura-pura menjadi adikku untuk sementara waktu," ucap Samuel pelan pada Olivia.
"Tapi kenapa?" tanyanya dengan bingung.
"Aku hanya ingin kau tidak di pandang buruk oleh semua pekerja ku."
Olivia mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti kenapa pria ini menyuruhnya berpura-pura, apa mungkin semua para pekerja ini belum tahu tentang dirinya?
"Memangnya diantar mereka tidak ada yang mengenalku?" tanya Olivia memastikan.
Samuel menggelengkan kepalanya, "tidak, mereka adalah pekerja kerajaan yang dikhususkan untuk melakukan perjalanan jauh, bisa dibilang sebagian dari mereka adalah warga biasa."
Mulut Olivia membentuk lingkaran yang membuat pria bersurai putih itu ingin mencubit bibirnya, kenapa Olivia selalu terlihat cantik dan menggemaskan di depan matanya?
Apa mungkin ini yang namanya cinta sejati?
Samuel memalingkan mukanya dan melihat kearah orang-orang yang mulai membuat tenda, mereka memang akan bermalam sebentar di dekat kaki gunung Pavel, mungkin tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di Lembah Zivlis.
Oliver menghampiri mereka dengan membawa buah apel di tangannya, "Nona, ini buah apel untuk anda," ucapnya sambil menyodorkan apel berwarna merah menggoda.
"Apa kalian belum makan?" tanya Samuel.
Mereka berdua menggelengkan kepala, "oke kalau begitu aku akan mengambilkan bubur gandum untuk kalian, tunggu disini."
Samuel melangkah pergi menuju ke tempat para wanita memasak, Olivia mengalihkan perhatiannya ke para pekerja, mereka semua sepertinya sudah selesai membuat tenda, cukup besar untuk dimasuki belasan orang sepertinya.
"Nona Olivia, aku dengar di lembah Zivlis ada seorang penyihir yang tinggal disana."
Olivia menatapnya, "ya, aku juga mendengarnya waktu malam."
"Oh benarkah?"
Olivia mengangguk, "memangnya kenapa? Apa kau takut Oliver?"
Oliver menatapnya kaget, "ah, tentu saja tidak Nona! Saya hanya sedikit terganggu dengan hal itu, bagaimana kalau kita benar-benar bertemu dengannya?"
"Hmm.. aku tidak tahu.."
Mereka berdua pun akhirnya tenggelam dalam pikirannya masing-masing, sebenarnya Olivia ikut dalam rombongan ini bukan semata ingin melihat seperti apa lembah Zivlis, tapi dia sedikit tertarik saat mendengar ada penyihir dan goblin di sana, meskipun hal itu hanyalah kabar burung yang belum terbukti kebenarannya, dia hanya berharap untuk bisa bertemu salah satunya.
Bisa saja kan dirinya bertemu dengan penyihir, dan dia bisa minta tolong padanya untuk mengembalikan dirinya ke dunia asalnya.
"Yah semoga saja."
.
.
.
Malam telah tiba, orang-orang didalam rombongan kebanyakan sudah tertidur lelap di dalam tenda, namun masih ada sepasang mata yang terjaga, tentu saja itu adalah Olivia.
Api unggun telah lama mati membuat suasana sekitarnya terasa sangat dingin dibanding sebelumnya, Olivia duduk di dekat bekas bara api itu. Ini adalah pengalaman pertamanya berkemah di dalam dunia dongeng, dirinya tidak memprediksi soal tempat tidur yang akan dia pakai nantinya.
Yap, dia adalah seorang wanita, maka dari itu tempat tidurnya pun bersama para wanita lainnya di dalam rombongan, awalnya Olivia menerimanya tapi saat dia mencoba untuk tidur ada salah satu wanita yang tidur dekat sekali dengannya, tentu saja jiwa laki-lakinya meronta.
Olivia pun berakhir dengan keadaan tak bisa tidur seperti sekarang.
Dia memandang ke sekelilingnya, benar-benar sepi dan terasa mencekam, apa semua orang sudah tertidur?
Tiba-tiba telinga Olivia menangkap suara dari kejauhan, "huh? Apa itu suara seruling?" gumamnya.
Tapi bagaimana bisa? Siapa yang memainkan seruling di tengah malam begini?
Olivia beranjak dari duduk dan mencoba mencari tahu siapa atau suara apa itu, dia terus berjalan memasuki hutan dengan perlahan, suara ranting dan daun kering yang dia injak serasa menjadi hal paling keras yang bisa di dengar telinganya.
Setelah dirasa sudah sangat dekat dia menyingkirkan tanaman rambat yang menghalangi penglihatannya, dan dibalik situlah suara itu berasal.
Sesosok makhluk bertubuh kecil seperti anak-anak sedang memainkan seruling dengan alunan yang begitu merdu, dia duduk dibawah sinar rembulan yang membuatnya terlihat begitu indah, sayangnya dia membelakangi Olivia yang membuatnya tak bisa melihat dengan jelas seperti apa rupanya.
Apakah mungkin dia goblin yang dirumorkan? Karena sangat mustahil ada anak-anak berdiam diri di tengah hutan saat malam seperti ini, itu sangat tidak masuk akal, jadi Olivia yakin dia sedang melihat makhluk tersebut.
Olivia memberanikan dirinya untuk tambah mendekat, semakin dekat dia dapat menangkap sosok lain yang berada di depan goblin itu, tapi sosok apa itu? Olivia bahkan tidak pernah melihatnya, apa mungkin itu hanya sebuah asap putih? Namun dari mana munculnya?
Sosok berkabut itu menatap Olivia dengan mata merahnya yang menyala, dia terlihat sangat marah mengetahui keberadaannya yang secara diam-diam mendekati mereka.
Suara seruling tiba-tiba saja berhenti, sosok goblin itu membalikkan badannya, Olivia sangat kaget saat menyadari bahwa matanya berwarna merah menyala sama seperti sosok berkabut putih di dekatnya.
Sebenarnya apa yang sedang dia lihat saat ini?
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Readers..
Author sedang dalam keadaan down, semangat untuk nerusin ni novel hilang entah kemana.
Jadi bagi kalian yang pengen ane terus lanjut ni novel tolong komen ya, dan tulis sesuatu yang kalian suka dari cerita ini, kalo bisa sih sama kritik sarannya juga^^
Ane ngomong kaya gini bukan ngemis minta komen kok, ane cuma pengen tahu aja, seperti apa sih cerita ane ini dari sudut pandangan kalian, mungkin kalo ada kesalahan kan nanti ane bisa ngoreksi hal itu, dan sebisa mungkin untuk gak mengulanginya.
Gini" ane itu masih pemula, jadi kritik dan saran sangat ane butuhkan untuk bisa berkembang membuat novel yang bagus sesuai keinginan para pembaca.
Sekali lagi makasih buat kalian yang masih nunggu ini novel up, bahkan ane sedikit terhura pas ada pembaca yang niat banget buat komen di setiap chapter.
(;  ̄▽ ̄)
Makasih ya, tanpa kalian semua ane kayanya gak akan mampu buat lanjutin ni novel.
(づ ̄ ³ ̄)づ
Sekali lagi makasih..
See you next Chapter ya guys~