
.
.
.
Hari ini adalah hari pembalasan Olivia pada Raja Luke, dia sudah benar-benar berniat untuk membalas dendam pada pria gila itu.
Dia sudah membuat rencana pembalasan dari malam hari, dan dia sangat yakin rencananya ini akan berjalan dengan lancar.
Olivia sudah hafal dengan jadwal minum teh Raja, makanya dia sudah bersiap dari tadi di dapur kerajaan, dia menunggu pelayan datang dan meminta pada koki kerajaan untuk membuatkan teh.
Beberapa detik kemudian dua pelayan wanita datang dan meminta koki untuk membuatkan teh kesukaan Raja, namun sebelum koki mulai membuat teh Olivia menawarkan diri.
"Emm.. maaf Paman, bolehkah aku yang membuatkan tehnya untuk Raja?" tanya Olivia sambil tersenyum imut.
"Apa Nona yakin ingin membuatkan teh untuk Yang Mulia Raja?" tanya koki itu dengan ragu.
"Tentu saja! Aku melakukan ini sekalian belajar untuk bisa melayani Yang Mulia nantinya."
Pria paruh baya itu berfikir sejenak, mungkin apa yang dikatakan Olivia tidak ada salahnya, dia kan memang masih berjabat sebagai calon Permaisuri, dan tentu saja belajar melayani Yang Mulia Raja adalah sesuatu yang bagus.
"Baiklah, Nona boleh membuatkan tehnya."
"Terimakasih Paman!" ucap Olivia dengan girang.
Sekarang rencananya sudah berjalan dengan mulus, dia hanya tinggal melihat hasil jebakannya saja, Olivia sudah tidak sabar ingin melihat ekspresi muka Raja Luke saat meminum teh spesial buatannya.
"Apa tehnya sudah jadi?" tanya pelayan wanita bernama Ella.
Yap benar, dia pelayan yang pernah menguji kandungan teh beracun yang hampir di minum Raja waktu itu, dia melakukannya di temani teman setianya Niamh.
Mereka berdua juga adalah pelayan yang sering disuruh Raja untuk mengambilkan tehnya, entah semenjak kapan Raja jadi punya kebiasaan untuk menjadwalkan setiap pelayan sesuai tugasnya.
Dia tidak pernah menyuruh pelayan lain untuk mengambilkan tehnya selain mereka berdua, dan itu berlaku pada semua pelayan, yang membawakan sarapan pagi, siang, malam, atau para pelayan lainnya yang juga tidak pernah berubah.
Olivia mulai mengambil serbuk teh di dalam lemari, dia juga tidak lupa mencari bumbu pelengkap lainnya agar rasa tehnya jadi sangat 'nikmat'.
Setelah dia memasukkan teh kedalam poci kecil, ujung matanya mencoba mencari tahu apakah ada yang memperhatikannya atau tidak, dan ternyata koki kerajaan dan para pelayan sedang berbincang-bincang, membuat Olivia mempunyai kesempatan untuk memasukkan bumbu rahasianya tanpa ketahuan orang lain.
"Nona, apa tehnya sudah jadi?" tanya Ella.
"Sudah, ini tehnya," Olivia memberikan teh itu pada para pelayan untuk diantar pada Yang Mulia Raja, "tolong beritahu Yang Mulia bahwa teh ini spesial buatanku," ucap Olivia sambil tersenyum simpul.
"Baik Nona, akan kami sampaikan pada Yang Mulia Raja."
Mereka berdua pun pergi dari sana membawa teh 'spesial' buatannya, senyum simpul di bibir gadis itu mulai berubah menjadi seringai penuh kelicikan.
Untuk sementara Olivia terlihat seperti tokoh antagonis yang jahat, tapi dia hanya balas dendam, karena Raja sendiri juga tidak memikirkannya.
.
.
.
"Yang Mulia, ini tehnya," Niamh menyimpan nampan yang diatasnya terdapat satu poci kecil dan satu buah cangkir.
"Kenapa lama sekali?" tanya Raja penasaran, karena biasanya saat mereka membawakan teh tidak memakan waktu yang lama.
"Tadi yang membuat teh bukan koki kerajaan Yang Mulia," jawab Ella.
"Lalu siapa? Kalian berdua?"
"Bukan, teh itu buatan Nona Olivia."
Raja mengerutkan keningnya, dia punya firasat buruk tentang hal ini, karena Olivia tidak pernah sekalipun membuatkan teh untuknya. Dia berfikir sejenak, lebih baik dia meminumnya atau tidak, karena dia yakin ada sesuatu yang berbahaya terkandung didalam tehnya.
"Emm.. Yang Mulia, anda tidak apa-apa?" tanya Niamh.
"Aku tidak apa-apa, cepat tuangkan saja tehnya."
"Baik!"
Ella mulai menuangkan teh dari poci kedalam cangkir dengan perlahan, setelah penuh dia memberikan nya pada Yang Mulia Raja.
"Ini tehnya Yang Mulia," ucap Ella sopan.
Luke menerima cangkir itu dan mulai mencium bau khas teh yang menusuk di hidungnya, kalau dicium dari baunya teh ini tidak terlihat berbahaya, tapi dia masih ingat saat kejadian dimana dia hampir saja diracuni lewat minuman herbal ini. Harum dan warna tehnya tidak terlihat seperti mengandung racun, makanya saat itu dia sedikit tidak percaya dengan Olivia, hanya saja dia salah.
Raja menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin mengingat kejadian menyakitkan itu, rasanya dia selalu menyalahkan diri sendiri saat Olivia meminum racun itu.
Makanya saat ini dia berfikir bahwa teh buatan Olivia ini pasti tidak berbahaya, karena Raja sudah percaya pada gadis itu.
Dari kejauhan, seorang gadis bersurai pirang sedang menahan tawa saat Raja sudah menerima teh itu, dia hanya tinggal menunggu Raja untuk meminumnya dan voilaa, rencana balas dendamnya terlaksana kan.
Raja mulai meminum tehnya dengan perlahan, namun baru saja air teh itu menyentuh ujung lidahnya dia langsung menyemburkan tehnya.
Para pelayan dibuat kaget dengan hal itu, sementara Olivia yang mengintip dari kejauhan sudah tertawa terbahak-bahak saat melihatnya.
Ekspresi muka Raja memperlihatkan kekesalan yang amat dalam, dia tidak menyangka ternyata dugaannya memang benar, kalau teh ini sudah dicampur dengan bahan lain.
"Ada apa Yang Mulia? Kenapa anda memuntahkan lagi tehnya?" tanya khawatir Ella.
Raja menatap kedua pelayannya itu dengan masih kesal, "tehnya.. tehnya asin.." ucap Raja dengan dingin.
"Bagaimana bisa?" tanya Ella.
"Mungkin Nona Olivia salah mengambil toples gula, dan dia malah mengambil toples garam," tambah Niamh.
"Tidak, dia tidak salah mengambil toples," ucap Raja.
"Maksudnya?" tanya Ella.
"Dia memang ingin balas dendam padaku," Raja Luke memegang cangkir di tangan kanannya sangat kuat, sampai cangkir itu hancur berkeping-keping yang membuat Ella dan Niamh secara reflek saling berpelukan karena takut.
.
.
.
Olivia saat ini sedang menatap Samuel dengan tajam, dia kesal karena pria itu ternyata belum mengatakan apapun pada Yang Mulia Raja soal porsi makannya.
"Kau.... kenapa kau belum bilang apa-apa pada Yang Mulia soal porsi makan ku!" teriak Olivia sambil menarik kerah baju Samuel.
Pria itu malah tersenyum saat melihat Olivia dari dekat, dia merasa bahwa gadis di depannya ini sangat manis kalau sedang marah.
"Kenapa kau malah tersenyum? Cepat jawab pertanyaan ku barusan!" ucap Olivia marah.
"Nona, aku sudah memberitahu Yang Mulia soal porsi makan anda, tapi dia tetap bersikukuh ingin memberikan makan yang cukup agar stamina anda pulih kembali."
"Itu sih bukan cukup, tapi berlebihan!" Olivia menggembungkan mulutnya kesal.
Samuel tambah ingin mencubit pipi Olivia karena gemas melihat tingkah lucu gadis itu saat marah, masih terpatri jelas di bibirnya senyum manis yang sangat lembut, sampai kapanpun Samuel akan mencintai Olivia, itulah yang ada dipikirannya.
"Nona, apa anda tahu, Yang Mulia Raja selalu berada di sisi anda dari awal anda pingsan?"
Olivia menatap Samuel dengan bingung, apa benar Raja selalu ada di sisi nya saat dia pingsan?
"Benarkah?"
Olivia terdiam, apa yang dikatakan Samuel ada benarnya juga, Raja menyuruhnya makan banyak agar dia bisa cepat pulih, tapi bukan berarti dia harus memberikan porsi makan yang melebihi kapasitas perutnya juga kan?
Dia tidak habis pikir, Raja itu sebenarnya ingin membuat staminanya kembali pulih atau ingin membuatnya menderita karena terlalu banyak makan?
"Apa anda tahu, Yang Mulia tidak pernah sekalipun memikirkan tentang makanan apa yang masuk kedalam perut seseorang, mungkin terakhir kalinya dia peduli hanya pada Putri Abby saja," tambah Samuel.
Olivia jadi merasa sedikit bersalah telah memperlakukan Raja dengan kejam, mungkinkah dia harus meminta maaf padanya?
"Samuel!" panggil seseorang dari kejauhan.
Mereka berdua menatap orang itu, terlihat dari kejauhan sosok pria bersurai hitam dengan mata tajam yang sama hitamnya sedang mendekati mereka dengan langkah lebar. Olivia masih sangat jelas mengingatnya, dia adalah Aiden Jordan Menteri persenjataan.
"Ada apa Aiden?" tanya Samuel.
Setelah Aiden cukup dekat, dia langsung mencubit pinggang Samuel yang membuat si empunya teriak kesakitan.
"Argghhh.. apa yang salah denganmu?" tanya Samuel sambil melontarkan tatapan marah padanya.
"Apa yang salah denganku? Harusnya kau bertanya pada dirimu sendiri, apa yang salah denganmu!" Aiden tambah kencang mencubit pinggang Samuel.
"Aa.. akhh.. memangnya aku salah apa kakek tua bangka?"
"Masih lupa dengan tugas mu hmm?"
Setiap Aiden bertanya, pasti cubitan dipinggang Samuel tambah mengencang, dan Samuel yakin kalau bekas cubitannya akan membiru.
"Tugas apa?" tanya Samuel sambil menahan sakit.
"Masih bertanya tugas apa?" Aiden melepas cubitannya dan langsung memukul kepala Samuel yang kelewat pikun itu.
BUKK..
"Aww.." ringis nya sambil mengelus kepala yang terkena pukulan maut Aiden, "kau ini kenapa sih?"
"Kau belum melaporkan tugasmu ke Frederick, dasar bodoh! Ahh.. kau ini benar-benar merepotkan sekali," Aiden memijit pangkal hidungnya dengan gemas, "sampai aku harus turun tangan untuk mengingatkanmu, dasar bocah pikun!"
"Kenapa kau tidak bilang saja dari tadi!" Samuel langsung bergegas pergi mencari Frederick dan meninggalkan mereka berdua disana.
Olivia masih terpaku di tempatnya melihat kepergian Samuel, sepintas dia lupa dengan karakter Samuel yang diceritakan memang sangat pelupa dan juga sifat Aiden yang begitu disiplin, membuat kedua tokoh ini selalu beradu mulut.
"Ah Aiden!" panggil seorang pria dari arah Samuel pergi.
Pria itu mendekat dengan langkah yang terburu-buru, sepintas dari kejauhan dia terlihat seperti seorang wanita berambut panjang, dia membiarkan rambut lurusnya jatuh terurai.
Olivia mengerutkan keningnya, dia belum pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya, kira-kira siapa dia?
"Apa kau melihat kemana Samuel pergi?" tanyanya.
"Aku bahkan baru saja menyuruh bocah itu untuk menemui Frederick."
"Menemui Frederick? Untuk melaporkan keadaan di desa Erarne?"
Aiden mengangguk sebagai jawaban dan pria itu langsung mengacak-acak rambutnya kesal.
"Dia harusnya memberi laporan itu padaku dulu! Argghhh.."
Tiba-tiba dia berhenti mengacak rambutnya dan menatap kearah Olivia dengan raut muka bingung.
"Halo.. siapakah anda? Saya belum pernah melihat seorang wanita secantik ini di istana sebelumnya."
"Dia adalah calon Permaisuri Raja," jawab Aiden.
"Oww.. sebuah kehormatan bisa bertemu langsung dengan Permaisuri," pria itu membungkuk memberi hormat.
"Dia masih jadi calon Permaisuri Gabriel," ucap datar Aiden.
"Ah oh iya maaf, saya terlalu grogi kalau berhadapan dengan wanita cantik, hahaha.." pria itu tertawa lepas dengan masih keadaan rambutnya kusut karena ulahnya sendiri.
Olivia pikir pria ini juga sama anehnya dengan Raja dan Samuel, atau mungkin semua orang di istana ini aneh ya? Kecuali Aiden pastinya, karena Olivia sudah sangat tahu seperti apa sifatnya, dia adalah satu-satunya tokoh protagonis yang bersifat dingin namun sangat bijaksana dalam menghadapi setiap masalah.
Bisa dibilang, Olivia hanya menyukai tokoh Aiden seorang saja di dalam buku cerita dongeng itu.
Pria itu berhenti tertawa dan kembali membungkukkan badannya, "karena ini adalah pertama kalinya kita bertemu Nona, biar ku perkenalkan diriku ini, namaku adalah Gabriel Black, saya adalah Penasehat Raja sekaligus sahabat kecil Yang Mulia Raja Luke."
Gabriel Black? Olivia hampir melupakan salah satu tokoh penting itu, dia teman sepermainan dengan Raja yang diangkat menjadi Penasehat Kerajaan oleh Luke sendiri.
Olivia mengangkat roknya sedikit dan membungkuk, "namaku Olivia Taylor Tuan Gabriel, senang bisa berkenalan denganmu," ucap Olivia sopan.
"Aww.. anda sangat manis sekali Nona Olivia, aku sepertinya bisa jatuh cinta padamu saat ini juga," Gabriel mengambil tangan kanan Olivia dan mencium tangannya dengan lembut.
"Pria ini benar-benar sudah gila."
(; ̄Д ̄)
"Tidak boleh!" teriak seorang pria dari jauh.
"Siapa lagi ini?"
Semua mata memandang kearahnya, dan ternyata itu Samuel.
"Kau tidak boleh jatuh cinta pada Nona Olivia, karena aku duluan yang menyukainya," akunya sambil berjalan mendekat.
"Apa-apaan itu? Kau yang pertama kali menyukainya bukan berarti dia bisa menjadi milikmu!" marah Gabriel.
"Pokoknya dia milikku!"
"Tidak bisa! Dia juga bisa jadi milikku!"
"Mereka berdua sudah gila! Oh God, keluarkan aku dari situasi aneh ini."
Olivia bisa merasakan tangannya di genggam oleh seseorang, dan pelakunya adalah Aiden.
"Ayo kita pergi dari sini Nona," ucapnya sambil berbisik.
Gadis itu mengangguk setuju, dia bisa jadi ikut gila kalau terus berada di tengah-tengah mereka berdua.
Ajaibnya kedua manusia yang masih beradu mulut itu tidak menyadari kepergian Olivia dan Aiden dari sana.
"Mereka berdua memang selalu bertengkar karena masalah sepele, jadi jangan aneh bila anda melihat mereka sering bertengkar seperti itu," ucap Aiden menjelaskan.
Olivia mengangguk mengerti, "oh iya Aiden, kenapa aku tidak pernah bertemu dengan Gabriel sebelumnya?"
"Dia baru saja pulang dari Desa Vontan dan Kota Censoria di dekat perbatasan wilayah Kerajaan Percius untuk melihat keadaan di sana."
Olivia mengerutkan keningnya, "bukannya itu pekerjaan Menteri luar Negeri ya?"
"Ya itu benar, tapi saat itu Samuel sedang berada di Kota Pelagius, yang termasuk wilayah Kerajaan Vedius. Raja mereka Reece Kaur meminta bantuan pada Raja Luke untuk mengurus salah satu Kotanya itu yang memang sedang di landa kekeringan, jadi Raja menyuruh Gabriel untuk mengurus Desa Vontan dan Kota Censoria padanya selagi Menteri Luar Negeri nya sedang sibuk di wilayah Kerajaan orang lain."
Saat mendengarnya, Olivia merasa kalau dunia dongeng ini sangat luas dari apa yang bisa dia bayangkan, dia jadi penasaran seperti apa Kota dan Desa yang di sebutkan Aiden tadi, sepertinya semua tempat itu terdengar keren.
.
.
.
To Be Continued