
.
.
.
Setelah lebih dari dua hari Olivia terbangun dari mimpi indahnya, dia bisa merasakan perbedaan karakter pada Raja Luke, pria berdarah dingin itu jadi sedikit lebih perhatian padanya, seperti saat ini misalnya, dimana terdapat banyak makanan di depannya untuk dia makan seorang diri.
"Yang Mulia, apa ini semua harus aku makan sendirian?" tanya Olivia dengan ngeri menatap semua makanan itu.
"Ya, kau harus banyak makan setelah kau baru saja sembuh dari sakit."
"Tapi.. Yang Mulia.. ini semua terlalu banyak untukku."
"Aku tidak mau tahu, kau harus menghabiskan semua makanan itu." ucapnya terlihat angkuh seperti biasa.
"Sepertinya pria ini ingin membunuhku secara perlahan." (; ̄Д ̄)
Olivia masih duduk diam di meja makan, dia tidak mungkin bisa menghabiskan semua makanan yang terdiri dengan berbagai jenis makanan itu, dari makanan berat sampai makanan ringan dan penutup. Kalau dihitung, semuanya ada lebih dari 10 piring, kalau dia memaksakan semua makanan itu untuk masuk ke dalam perutnya, dia yakin beberapa menit kemudian pasti dia memuntahkan semua makanan itu.
"Cepat kau habiskan makanannya, karena aku tidak punya banyak waktu hari ini."
"Kalau begitu pergi saja dari hadapanku dasar iblis!" batinnya marah.
Olivia memang merasa Raja sudah tidak terlalu bersikap dingin padanya, tapi dia malah tambah menyebalkan! Benar-benar menyebalkan sampai rasanya dia ingin melempar pria itu ketengah laut!
Gadis bersurai pirang itu menatap Raja dengan kesal, apa Raja tidak pernah mengerti akan sistem diet seorang wanita? Para kaum hawa terkadang selalu mati-matian untuk bisa mengecilkan badan mereka, Allen saja yang seorang pria sangat mengerti dengan hal itu, namun pria ini malah seakan ingin menghancurkan tubuh idealnya?
Itu adalah tindakan kriminal bagi seorang wanita!
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Raja yang sadar dengan lontaran tatapan kesal dari Olivia.
"Aku.. hanya tidak suka kalau makan sendirian Yang Mulia," ucap Olivia sambil menunduk.
"Jadi kau ingin aku menemanimu?"
Olivia mengangguk, setidaknya makanan di depannya akan berkurang, iya kan?
"Baiklah, pelayan bawakan aku sepotong kue."
"EHHH?"
Jadi dia tidak akan mengambil salah satu piring di depannya? Kalau begitu sia-sia saja dia menyuruh Raja untuk menemaninya makan.
"Oh God.. apakah ini yang disebut neraka makanan?" (╥_╥)
Pelayan pun datang dan menyajikan sepotong kue di depan Raja, "sekarang cepatlah makan makananmu," perintahnya.
Dengan terpaksa Olivia mulai memakan makanan di depannya, dengan perlahan makanan diatas meja terkikis sedikit demi sedikit, namun dia sudah tidak bisa memasukkan lagi makanan ke dalam perutnya. Bahkan dia hanya memakan 3 piring dengan porsi sedang.
"Aku sudah sangat kenyang Yang Mulia," ucap Olivia lemas.
"Kau harus menghabiskannya, agar tubuhmu tidak terlalu ringan seperti kapas!"
"Tapi Yang Mulia.."
"Sudah kubilang habiskan!" ucapnya dengan tegas.
Olivia tahu, dia sudah berkali-kali mengatakan hal ini di dalam hati, tapi dia tidak bisa untuk tidak mengumpat di dalam hati, terlebih disaat Raja terasa sangat menyebalkan seperti sekarang.
"Dasar idiot! Memangnya kau pikir perutku ini tong makanan apa? Apa matamu tidak bisa melihat dengan jelas? Tubuhku ini kecil, jadi porsi makanku pun juga sedikit!" protesnya di dalam hati.
Olivia tidak bisa membiarkan hal ini, kalau dia menuruti perintah Raja, perutnya pasti akan terasa sakit karena terlalu banyak makan. Akhirnya dia punya sebuah ide untuk bisa bebas dari siksaan ini.
"Yang Mulia, makhluk apa itu yang terbang diatas langit?" tanyanya sambil menunjuk kearah belakang Raja.
Raja menoleh kebelakang dimana dia bisa melihat kearah jendela dan mencari apa yang di maksud Olivia, namun matanya tak menemukan apapun yang terbang di atas langit, itu membuatnya sedikit bingung.
"Tidak ada apapun di atas langit," ucapnya.
Saat Raja kembali untuk menatap gadis itu, Olivia sudah menghilang dari hadapannya, perlu beberapa waktu untuk Raja mengerti dengan situasinya saat ini.
"Apa dia baru saja membohongi ku?" tanyanya pada diri sendiri.
BRAAKK..
Tangannya memukul meja dengan keras, "gadis sialan! Beraninya dia melakukan itu padaku!" ucapnya dengan kesal.
Sementara itu Olivia yang sudah berhasil lolos dari Raja, merasa sangat lega, akhirnya dia bisa kabur dari sana, namun dia tidak tahu harus memasang muka apa nanti saat berhadapan lagi dengannya.
.
.
.
Olivia saat ini berada di taman kerajaan, dia bersembunyi di balik tanaman bunga agar tak akan ada seorang pun yang dapat melihatnya, setidaknya dia pikir dirinya sudah aman.
Tangannya terus saja memainkan ranting pohon dan menggambar sesuatu di tanah, rasanya dia ingin cepat kembali ke dunianya yang dulu, sungguh Olivia sangat merindukan semua orang di sana, terutama Neneknya.
"Aku ingin pulang.." gumamnya terdengar sedih.
"Pulang kemana?" tanya seseorang di belakangnya.
Olivia tahu suara siapa itu, dirinya sudah kebal dengan kehadiran orang itu yang selalu hadir tiba-tiba di dekatnya.
Gadis itu menoleh kebelakang dan mendapati Samuel yang sedang tersenyum, "sampai kapan kau akan terus muncul tiba-tiba di dekat ku?" tanya Olivia jengah.
"Maafkan aku kalau itu membuat mu tidak nyaman Nona," ucapnya sopan lalu ikut duduk di samping Olivia, "jadi.. pulang kemana yang Anda maksud tadi?"
"Itu bukan apa-apa, lupakan saja."
"Hmm.. baiklah, aku tidak akan memaksa, tapi Nona, apa yang baru saja terjadi padamu sampai muka mu terlihat kusut begitu?"
Olivia berhenti menggambar di tanah dan menatap Samuel, "aku sedang kesal pada Yang Mulia Raja," ucapnya sembari kembali memainkan ranting lagi.
"Memangnya Yang Mulia melakukan apa sampai membuat mu kesal?"
"Dia memaksa ku untuk makan banyak, padahal kan porsi makanku sedikit, dia sepertinya ingin membuat ku menderita."
"Oh benarkah? Kalau begitu akan aku sampaikan pada Yang Mulia bahwa kau tak bisa makan dengan porsi yang banyak."
Olivia menatap Samuel dengan penuh harap, "benarkah? Kau akan melakukannya?"
"Tentu saja Nona, saya peduli padamu sekecil apapun itu."
"Waahh.. terimakasih Samuel!" ucap Olivia senang, akhirnya ada juga orang yang mau melakukan itu, tapi sebenarnya Olivia sudah bermaksud hati ingin meminta tolong pada Oliver, namun karena Samuel sendiri yang menawarkan diri yasudah, dia percayakan hal itu padanya.
"Nona Olivia!" panggil seseorang, "Nona.. anda dimana?"
"Apa itu suara Oliver?" tanya Olivia.
"Sepertinya begitu," jawab Samuel.
Mereka berdua mengintip diantara semak-semak seperti layaknya mata-mata, dan ternyata benar saja, itu adalah Oliver.
Olivia berdiri dan langsung berlari kearahnya, "OLIVER!" teriaknya.
Oliver menoleh dan kaget saat dirinya tiba-tiba saja langsung dipeluk gadis manis itu.
"Wuaahh.. No.. Nona, ada apa?" tanyanya terdengar panik.
"Oliver.. kumohon bawa aku pergi sangat jauh dari sini," rengek nya seperti anak kecil.
"Hah? Memangnya apa yang terjadi?"
"Huuuu.. pokoknya bawa aku pergi keluar dari istana!"
Ini adalah pertama kalinya untuk Olivia bersikap manja pada seseorang, dia tidak tahu kenapa dirinya jadi seperti ini, tapi dia hanya ingin memerankan tokoh utama sebagai seorang wanita sesungguhnya.
Samuel mendekati mereka, dia hanya bisa melihat mereka berdua yang berpelukan seperti layaknya sepasang kekasih, dan entah kenapa hatinya merasa sangat sakit melihatnya.
"Ba.. baiklah Nona, tapi anda harus minta izin dulu pada Yang Mulia."
"Aku tidak mau Oliver.. jadi kau saja ya yang izin pada Raja," ucap Olivia sambil menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ta.. tapi.."
Olivia menampakkan muka imutnya yang selalu ampuh untuk meluluhkan hati Oliver.
"Uuhh.. baiklah Nona," ucapnya mengalah.
Jantungnya tidak akan sehat kalau Olivia terus menerus memperlihatkan muka imutnya itu, Oliver memang sangat lemah kalau menyangkut dengan sesuatu yang imut.
"Terimakasih Oliver!" ucap Olivia senang sambil memeluknya lebih kencang.
"A.. ahh.. i.. iya sama-sama Nona."
Olivia melepas pelukannya dengan masih tersenyum senang, dia hanya ingin pergi ke kota dan mencari sesuatu yang menyenangkan, misalnya membeli kue muffin?
"Nona," panggil Samuel.
Olivia menoleh kebelakang untuk menatapnya, "ada apa?"
"Apakah aku bisa mendapatkan pelukan seperti yang kau berikan pada Oliver?" tanyanya dengan raut muka sedih.
Gadis itu langsung menampakkan muka datarnya, lalu dia menghampiri Samuel, pria itu kira dia akan mendapatkan pelukan darinya, namun dia salah, setelah cukup dekat Olivia mengepalkan tangannya dan memukul perut Samuel lumayan keras.
BUUKK..
"Ughh.." ringis nya.
"Aku tidak mau dan tidak akan pernah mau," ucap Olivia dengan acuh, "ayo Oliver, kita pergi dari sini," ucap Olivia sambil menarik tangan Oliver.
"A.. ahh.. baiklah Nona.." ucapnya sambil melihat kearah Samuel yang sedang memegang perutnya.
Setelah Olivia dan Oliver pergi, Samuel menghembuskan nafasnya kasar, "kenapa rasanya dia seperti membenciku ya? Memang aku pernah punya salah apa padanya?"
Dia lupa, kalau dia pernah masuk ke dalam kamar Olivia tanpa izin, ditambah dia selalu muncul tiba-tiba di dekat Olivia seperti layaknya hantu. Pastilah gadis itu merasa tidak suka padanya.
.
.
.
Saat ini Olivia dan Oliver sedang jalan-jalan di kota, Raja sudah mengizinkan mereka untuk pergi keluar, meskipun awalnya dia terlihat marah namun ternyata tak disangka dia mengizinkan dengan begitu mudahnya.
Dengan Raja yang sudah mengizinkannya keluar, artinya pria itu tidak terlalu marah padanya, jadi nanti saat Olivia berhadapan lagi dengan Raja, dia mungkin bisa sedikit berani menghadapinya.
Seperti biasa Olivia membeli kue muffin di toko yang dulu pernah ia kunjungi, mulutnya penuh dengan kue manis itu sambil berjalan melihat keadaan kota yang ramai. Sampai telinganya bisa mendengar sebuah keributan dari kejauhan, karena penasaran kakinya melangkah ke arah suara itu.
Ternyata keributan itu berasal dari dua orang pria yang sedang bertengkar, mereka seperti sedang membahas sesuatu tentang uang, mungkin salah satu dari mereka meminjam uang dan belum mengembalikannya sampai sekarang.
"Oliver."
"Ya Nona?"
"Cepat kau lerai mereka berdua, karena tidak ada satupun orang yang mau melakukannya," ucap Olivia sambil menunjuk dua pria itu.
Memang benar, semua orang hanya menonton dan tidak berusaha melerai membuat Olivia sedikit kesal karenanya, tapi Oliver pasti bisa melerai mereka berdua, ditambah dia sedang memakai baju kesatria nya.
"Baik Nona."
Oliver langsung menghampiri kedua pria itu, "hei kalian! berhenti bertengkar!" teriaknya.
Olivia hanya bisa melihat Oliver yang berani berada di tengah kedua orang itu, dan ternyata ada untungnya juga Olivia menyuruhnya untuk melerai, karena orang di sekitar juga mulai membantu.
Tanpa Olivia sadari ada seorang pria mesum yang mengincarnya dari belakang, dia dengan perlahan mendekati Olivia dengan tangan yang sudah siap memegang bokongnya, namun sebelum dia berhasil melakukannya, tangannya di hentikan oleh seorang pria bersurai coklat, dia tersenyum kearahnya.
"Kemanakah tujuan tangan anda berlabuh Tuan?" tanyanya.
Olivia langsung menoleh kebelakang saat mendengar suara orang itu, dan berapa kagetnya dia melihat posisi tangan pria mesum itu sudah hampir menyentuh bokongnya.
"Kyaaa! Pria mesum!" teriak Olivia sambil memukulkan kantong kulit berisi kue muffin ke wajah pria itu.
BUAAKK..
"Akhhh.." ringis nya.
Pria itu melepaskan tangannya dari genggaman pria bersurai coklat yang telah menghancurkan rencananya, lalu dia berlari pergi menjauh, Olivia menatap pria yang telah menolongnya itu, dahinya mengerut saat melihatnya.
"Alexander?"
"Tak kusangka kita akhirnya bertemu lagi Nona," ucapnya sambil tersenyum.
"Ah iya, aku juga dan terimakasih karena kau sudah menolong ku."
"Tidak masalah, tapi seharusnya anda tidak ditinggal sendirian begini, dimana penjaga anda yang waktu itu?"
"Maksudmu Oliver? Dia tadi aku suruh untuk melerai mereka, tak kusangka aku malah hampir menjadi korban dari pria mesum," ucapnya kembali melihat kearah dua pria yang saat ini sedikit lebih tenang.
"Anda baik sekali menyuruh penjaga anda untuk melerai orang yang bahkan tidak anda kenal."
"Aku hanya tidak suka melihat sebuah perkelahian yang hanya di jadikan sebuah tontonan orang-orang di sekitar."
Alexander menatap Olivia yang menampakkan raut muka kesal, dia jadi sangat yakin bahwa wanita ini bukan wanita biasa, apa lebih baik dia memberitahu sedikit sesuatu padanya? Tapi bagaimana kalau wanita ini malah ribut dan memberitahukan jati dirinya pada orang banyak? Itu pasti akan sangat merepotkan nya.
"Mungkin lain kali," batinnya.
"Kupikir kau sudah kembali mengembara Alex," ucap Olivia memecah keheningan diantara mereka.
"Emm.. ya, tadinya aku ingin kembali mengembara, tapi aku rasa kota ini tidak terlalu buruk untuk aku tinggali sementara."
"Jadi kau masih akan lama berada di kota ini?"
"Ya, sepertinya begitu, mungkin aku ada disini sampai perayaan bunga Middlemist Camelia selesai."
"Perayaan apa itu?" tanya Olivia penasaran.
Dia tidak pernah mendengar nama perayaan semacam itu sebelumnya.
"Anda tidak tahu?"
Olivia menggelengkan kepala, "tidak, jadi beritahu aku."
"Itu.. cukup aneh untuk seorang penghuni kota ini, tidak ada satu pun orang di kota yang tidak tahu perayaan ini Nona," ucapnya sambil menampakkan muka bingung, "perayaan ini bertujuan untuk berterimakasih pada dewi kesuburan yang telah membuat kota ini sejahtera, dan kenapa di sebut perayaan bunga Middlemist Camelia, karena dewi itu juga yang pertama kali menanam bunga indah itu di kota ini."
Olivia baru pertama kali mendengar ada perayaan semacam itu, tapi apa kerajaan akan ikut andil memeriahkan perayaan itu ya?
"Apa kerajaan juga akan ikut andil untuk memeriahkan perayaan itu?"
"Tentu Nona, kerajaan juga ikut andil, semua orang akan berkumpul di tengah kota, dan jalanan akan di penuhi dengan pernak pernik hiasan warna-warni, tak lupa bunga Middlemist Camelia menjadi salah satu hiasan terbanyak yang di pakai warga kota untuk menghias depan rumah mereka."
Kedengarannya sungguh mengasyikkan untukk Olivia, dia jadi tidak sabar ingin melihat perayaan itu dengan mata kepalanya sendiri.
"Semua orang akan keluar dari rumah mereka dan merayakannya dengan menari, mungkin hanya ada satu orang yang tidak akan melakukannya," ucap Alexander yang membuat Olivia penasaran.
"Siapa itu?" tanyanya.
"Dia adalah Raja kerajaan ini."
"Maksudmu Yang Mulia Raja Luke?" tanya Olivia tidak percaya.
"Iya Nona."
.
.
.
To Be Continued